
Sembari menunggu daichi dan Shinichi yang masih ada diruangan, kedua sekertaris mereka duduk sambil mengobrol di salah satu sofa panjang berwarnah hitam yang ada di sudut. Sebuah tempat yang sering digunakan para tamu yang datang menunggu kehadiran daichi.
Di sela obrolan santai keduanya, mata sekertaris yun teralihkan melihat seorang pria yang berjalan kearah ruangan daichi.
"Tuan Arata, saya tinggal sebentar", ucap sekertaris yun.
"Baik tuan yun", jawab arata.
Dia berjalan menghampirinya.
"Maaf tuan", ucapnya yang datang dari arah sampingnya.
Pria itu langsung membalikkan tubuhnya saat mendengar seseorang yang mengajaknya berbicara.
"Ah. Tuan Haga", ucap sekertaris yun.
"Sekertaris yun? Apa kabar?"tanyanya dengan wajah yang begitu bahagia.
"Baik tuan haga. Ini adalah kejutan yang luar biasa", ucap sekertaris yun yang masih tidak percaya melihat haga di hadapannya.
"Lama sekali kita tidak bertemu", ucap haga yang memukul dengan pelan pundak sekertaris yun.
"Itu benar tuan haga. Sangat lama sampai saya tidak mengenali anda yang begitu banyak berubah", sahut sekertaris yun.
"Ayolah.., Perubahan semacam apa yang kamu maksud sekertaris yun?"tanya haga.
"Anda jauh lebih tampan dari sebelumnya", jelas sekertaris yun
"Kemampuan memuji mu semakin hebat tuan yun", jawab haga yang tertawa.
Entah sebuah kebetulan atau tidak, sahabat lama daichi yang tak perna bertemu secara bersamaan datang diwaktu yang sama.
"Apa daichi ada?"tanya haga.
"Tuan daichi ada, tetapi dia sedang ada tamu", ucapnya.
"Apa baru saja menerima tamu?"tanya haga.
Sekertaris yun melirik jam tangannya.
"Sudah hampir satu jam tuan haga, sepertinya mereka sudah selesai. Saya akan mengatakan kepada tuan daichi bahwa anda ingin bertemu", ucap sekertaris yun.
"Terima kasih sekertaris yun", ucap haga.
Sekertaris yun meninggalkan haga dan berjalan menujuh ruangan daichi dan tepat didepan pintu dari ruangan daichi dia berdiri, mengangkat satu tangannya mengetuk pintu ruangan itu sampai terdengar suara teriakan yang mempersilahkannya untuk masuk.
"Masuklah!
Perlahan dia membuka pintu tersebut dan berjalan masuk, empat mata menyambut kehadirannya saat berada didalam. Keduanya memiliki mata yang begitu tajam saat melihat seseorang, mata yang terlihat ingin memasang siapa saja yang ada di dekat mereka.
"Ada apa sekertaris yun?"tanya daichi.
"Maaf tuan daichi, ada tuan haga diluar", ucap sekertaris yun.
"Haga??"tanya dengan wajah yang seolah tak percaya dengan apa yang baru didengarnya.
"Benar tuan, dia ada diluar sedang menunggu anda", jelas sekertaris yun.
"Sejak kapan dia ada di negara ini",gumamnya.
Mendapatkan kunjungan dari seorang sahabat tentu membuatnya senang, tapi ada perasaan yang bergejolak dalam hatinya saat mendengar nama Haga. Wajah sakura tiba - tiba terlintas dalam pikirannya, pemikiran - pemikiran konyol berputar di kepalanya membuat keresahan sendiri dalam dirinya. Shinichi mencoba menyadarkan daichi yang termenung dengan guratan kecemasan yang terlihat begitu jelas di wajahnya.
"Apa yang kamu pikirkan?"tanya shinichi yang terus memperhatikan daichi.
"Pikirkan? Tidak ada", jawabnya yang terdengar ragu-ragu.
"Sungguh," dia mencoba memastikannya.
"Tentu saja", jawabnya.
"Baguslah", ucap Shinichi.
Meskipun dia mencoba menutupi dari dirinya, tetapi pertemanan yang sudah lama terjalin diantara keduanya membuat keduanya saling memahami satu sama lain. Begitu juga yang dirasakannya saat ini, tanpa daichi harus menceritakan masalah yang dirasakannya, Shinichi dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang menggangu pikiran sahabatnya itu.
"Kalau begitu aku harus pamit karena sepertinya kamu mendapatkan kunjungan dari seseorang", ucap Shinichi yang bangkit dari bangkunya.
"Baiklah,sampai jumpa lagi", ucap daichi.
"Aku akan mengunjungi mu saat aku tidak sibuk", ucap Shinichi.
"Hmm. Aku dan sakura akan senang dengan kunjungan mu", ucap daichi.
"Mari saya antar tuan Shinichi", ucap sekertaris yun.
"Terima kasih sekertaris yun", ucap Shinichi
Keduanya berjalan keluar, tepat saat dia keluar dari ruangan daichi. Dia melihat seorang pria yang berdiri dengan mengenakan jas berwarnah biru tua. Melihatnya hanya sekilas, tetapi dia begitu mudah menebak bahwa dia adalah Haga.
"Tuan haga maaf menunggu lama. Tuan daichi sedang menunggu anda", ucap sekertaris yun.
__ADS_1
"Terima masih sekertaris yun", ucapnya sambil berjalan menuju ruangan daichi.
Wajahnya terlihat tenang dan begitu mudah mengumbar senyum kepada orang, tapi entah mengapa Shinichi kurang menyukai dirinya. Pria itu sama sekali tidak dikenalnya, tetapi mampu membuatnya merasa tidak nyaman akan kehadirannya. Dia membalikan badannya, menatap haga yang masuk kedalam ruangan daichi, matanya semakin mengerucut saat sosoknya menghilang dari jangkauannya.
"Ada apa tuan Shinichi?"tanya sekertaris yun yang mengikuti arah matanya.
"Apa daichi sudah lama mengenalnya?"tanyanya dengan dagu yang terangkat.
"Maksud anda tuan Haga?"sekertaris yun mencoba memastikan.
"Benar," jawabnya.
"Tuan haga adalah teman dekat tuan daichi semasa kuliah", jelas sekertaris yun.
"Teman dekat? Aneh sekali, aku tidak pernah melihatnya", ucap shinichi yang mencoba mengingat kembali.
"Ah.., Tuan haga langsung memilih menetap di luar negeri saat dia lulus kuliah tuan dan membangun usahanya disana", ucap sekertaris yun.
"Pantas saja", ucap Shinichi.
"Tuan Shinichi apa anda sudah siap?"tanya Arata.
"Sudah. Baiklah sekertaris yun kami pamit. Sampai jumpa lagi", ucap Shinichi.
"Baik Tuan shinichi. Hati - hati", ucapnya sambil membungkukkan badannya.
••••••••
"Lihatlah siapa yang datang memberikan ku kejutan", ucap daichi yang berdiri di belakang mejanya menyambut kehadiran Haga.
"Oh, ayolah, sambutan mu membuatku merasa tersanjung", ucap Haga.
Dia membentangkan kedua tangannya, haga yang melihat itu hanya tersenyum dan memeluk daichi dalam hitungan detik lalu saling melepaskan. Sebuah pelukan akan kerinduan dengan seorang sahabat lama, namun dalam bentuk pergaulan seorang lelaki.
"Kapan kamu datang?"tanya daichi.
Ia memiringkan kepalanya mencoba mengingatnya.
"Sekitar hampir satu minggu", ucapnya.
"Satu minggu? dan kamu baru datang mengunjungi ku sekarang?"tanya daichi.
"Benar. Banyak hal yang aku kerjakan dan baru sempat mengunjungi mu sekarang", ucapnya.
"Duduklah", ucap daichi sambil duduk di bangkunya.
"Bagaimana dengan bisnis mu?"tanya Haga.
"Aku percaya denganmu, tidak ada yang meragukan seorang daichi tama", ucapnya.
Dia mengangkat satu alisnya, padangan matanya terganggu melihat paper bag berwarnah pink dengan motif bunga - bungan berada di atas meja kerjanya. Penasaran dengan isi yang ada didalamnya, namun dia mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada haga yang terlihat santai.
Memutar otaknya untuk menciptakan bahan pertanyaan,dia memulai dengan yang paling sederhana yang dijadikannya menjadi topik sebuah pembahasannya.
"Well, Kenapa kamu berada di negara dan kota yang lama kamu tinggalkan?"tanya daichi.
Ia menunduk, perlahan melipat tangannya yang ada di meja, butuh beberapa menit hingga akhirnya dia membuka mulutnya.
"Aku ingin melihat seseorang", ucapnya.
Daichi melihat mata yang tajam menatapnya dari balik bulu matanya, mendadak ada perasaan yang was - was dirasakan daichi.
"Baiklah, kalau begitu katakan siapa seseorang yang ingin kamu lihat itu?tanya daichi dengan senyum simpul.
"Kamu akan mengetahuinya nanti", ucapnya sambil tersenyum.
"Benarkah ini terlihat menarik sekali", jawab daichi.
Dia mencoba menahan rasa kesal saat melihat senyum haga yang terlihat mengejeknya. Beberapa detik saling diam, hingga akhirnya haga membuka kembali pembicaraan.
"Daichi, tolong berikan ini kepada sakura", ucap nya yang memberikan paper bag yang ada di atas mejanya.
"Sakura?"tanyanya dengan nada dingin
Dia yang dari tadi menyandarkan badannya di bangkunya, kini tanpa disadari telah mencondongkan tubuhnya kearahnya .Tangannya mengepal begitu kuat, mencoba menahan amarahnya saat mendengar seseorang menyebut nama sakura.
"Betul. "Aku membawa oleh- oleh untuk mu dan sakura. "Dua botol parfum dengan aroma yang berbeda, aroma Rosee untuk sakura karena itu adalah aroma favoritnya", jelas haga.
"Bagaimana kau bisa tahu bahwa rosee adalah aroma kesukaannya?"tanyanya, tak mampu membendung rasa penasarannya.
Keduanya saling bertatapan, daichi terus mengamati haga yang diam seketika. Perasaannya dilema dalam membuat keputusan, mengatakan yang sejujurnya atau tidak kepada daichi. Tiba - tiba saja dia tertawa dengan mata yang berkaca - kaca, melihat hal itu membuat daichi semakin bingung dengan perubahan sikap haga yang begitu cepat berubah. Raut wajah yang terlihat serius begitu cepat berganti dengan tawa diwajahnya.
"Mengapa kamu tertawa?"tanya daichi yang merasa saat ini dirinya sedang diledek dan dipermainkan oleh Haga, raut wajahnya berubah dingin dan tanpa ekspresi.
"Wajahmu terlihat begitu tegang daichi. Saat kita waktu itu bertemu, aku mencium aroma parfum sakura dan aku pikir sepertinya aroma Rosee adalah aroma kesukaannya", jawabnya dengan tenang.
Penjelasan yang sedikit masuk akal menurut daichi, ketegangan di wajahnya mencair. Meski begitu, kecurigaan dirinya terhadap sahabat itu masih ada walau dia terus mencoba mengalihkan rasa curiganya, namun tatapan matanya yang begitu dalam saat melihat sakura dan tak akan pernah dilupakannya.
Sejak pertemuannya dengan sakura, sejak saat itu dia selalu bertanya- tanya apakah haga menyukai sakura atau mengagumi sakura, berteman cukup lama tentu membuatnya sedikit banyak mengetahui segala hal mengenai haga termasuk sikapnya terhadap wanita. Tatapan matanya yang begitu dalam hanya pernah sekali di lihatnya saat dia membicarakan sosok wanita misterius yang dia cintai dan selebihnya dia melihat wanita semua sama saja.
__ADS_1
"Haga, apa mungkin gadis yang dulu membuatmu tergila-gila adalah sakura?"tanya daichi, merasakan sekelumit perasaan yang bergejolak di hati dan pikirannya membuatnya mengutarakan pertanyaan yang telah lama ingin ditanyakan nya.
Haga mengatupkan bibirnya rapat-rapat, matanya menyipit menatap daichi, pikirannya kembali menimbang-nimbang pertanyaan yang dilontarkan daichi untuknya.
"Ayolah daichi? Pertanyaan konyol macam apa ini", ucapnya menatap daichi masih dengan raut wajah yang tenang.
"Ya, itu terdengar konyol, tapi aku sangat serius untuk pertanyaan ku barusan," wajah tampannya kembali berubah serius.
"Dengar haga, kamu tentu sudah mengenal baik siapa aku. Daichi Tama tidak akan pernah melepas siapapun yang mencoba mengambil apapun yang telah menjadi miliknya, bahkan aku sama sekali tidak peduli siapapun dia. Aku akan menghancurkan siapapun itu termasuk orang terdekatku sekali pun", ucapnya suaranya serak dengan tatapan tajam dan wajah serius.
"Tentu saja daichi. Aku tidak akan pernah melupakan itu", ujar haga, namun kali ini wajahnya ikut terlihat serius.
Menunjukkan siapa dia membuatnya sedikit lebih tenang, tidak ada alasan untuknya khawatir saat apa yang harus di dengar haga telah diutarakannya,tapi anehnya rasa khawatir itu tetap menggangu dirinya.
Dibalik obrolan keduanya, ada seseorang yang mendengar pembicaraan serius yang terjadi dibalik pintu ruangan yang terbuka.
"Astaga", ucapnya dengan senyum lebar di wajahnya.
"Baiklah sera, sepertinya sebentar lagi keberuntungan akan memihak kepadamu",jelasnya dengan senyum yang tak henti - henti tergambar diwajahnya.
Matanya terus memandang dari sela - sela pintu yang terbuka sedikit, rasa bahagia yang dirasakan saat ini membuatnya sulit mengontrol ekspresi kebahagiannya.Tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa akan ada cara yang lebih muda untuk mendapatkan daichi.
"Lebih baik aku pergi dari sini sekarang,sebelum ada yang melihatku", ucapnya yang melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
°°°°°°°°°
"Yumi, apa kamu sudah melihat sera?"tanya ayana.
"Belum. Aku sudah pergi ke toilet, tapi tidak menemukan dirinya.
"Kemana sebenarnya dia pergi!! Kenapa dia selalu bertingkah semaunya begitu!" ucap ayana yang mulai kesal.
"A-apa mungkin dia pergi menemui tuan daichi", ucap yumi.
"Benar!!? Kenapa tidak terpikirkan oleh dari ku dari tadi,mungkin saat ini dia pergi menemui daichi. Baiklah yumi, kita harus melihat kesana",ucap ayana.
"Ayok!!" jawab yumi
Saat kaki baru ingin melangkah, sosok yang dicari telah kembali.
"Kalian mau kemana?"tanya sera tanpa merasa bersalah.
"Dari mana saja kamu sera, dari tadi aku dan yumi mencari - cari dirimu",ucap ayana yang benar - benar sudah tidak tahan dengan sikap sera yang sesuka hatinya.
"Hentikan ayana, jangan berlebihan seperti itu", ucap sera.
Rasa keras kepalanya yang tidak ingin mendengarkan siapa saja membuat ayana semakin terlihat kesal, tapi tetap saja sulit rasanya untuk beradu argument dengan sera yang selalu menganggap dirinya benar. Dia menatap sera, sorot matanya begitu serius kali ini.
"Dengar sera, aku adalah manager mu. Aku dan yumi disini untuk bekerja, bukan menjadi tukang suruh mu. Berhentilah bertingkah semau mu dan bekerjalah secara profesional", gumam ayana.
Kata- kata yang terucap dari mulut ayana, membuat sera terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa ayana memiliki keberanian yang cukup besar berbicara seperti itu kepadanya. Ada perasan ketakutan yang terlintas dipikirannya jika nanti ayana dan yumi akan pergi meninggalkannya karena sifat buruknya selama ini. Sikap angkuh yang diperlihatkannya perlahan memudar dari wajahnya, dia mencoba bersikap baik dengan menunjukkan wajah bersalahnya.
"Maafkan aku ayana. Aku sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Maaf jika aku telah bersikap kasar kepadamu dan yumi", ucapnya sambil meraih tangan ayana.
"Berjanjilah kepada aku dan yumi, bahwa kamu tidak akan pernah bersikap seperti itu lagi. Tolong sera, hargai kami yang selalu ada mendukung mu", ucap ayana.
Dia menarik napasnya, mencoba menenangkan dirinya dan mengatur intonasi suaranya agar terdengar lembut.
"Aku berjanji ayana, aku tidak akan bersikap seperti itu lagi dan akan memberitahu mu jika aku pergi kemana pun",ucapnya yang terlihat begitu tulis.
"Baiklah sera, kami berdua percaya dengan mu", jawabnya lembut.
"Yasudah, ayok kita pergi dari sini", ucap yumi.
Sera terdiam sebentar untuk mencari alasan kepada ayana dan yumi.
"Kalian pulanglah duluan", ucapnya sambil tersenyum.
"Duluan? tapi kamu mau kemana sera?"tanya ayana yang terlihat penasaran.
"Ahh. Itu aku ada urusan sebentar", jawabnya begitu cepat.
"Urusan?" tanya ayana yang semakin penasaran.
"Benar. Aku ingin menemui teman lama ku", dia langsung menjawab.
"Teman?." nada suaranya terdengar ragu.
"Yasudah ayana, biarkan saja nona sera untuk bertemu dengan teman lama", ucap yumi.
"Tapi", jawab ayana yang masih merasa tidak yakin dengan apa yang dikatakan sera.
"Aku akan langsung pulang setelah selesai menemui teman lama ku itu", ucap sera yang mencoba meyakinkan ayana.
"Baiklah kalau begitu. Kami duluan ", ucap ayana.
"Hmm. Hati -hati", ucap sera sambil melambaikan tangannya kepada mereka berdua sambil tersenyum dan ketika bayangan mereka menghilang senyum di bibirnya musnah begitu saja.
"Ayana...ayana..., Dasar bodoh!!" ucapnya dengan sudut bibir kiri terangkat keatas memancarkan senyum licik di wajahnya.
__ADS_1
Bersambung.....