Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episdoe 85 Makan malam


__ADS_3

Hai semuanya,


Disini saya sebagai seorang penulis ingin berterima kasih buat dukungan kalian...


Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu Up dari pernikahan yang dijodohkan yaaaa...


Malam ini akan up 2 bab, jangan lupa buat like and coment setiap bab nya tinggalkan jejak kalian supaya aku bisa tau.


Please dukung aku dan VOTE buat aku masuk dalam rangking jika kalian ingin aku terus semangat buat Up nya...


Ayok bergabung di grup agar kita bisa saling mengobrol dan lebih dekat..


Aku sayang kalianπŸ’–πŸ’–πŸ’–


Selamat membaca πŸŽ‰πŸŽ‰


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Jarak yang beberapa hari ini terjadi diantara keduanya akhirnya menghilang. Hubungan yang tadinya terasa renggang kini kembali merajut keharmonisan yang sempat ternodai akibat ke salah pahaman diantara keduanya. Kini hanya ada kebahagian yang terpancar di wajah sakura saat mengetahui begitu besar rasa cinta daichi untuknya.


Dia yang dari tadi masih menenangkan dirinya yang tak kuasa mengahadapi daichi saat menggodanya, akhirnya beranjak dari tempatnya dan berjalan menujuh ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa begitu lengket.


Seperti biasa sakura menghabiskan waktu berjam - jam saat berada di dalam kamar mandi. Daichi yang telah selesai mandi kembali kedalam kamarnya, saat dia membuka pintu tak ada keberadaan sakura dilihatnya.


"Apa dia masih mandi?" ucap daichi.


Dia berjalan kearah kamar mandi, saat dia mendekat terdengar suara air yang mengalir dari shower dan suara sakura yang sedang bersenandung.


Tok...Tok...Tok..


"Sakura......", ucap daichi.


"Iaaaa", Teriak sakura dari dalam kamar mandi.


"Apa kamu masih lama?" tanya daichi.


"Tidak, Aku sebentar lagi siap daichi", teriak sakura.


"Aku turun duluan, ada hal yang ingin aku bahas dengan ayah. Apa kamu tidak masalah?" Tanya daichi.


"Baiklah, aku tidak apa- apa. Aku akan segera turun", teriak sakura.


"Aku menunggumu dibawah", ucap daichi.


"Hmmmm....", jawab sakura.


Setelah selesai memberitahukan kepada sakura, dia pun pergi meninggalkan kamarnya untuk turun kebawah menemui Arashi untuk membahas mengenai pekerjaan.


"Ibu, Dimana ayah?" tanya daichi.


"Akhh, ayahmu masih diruang kerjanya", ucap Imoto.


"Baiklah, aku akan menemuinya disana", ucap daichi.


"Dimana sakura, kenapa kalian tidak turun bersama?"tanya Imoto.


"Dia masih mandi Bu. Yasudah Bu, aku pergi duluh menemui ayah", ucap daichi.


"Ia sayang", jawab Imoto.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Kesibukan diruang makan masih terjadi, para pelayan menata dan meletakan peralatan makan yang akan digunakan keluarga Tama.


"Selamat malam semuanya", ucap sakura.


"Putriku", ucap Imoto yang tersenyum melihat kehadiran sakura.


"Ibu lebih baik sekarang duduk, biar sakura yang mengerjakannya", ucap sakura.


"Baiklah sayang, bahagianya memiliki seorang putri", ucap Imoto yang tersenyum melihat sakura.


"Nona sakura, dimana saya harus meletakannya", ucap seorang pelayan wanita.


"Tolong letakan disana saja", jawab sakura.

__ADS_1


Sakura kembali memastikan bahwa semuanya telah selesai dikerjakan sebelum daichi dan ayah mertuanya datang.


"Sempurna",ucap sakura.


"Apa semuanya sudah siap sayang?" tanya Imoto.


"Sudah Bu", jawab sakura


"Kalau begitu, ibu akan menyuruh pelayan untuk memangil ayah dan daichi", ucap Imoto.


"Akhhh, tidak usah bu. Biar sakura yang memanggil mereka ", ucap sakura.


"Baiklah sayang, mereka ada diruang kerja ayah", ucap Imoto.


"Baik Bu", jawab sakura yang pergi menujuh ruang kerja Arashi.


Tepat di depan pintu dari ruang itu dia memberhentikan langkah kakinya.


"Sama sekali tidak terdengar suara", ucap sakura sambil mengetuk pintu itu.


Tok..Tok..Tok...


"Masuklah", terdengar suara dari dalam ruangan itu.


Dengan perlahan sakura membuka pintu ruangan itu, ini untuk pertama kalinya sakura masuk kedalam ruangan kerja Arashi sejak dia tinggal dirumah itu. Arashi dan daichi mengarahkan pandangannya kepada pintu yang perlahan terbuka untuk melihat siapa sosok yang datang.


"Oh, menantuku", ucap Arashi.


Sakura hanya tersenyum sambil melangkah masuk kedalam ruangan itu.


"Kemarilah menantu", ucap Arashi sambil melambaikan satu tangannya.


Daichi yang melihat kehadiran sakura saat itu hanya tersenyum.


"Apa sakura mengganggu?" tanyanya dengan wajah yang terlihat polos tepat berdiri di samping daichi.


"Ah, tentu saja tidak. Ada apa menantu?" tanya Arashi.


"Sakura hanya ingin memanggil ayah dan daichi untuk makan malam karena ibu sudah menunggu di meja makan", ucap sakura.


"Benarkah, kalau begitu kita harus segera pergi sebelum ibu kalian marah", ucap Arashi yang bangkit dari bangkunya.


Mereka pun bersama- sama pergi menujuh keruang makan, dimana Imoto telah menanti kehadiran mereka.


"Suamiku, kenapa lama sekali", ucap Imoto.


"Benarkan, Apa yang ayah katakan", ucap Arashi


Sakura dan daichi hanya tertawa saat mendengarkan ucapan Arashi sambil duduk di bangku mereka masing-masing.


"Apa menu makan malam kita? Apa menantuku yang memasak makanan ini?" Tanya Arashi.


"Bukan ayah, Maafkan sakura", ucap sakura.


"Putriku, kenapa kamu harus minta maaf. Hari ini yang memasak makanan ini bukan sakura suamiku karena sakura tadi kurang enak badan", ucap Imoto.


"Kurang enak badan? Apa kamu sakit menantu?" tanya Arashi yang tampak cemas saat mengetahuinya.


"Tidak ayah, sakura hanya kelelahan saja tadi dan sekarang sudah baikan", jawab sakura.


"Apa tidak perlu ke dokter?" Tanya Arashi.


"Hahahah, tidak perlu ayah", jawab sakura.


"Daichi", ucap Imoto.


"Hmmm..., Ada apa ibu?" tanya daichi.


"Kamu harus lebih memperhatikan sakura dan jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan mu. Bagaimana pun sekarang kamu sudah memilki tanggung jawab sebagai seorang suami untuk menjaga dan memperhatikan istri mu", ucap Imoto yang fokus menatap daichi yang ada di depannya.


"Baiklah ibu, aku akan selalu menjaga menantu kesayanganmu", ucap daichi sambil tersenyum menatap sakura yang duduk di sebelahnya.


"Ibu jangan khawatir, daichi selalu menjagaku", ucap sakura yang tersenyum.


"Kamu selalu saja melindungi suamimu sakura", ucap imoto.

__ADS_1


"Bukankah itu tugas seorang istri Bu, melindungi dan menjaga suaminya", ucap sakura.


"Astaga, kamu begitu baik sayang", ucap Imoto.


"Jadi bagaimana dengan rencana pindahan kalian?" tanya Arashi.


"Aissss, Kenapa kamu harus menanyakan hal itu suamiku", ucap Imoto yang menatap suaminya dengan wajah yang terlihat kesal.


"Apa kamu masih belum siap jika mereka pindah istriku?" tanya Arashi.


"Bagaimana pun tidak akan ada seorang ibu yang akan siap berpisah dengan anak-anaknya", ucap Imoto.


"Biarkan mereka menjalani rumah tangga dengan mandiri istriku", ucap Arasi.


Imoto begitu paham mengenai hal itu, bahkan dia pun telah mengalaminya terlebih dahulu. Ketika dia resmi menjadi istri dari Arashi, dia pun langsung ingin memulai kehidupan rumah tangganya sendri tanpa campur tangan kedua orang tua mereka masing- masing, tetapi entah mengapa rasanya begitu sulit saat harus menerima bahwa apa yang dilakukannya dahulu akan kembali terulang. Rasanya dia masih belum siapa untuk melepas putra dan menantunya untuk memulai kehidupan rumah tangga mereka sendiri, dia masih ingin lebih lama menghabiskan waktu bersama keduanya terutama bersama sakura.


"Ayah, ibu..., ada sesuatu yang ingin aku sampaikan", ucap daichi yang menatap Arashi dan Imoto secara bergantian.


"Apa itu?" tanya Imoto.


Dia begitu penasaran dengan apa yang akan disampaikan daichi, apa lagi saat melihat wajah daichi yang tampak terlihat begitu serius.


"Sepertinya, kami akan menunda untuk pindahan rumah weekend ini", ucap daichi.


"Sungguh?" Imoto tampak bahagia saat mendengarnya.


"Apa ada masalah?" tanya Arashi.


"Sama sekali tidak ada ayah", ucap daichi.


"Lalu kenapa?" tanya Arashi.


"Suamiku, kenapa kamu bertanya seperti itu. Apa kamu tidak senang jika mereka memilih untuk tinggal bersama kita?" tanya Imoto.


"Sepertinya ibu sudah salah paham", ucap daichi yang melihat Imoto.


"Apa maksudnya daichi? Salah paham apa? tanya Imoto yang terlihat bingung.


"Kami akan tetap pindah Bu, hanya saja kami akan menundanya karena Minggu depan aku ada pekerjaan keluar negeri", ucap daichi.


"Apa?? Keluar negeri? Imoto tampak terkejut saat mendengarnya.


"Benar Bu", jawab daichi.


"Lalu bagaimana mana dengan sakura? Kamu akan meninggalkannya?" tanya Imoto yang menatap kearah sakura.


"Sakura akan ikut Bu", jawab sakura.


"Sungguh? Benarkah? tanya Imoto.


Wajahnya terlihat bahagia saat mendengarnya, dia begitu senang saat mengetahui mereka akhirnya akan berpergian menghabiskan waktu mereka hanya berdua .


"Ia ibu, sakura akan menemaniku", jawab daichi.


"Ibu pikir kamu akan meninggalkan sakura daichi, itu rencana yang sangat bagus. Kalian bisa berbulan madu sekalian", ucap Imoto.


"Apa tiketnya sudah diurus?" tanya Arashi.


"Sekertaris Yun sudah mengurusnya ayah", ucap daichi.


"Ini adalah kabar yang begitu baik", ucap Imoto sambil menepuk kedua tangannya.


"Hmm, Kenapa Bu?" tanya daichi.


"Tentu saja semua orang pasti sudah menunggu kapan kalian akan berbulan madu, bahkan bibi mu juga selalu menanyakannya dan akhirnya kalian berbulan madu juga", ucap Imoto.


"Kami pasti akan berbulan madu Bu, hanya saja kami belum menemukan waktu yang tepat saja", jawab daichi.


"Berbahagialah putriku", ucap Imoto yang tersenyum kepada sakura.


"Tentu saja Bu", jawab sakura.


Mereka kembali menikmati makan malam mereka. Makan malam bersama adalah salah satu rutinitas yang selalu dilakukan mereka selepas mereka melakukan aktivitas di luar rumah seharian. Dengan makan malam bersama membuat hubungan mereka lebih dekat dan menjalin komunikasi setiap anggota keluarga.


Kehangatan yang terjalin di dalam keluarga Tama membuat sakura merasa seperti ada di tengah tengah keluarga Agata dan begitu bersyukur memiliki suami dan mertua yang begitu sangat menyayanginya.

__ADS_1


"Terima kasih untuk kebahagian yang aku miliki selama ini", batin sakura.


Bersambung........


__ADS_2