
Keheningan terjadi untuk beberapa detik di dalam ruang itu antara daichi dan Haga, hingga akhirnya daichi membuka mulutnya dan mengeluarkan suara.
"Bukan dia", ucap daichi.
"Aku masih tidak mengerti maksud dari perkataan mu daichi", ucap Haga dengan keningnya yang mengkerut.
"Aku tidak menikah dengan wanita yang saat ini ada di pikiranmu", ucap daichi.
"Jadi kamu bukan menikah dengan pacarmu yang berna- ma.....", ucap Haga yang mencoba mengingatnya.
"Sera..", ucap daichi
"Akhhhh..., Benar!!! Namanya adalah Sera. Jadi bukan dia?" tanya Haga yang begitu penasaran.
"Bukan..., aku sudah lama mengakhiri hubungan ku dengan dia", jawab daichi.
"Tunggu dulu daichi..., Bukankah kamu sangat mencintainya? Melihat mu dulu yang begitu mencintainya bahkan aku begitu yakin kalian pasti akan bersama meskipun pertentangan akan ada ditengah keluarga mu", ucap Haga.
"Itu hanya masa lalu Haga dan semua telah berubah", jawab daichi.
Dia terlihat begitu tidak terlalu tertarik untuk membahas masa lalunya, apalagi jika itu berhubungan dengan Sera. Wanita yang telah menjadi masa lalu dihidupnya dan dia sama sekali tidak ingin mengingat semua kenangan yang pernah ada antara keduanya.
"Apa yang terjadi daichi? Keluarga mu menentang hubungan kalian? Dari dulu aku sudah mengatakan kepada mu daichi, bahwa hubungan yang kalian jalani pasti akan mendapatkan pertentangan", ucap Haga.
"Bukan karena itu", jawab daichi.
"Lalu??? Apa yang sebenarnya terjadi daichi, aku begitu penasaran", ucap Haga .
"Tidak ada hubungannya dengan keluarga ku, dirimu juga tau bahwa aku adalah anak pembangkang di keluarga besar ku dan aku sama sekali tidak memperdulikan pendapat mereka", ucap daichi.
" Iya kamu benar, kamu adalah anak yang pembangkang jika itu tidak sesuai dengan keinginan mu. Lalu jika bukan karena keluarga, jadi apa yang membuat seorang Daichi Tama melepaskan wanita yang sangat dicintainya", ucap Haga.
"Dia meninggalkanku karena lebih memilih karirnya sebagai seorang model yang sedang dirintisnya pada saat itu", ucap daichi.
"Apa kamu bercanda? Ayolah, itu sangat konyol daichi", ucap Haga yang tertawa sinis saat dia mendengarnya.
"Tapi itulah yang terjadi", ucap daichi.
"Jadi siapa wanita yang menjadi istrimu?" tanya Haga.
"Bukankah aku mengirimkan undangan untuk mu?" tanya daichi.
"Aku sama sekali tidak membacanya dan hanya melihat inisal namanya kalian berdua saja D dan S , sehingga aku pikir bahwa kamu menikah dengan sera karena inisial namanya yang sama", ucap Haga.
"Sialan..., ucap daichi dengan begitu dingin
"Maafkan aku sobat", ucap Haga yang merasa bersalah.
"Aku menikah dengan wanita yang dijodohkan keluargaku", ucap daichi
"Sebuah perjodohan?" Sulit di percaya..., seorang Daichi Tama menikahi wanita yang dijodohkan oleh keluarganya sendiri", ucap Haga uang menepuk kedua tangannya.
"Aku sudah lelah menentang keluarga ku terutama kakek tua itu", ungkap daichi.
"Jadi siapa wanita yang dijodohkan itu, dari keluarga mana dia berasal karena aku tau kakek mu tidak akan sembarangan dalam memilih keluarga yang layak dengan keluarga Tama", ucap daichi.
"Dari keluarga Agata, aku menikah dengan Sakura Agata", ucap Haga.
"Apa katamu barusan? Sa-kura? tanya Haga.
Mendengar nama Sakura membuatnya terkejut, nama yang tidak asing saat dia mendengarnya. Kedua bibirnya terkunci begitu rapat, dia menggenggam tangannya begitu kuat, menahan perasaan yang dirasakannya saat ini.
"Ia..., sakura. Namanya Sakura Agata.Kenapa kamu terlihat terkejut Haga?"tanya daichi.
__ADS_1
"Tidak...., aku hanya merasa tidak asing dengan nama itu", ucap Haga.
"Maksudnya?" tanya daichi.
"Dulu ada wanita yang aku kenal dan bernama sakura dan sama seperti nama istri mu. Sudahlah ...., lupakan itu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama", ucap Haga.
"Maaf Haga..., sepertinya aku tidak bisa. Kasihan sakura sendirian di apartemen",ucap daichi.
"Baiklah...., tidak masalah. Dimana kalian tinggal, mungkin aku bisa berkunjung", ucap Haga.
"Aku akan mengirimkan alamatnya nanti kepada mu", ucap daichi sambil bangkit berdiri.
"Baiklah..., kalau begitu daichi", ucap Haga.
"Aku pergi dulu kalau begitu", ucap daichi.
"Hati - hati daichi, sampai jumpa besok", ucap Haga.
"Oke...., Jawab daichi sambil pergi meninggalkan ruangan haga.
Kedua mata itu fokus menatap kearah pintu yang baru saja dilalui daichi, nama itu masih terlintas dipikirannya hingga membuat dirinya begitu penasaran dengan sosok wanita yang memiliki nama yang sama dengan wanita yang dulu pernah disukainya, namun dia hanya mampu memendam rasa suka itu tanpa berani mengutarakannya.
Wanita yang sampai sekarang tidak pernah dilupakannya, seorang wanita yang begitu sederhana, memiliki sifat yang luar biasa untuknya dan membuatnya jatuh cinta kepadanya dan hanya bisa melihatnya dari kejauhan tanpa berani mendekatinya.
"Apakah wanita yang telah menjadi istri Daichi adalah wanita yang sama dengan yang aku kenal?" tanya Haga.
"Aku akan segera menemukan jawaban itu", ucapnya.
°°°°°°°
Apartemen🏬
"Anda bisa pulang sekarang", ucap daichi sebelum keluar dari mobil.
"Saya akan menyetir sendiri, jadi anda bisa pulang dan beristirhatlah", ucap daichi.
"Baik tuan daichi", jawabnya.
Dia langsung bergegas menujuh lantai 3 menujuh apartemen yang mereka tinggali. Tempat di depan pintu dia menekan bel menunggu sakura membukakan pintu untuknya dan menjadi salah satu mimpinya saat dia pulang kerja seseorang menyambut kedatangannya. Namun beberapa menit menunggu pintu itu tak kunjung terbuka, sehingga membuat daichi memutuskan untuk membukanya sendiri.
Daichi langsung berjalan masuk kedalam apartemen, ruangan itu terlihat bersih dan daichi tau bahwa sakura telah membereskannya semua.
"Sakura...., sakura...,"
Daichi terus memanggil nama sakura sambil menyusuri setiap ruang apartemen.
"Dimana sakura? Apa dia dikamar?" ucap daichi sambil melangkah menuju kekamar.
Ruangan kamar itu terlihat kosong dan sama sekali tidak ada keberadaan sakura, perasaan daichi semakin cemas saat dia sama sekali tidak menemukan istrinya itu. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya untuk menghubungi sakura, namun dia teringat bahwa sakura belum mengganti kartu ponselnya saat tiba.
"Kemana kamu pergi sakura????" ucap daichi yang terlihat bingung.
Dia pergi meninggalkan kamar menujuh keluar dan saat dia keluar, terdengar bunyi seseorang sedang menekan tombol password pintu apartemen itu, kedua matanya begitu fokus menatap kearah pintu hingga pintu itu terbuka dan sosok wanita yang dari tadi dicari muncul dihadapannya.
"Sakura.....", ucapnya.
"Daichi..," ucap sakura dengan matanya yang tercengang saat melihat daichi berdiri memandanginya.
"Kamu sudah pulang?" tanya sakura yang sama sekali tidak menyangka bahwa daichi telah kembali.
Tanpa menjawab pertanyaan sakura, dia berjalan dengan langkah kaki yang panjang menghampiri sakura dan langsung memeluk sakura dengan begitu erat, kantong plastik yang ada dalam genggaman kedua tangan sakura terlepas hingga jatuh kelantai.
"Apa ya-ng ter-jadi?" tanya sakura yang masih berada dalam dekapan daichi.
__ADS_1
"Aku mengkhawatirkan mu saat dirimu tidak ada", ucap daichi.
"Maafkan aku daichi", ucap sakura.
Daichi melepaskan pelukannya dari sakura dan menatap wajah sakura.
"Kamu kemana saja?" tanya daichi.
"Aku pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan saat aku ingin meminta izin kepada mu, aku baru ingat kalau aku belum mengganti kartu ponsel ku", ucap sakura.
"Iya..., aku juga baru menyadarinya saat ingin menghubungi mu", ucap daichi.
"Tapi kenapa kamu sudah pulang secepat ini? Aku pikir kamu akan pulang agak sore", ucap sakura.
"Pertemuannya akan dilanjutkan besok, tadi Haga mengajak ku untuk makan siang dengannya, tetapi aku menolaknya karena aku ingin makan siang bersama mu", ucap daichi sambil tersenyum kepada sakura.
"Daichi.., maafkan aku. Aku sama sekali belum ada memasak makan untuk makan siang, tetapi aku akan memasaknya sekarang", ucap sakura.
"Sssttttttt...," ucap daichi yang menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir sakura.
"Kita makan siang diluar dan setelah itu kita berjalan - jalan. "Bagaimana, kamu setujuh?" tanya daichi yang menatap sakura.
"Hmmm..., Aku setujuh", jawab sakura dengan senyum yang melebar.
"Baiklah.., kalau begitu aku akan mengganti pakaianku dulu", ucap daichi.
"Iya daichi, aku juga harus menyimpan belanjaan ku kedalam kulkas", ucap sakura sambil meraih kantong plastik yang terjatuh di lantai.
"Berikan.., aku akan membawanya, ini sangat berat", ucap daichi sambil mengambilnya dari tangan sakura.
Sakura hanya tersenyum melihat daichi yang begitu perhatian, bagi sakura daichi adalah sosok suami yang sempurna untuknya. Dia merasa begitu beruntung saat dirinya begitu dicintai oleh suaminya dan sebaliknya dia pun begitu mencintai suaminya itu hingga tidak akan pernah membiarkan ada yang mencoba mengambil apa yang telah menjadi miliknya.
Daichi berjalan menujuh ke dapur dengan diikuti sakura dari belakang.
"Dimana aku harus meletakkannya sakura?" tanya daichi.
"Disini saja daichi", ucap sakura.
Dia meletakan semua belanjaan sakura sesuai dengan yang di katakan sakura.
"Apa ada lagi yang bisa ku bantu?"tanya daichi
"Tidak..., lebih baik kamu bersiap - siap. Aku juga akan bersiap - bersiap setelah menyelesaikan ini", ucap sakura.
"Baiklah.., aku kekamar dulu",ucap daichi.
"Hmmm...," jawab sakura.
Ketika daichi bersiap - siap dikamar, sakura dengan sigap membereskan semua belanjaannya. Mencuci buah dan sayuran dan kemudian menyimpannya di dalam kulkas.
"Akhirnya selesai juga", ucap sakura.
"Apa sudah selesai?" tanya daichi yang tiba - tiba saja datang.
"Sudah.., kamu juga sudah siap?" tanya sakura.
"Hmmmm", jawab daichi.
"Kalau begitu aku siap - siap dulu", ucap sakura.
"Baiklah.., aku akan menunggu mu. Tidak perlu terburu - buru", ucap daichi yang duduk di sofa panjang.
"Oke...," jawab sakura yang berlalu menujuh kekamar.
__ADS_1
Bersambung......