Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 128 Waspada


__ADS_3

Pagi ini suasana hati sakura begitu bahagia sejak dia mulai membuka matanya di pagi hari, dia terus bersenandung dengan riang dikamar tanpa tau sebabnya.


"Apa yang membuatmu begitu bahagia sayang?"tanya daichi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Entahlah, apa mungkin karen cuaca hari ini sangat cerah", jawab sakura dengan tangan yang bergerak merias wajahnya


Daichi tersenyum. "Oh, jangan lupa membawa obat dan vitamin mu", ucap daichi.


"Baiklah sayang, aku sudah memasukannya kedalam tas", ucap sakura.


"Baguslah kalau begitu", jawab daichi, dia berjalan mendekat kearah sakura yang sedang duduk di meja riasnya.


"Bagaimana tidurmu?"


"Nyenyak. Bagaimana dengan kamu?"tanya sakura.


"Aku juga sama sayang", jawabnya yang kini berdiri dibelakang sakura, keduanya saling memandang melalui pantulan cermin yang ada didepan mereka.


Dengan lembut di mengelus rambut sakura yang panjang dan terurai begitu indah, menundukkan kepalanya sembari mencium rambut sakura yang begitu wangi dirasanya. Matanya terpejam menikmati aroma wangi yang berasal dari rambut sakura sembari tersenyum dan kembali membuka matanya.


"Stroberi?"tanyanya yang memandang wajah sakura di cermin.


"Hmmm", jawab sakura .


Dari dalam kamar terdengar langkah kaki berjalan mendekat kearah kamar mereka.


Tok...Tok...Tok..


"Tuan daichi, nona sakura. Sudah waktunya sarapan ", ucap bibi mori.


"Dia selalu saja begitu", ucap daichi yang tertawa singkat.


Sakura langsung berdiri dan membuka pintu kamar mereka.


"Selamat pagi bi", sapa sakura yang bersikap sopan.


"Selamat pagi nona sakura ",sapa nya.


"Bibi, panggil saja sakura", perintah sakura.


"Baiklah. Bibi sudah membuat sarapan", ucapnya.


"Hmmm.Terima kasih bi", ucap sakura.


"Kalau begitu bibi tunggu di meja makan", ucapnya yang pergi meninggalkan sakura.


Dia kembali menutup pintu kamarnya, berjalan menghampiri daichi yang sedang memasang dasi.


"Biar aku bantu", ucap sakura.


"Terima kasih sayang", ucapnya yang tersenyum menatap sakura.


Sakura membalas dengan senyum. "Ayok kita keluar, bibi sudah menunggu kita", ucap sakura.


"Ayok", jawab daichi sambil menggenggam tangan istrinya keluar bersama dari dalam kamar menuju ruang makan.


Dimeja makan, wanita itu duduk diam menunggu kehadiran sakura dan daichi.


"Selamat pagi bi", sapa daichi.


Mori menatap mata daichi sejenak sebelum mengalihkan matanya melihat penampilannya yang terlihat tampan dengan jas yang dikenakannya, anak kecil yang dirawatnya selama ini telah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan bahkan telah memiliki seorang istri.Dia tidak mampu mengatakan apapun saat perasaannya begitu bahagia.


"Ada apa, bi?"tanya daichi.


Mori mendesah. "Aku tidak menyangka bahwa kamu bukan lagi daichi kecilku", ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


Daichi bangkit dari kursinya menghampiri mori yang terlihat sedih. Tepat di hadapan wanita yang telah lama mengasuhnya, dia berlutut sembari memegang kedua tangan yang terlihat mulai keriput.


"Dengar bi. Aku tau aku sudah dewasa sekarang, tapi aku tetap daichi kecilmu. Jadi jangan menangis lagi",ucapnya, dengan tulus dia mencium kedua tangan wanita yang telah merawatnya seperti ibu kandungnya sendiri.


Melihat apa yang sedang terjadi saat ini, membuat perasaan sakura begitu tersentuh. Dia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa daichi begitu menghormati dan menyayangi wanita yang selama ini mengurusnya. Dia menatap daichi, dan merasa bersyukur memiliki suami yang begitu luar biasa.


"Apa kita sudah bisa makan? "Aku sudah tidak sabar untuk menikmati masakan bibi", ucap daichi sembari bangkit berdiri.


"Tentu saja. Makanlah", jawab mori.


Daichi tersenyum dan kembali duduk di kursinya untuk menikmati sarapan pagi nya bersama dua orang wanita yang sangat berharga untuknya.


"Selamat makan sayang", ucap daichi yang menatap sakura yang ada disampingnya.


"Selamat makan suamiku", ucap sakura.


Sarapan pagi itu berlangsung begitu tenang dan berlangsung sekitar 15 menit sebelum akhirnya keduanya berangkat kekantor bersama -sama.


••••••••


Kantor sakura

__ADS_1


"Kita sudah sampai", ucap daichi.


"Hmmm", jawab sakura yang meraih tasnya yang di letak dibelakang.


"Apa sudah tidak ada lagi yang ketinggalan?"tanya nya yang mencoba memastikan kembali.


"Tidak ada", jawab sakura.


"Aku akan menjemputmu nanti sayang", ucapnya.


"Baiklah", jawab sakura


"Satu lagi, jangan lupa meminum obat dan vitaminnya", ucap daichi, dia tidak pernah lupa mengingatkan sakura dan merasa bertanggung jawab untuk itu.


"Tentu suamiku", jawab sakura dengan senyum di bibirnya.


"Baguslah", ucap daichi.


Dia membentangkan kedua tangannya, sakura yang melihat hal itu hanya tersenyum dan meringkuk dalam pelukan yang hangat.


"Hati-hati dijalan sayang", ucap sakura yang masih berada di dekapan daichi.


"Semangat bekerja", balas daichi.


Kedua tangan daichi yang mendekap sakura dilepaskannya, ditatapnya wajah sakura, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening sakura.


"Turunlah", perintahnya.


"Hmmm. Sampai jumpa nanti", ucap sakura sambil turun dari dalam mobil.


Dia berdiri pada posisinya, memandangi mobil daichi yang melaju pergi dan menghilang dari pandangan matanya. Sekitar dua menit dia masih berdiri diluar, termenung dengan perasaan yang mendadak tidak tenang.


"Selamat pagi nona sakura", sapa kimi yang datang dari arah samping.


Kimi, selamat pagi", jawabnya sambil tersenyum.


"Apa yang anda lakukan diluar nona?"tanya kimi.


"Tidak ada. Mari kita masuk",ucap sakura.


"Mari nona", balas kimi, keduanya berjalan masuk kedalam kantor tersebut.


Diletakkan tasnya dan duduk di bangku yang menjadi singgah sana nya, dia mulai memeriksa tumpukan kertas yang ada dimeja kerjanya.


"Secangkir coklat hangat untuk anda", ucap kimi yang meletakkannya di sisi kanan meja kerja sakura.


"Kimi, terima kasih", ucap sakura.


Sakura memeriksa dokumen yang diberikan kimi secara teliti sebelum menandatanganinya, tangannya mulai bergerak saat pulpen hitam bergerak di atas kertas putih yang mengguratkan tanda tangannya.


"Ini kimi", ucap sakura.


"Terima kasih nona sakura, saya permisi dulu", ucapnya yang keluar dari ruangan sakura.


•••••••••••


Kantor Daichi Tama 🏢


"Nona rasel, tolong perbaiki. Tuan daichi ingin anda memperbaiki surat kerja sama dengan perusahan CRO, setelah selesai tolong berikan kepada saya", ucap sekertaris yun.


"Baik tuan, saya akan segera memperbaikinya", ucap wanita itu.


"Terima kasih nona rasel", balas sekertaris yun yang tersenyum, hingga matanya melihat seseorang yang tak asing untuknya. Dia mencoba memastikan bahwa apa yang dilihatnya tidak salah.


"Nona rasel, kalau begitu saya tinggal dulu", ucap sekertaris yun.


Langkah kakinya begitu cepat berjalan, kedua matanya terbuka lebar terlihat kaget.


"Astaga!" dia terdiam sejenak saat menyadari bahwa wanita yang dilihatnya itu sesuai dengan apa yang ada dipikirannya.


"Apa yang dilakukannya disini?"ucap sekertaris yun, dia terlihat mulai cemas dan merasa terganggu dengan kehadirannya.


Tanpa disangka olehnya sera membalikan badannya dan melihatnya..


"Sekertaris yun", ucapnya dengan senyum yang cukup ramah, tapi tidak untuk sekertaris yun yang beranggapan bahwa itu adalah senyum palsu dan begitu mematikan meski dia tidak tahu mengapa dirinya beranggapan seperti itu.


"Wanita yang berbahaya",ucapnya yang berbicara kepada dirinya sendiri, sambil terus memandangi sera yang berjalan menghampiri dirinya.


"Tidak disangka, kita bertemu disini", ucap sera yang kini telah berdiri dihadapnnya.


Dia yang mendengar ucapan sera itu hanya diam membisu,bibirnya terkatup rapat, rasanya begitu sulit untuk menarik setiap sudut bibirnya membentuk lengkungan diwajahnya untuk sera.


"Saya juga tidak menyangka. Apa yang membuat anda kemari? Sepertinya tidak ada rapat atau pertemuan hari ini",ucap sekertaris yun.


Sera tertawa saat melihat sikap kurang bersahabat yang diperlihatkan sekertaris yun kepadanya.


"Jangan terlalu kaku seperti itu sekertaris yun, kamu benar hari ini memang tidak ada pertemuan dan saya datang kesini karena khusus ingin bertemu daichi secara pribadi", jelasnya.

__ADS_1


"Maaf nona sera. "Apa anda sudah membuat janji bertemu dengan tuan daichi?"tanya sekertaris yun.


Sera mengangkat sebelah alisnya, kali ini dia berjalan lebih mendekat kepada sekertaris yun yang berdiri memberi jarak beberapa meter kepada sera.


"Dengar sekertaris yun. Aku tidak perlu membuat janji karena daichi pasti akan menemui ku", ucapnya yang terlihat begitu tenang.


"Benarkah?"tanya sekertaris yun.


"Hmmm". Pergilah katakan pada daichi bahwa aku ingin bertemu dengannya dan satu lagi katakan padanya bahwa ada yang ingin aku bicarakan mengenai sakura", perintahnya dengan senyum yang terlihat begitu ceria.


"Sakura?"batin sekertaris yun, ekspresi wajah sera, sikapnya yang terlihat begitu tenang saat menyebut nama sakura justru membuatnya semakin khawatir. Walaupun dia benci mengakuinya, tetapi sera bukanlah wanita biasa, dia wanita yang cukup berbahaya dan harus lebih diwaspadai.


"Kenapa anda masih disini sekertaris yun?" Pergilah sekarang dan sampaikan pesan ku kepada daichi", perintah sera.


"Baik nona, saya akan menyampaikannya kepada tuan daichi. Tunggu sebentar", ucapnya yang pergi menuju ruangan Daichi Tama.


Tok...Tok...Tok...


"Masuklah!


"Tuan daichi?" ucapnya dengan ekspresi wajah yang terlihat khawatir.


"Ada apa, sekertaris yun?


Sekertaris yun mendesah, sambil menatap wajah daichi dengan serius.


"Anda akan mendapatkan masalah", ucapnya.


"Masalah apa?"tanya daichi, langsung cemas. "Apa ada masalah dengan klien -klien kita?"


"Tidak tuan. Ini bukan mengenai pekerjaan", ucap sekertaris yun.


"Lalu soal apa?" Jangan membuatku penasaran sekertaris yun", ucap daichi kesal.


Sekertaris yun menatap wajah daichi sambil mengucapkan nama sera yang datang dan ingin bertemu dengannya, seketika wajah daichi berubah saat mendengar nama sera.


"Sera", gumam daichi.


"Dia memaksa untuk bertemu dengan anda tuan", ucapnya


"Katakan padanya aku tidak ingin menemuinya, aku sedang sibuk",perintah daichi.


"Tapi tuan, dia mengatakan bahwa ada yang ingin dibicarakannya mengenai nona sakura kepada anda", sambung sekertaris yun.


"Sakura?" dia mengerutkan kening.


"Benar tuan", jawab sekertaris yun.


Keduanya saling melihat satu sama lain, apa yang dipikirkan daichi sama dengan apa yang dipikirkan sekertaris yun dari tadi. Keduanya bertanya-tanya apa sebenarnya yang ingin dibicarakannya mengenai sakura.


"Bagaimana tuan?"tanya sekertaris yun.


"Aku merasa sedikit aneh", gumamnya,keningnya mengerut di atas matanya yang memancarkan sorot mata penasaran.


"Apa lebih baik saya mengatakan bahwa anda tidak ingin menemuinya?"tanya sekertaris yun.


"Tidak sekertaris yun. Biarkan dia masuk karena aku juga penasaran apa yang ingin dibicarakannya", ucap daichi.


"Apa anda yakin tuan?"tanya sekertaris yun, sejujurnya dia tidak setuju jika daichi menemui sera.


"Biarkan dia masuk sekertaris yun", ucap daichi.


"Baik tuan. Permisi", ucapnya yang keluar dari ruangan itu.


Diluar ruangan sera masih setia menunggu, hingga akhirnya dia melihat sekertaris yun telah keluar dari ruangan daichi. Dia langsung berjalan mengahampiri sekertaris yun dengan senyum yang dari tadi terlihat diwajahnya dan itu tidak seperti biasanya bagi sekertaris yun.


"Bagaimana?"


"Tuan daichi sudah menunggu anda di dalam nona", ucap sekertaris yun.


Sera tertawa begitu senang. "Apa yang aku katakan tadi sekertaris yun, daichi pasti ingin bertemu dengan ku", ucapnya.


Selama satu detik bibir sekertaris yun tertutup rapat, dia tidak mampu berbicara apapun kepada sera yang terlihat begitu bahagia saat daichi bersedia menemuinya.


"Maafkan saya nona", ucapnya , memaksakan senyum melihat sera sambil menundukkan kepalanya.


Wajah sera terlihat puas melihat sekertaris yun meminta maaf kepadanya.


"Itu tidak masalah sekertaris yun", ucapnya.


" Silakan masuk nona", ucap sekertaris yun.


"Baiklah". "Ah, aku sampai lupa, dengan sekertaris yun mulai sekarang belajarlah untuk bersikap lebih sopan kepada ku", ucapnya.


"Saya akan mencoba untuk itu nona", balasnya.


Sera tersenyum, kemudian berjalan kembali menuju keruangan daichi sementara sekertaris yun terus melihat sera yang telah masuk kedalam ruangan daichi, dia memandang ruangan itu dengan was-was. Dia masih menatap ruangan itu dengan pandangan cemas, dan itu membuatnya tidak tenang. Hal itu sangatlah wajar karena melihat sikap sera yang terlihat begitu percaya diri seakan ada sesuatu yang telah direncanakannya.

__ADS_1


"Semoga saja, dia tidak merencanakan hal yang aneh-aneh", ucap sekertaris yun.


Bersambung....


__ADS_2