Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 79 Sebentar lagi


__ADS_3

"Tapi kenapa kamu tidak ingin keluar dari rumah sakit sera, padahal kamu sudah sehat?" tanya Ayana


"Aku tidak perlu menjelaskan semuanya kepadamu Ayana", ucap Sera.


"Yumi, bisakah kamu meninggalkan kami berdua", ucap Ayana.


"Baik Ayana, aku akan menunggu di luar", ucap yumi yang pergi meninggalkan keduanya.


Selepas kepergian yumi, Ayana melangkah berjalan mendekat kearah Sera.


"Sebenarnya apa yang sedang kamu rencanakan Sera?" Tanya Ayana.


"Apa maksudmu?" tanya Sera.


"Apa ini menyangkut soal daichi?" Tanya Ayana.


"Itu bukan urusanmu Ayana, jangan ikut campur dengan urusanku", ucap Sera.


"Sampai kapan kamu harus begini Sera?" tanya Ayana yang mulai kesal melihat sikap Sera.


"Kamu bertanya sampai kapan aku seperti ini? Sampai aku mendapatkan kembali daichi", ucap Sera dengan tatapan matanya yang melotot menatap Ayana.


"Hentikan Sera!! Daichi sudah menikah dan memiliki istri sekarang. Tolong jangan mencoba merusak hubungan mereka", ucap Ayana.


"Berhenti kamu bilang? Untuk apa aku harus berhenti? Dialah yang merebut daichi dari diriku Ayana", ucap sera.


"Bukan Sera, bukan dia yang merebut daichi dari kamu, tetapi kamu lah yang melepaskan daichi", ucap Ayana


Sejenak Sera terdiam, ucapan Ayana seperti menghantamnya. Ingatan mengenai kehidupannya dahulu kembali teringat oleh dirinya, masa-masa dimana hidupnya yang begitu susah hingga dia harus berjauhan dengan ibunya bahkan sampai ibunya meninggal.


"Apa kamu tidak ingat apa alasan aku meninggalkan daichi ayana? ucap Sera.


Matanya yang tampak tajam itu seketika berubah menjadi mata yang berkaca-kaca dan perlahan setetes air mata keluar dari kedua mata sera yang dari tadi ditahannya agar terlihat tegar dihadapan Ayana.


"Aku muak saat orang-orang memandangku rendah. Aku muak saat orang- orang memandang diriku sebelah mata hanya karena aku bukan terlahir dari anak orang kaya", ucap Sera.


"Tapi itu bukan alasan untuk kamu meninggalkan daichi Sera", ucap Ayana.


"Apa kamu pikir saat daichi menerima aku yang hanya anak dari seorang karyawan rendahan, keluarganya akan menerima ku juga?", tanya Sera sambil menghapus air matanya yang membasahi pipinya.


"SE-RA", ucap Ayana yang tak kuasa melihat Sera menangis.


"Mereka akan merendahkan diriku Ayana, mereka yang terlahir dari keluarga yang memiliki segalanya tidak akan mungkin menerima ku", ucap Sera.


"Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku untuk daichi meski aku harus hidup berjauhan dengan ibu ku bahkan saat dia meninggal aku tidak bisa melihatnya Ayana, aku mengorbankan segalanya hanya untuk mendapat pengakuan di keluarga besar Daichi", ucap Sera.


"Tapi saat ini situasi sudah berbeda Sera, daichi telah menikah", ucap Ayana .


"Karena itu, aku akan melakukan apapun untuk merebut daichi kembali kepadaku meski aku harus berpura-pura seperti ini", ucap Sera.


"Jangan Sera, apa yang kamu lakukan itu salah", ucap Ayana.


"Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milik ku Ayana. Apa aku salah memperjuangkan cintaku?", Tanya Sera.


"Tidak ada yang salah Sera saat seseorang memperjuangkan cintanya, tetapi itu hanya berlaku untuk orang yang belum memiliki pasangan Sera", ucap Ayana.


"Aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu sama sekali", ucap Sera.


Ayana yang selama ini merasa bahwa begitu dekat dan mengenal Sera,tetapi hari ini dia baru menyadari bahwa dia belum mengenal Sera seutuhnya, apa yang dilihatnya selama bertahun-tahun bersama Sera bukanlah sifat aslinya yang sesungguhnya.


°°°°°°°°

__ADS_1


"Kita sudah sampai nona sakura", ucap pak Yuko.


Sakura memutar bola matanya memperhatikan sekelilingnya.


"Apa anda yakin akan masuk sendirian nona sakura?" tanya Kimi.


"Hmm, tentu saja Kimi. Bukankah kita sudah membahasnya tadi di kantor?" tanya sakura yang memalingkan wajahnya menatap Kimi yang duduk disampingnya.


"Saya hanya mengkhawatirkan anda nona sakura", ucap Kimi.


"Kamu tenang saja Kimi, semua akan baik- baik saja", ucap sakura.


"Baiklah nona, saya akan menunggu anda di mobil", ucap Kimi.


"Hmm, aku akan segera kembali", ucap sakura sambil membuka pintu mobil dan keluar dari mobilnya.


Dia berdiri sejenak menghadap pintu masuk dari rumah sakit itu, menarik napasnya dan menghembuskan nya secara perlahan untuk menenangkan dirinya sejenak.


"Baiklah, permainan dimulai", ucapnya yang berjalan sambil mengibaskan rambut panjangnya.


Dia berjalan begitu elegen menujuh keruangan dimana Sera dirawat, seperti biasa kehadirannya selalu menjadi pusat perhatian apalagi banyak orang yang mengenalinya.


"Sakura!!!!!


Suara seorang pria yang tak asing baginya berteriak memanggil namanya, langkah kaki itu sontak saja berhenti dan dengan perlahan dia membalikan badannya.


"Kak Rici", ucap nya dengan kedua matanya yang tercengang.


Rici berjalan menghampiri sakura yang hanya diam berdiri ditempatnya.


"Kenapa harus bertemu kak Rici", batin sakura.


"Sakura", ucap rici dengan senyum yang mengembang di pipinya.


"Apa yang sedang kamu lakukan disini?" Tanya rici.


"Ah, aku ingin menjenguk teman yang sedang sakit kak", ucap sakura.


"Teman? Siapa? Apa kakak mengenalnya?" Tanya rici.


"Ah, Kakak tidak mengenalnya. Dia teman kuliah ku duluh kak", jawab sakura.


"Oh, Begitu", ucap rici.


"Maafkan aku kak, sudah berbohong kepada mu", batin sakura.


"Diruang mana teman mu dirawat. Kakak akan menemani mu", ucap rici.


"Jangan kak", ucap sakura.


"Kenapa sakura, kakak hanya ingin mengenal teman kamu saja", ucap rici


"Bukan seperti itu kak, aku hanya takut dia tidak nyaman jika terlalu banyak yang menjengnguknya", ucap sakura.


Dia terus mencari alasan untuk menolak keinginan rici, bagaimana mungkin sakura mengajak rici menemui Sera yang tak lain adalah mantan kekasih dari daichi. Dia tidak ingin rici mengetahui masalah yang sedang dihadapinya saat ini.


"Baiklah sakura, tapi jika urusanmu sudah selesai mampirlah keruangan kakak untuk bercerita", ucap rici.


"Hmm, Aku akan mengusahakannya kakak", ucap sakura.


"Yasudah kalau begitu kakak pergi duluh", ucap rici.

__ADS_1


"Ia kak, sampai jumpa", ucap sakura.


Dia terus menatap rici yang berjalan pergi meninggalkannya, perasaanya kini begitu sangat lega melihat rici sudah meninggalkannya.


"Aku harus segera pergi, sebelum kakak kembali lagi", ucap sakura.


°°°°°°


"Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan??" ucap yumi yang menempelkan sebelah telinganya di pintu kamar Sera.


Meskipun sudah 3 tahun bekerja bersama dengan Sera dan Ayana, tetapi mereka tidak pernah melibatkan yumi. Keduanya selalu merahasiakan sesuatu kepada Yumi dan selalu menyuruhnya untuk keluar saat keduanya ingin berbicara rahasia. Terkadang Yumi merasa dirinya begitu diasingkan diantara keduanya dan membuatnya berkecil hati.


"Tidak kedengaran sama sekali", ucap yumi yang terlihat kesal.


Dia mencoba menempelkan kembali telinganya di dinding untuk mendengarkan pembicaraan apa yang sedang mereka bicarakan, terdengar suara samar-samar yang menyebut nama Daichi Tama dan begitu jelas terdengar Sera sedang marah dengan Ayana, suara teriakan itu terdengar begitu jelas hingga membuat yumi semakin penasaran.


"Apa yang sebenarnya terjadi antara nona Sera dengan tuan daichi", batin yumi


"Kenapa mereka selalu saja memperlakukan aku seperti ini, padahal lama kelamaan aku juga akan tau", ucap yumi.


Dia terus saja berbicara kepada dirinya, meluapkan kekesalannya terhadap Sera dan Ayana yang selalu menganggapnya seolah tidak ada diantara keduanya. Dia selalu merasa kehadirannya diabaikan bahkan setiap dia memberi masukan keduanya tidak perna mendengarkannya seakan keberadaanya tidak dianggap.


"Permisi".


Suara yang terdengar dari arah belakangnya mengagetkannya hingga dengan refleks menoleh ke arah belakang. Dengan mata yang tercengang dia melihat sosok wanita yang begitu cantik sedang berdiri dihadapannya. Melihat kecantikannya membuat yumi begitu takjub, kedua matanya bergerak dari atas kebawah melihat begitu sempurnanya wanita yang sedang berada di depannya saat ini sosok wanita yang tak asing untuknya.


"Aku seperti mengenalnya? Tapai dimana? Apakah dia seorang model seperti nona Sera? batinnya dengan sorot mata yang masih fokus melihat kedepan.


"Maaf, apa ini ruang kamar Sera??" tanya sakura dengan suaranya yang lembut.


Sebuah alibi yang digunakannya saat ini, dia hanya berpura-pura tidak tau meski sebenarnya dia sudah mengetahuinya bahwa ruangan yang ada di depannya saat ini adalah ruangan dimana Sera dirawat.


"Be-nar nona, ini ruangan nona Sera", ucap yumi yang masih mencoba mengingat siapa sosok wanita yang dihadapinya saat ini.


"Apakah sedang ada yang menjenguknya saat ini?" Tanya sakura.


"Oh, tidak ada nona. Dia sedang bersama managernya Ayana ", ucap yumi.


"Ahhh, jadi dia bukan Ayana teman Kimi", batin sakura.


"Apa saya boleh masuk, saya ingin menjenguk sera", ucap sakura dengan senyum.


"Tentu saja nona, silakan", ucap yumi sambil mempersilahkan sakura untuk masuk kedalam ruangan sera.


Ketika sakura melangkah berjalan kearah pintu kamar Sera, yumi yang awalnya berdiri tepat di depan pintu Sera langsung menepikan dirinya agar tidak menghalangi sakura untuk masuk.


"Terima kasih, saya masuk duluh", ucap sakura.


"Silakan nona", jawab yumi.


Tepat di depan pintu kamar Sera, tak lupa sakura mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu sebagai bentuk sebuah etika yang dimilikinya sebelum masuk keruang orang lain.


Tok....Tok...Tokk


"Masuklah!!!!!


Ketika terdengn suara teriakan yang mempersilahkannya masuk, barulah dia masuk kedalam ruangan itu dengan membuka pintu kamar itu secara perlahan dan berjalan masuk kedalam tempat dimana Sera sedang dirawat.


Aku berharap vote kalian ya untuk mendukung novel yang author tulis masuk 100 besar.


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2