
Ketika melihat pintu kamar Sera terbuka, Ayana dan yumi langsung berdiri dan melihat sakura telah keluar dari ruang kamar Sera. Raut wajah yang dari tadi diperlihatkan sakura nampak berbeda saat di keluar dari ruang itu, mukanya terlihat begitu ketat dengan sorot matanya yang tajam dan tidak senyuman yang terlihat di wajahnya.
"Apa yang telah terjadi", batin Ayana.
Sakura yang hanya sibuk dengan segala pikirannya, tidak menyadari dengan kehadiran Ayana dan yumi yang sedang berdiri sambil memperhatikannya. Dalam hitungan beberapa detik ekspresi wajah sakura berubah dan kembali ceria kembali sambil berjalan mengahampiri keduanya.
"Maaf sudah membuat kalian menunggu lama", ucap sakura.
"Ahhh, tidak masalah nona", ucap yumi.
"Oh ia, Bukankah kamu manager Sera?" tanya sakura
"Ia aku adalah manager sera. Bagaimana anda bisa tau", tanya Ayana yang terlihat curiga.
"Tadi teman anda yang mengatakannya", ucap sakura menunjuk kearah Yumi.
"Hahahah, ia benar. Aku tadi yang mengatakannya", ucap yumi yang terlihat begitu polos.
"Begitu lama Sera berada dirumah sakit pasti banyak pekerjaan yang tertunda", ucap sakura.
"Kenapa dia begitu peduli?" batin Ayana
Entah mengapa dia merasa tidak nyaman dengan kehadiran sakura, dia merasa sakura adalah ancaman untuk Sera meskipun dia terlihat seperti seorang malaikat yang terus memancarkan senyuman di wajahnya bahkan membuat yumi begitu terhanyut melihat sakura Agata.
"Iya, begitu banyak kontrak yang harus ditunda hingga kondisi kesehatan Sera membaik", ucap Ayana
"Benarkah? Pasti banyak kerugian yang dialami Sera dan banyak perusahaan yang meminta ganti rugi", ucap sakura dengan pancaran mata yang terlihat sedih.
"Untungnya semua perusahaan yang bekerja sama dengan Sera mengerti kondisi kesehatan Sera saat ini sehingga tidak ada kerugian yang kami alami", ucap Ayana.
"Ahhh, Mereka sangat pengertian sekali", ucap sakura.
"Tentu saja nona, Ayana menyakinkan mereka untuk memaklumi bahwa kondisi kesehatan Sera menurun setelah kembali dari luar negeri", ucap yumi.
"Benarkah???? tanya sakura.
Seakan keadaan begitu memihak pada dirinya saat ini, dia langsung mendapatkan ide yang begitu bagus saat mendengarkan pengakuan yumi yang begitu polos.
"Ta-pi", ucap sakura.
Belum selesai dia mengutarakan perkataannya, Ayana seperti mampu membaca isi dari pikiran sakura yang seperti akan memikirkan hal yang licik.
"Bagaimana jika mereka semua mengetahui yang sebenarnya?"Tanya sakura.
"Apa maksud anda nona sakura?" Tanya Ayana.
"Iya, bagaimana jika mereka tau bahwa sera masuk kerumah sakit bukan karena kelelahan, tetapi...", sakura berjalan mendekat kearah Ayana sambil berbisik.
"DIA MENCOBA MENGAKHIRI HIDUPNYA", suara itu begitu lantang terdengar hingga menusuk masuk ketelingnga Ayana.
Deg.....
Jantung Ayana seketika terasa berhenti, kedua bola matanya seperti ingin keluar saat kedua matanya terbuka begitu lebar, giginya saling beradu hingga terdengar suara yang bergesekan menahan kemarahan yang memuncak dihatinya saat ini. Dia langsung menatap sakura yang tersenyum melihatnya dengan raut wajah yang begitu santai seakan dia tidak mengatakan apapun.
"Apa anda sedang mengancam ku?"Tanya ayana.
"Apa terdengar seperti ancaman?" tanya sakura.
Ayana hanya mengepalkan kedua tangannya, dia sama sekali tidak menyangka dengan apa yang di lihatnya saat ini. Sakura Agata yang selalu diberitakan terkenal begitu baik, anggun bahkan orang-orang menyebutnya seperti malaikat begitu jauh berbeda dengan sifat yang digambarkan untuknya selama ini. Bagi Ayana saat ini dia lebih terlihat seperti malaikat pencabut nyama, begitu bertolak belakang dengan apa yang dihadapinya saat ini.
"Aku hanya berpikir akan menjadi begitu menarik jika sampai para reporter mengetahui berita ini. Mereka akan memberitakannya begitu besar hingga mungkin akan merusak citra yang telah dibangun Sera selama ini. Apakah kamu mau melihat Sera hancur begitu saja?"Tanya sakura.
"Apa yang anda inginkan?" tanya Ayana.
"Pertanyaan yang bagus, buat Sera agar menjauh dari daichi" ucap sakura.
"Apa???? ucap Ayana.
"Ahh, itu bukanlah sebuah permohonan tapi itu adalah perintah, jika tidak aku akan mengatakan kepada para reporter apa yang sebenarnya telah terjadi. Aku sama sekali tidak kebayang bagaimana nasib karir Sera selanjutnya", ucap sakura.
"Anda begitu tega nona sakura", ucap Ayana yang terlihat kesal.
"Itulah yang akan dilakukan seorang istri untuk menjaga keutuhan rumah tangganya, membuang rumput liar yang menjadi pengganggu", ucap sakura dengan matanya yang tajam menatap ayana.
__ADS_1
"Aku akan mencoba" ucap Ayana.
"Bagus!!! Kalau begitu saya pamit dulu, sampai jumpa", ucap sakura yang berjalan pergi meninggalkan mereka.
"Wanita yang sangat mengerikan, meskipun dia terus saja tersenyum tapi terlihat begitu menakutkan bahkan dibandingkan nona Sera", ucap yumi.
"Sera.....",. ucap Ayana yang langsung terlintas mengingat Sera.
Dia langsung berlari masuk kedalam ruang kamar Sera, dia begitu kaget melihat Sera yang duduk tergeletak dilantai dengan badan yang bergetar.
"Sera....., Apa yang terjadi", teriak Ayana yang berlari mengahampiri Sera.
"Nona Sera, kenapa anda duduk dilantai?" tanya yumi.
"Ayok yumi bantu aku mengangkat Sera keranjangnya", ucap Ayana.
"Baik Ayana",. ucap yumi.
Mereka berdua membatu Sera untuk bangkit berdiri, dia begitu terlihat tak memiliki tenaga untuk bangkit sendiri.
"Minumlah air ini Sera", ucap Ayana.
Dia begitu tidak tega melihat kondisi Sera saat ini, sepertinya sakura telah mengatakan sesuatu hingga membuat Sera seperti saat ini.
"Yumi, tolong jaga Sera. Aku ingin keluar sebentar", ucap Ayana.
"Ia Ayana", jawab yumi.
°°°′°°°°°
Toilet
Sakura yang dari tadi terlihat tegar dan kuat akhirnya menyerah dalam sandiwaranya, dia masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukannya. Apa yang dilakukannya tadi seperti bukan sosok dirinya, dia seperti menjadi orang lain saat harus berhadapan dengan Sera.
Dreg...Dreg...Dreg..
"Hallo Kimi", ucap sakura.
"Nona, Apa anda baik-baik saja?" tanya Kimi yang terdengar begitu panik.
"Benarkah? Lalu anda saat ini dimana, saya akan menghampiri anda sekarang", ucap Kimi.
"Tidak usah Kimi, aku sedang ada di toilet dan sebentar lagi akan segera keluar", ucap sakura.
"Baiklah nona, kami akan menjemput anda di luar loby", ucap Kimi.
"Hmmm", ucap sakura dan mengakhiri panggilan teleponnya dengan Kimi.
Dia menatap dirinya di cermin, dia terlihat masih tidak percaya bahwa dia mampu melawan sera dan mengalihkan penglihatannya pada tangannya yang terus bergetar, tangan yang digunakannya untuk menahan tamparan Sera di wajahnya.
"Aku hanya ingin melindungi rumah tanggaku", ucap dengan yang melihat pantulan dirinya di cermin.
Ketika kondisinya dirasa sudah stabil, dia pun keluar meninggalkan toilet untuk menemui Kimi dan pak Yuko yang dari tadi menunggunya. Dia berjalan tergesa-gesa agar tidak bertemu lagi dengan kakaknya rici Agata, saat dia keluar dari loby sebuah mobil sedan hitam sudah berada di depannya dengan cepat dia masuk kedalam mobil itu dan meninggalkan rumah sakit wongdo.
"Apa anda baik- baik saja nyonya", ucap Kimi.
"Ia Kimi aku baik- baik saja", ucap sakura.
"Tapi wajah anda terlihat begitu pucat nona", ucap Kimi.
"Aku hanya merasa sedikit leleh saja", ucap sakura
"Yasudah nona, lebih baik anda istrhat saja", ucap Kimi.
"Hmmm, Terima kasih Kimi", ucap sakura yang menyandarkan badannya.
"Pak Yuko, kita kembali kerumah Tama", ucap kimi.
"Baik nona Kimi", jawab pak yuko.
Mobil itu melaju begitu kencang menujuh kediaman keluarga Tama, selama menujuh perjalanan pulang sakura hanya tertidur di mobil. Dia terlihat begitu leleh hingga membuat Kimi hanya membiarkan sakura beristrahat meski sebenarnya dia begitu penasaran apa yang telah terjadi saat sakura menemui Sera.
Kantor Daichi Tama 🏢
__ADS_1
"Tuan, jadwalnya sudah diperbaharui", ucap sekertaris yun.
"Apa? Secepat itu?" tanya daichi.
"Benar Tuan, mereka telah mengatur jadwalnya ulang", ucap sekertaris Yun.
"Kapan jadwal pertemuanku dengan tuan Haga?" tanya daichi.
"Hmmm, Minggu depan tuan", ucap sekertaris Yun.
"Minggu depan?" tanya daichi.
"Benar, tuan daichi", ucap sekertaris Yun
Daichi termenung sejenak, dia memikirkan sakura yang pasti akan merasakan kesepian saat dia harus meninggalkannya dinas keluar negeri. Apalagi weekend ini mereka akan pindah kerumah mereka sendiri dan tidak ada ibu yang akan menemaninya saat dia tidak ada.
"Apa yang anda pikirkan tuan daichi?" tanya sekertaris Yun yang melihat daichi termenung untuk sesaat.
"Aku memikirkan sakura sekertaris yun", ucap daichi.
"Apa ada masalah tuan?" tanya sekertaris Yun
"Aku merasa tidak tega harus meninggalkan sakura sendiri saat aku harus pergi keluar negeri", ucap daichi wajahnya terlihat begitu suntuk.
"Astaga, hanya karena itu anda terlihat suntuk?" tanya sekertaris Yun.
"Tentu saja", jawab daichi.
"Apa saya boleh memberi saran kepada anda tuan daichi", ucap sekertaris Yun.
"Hmm, Tentu saja sekertaris Yun", ucap daichi.
"Mengapa anda tidak mengajak nona sakura ikut bersama anda", ucap sekertaris Yun.
"Apa ikut bersama ku?" tanya daichi dengan satu alisnya yang terangkat.
Sejenak dia memikirkan apa yang dikatakan sekertaris yun untuk mengajak sakura dalam perjalanan bisnisnya kali ini.
"Tapi bagaimana jika dia bosan, aku pasti akan meninggalkannya saat harus bertemu Haga", ucap daichi.
"Ayolah tuan, bertemu dengan tuan Haga hanya butuh beberapa jam dan selagi menunggu anda nona sakura bisa berjalan-jalan atau mencari kesibukan yang lain", ucap sekertaris Yun.
"Kamu benar juga sekertaris Yun", jawab daichi.
"Hitung-hitung ini adalah bulan madu untuk kalian berdua yang sampai sekarang belum berbulan madu tuan daichi", ucap sekertaris Yun.
"Aku merasa kamu begitu mengerti mengenai wanita sekertaris Yun, tapi kenapa hingga saat ini kamu belum memiliki seorang kekasih?"tanya daichi.
"Itu karena saya sangat berhati-hati dalam mencari pasangan yang akan mendampingi saya tuan", ucap sekertaris Yun.
"Atau jangan-jangan kamu ini...", ucap daichi yang tak kuasa melanjutkan apa yang ada dipikirannya.
"Ssssttt, jangan berpikiran hal menjijikan seperti itu tuan. Bagaimana pun aku adalah pria sesungguhnya", ucap sekertaris Yun yang menunjukan otot lengannya yang kekar.
"Syukurlah kalau begitu", ucap daichi sambil menarik napas yang lega.
"Aissss, apa anda mengira saya homo?" ucap sekertarisnya Yun yang terlihat tak percaya dengan pemikiran daichi.
"Bagaimana kalau aku menjodohkan mu dengan Kimi", ucap daichi.
"Maksud anda dengan nona Kimi yang menjadi sekertaris nona sakura?"Tanya sekertaris Yun .
"Hmmm, Sepertinya dia cocok dengan mu", jawab daichi.
"Saya mohon jangan lakukan itu tuan", ucap sekertaris Yun sambil menempelkan kedua telapak tangannya mengarah ke daichi.
"Aku akan melakukannya", ucap daichi yang tertawa.
"Aiiiihhh, Dasar.....", ucap sekertaris Yun dengan mukanya yang terlihat cemberut.
Mengerjai sekertaris yun begitu menarik bagi daichi seperti sebuah hiburan untuk dirinya. Ide untuk menjodohkannya dengan Kimi hanyalah keisengannya semata agar sekertaris Yun kesal dengannya.
Terima kasih buat kalian yang sudah memberikan dukungan dengan vote novel yang aku tulis, aku berharap kalian berkenan untuk memberikan poin yang kalian miliki untuk ku agar aku semakin semangat dalam menulis.
__ADS_1
Silakan bergabung di grup chatt, kita bisa saling mengobrol lebih dekat lagi disana. Aku sayang kalian💖💖
Bersambung...