Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 84 Bahagia


__ADS_3

Hai semuanya,


Disini saya sebagai seorang penulis ingin berterima kasih buat dukungan kalian...


Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu Up dari pernikahan yang dijodohkan yaaaa...


Malam ini akan up 2 bab, jangan lupa buat like and coment setiap bab nya tinggalkan jejak kalian supaya aku bisa tau.


Please dukung aku dan VOTE buat aku masuk dalam rangking jika kalian ingin aku terus semangat buat Up nya...


Ayok bergabung di grup agar kita bisa saling mengobrol dan lebih dekat..


Aku sayang kalianπŸ’–πŸ’–πŸ’–


Selamat membaca πŸŽ‰πŸŽ‰


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


"Apa dia yang memberitahu mu?" tanya sakura.


"Tentang apa?" tanya daichi.


"Aku menumuinya dirumah sakit", ucap sakura dengan suaranya yang terdengar pelan dibalik pelukan daichi.


"Tidak, Ayana yang memberitahuku", jawab daichi.


Sakura hanya diam, dia begitu menikmati berada di pelukan daichi dan dapat mencium aroma tubuhnya yang begitu wangi.


"Jangan pernah melakukan itu lagi", ucap daichi.


Sakura langsung melepaskan dirinya dari pelukan daichi saat mendengar perkataannya.


"Apa kamu marah karena aku menyakitinya?" tanya sakura dengan matanya yang melotot terhadap daichi.


"Ayolah sakura, aku hanya tidak ingin kamu membuang waktumu menemuinya", ucap daichi.


Sakura terus menatap daichi, hingga membuat daichi tertawa saat melihat ekspresi sakura yang terlihat masih curiga terhadapnya.


"Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apapun dengannya", ucap daichi.


"Benarkah?" tanya sakura dengan satu alisnya yang terangkat.


Daichi langsung menarik sakura kedalam pelukannya, dia melingkarkan kedua tangannya yang besar tepat di pinggang sakura. Dia menarik napas dalam- dalam sambil memejamkan kedua matanya dalam pelukan daichi.


"Aku sangat merindukanmu", ucap daichi.


"Rindu?" tanya sakura.


"Hmmm, merindukan saat - saat seperti ini", ucap daichi.


"Maksudnya?" tanya sakura yang masih tak mengerti.


"Dapat memelukmu dengan begitu erat", ucap daichi.


"Daichi", ucap sakura.


"Hmmm", jawabnya.


"Apakah kamu bahagia dengan pernikahan ini?" tanya sakura.


Dia menarik dirinya dalam pelukan sakura dan menatap wajah sakura.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sakura?" tanya daichi.


"Itu karena pernikahan kita bermula dari sebuah perjodohan dan aku.....


Daichi langsung menutup bibir sakura dengan tangannya.


"Kamu adalah masa depan ku, sekarang hentikan. Jangan berpikir hal- hal yang aneh lagi", ucap daichi.


Sakura hanya tersenyum saat mendengarkan jawaban yang diberikan daichi, dia kembali mendekap sakura lebih dekat selama beberapa detik dan kemudian melepaskannya saat dia mengingat sesuatu yang ingin dikatakannya kepada sakura.


"Ada yang ingin aku katakan", ucap daichi dengan raut wajahnya yang begitu ceria.


"Apa?" tanya sakura yang terlihat penasaran.

__ADS_1


"Minggu depan aku akan ada perjalanan bisnis keluar negeri", ucap daichi.


Raut wajah sakura seketika berubah, senyum yang terlukis diwajahnya perlahan memudar dengan bibir yang tertutup rapat.


"Keluar negeri?" tanya sakura dengan raut wajahnya yang dingin seperti sebuah es.


"Ia, itu adalah perjalanan bisnis yang sudah tertunda dari beberapa bulan yang lalu karena bertepatan dengan acara pernikahan kita pada saat itu. Sekertaris Yun sudah mengatur jadwal pertemuan yang baru dengan perusahaan tuan Haga", ucap daichi.


"Berapa lama?" tanya sakura.


"Sekitar 1 Minggu", jawab daichi.


"Benarkah? Ba-iklah kalau begitu", jawab sakura.


Perasaannya begitu sedih saat harus berjauhan dengan daichi seperti ada sesuatu yang kosong di dalam hatinya saat menyadari daichi tidak ada di sisinya untuk waktu yang cukup lama.


"Hei, kenapa wajahmu terlihat sedih?" tanya daichi.


"Ti-dak, aku baik- baik saja", ucap sakura.


Dengan kedua tangannya dia memegang bagian atas lengan sakura.


"Apa kamu sedih karena aku akan pergi meninggalkanmu?" tanya daichi.


Sakura hanya diam dengan wajah yang menunduk kebawah tanpa menatap wajah daichi yang ada di depannya. Begitu sulit baginya untuk menjelaskan dengan kata - kata perasaan yang dirasakannya saat harus berjauhan dengan daichi. Dia merasa begitu kesepian dan sangat merindukannya hingga membuatnya benci menunggu saat - saat untuk bertemu dengan suaminya.


Perlahan dia memegang dagu sakura dengan tangannya dan mengangkat wajah yang dari tadi menunduk kebawah, mereka saling bertatapan satu sama lain.


"Aku tidak akan meninggalkanmu", ucapnya dengan suara yang begitu lembut terdengar di telinga sakura.


"Maksudnya?" tanya sakura.


"Kita akan pergi bersama, ikutlah dengan ku", ucapnya dengan senyum yang menarik setiap sudut di bibirnya.


Seketika bola mata itu kembali memancarkan sebuah sinar kebahagian, senyum itu kembali membentuk sebuah lengkungan seperti setengah bulan yang bersinar di langit malam.


"Maukah kamu menemaniku?" tanya daichi.


"Hmmm, aku mau", jawab sakura dengan senyum yang terus terpancar diwajahnya sambil menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kita akan berangkat bersama", ucap daichi.


"Ehssss, bisa dibilang seperti itu", jawab daichi.


"Tapi, bagaimana dengan acara pindahan rumah?


Dia mengangkat satu tangannya, dengan lembut dia mengelus rambut sakura yang terurai.


"Kita akan melakukannya setelah kembali. Bagaimana menurutmu?" tanya daichi yang menatap sakura.


"Itu ide yang bagus. Kita akan melakukannya setelah kembali dari sana", ucap sakura.


Rasanya seperti sebuah mimpi, itulah yang dirasakan sakura saat ini. Hari yang mengerikan itu akhirnya dapat dilaluinya, hari - hari penuh kegelapan dan akhirnya cahaya itu muncul datang meneranginya. Kini dia menikmati waktunya yang berharga bersama daichi, melalui hari-hari yang panjang bersama orang yang dicintainya.


"Aku mencintaimu", ucap sakura.


"Hmmmm", daichi tampak terkejut saat mendengarkan pernyataan cinta yang diucapkan sakura kepadanya.


Dia merangkul kedua tangannya tepat di leher daichi, dia mengangkat kedua kakinya agar setra dengan daichi yang lebih tinggi darinya dan menatap wajah daichi yang begitu dekat dengan wajahnya, tarikan hembusan nafas daichi begitu terasa oleh dirinya.


"AKU MENCINTAIMU TUAN DAICHI TAMA", ucapnya dengan suara yang begitu lembut.


Daichi hanya tersenyum saat mendengarkan ungkapan perasaan yang disampaikan sakura kepadanya. Perlahan dia menarik wajah sakura mendekat ke wajahnya, mengecup bibirnya secara perlahan dan berhati- hati. Dia tetap merasakan jantunya berdebar saat berhadapan dengan daichi, perlahan dia mengikuti gerakan bibir daichi yang terus bergerak menjelajahi bibir sakura yang terasa begitu nikmat untuknya.


Sejenak tatapan kedua terkunci, mereka saling menatap satu sama lain. Sorot mata daichi begitu dalam menatap wajah sakura .


"Terima kasih sudah hadir dihidupku", ucap daichi dan memeluk sakura begitu erat, sebuah pelukan yang membuatnya merasa begitu selalu nyaman dan ingin selalu merasakan pelukan itu.


Tok....Tok...Tok


"Sakura.....Sakura.....Sakura..


Terdengar suara ketukan dari luar dan suara itu terdengar seperti suara Imoto yang terus memanggil nama sakura.


"Itu seperti suara ibu", ucap sakura.

__ADS_1


Dia pun berjalan dan membuka pintu kamarnya.


"Ibu", ucap sakura.


"Sakura, putriku. Bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Imoto.


Dia begitu mengkhawatirkan keadaan sakura dan merasa begitu tidak tenang sebelum melihat keadaan sakura saat ini.


"Ibu, sakura baik-baik saja", ucap sakura.


"Sungguh?" tanya Imoto.


"Sakura baik- baik saja ibu", ucap daichi yang datang menyahut dari belakang sakura.


"Daichi", ucap Imoto.


"Ibu tidak perlu cemas, sakura baik- baik saja. Bukankah begitu istriku?" tanya daichi yang menatap wajah sakura.


"Hmmm, Ibu apa yang dikatakan daichi benar. Aku baik- baik saja. Ibu tidak perlu cemas", ucap sakura.


"Syukurlah sayang, ibu merasa lega saat mendengarnya dan melihat kondisimu langsung", ucap Imoto.


"Maaf sudah membuat ibu khawatir", ucap sakura.


"Itu adalah hal yang wajar sayang, saat seorang ibu mengkhawatirkan putrinya", ucap Imoto.


Sakura hanya tersenyum mendengar ucapan ibu mertuanya itu, sosok ibu mertua yang begitu menyayanginya.


"Yasudah, lebih baik kalian berdua bersiap - siap. Sebentar lagi makan malam", ucap Imoto.


"Apa ayah sudah pulang?" tanya daichi.


"Ayahmu sudah pulang dari tadi daichi, dia sedang di ruang kerjanya", ucap Imoto.


"Yasudah Bu, kami akan bersiap - siap duluh kalau begitu", ucap sakura.


"Baiklah, ibu akan menunggu kalian dibawah", ucap Imoto yang pergi meninggalkan kedunya.


Mereka pun kembali masuk kedalam kamar saat Imoto pergi.


"Daichi", ucap sakura.


"Hmmm", jawab daichi yang terus mengamati gerak gerik sakura.


Dia terlihat begitu sibuk berjalan mondar - mandir sejak Imoto datang. Dia mulai melepas kedua anting yang dikenakannya dan semua perhiasan yang dikenakannya.Menghapus makeup yang dari tadi menempel diwajahnya yang tak sempat dihapusnya akibat rasa lelah yang dirasakannya tadi.


"Apa kamu tidak mandi?" tanya sakura yang menatap daichi.


"Aku akan mandi", ucap daichi.


"Pergilah mandi, sebentar lagi jam makan malam. Aku tidak ingin ibu dan ayah menunggu kita", ucap sakura.


Daichi pun berjalan mendekat kearah sakura, dia membungkukkan badannya agar sejajar dengan sakura yang sedang duduk di kursi meja riasnya.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama", bisik daichi yang mencoba menggoda sakura.


Sakura langsung memalingkan wajahnya kearah daichi.


"Jangan mencoba menggodaku daichi",ucap sakura.


"Aku tidak sedang menggodamu sayang", ucap daichi yang tersenyum.


"Hentikan daichi", jawab sakura yang mendadak kedua pipinya seperti terbakar.


"Kita adalah suami istri untuk apa kamu malu dengan ku", ucap daichi.


Sakura bangkit dan berjalan kearah lemari, dia mengambil sebuah handuk berwarnah putih dan memberikannya kepada daichi.


"Lebih baik kamu segera mandi di kamar tamu dan aku akan mandi sekarang", ucap sakura.


"Bukankah lebih baik kita mandi bersama", ucap daichi yang terus saja menggoda sakura yang terlihat salah tingkah.


"Cepatlah pergi", ucap sakura sambil mendorong daichi keluar dari dalam kamar.


" Baiklah sakura, aku akan mandi", ucapnya.

__ADS_1


Dia langsung menutup pintu kamarnya dengan rapat saat daichi telah pergi keluar menujuh kekamar tamu. Dia menyandarkan badannya dibalik pintu kamarnya yang telah tertutup rapat, dua mencoba menenangkan perasaanya. Suhu ruangan yang tadinya terasa begitu sejuk seketika berubah begitu panas hingga membuatnya mengeluarkan keringat di wajahnya yang masih terlihat memerah akibat rasa malunya kepada daichi. Setiap kali daichi mencoba menggodanya jantungnya seakan berdetak begitu cepat dan sulit menyembunyikan sikapnya yang sering salah tingkah.


Bersambung.....


__ADS_2