Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 93 Pamit


__ADS_3

Author ingin berterima kasih buat kalian yang sudah mendukung saya selama ini, terutama untuk kalian yang terus vote novel yang saya tulis.


Disini saya juga ingin meminta maaf, jika mungkin ada penulisan yang sering salah saya lakukan dan kedepannya saya akan lebih teliti lagi


Jika di episode awal ada banyak kesalahan dalam penulisan, saya akan berusaha untuk memperbaikinya saat saya memiliki waktu yang kosong karena jika saya fokus memperbaiki tulisan saya kemungkinan akan memakan waktu buat saya melanjutkan episode sebelumnya.


Saya berterima kasih buat kritik yang kalian berikan untuk saya dan akan menjadikannya masukan kedepannya.


Terima kasih


..


Aku sayang kalian ❤️🌺


•••••••••••••••. •••••••••••••••


Para reporter itu berjalan menghampiri keduanya, mereka mencoba mengambil gambar daichi dan sakura lebih dekat lagi dan tentu saja mereka mulai diserang dengan begitu pertanyaan.


"Apa yang sedang anda berdua lakukan disini?


"Apakah anda berdua Inging bepergian?


"Apakah kalian ingin berbulan madu?


"Kenegara mana kalian akan pergi tuan daichi?


"Nona sakura tolong berikan jawaban?


Itulah pertanyaan yang terdengar begitu jelas dari para reporter kepada keduanya, namun mereka hanya memilih diam membisu dan sama sekali tidak ada memberikan jawaban untuk semua pertanyaan yang diberikan. Sakura hanya melempar senyuman kepada para reporter yang terus mendekat kearahnya, hingga bahkan ada yang berani menyentuh pundak sakura. Menyadari seseorang menyentuhnya tentu membuat sakura kaget dan langsung memberhentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya daichi yang terlihat bingung saat sakura tiba - tiba saja berhenti ditengah kerumunan para reporter yang mencoba mewawancarai mereka.


"Seseorang memegang pundak ku tadi", ucap sakura yang membisikan ke telinga daichi.


Tentu saja mendengarnya membuat daichi marah karena sikap yang ditunjukan mulai tidak sopan.


"Aku tidak apa- apa", ucap sakura yang memegangi lengan daichi untuk menenangkannya dari amarahnya.


Daichi meletakan tangannya tepat di pundak sakura, dia lebih protektif lagi terhadap sakura dan kembali berjalan.


"Tuan daichi, bisakah kami mengambil gambar anda berdua?


"Tolong berikan kami kesempatan mengambil gambar anda berdua", ucap para reporter itu.


Para reporter itu terus mencoba memohon kepada daichi, meski daichi hanya diam dan berlalu melewati mereka. Sekertaris Yun yang berdiri di belakang daichi, langsung mendekat kepada daichi dan membisikan sesuatu.


"Tuan, lebih baik anda bersedia untuk diambil gambar", ucap sekertaris Yun.


Daichi langsung menatap sakura untuk menanyakan kesedian sakura jika para reporter itu ingin mengambil gambar mereka berdua.


"Apa kamu bersedia?" tanya daichi yang memperhatikan ekspresi sakura.


"Tentu saja", ucap sakura.


Meskipun dia merasa tidak nyama dengan kehadiran mereka semua, namun sakura menghargai pekerjaan mereka dan itu adalah salah satu tuntutan profesi mereka.


Daichi pun memberhentikan langkah kakinya diikuti sakura dan berpose untuk pengambilan gambar mereka.


"Tolong lihat kesini?


"Sekali lagi, tuan daichi nona sakura tolong lihat ke kiri?

__ADS_1


Daichi langsung mengarahkan sakura untuk berpindah melihat ke sisi sebelah kiri, flash kamera yang begitu banyak kearah wajah sakura tentu saja membuatnya sedikit tidak nyaman hingga dia sulit mengekspresikan dirinya dan terlihat begitu kaku.


"Jangan mencoba tersenyum kepada mereka, karena senyum itu hanya untuk ku", bisik daichi tepat di telinga sakura yang mencoba mencairkan ketegangan dalam diri sakura.


Ucapan itu tentu saja membuat sakura tersenyum dan tanpa dia sadari ekspresi wajahnya seketika berubah dan kembali seperti sakura Agata biasanya yang begitu ceria dan mudah senyum. Ketika melihat senyum di wajah sakura, daichi menyadari sepertinya dia telah berhasil membuat istrinya itu kembali tersenyum.


"Terima kasih", ucap keduanya sambil menundukkan kepalanya.


Setelah selesai pengambilan foto, keduanya kembali lanjut berjalan memasuki bandara.


"Tolong cukup, jangan ikuti lagi", ucap sekertaris Yun yang langsung menghalangi saat ada beberapa reporter yang tetap ingin meliput keduanya.


Sekertaris Yun pun melanjutkan perjalanannya dan mengejar mereka yang telah berjalan duluan memasuki ruang bandara.


"Saya akan check ini dulu", ucap sekertaris Yun


"Baiklah, kami akan menunggu disini", ucap daichi.


Sambil menunggu sekertaris Yun kembali, mereka hanya diam menunggu. Sakura hanya menundukkan kepalanya saat beberapa para reporter masih ada yang mengikuti dan mengambil gambar mereka. Hampir sekitar 15 menit akhirnya sekertaris Yun kembali dengan membawa Boarding pass keduanya.


"Maaf lama menunggu tuan, antrian cukup panjang tadi ", ucap sekertaris Yun.


"Baiklah, lebih baik kami langsung masuk saja kedalam", ucap daichi dengan kedua bola matanya berputar melihat sekelilingnya.


Masih ada waktu sekitar setengah jam lagi sebelum menuju keberangkatan mereka, namun melihat para reporter masih saja mengikuti mereka membuat daichi mulai risih dan tidak nyaman. Mereka mulai bangkit dari bangku dan saling mengucapkan salam perpisahan untuk satu Minggu kedepan .


"Nona sakura, hati - hati. Jaga diri anda dan jangan sampai sakit", ucap Kimi.


"Kamu juga Kimi, jangan terlalu memaksakan diri dalam bekerja karena kami juga memerlukan istirahat",ucap sakura sambil memeluk Kimi.


Selepas berpamitan dengan Kimi, sakura berjalan menghampiri sekertaris Yun sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Terima kasih sekertaris Yun, sudah banyak membantu dan mengurusi semuanya", ucap sakura sambil menjabat tangan sekertaris Yun.


"Sekertaris yun", ucap daichi.


"Ia tuan", jawab sekertaris Yun yang langsung memutar badannya menghadap daichi.


"Aku serahkan perusahaan kepadamu selama aku pergi", ucap daichi.


"Saya akan melakukan semampu saya tuan", ucap sekertaris Yun.


"Kemarilah", ucap daichi yang melebarkan kedua tangannya.


Sekertaris Yun berjalan menghampiri daichi dan langsung memeluknya, baginya ini untuk pertama kalinya dia tidak menemani daichi saat hendak bepergian.


"Tuan, saya telah memesan private apartment untuk anda dan nona sakura. Saya juga dengar disana ada pemandian air panas khusus untuk pasangan dan salah satu fasilitas yang sangat favorit, segera ciptakan daichi junior saat kembali kesini", bisik sekertaris Yun yang begitu sangat santai mengatakannya kepada bossnya itu.


Kedua mata daichi terbuka begitu lebar seakan kedua bola matanya inging lepas saat mendengarkan ucapan itu tentu membuat daichi terkejut, dia hanya menahan tawanya agar tidak terlihat oleh sakura dan hanya menepuk - nepuk pundak sekertaris Yun begitu kuat. Ikatan keduanya begitu dekat bukan hanya seorang atasan dan bawahan tetapi seperti seorang sahabat dan keluarga.


"Baiklah.., kami berangkat kalau begitu", ucap daichi.


Mereka pun berjalan untuk masuk kedalam ruang tunggu, sakura sesekali melambaikan tangannya kepada Kimi dan sekertaris Yun yang masih menunggu mereka masuk kedalam dan perlahan bayangan keduanya tak terlihat lagi.


"Mereka sudah masuk", ucap Kimi yang terlihat begitu sedih.


"Benar..., seperti sebuah mimpi, bukan???" tanya sekertaris Yun yang menatap Kimi.


"Maaf tuan Yun, saya tidak mengerti maksud anda", ucap Kimi yang menatap sekertaris Yun.


"Terkadang saya sendiri masih tidak menyangka bahwa tuan daichi telah menikah dan kini memiliki seorang istri", ucap sekertaris Yun.

__ADS_1


"Ahh..., Anda benar tuan yun. Saya sendiri juga sama seperti anda, saat melihat nona sakura terkadang terlintas dipikiran saya bahwa kini telah menjadi seorang istri", ucap Kimi.


"Semoga kehidupan pernikahan mereka selalu bahagia", ucap sekertaris Yun.


"Itulah harapan saya sejak nona sakura resmi menikah dengan tuan daichi dan berharap tuan daichi tidak akan pernah menyakiti nona sakura yang memiliki hati begitu lembut", ucap Kimi.


"Tuan daichi pasti akan menjaganya nona kimi karena dia begitu mencintai nona sakura", ucap sekertaris Yun.


"Syukurlah kalau begitu", jawab Kimi yang menatap sekertaris Yun dengan sebuah senyuman.


Sekertaris Yun melirik jam tangan yang dikenakannya, dia baru ingat bahwa 2 jam lagi dia akan menghadiri meeting.


"Nona Kimi, sepertinya kita harus kembali sekarang karena dua jam lagi saya ada meeting. Saya akan mengantarkan anda terlebih dahulu", ucap sekertaris Yun .


"Tuan Yun, anda tidak perlu mengantar saya. Saya bisa naik taxi, lebih baik anda pergi sekarang", ucap Kimi.


"Tidak nona Kimi, saya masih memiliki waktu untuk mengantar anda", ucap sekertaris Yun.


"Tapi tuan Yun....," ucap Kimi.


"Ayolah nona Kimi, saya tidak ingin jika nanti nona sakura akan memarahi saya karena tidak mengantar sekertaris kesayangannya", ucap sekertaris Yun.


"Yaampun tuan Yun", ucap Kimi yang tertawa saat mendengar perkataan sekertaris Yun.


"Mari nona Kimi", ucap sekretaris Yun.


"Baik tuan Yun", ucap Kimi yang tidak ingin memperpanjang perdebatannya dengan sekertaris Yun.


Selama di perjalanan keduanya hanya diam tanpa berkata satu sama lain.


"Kenapa perasaanku seperti ini", batin kimi yang merasa jantunganya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Maaf nona Kimi, saya harus mengantar anda kemana?


"Yah...," jawab Kimi yang kaget.


"Saya bertanya kemana saya harus mengantar anda nona Kimi?" tanya sekertaris Yun untuk kedua kalinya.


"Eh...., I- tu ke kan - tor saja tu-an Yun", jawab Kimi dengan suaranya yang gugup dan telapak tangannya yang basah akibat terus berkeringat.


"Nona Kimi, apa anda baik - baik saja?"tanya sekertaris Yun.


"Iya tu-an yun saya baik - baik saja", ucap kimi sambil tertawa yang terkesan begitu dipaksakan.


Beberapa jam menempuh perjalanan melewati kemacetan dan berada dalam keheningan selama di jalan, akhirnya mobil yang dikemudikan sekertaris Yun sampai di depan kantor sakura.


"Kita sudah sampai nona kimi", ucap sekertaris Yun sambil mengarahkan pandangannya kepada Kimi yang duduk disebelahnya.


Kimi dengan sigap langsung membuka seatbelt yang menempel di tubuhnya.


"Terima kasih sudah mengantar saya tuan yun. Maaf sudah merepotkan anda ", ucap Kimi


"Sama sekali tidak nona Kimi", ucap sekertaris Yun.


"Baiklah kalau begitu saya pamit", ucap Kimi sambil membuka pintu mobil dan melangkah keluar.


Kimi hanya berdiri sambil melemparkan senyuman kepada sekertaris Yun yang perlahan mobilnya melaju dan pergi meninggalkan kantor sakura, saat mobil itu menghilang Kimi hanya menarik napasnya begitu panjang dan menghembuskanya secara perlahan seakan napasnya tertahan dari tadi selama berada di mobil bersama sekertaris Yun.


"Kenapa aku merasa deg - degan seperti ini", ucap Kimi.


Dia meletakan kedua tangannya tepat di dadanya, dia bahkan dapat merasakan dan mendengar suara detak jantungnya yang berdetak begitu cepat saat dia bersama dengan sekertaris Yun.

__ADS_1


"Kamu sudah gila Kimi", ucapnya dengan pandangannya yang menatap kosong kedepan


Bersambung.......


__ADS_2