
Hai semuanya,
Disini saya sebagai seorang penulis ingin berterima kasih buat dukungan kalian...
Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu Up dari pernikahan yang dijodohkan yaaaa...
Malam ini akan up 2 bab, jangan lupa buat like and coment setiap bab nya tinggalkan jejak kalian supaya aku bisa tau.
Please dukung aku dan VOTE buat aku masuk dalam rangking jika kalian ingin aku terus semangat buat Up nya...
Aku sayang kalianπππ
Selamat membaca ππ**
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
"Katakan yang benar!!!!!
Dengan refleks dia berteriak kuat kepada Ayana melalui sambungan telpon, informasi yang di dengarnya seakan Sambaran petir untuknya.
"Ia daichi, sa-kura tadi da-tang menemui Sera di rumah sakit", ucap Ayana.
"Kapan??? Kapan itu terjadi???"Tanya daichi dengan nada suaranya yang masih meninggi.
"Sekitar satu jam yang lalu", ucap Ayana.
"Apa sakura masih disana?" tanya daichi.
"Tidak dia sudah pulang daichi, tetapi Sera..
Tut...Tut...Tut...
Belum selesai Ayana berbicara mengenai keadaan sera, daichi langsung mengakhiri teleponnya. Daichi langsung bangkit dari kursinya dengan terburuh-buruh dia mengenakan jas yang tergantung di kursi kerjanya, sekertaris Yun yang melihat kepanikan itu ikut bingung.
"Apa yang terjadi tuan?" tanya sekertaris Yun.
"Aku harus pulang sekarang", ucap daichi.
"Tapi apa yang sebenarnya terjadi tuan?" tanya sekertaris Yun yang begitu penasaran.
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang sekertaris Yun, aku harus pulang sekarang", ucap nya.
Daichi pun melangkah berjalan menujuh pintu, namun sekertaris Yun langsung berdiri dihadapannya daichi hingga menghalanginya untuk lewat.
"Anda harus memberitahu saya tuan, agar saya bisa membatu anda",ucap sekertaris Yun.
"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang, aku harus segera menemui sakura", jawab daichi.
"Apa ini ada hubungannya dengan Sera tuan?" tanya sekertaris Yun.
"Ia, tapi aku akan menjelaskannya besok. Sampai jumpa sekertaris Yun", ucap daichi yang pergi meninggalkannya.
"Sampai jumpa tuan daichi", ucap sekertaris Yun.
"Apa lagi yang dilakukan Sera, kenapa dia selalu mengusik ketenangan tuan daichi", ucap sekertaris yun.
Sejak kemunculannya dia sama sekali tidak menyukai Sera, dia sadar bahwa kehadiran Sera akan membuat bencana di kehidupan daichi, wanita yang telah meninggalkan daichi dan kini kembali dan berharap keadaan akan sama seperti duluh.
Dengan langkah kakinya yang panjang daichi berjalan cepat menujuh keluar loby, pak Hans yang melihat kehadiran daichi langsung dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya, wajahnya yang begitu serius menandakan ada sesuatu yang terjadi. Begitu lama bekerja bersama dengan daichi membuatnya begitu paham dengan tingkah laku dan gerak - gerik yang ditunjukannya tanpa harus diungkapkan.
"Kita pulang sekarang pak hans", ucap daichi sambil masuk kedalam mobil.
"Baik tuan daichi", jawab pak Hans", sambil menutup pintu mobil.
Selama perjalanan perasaannya begitu cemas kepada sakura, jari-jari tangannya tak berhenti bergerak dengan pikirannya yang tertujuh kepada sakura. Dia tidak menyangka bahwa sakura datang menemui Sera, hingga membuatnya bertanya-tanya dari mana sakura tau jika Sera sedang dirawat dirumah sakit wongdo.
TIK.....TIK....TIK....
"Hujan", ucap daichi yang melihat keluar jendela.
"Sepertinya kita akan terjebak dalam kemacetan tuan", ucap pak Hans.
__ADS_1
"Cari jalan yang lain", perintah daichi.
"Kita sudah tidak bisa lewat tuan", ucap pak Hans.
Cuaca yang sedang hujan membuat jalanan semakin macet, mobil mereka sama sekali tidak bisa bergerak akibat kemacetan yang panjang.
"Sama sekali tidak bergerak", ucap daichi sambil memukul kedua tangannya tepat di pahanya.
"Kita hanya bisa menunggu tuan", ucap pak Hans.
Daichi terlihat gelisah saat berada ditengah kemacetan, apalagi mereka tidak mengetahui sejauh apa parahnya kemacetan yang terjadi dan membuat mereka hanya pasrah terbelenggu di dalam kemacetan panjang. Hampir setengah jam menunggu, akhirnya perlahan kendaraan mulai bergerak dan melewati kemacetan. Pak Hans langsung menginjak gas dan melajukan mobil begitu kencang agar mereka cepat sampai di kediaman Tama.
Beberapa jam kemudian mereka pun tiba dirumah, daichi langsung membuka pintu mobil dan keluar. Tanpa berkata apapun dia pergi meninggalkan pak Hans masuk kedalam rumah. Ketika dia tiba dirumah tak seorang pun yang menyambut kehadirannya, saat hendak ingin melangkahkan kakinya menujuh ke lantai dua tiba- tiba terdengar suara seorang wanita yang menyapanya.
"Kamu sudah pulang daichi".
Terdengar jelas suara Imoto yang muncul dari arah teras samping rumahnya yang menyadari kehadiran daichi saat melihat mobil daichi.
"Ibu", ucap daichi yang terkejut.
"Tidak biasanya kamu secepat ini pulang", ucap Imoto yang berjalan menghampiri putranya.
"Pekerjaan ku sudah selesai ibu", jawab daichi.
"Diluar hujan sangat deras. Apa kamu basah?" tanya Imoto sambil memegang jas yang dikenakan daichi.
"Aku tidak basah bu. Jangan khawatir", ucap daichi.
"Ah, syukurlah sayang", ucap Imoto yang tersenyum melihat putranya.
"Apa sakura sudah pulang?" tanya daichi dengan mata yang menatap kelantai atas.
"Sudah sayang, dia sudah pulang dari tadi dan sekarang sedang beristrahat tidur dikamar", ucap Imoto.
Daichi melirik jam tangan yang dikenakannya.
"Dia masih tidur jam segini?" daichi tampak tak percaya.
"Kepala pelayan Ling mengatakan sakura tadi terlihat kelelahan", ucap Imoto.
"Mungkin banyak pekerjaan yang dikerjakannya saat dikantor sayang", ucap imoto yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi kepada sakura menantu kesayangannya.
"Baiklah bu, aku keatas duluh",ucap daichi.
"Pergilah ", ucap Imoto.
Dia pun pergi meninggalkan Imoto menujuh kekamarnya yang berada di lantai dua, perasaan semakin cemas saat mendengar kondisi sakura yang kelelahan. Dengan perlahan dia membuka pintu kamar dan melihat sakura yang sedang tidur, dia pun berjalan mendekat kearah sakura. Dia terus mengamati wajah sakura yang sedang tertidur, dia merasa begitu bersalah pada sakura dan dengan lembut dia mengelus pipi sakura.
Sentuhan tangan daichi yang lembut membangunkan tidurnya, matanya yang tertutup perlahan mulai terbuka dengan mata yang sayu-sayu dia melihat sosok pria berada di dekatnya. Pria yang begitu dicintainya dan membuatnya begitu bahagia saat dia membuka matanya.
"Daichi", ucapnya dengan suara yang lembut.
"Hei, kamu sudah bangun", ucap daichi yang tersenyum kepada sakura.
"Hmm, sejak kapan kamu disini?" tanya sakura.
"Baru saja", jawab daichi.
Sakura pun mencoba bangun, melihat hal itu daichi langsung membantunya meletakan bantal dibelakang punggungnya agar sakura merasa nyaman saat menyandarkan badannya.
"Apa kamu sakit sayang?" tanya daichi.
"Tidak, aku hanya kelelahan saja dan sekarang jauh lebih baik", jawab sakura sambil tersenyum.
Perlahan daichi meraih tangan sakura dan menggenggamnya begitu erat, ada perasaan bersalah saat dia melihat senyum di wajah sakura. Sebuah senyuman yang menyayat hati daichi saat melihatnya.
"Maafkan aku", ucapnya dengan menatap wajah sakura.
"Hmm, maaf untuk apa?"Tanya sakura dengan begitu polos.
"Sampai kapan kamu menyembunyikannya sakura?" wajahnya terlihat menyedihkan.
__ADS_1
"Apa? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu", ucap sakura.
"Maaf..., Maafkan aku sakura", ucap daichi yang menatap wajah sakura.
"Iya, Ta-pi maaf untuk apa daichi?" tanya sakura yang tampak terlihat bingung.
Menyimpan kebohongan terlalu lama membuat daichi begitu tak nyaman, sering kali ada keinginannya secara tidak sadar dari diri daichi agar sakura tahu,tetapi saat dia ingin mengatakannya tenggorokannya terasa kering hingga membuatnya sulit berbicara.
Namun kali ini dia sadar berbohong terhadap pasangan dapat merusak hubungan yang telah terjalin, dan menurutnya ini adalah waktu yang tepat untuk mengakui kebohongan yang dibuatnya.
"Maafkan aku telah membohongi mu sakura, aku minta maaf", ucap daichi
Mendengar permohonan maaf dari daichi, membuat sakura tersentak mundur, wajahnya terlihat kebingungan dan mengalihkan pandangannya dari daichi. Melihat perubahan reaksi di dalam diri sakura, daichi mencoba meyakinkannya.
"Maafkan aku sakura", ucap daichi.
Semakin dia terus memohon, hanya ada keheningan yang di dapatnya. Sakura hanya diam membisu dengan sorot mata yang kosong menatap entah kemana. Dengan perlahan sakura menarik tangannya dari genggaman daichi dan bangkit dari kasurnya. Meski sudah lama menanti ungkapan jujur dari mulut daichi entah mengapa hatinya masih terasa sakit saat harus mendengar pengakuan langsung oleh daichi.
"Sakura, Aku mohon", ucap daichi yang ikut bangkit dari kasur.
Dia hanya membalikan badannya, menutup matanya untuk sesaat untuk dapat menenangkan dirinya. Butuh waktu beberapa menit untuk sakura dapat meyakinkan bahwa dirinya saat ini baik-baik saja.
"Katakan pada ku daichi", ucap sakura sambil membalikan badannya.
"Tentu", ucap daichi.
"Apa yang membuatmu akhirnya mengakui kebohongan yang selama ini kamu sembunyikan?" tanya sakura.
Perlahan daichi berjalan mendekat kearah sakura, tepat dihadapan sakura dia berdiri dan menatap wajah sakura yang terus melihatnya
"Aku hanya tidak ingin menyakiti hati mu sakura. Aku tidak ingin kamu salah paham dan membuat pikiranmu terganggu.",ucap daichi dengan suara yang terdengar serak.
"Apa?" tanya sakura dengan senyum sinis nya saat mendengarkan alasan daichi.
Dia berjalan mundur memberi jarak antar dirinya dan daichi, menggelengkan kepalanya seakan tidak puas dengan alasan yang dilontarkan daichi.
"Kamu justru telah menyakitiku daichi", ucapnya dengan tatapan mata yang tajam dengan suara yang lantang dia terus mentap daichi.
"Sakura", ucap daichi.
"Bahkan rasanya hatiku begitu hancur saat mengetahui suamiku telah membohongi diriku seakan langit telah runtuh. Dengan mataku sendiri aku melihatmu menemui Sera dirumah sakit", ucap sakura dengan suaranya yang bergetar.
"Apa?"Daichi tampak kaget.
"Ia, dimalam aku pulang dengan pakaian ku yang basah, saat itu aku melihatmu bersama Sera", ucap sakura dengan matanya yang berkaca-kaca dengan suara yang bergetar.
Air mata itu pun jatuh saat dirinya tak mampu menahannya untuk tidak keluar, sesak di dadanya akhirnya keluar diiring dengan tetesan air mata. yang mewakili perasaanya. Sakura begitu mudah menangis, dia yang memiliki sifat yang sensitif begitu mudah merasa terluka dan terkadang merasa dirinya begitu bodoh.
"Tolong berhenti, jangan menangis", ucap daichi sambil menghapus air mata sakura.
"Apa kamu masih mencintainya?" tanya sakura.
"Apa yang kamu katakan sakura", ucap daichi.
"Apa begitu sulit melupakannya?" tanya sakura.
"Ssstttttttt", ucap daichi sambil menempelkan satu jarinya tepat di bibir sakura .
"Jangan katakan itu sakura, aku hanya mencintaimu saja. Percayalah padaku, sejak pertama melihatmu aku sudah jatuh cinta kepadamu dan hanya menginginkan dirimu di hatiku. Bagiku Sera hanya masa lalu, aku hanya kasihan saat mengetahui dia mencoba bunuh diri dan tidak ada perasaan lebih untuknya. Aku mengakui bahwa aku bersalah telah membohongimu, tetapi aku hanya tidak ingin kamu mengapa bahwa aku masih memilki perasaan terhadapnya. ", ucap daichi.
"Bisakah aku mempercayainya?" tanya sakura.
"Aku berjanji kepadamu sakura, aku tidak akan menyembunyikan apapun dari mu", ucap daichi yang memeluk sakura begitu erat.
"Tetaplah di sisiku",ucap sakura.
"Aku akan selalu berada di sisimu. Bahkan saat mataku tertutup, aku hanya dapat melihat mu ditengah kegelapan sakura. Kamu seperti sinar bintang yang menerangi langit yang gelap", ucap daichi.
Rasa begitu nyaman saat berada disisi daichi hingga membuatnya merasa tak mampu jika harus berjauhan, pelukan itu terasa begitu hangat dan mampu menenangkannya. Dia sadar bahwa pada saat daichi membohonginya perasaannya begitu sakit, apa lagi dilakukan oleh seseorang yang sangat dicintainya bahkan kepercayaan yang telah ditanamkannya terhadap daichi dapat hilang begitu saja, namun hatinya langsung luluh saat mendengarkan permohonan maaf yang diucapkan daichi meski itu sedikit terlambat, tetapi pada akhirnya dia berani mengungkapkan kejujuran dan alasan di balik kebohongannyadan berharap dia tidak mengulangi kebohongan lagi.
"Aku akan menjaga komitmenku untuk hidup bersama mu daichi", batin sakura yang hanyut dalam pelukan daichi kepadanya.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu sakura", ucap daichi sambil mencium rambut sakura.
Bersambung...