Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 52 Kencan 2


__ADS_3

Panas matahari di siang hari itu tidak mengurai kebahagian keduanya saat mengendari sepeda motor, sakura merasa begitu bahagia di belakang. Selama di boncengan sakura terus tersenyum dengan kepala yang bersandar di punggung daichi dan tangan yang melingkar di pinggangnya. Sama hal nya dengan yang dirasakan sakura, daichi pun merasakan kebahagian yang tidak dapat dijelaskannya. Dia terus menarik gas sepeda motornya dan melewati setiap mobil dan motor yang ada di jalan raya tersebut.


Motor itu melaju membawa mereka ke pergi ke sebuah festival pekan raya yang sedang di selenggarakan di kota itu, saat tiba di tempat itu sebuah keramaian pengunjung telah menyambut kehadiran mereka. Situasi ke ramaian telah terlihat saat mereka tiba di pintu masuk dari acara tersebut, daichi memarkirkan motornya. Dia mematikan mesin motornya dan membuka helm nya sambil melihat di sekeliling


"Apa kamu tidak masalah dengan keramaian ini?tanya daichi sambil melihat sakura yang duduk di boncengan belakang.


"Sama sekali tidak, selama kamu terus bersama ku. Aku akan baik-baik saja", jawab sakura.


Mendengar jawaban sakura yang penuh keyakinan, daichi hanya tertawa dengan menganggukan kepalanya.


"Aku akan selalu bersamamu sakura", ucap daichi.


"Aku tau itu", jawab sakura.


"Baiklah, ayok kita turun", ucap daichi.


Kedua bola mata sakura berputar melihat sekelilingnya sebelum dia turun dari atas motor karena dress pendek yang dikenakannya, saat situasi di rasanya aman dengan perlahan dan berhati-hati dia turun. Dia mencoba membuka helm yang ada di kepalanya, namun tangannya terlihat susah membuka pengait helm itu.


Daichi hanya tertawa melihat sakura yang mengalami kesulitan, tetapi dia tidak bersedia untuk meminta bantuannya.Merasa tak sabar melihat sakura begitu lama membukanya, dia menarik tangan sakura ke hadapannya dan membuka pengait helm tersebut dengan begitu mudah. Sakura hanya terdiam saat daichi melepaskan helm yang menempel di kepalanya dari tadi.


"Terima kasih", ucap sakura


"Untuk apa?" tanya daichi yang mendorong wajahnya mendekat kearah wajah sakura.


Tatapan matanya yang tajam, senyumnya yang begitu lebar membuat sakura tercengang menikmati pemandangan yang begitu indah dihadapannya. Daichi menarik wajah sakura diantara kedua tangannya lebih dekat dengannya, mata sakura hanya tertunduk kebawah tanpa berani menatap daichi.


"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya sakura.


"Apa ada yang salah ?" tanya daichi yang menundukkan kepalanya melihat sakura .


"Semua orang akan me-lihat ki-ta", ucap sakura dengan suara yang rendah.


"Kita adalah sepasang suami istri sekarang, bermesraan sedikit tidak masalah", ucap daichi.


Sakura menatap wajah daichi yang terlihat begitu bahagia dengan menggodanya, dia mengerutkan keningnya sambil terus mengarahkan pandangannya kepada daichi.


"Ahh, ayok kita berjalan-jalan", ucap daichi yang turun dari motor.


Dia meraih tangan sakura dan menggenggamnya begitu erat, mereka mulai menyusuri tempat perayaan festival yang terdapat beberapa STAN dengan bazar makanan, permainan, dan orang-orang yang berjualan.


Begitu banyak orang-orang berlalu lalang melewati mereka membuat daichi begitu menjaga sakura dari sentuhan orang- orang yang berjalan disekitaran mereka dia tidak ingin sakura terluka atau pun bersentuhan dengan pria lain. Tangannya selalu memegang pundak sakura yang ada di hadapannya saat berjalan.


"Lihat ada bunga sakura bermekaran", ucap sakura dengan ekspresinya yang terlihat bahagia.


"Apa kamu ingin melihatnya?"tanya daichi


Sakura hanya mengangguk-anggukan kepalanya dengan pandangannya terus menatap ke arah bunga sakura tersebut.


"Bisakah kita kesana?" tanya sakura


"Tentu saja", ucap daichi.


Begitu bahagianya membuat sakura berjalan mendahului daichi, dia meninggalkan daichi di belakangnya. Rasa bahagianya membuatnya melupakan keberadaan daichi, tentu saja daichi tampak begitu terheran melihat sikap sakura.


"Aisss, dia melupakan ku hanya karena bunga. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa aku kalah saing dengan bunga", ucap daichi yang tesenyum sinis dengan bibir atasnya yang terangkat ke sudut kiri.


Sakura Manarik napasnya sambil menutup matanya menikmati angin yang sedang bertiup yang membuat bunga-bunga itu bergerak selaras, dia menikmati setiap hembusan angin yang terasa menenangkan jiwanya.


"Apa yang kamu pikirkan saat menutup matamu?" tanya daichi yang berdiri di samping sakura.


"Tidak ada, aku hanya merasa begitu tenang", jawab sakura yang masih menutup matanya dengan begitu rapat.


"Bisakah kamu memasukan ku di dalam pikiranmu?"tanya daichi


Mata yang tadinya tertutup kini terbuka dan melihat kearah daichi, sakura hanya tertawa saat mendengar permintaan daichi yang begitu sangat konyol. Mereka saling bertatapan untuk sesaat dan kedua tertawa bersamaan.


"Aku akan mengambil gambar mu", ucap daichi.


"Un-tuk apa?" sakura tampak bingung.


"Aku akan menyimpan foto mu yang terlihat begitu bahagia di ponselku dan melihatnya saat aku merindukanmu", ucap daichi.


Kedua pipi sakura memerah tersipu malu saat mendengar perkataan daichi yang seakan begitu mahir menggodanya, dia hanya bisa tersenyum saat daichi memujinya atau pun menggodanya. Daichi berjalan mundur beberapa langkah untuk mengambil gambar sakura yang berdiri di belakang bunga sakura yang sedang bermekaran.


"Tersenyumlah!! Teriak daichi.

__ADS_1


Dengan malu-malu sakura bergaya di depan kamera ponsel daichi dan tersenyum sesuai dengan arahan daichi yang memintanya tersenyum.



"Kamu tampak indah seperti bunga sakura yang sedang bermekaran itu", ucap daichi sambil memotret sakura


Silau matahari membuat sakura tak tahan, dia mengangkat satu tangannya tapat di atas dahinya untuk menutupi wajahnya dari pancaran sinar matahari yang menusuk kulit wajahnya.


"Apa kamu merasa kepanasan?" tanya daichi yang berjalan mengahampiri sakura.


"Sama sekali tidak, aku baik-baik saja", ucap sakura.


"Baiklah, ayok kita kesan", ucap daichi sambil menarik tangan sakura.


Mereka berjalan-jalan melihat setiap gerai-gerai yang dibuka,hingga langkah kaki sakura terhenti saat melihat sebuah gerai makanan yang menjuala jajanan.


"Ada apa?" tanya daichi saat sakura tiba-tiba saja berhenti.


"Aku ingin makan itu", ucap sakura sambil menunjuk ketempat yang dimaksudnya.


Daichi mengarahkan pandangan tertujuh ke tempat yang dimaksud oleh sakura,


"Jajanan pasar?" daichi kembali memalingkan wajahnya melihat kearah sakura.


"Hmm, aku mau makan itu daichi", ucap sakura.


"Baiklah, kamu akan mendapatkan apapun yang kamu inginkan", jawab daichi dan menarik kembali tangan sakura.


Sakura hanya tersenyum hingga mereka tiba di sebuah gerai yang menjuala jajanan pasar tersebut, kedua mata daichi begitu fokus melihat makanan yang ada di hadapannya, ekspresi wajahnya terlihat bingung karena dia sama sekali belum perna membeli atau pun merasakan makanan yang ada di hadapannya.


"Bibi, aku mau yang ini ", ucap sakura.


"Berapa porsi?" tanya wanita penjual itu.


"Apa kamu mau?" tanya sakura yang melihat daichi.


"Ah, tidak...tidak, kamu saja", jawab daichi.


"Baiklah, bibi satu porsi saja", ucap sakura.


Daichi langsung mengambil dompetnya di kantong saku celananya di belakang dan mengambil uang di dalamnya.


"Ini uangnya ", ucap daichi.


Dia mengambil uang yang diberikan daichi kepadanya , wanita itu tampak begitu keheranan saat melihat uang yang diberikan daichi begitu banyak kepadanya.


"Maaf tuan, ini uang anda lebih", ucap wanita itu sambil menyerahkan uang itu kepada daichi.


"Tidak, itu untuk anda ", ucap daichi


Ta-pi ini sangat banyak tuan", ucap wanita itu yang tampak kaget.


"Apa kamu memiliki anak?"


"Iya saya memiliki dua orang putra tuan", jawab wanita itu.


"Kalau begitu uang itu untuk kedua putra anda", ucap daichi.


"Te-rima kasih tuan, terima kasih", ucap wanita itu yang terus menundukkan kepalanya terhadap daichi.


"Sudahlah, hentikan bibi", ucap daichi


Sakura begitu kagum dengan sifat yang dimiliki daichi , pria yang terlihat begitu kaku dan dingin ternyata memiliki sifat yang dermawan. Selama dijalan sakura terus melihat daichi sambil tersenyum,daichi yang menyadiri bahwa sakura terus memperhatikannya melihat kembali kearah sakura.


"Kenapa?" tanya daichi.


"Dibalik wajah mu yang terlihat dingin dan terkesan arogan, aku tidak menyangka bahwa kamu memiliki sifat yang peduli terhadap orang lain", ucap sakura.


"Ahhhhh, jadi selama ini begitulah penilaian mu terhadapku", ucap daichi yang melihat sakura.


"Tentu saja, pada saat pertama kali melihat mu wajah mu begitu terlihat angkuh", ucap sakura.


"Begitukah", ucap daichi


"Kamu harus menunjukan sifat mu yang sebenarnya di hadapan orang agar mereka tidak menilai mu seperti sebuah robot yang tidak memiliki perasaan", ucap sakura.

__ADS_1


"Aku tidak perlu menunjukkannya terhadap orang lain, biarkan mereka menilai diriku sesuka hati mereka. Aku hanya akan bersikap baik terhadap orang- orang tertentu saja", ucap daichi.


"Tertentu?" ucap sakura yang terlihat kaget.


"Hmm, hanya orang-orang terdekatku saja", ucap daichi .


"Astaga", ucap sakura yang tertawa dengan pemikiran daichi.


Mereka berjalan mencari tempat yang jauh dari keramaian orang-orang, sampai akhirnya mereka menemukan sebuah tempat yang tidak terlalu banyak orang berada. Ada sebuah bangku panjang di tempat tersebut, keduanya duduk di bangku panjang itu.


Sakura membuka kantong plastik yang membungkus makanan itu, dia terlihat tak sabar untuk menikmati takoyaki yang di belinya tadi. Dia menyantapnya dengan begitu lahap, daichi hanya memperhatikan sakura yang terus mengunyah makanan.


"Apa begitu enak?" tanya daichi yang terlihat penasaran.


"Apa kamu belum perna memakannya?" tanya sakura.


"Tidak", jawab daichi yang singkat.


"Apa! sakura begitu terkejut hingga membuatnya tersendat dan batuk.


"Haii, pelan...pelan",ucap daichi sambil menepuk-nepuk pundak sakura.


"Aku baik-baik saja, aku hanya tidak percaya bahwa kamu tidak pernah memakan takoyaki", ucap sakura.


"Hmm, bahkan aku baru pertama mendengar nama nya", ucap daichi.


"Apa kamu ingin mencobanya", sakura mengambil satu tusuk takoyaki dan memberikannya kepada daichi.


Daichi hanya diam melihat sakura memberikan takoyaki kepadanya.


"Hmmm, aku mempunya cara lain untuk merasakannya", ucap daichi.


Dia mendekatkan badannya tentu saja membuat sakura begitu terkejut saat melihat wajah daichi yang begitu dekat dengannya, kedua mata mereka saling bertatapan hingga pandangan daichi mengarah kebawah bibir sakura dan menjulurkan lidahnya dan menjilat ujung bibir sakura yang masih terdapat sisa saos takoyaki yang tertinggal.


Dengan refleks sakura mendorong badannya mundur kebelakang dengan kedua matanya yang tercengang tanpa berkedip sedikit pun, kedua mulutnya terbuka dengan ekspresinya yang masih terlihat syok dengan yang barusan terjadi pada dirinya.


Daichi memainkan kedua bibirnya, menutup kedua matanya seakan sedang menikmati sesuatu yang masuk kedalam mulutnya dan membuka kembali kedua matanya dan melihat kearah sakura.


"Rasanya cukup pedas", ucapnya dengan begitu santai.


"Apa?? Sakura hanya tertawa sinis melihat sikap yang ditunjukan daichi seakan tidak terjadi apa-apa.


"Ada apa?" tanya daichi dengan ekspresi wajahnya yang polos.


Sakura mencoba menenangkan dirinya, menarik nafasnya dan menghembuskannya secara perlahan dan kembali melihat daichi dengan ekspresi wajahnya yang begitu kesal.


"Bisakah kamu tidak bersikap sesuka mu?" tanya sakura yang melotot kepada daichi.


Daichi mendekatkan kembali wajahnya kepada sakura sambil mengelus-elus rambut sakura.


"Apa kamu marah?" tanyanya yang berbisik di telinga sakura .


"Orang-orang akan melihatnya", jawab sakura dengan nada suaranya yang mulai meninggi.


"Baiklah, aku menyadari kesalahanku dan minta maaf", ucap daichi yang memegang tangan sakura.


Sakura hanya diam dengan dahinya yang masih terlihat berkerut.


"Terlalu lama marah terhadap suami itu tidak baik dan membuatmu terlihat tidak cantik", ucap daichi yang menundukan kepalanya dengan tangannya yang menopang dagunya dan melihat wajah sakura dari bawah.


Melihat tingkah daichi, membuat sakura tidak tahan dan kembali tersenyum kepada daichi. Dia sama sekali tidak dapat marah begitu lama dengan daichi yang selalu memiliki akal untuk mengembalikan moodnya menjadi baik.


"Berjanjilah kepadaku untuk tidak melakukannya itu lagi di tempat umum", ucap sakura sambil mengangkat satu jari kelingking tangan kanannya.


"Baiklah, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi", ucap daichi yang memberikan jari kelingkingnya dan menggabungkannya dengan jari kelingking sakura.


"Aku akan memegang janji mu",ucap sakura yang tersenyum


"Aku tidak akan melakukannya ditempat umum, aku hanya melakukannya saat kita berdua saja", ucap daichi yang berbisik di telinga sakura.


Sakura hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tersipu malu saat mendengar bisikan yang terdengar di telinganya, dia memasukan satu tusuk takoyaki yang dari tadi di pegang nya ke dalam mulut daichi secara paksa sambil tertawa dengan lahap daichi memakannya sambil melihat kearah sakura.


Pembaca setia ku, terima kasih atas masukan yang kalian berikan kepada saya. Semua masukan yang kalian berikan akan menjadi motivasi buat saya dalam menulis novel saya. Jangan lupa untuk selalu like,coment apa saja yang ingin kalian tulis dan yang paling penting vote untuk saya.🥰🌸


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2