Pernikahan Yang Dijodohkan

Pernikahan Yang Dijodohkan
Episode 87 Tidak habis Pikir


__ADS_3

Pantulan sinar matahari yang masuk menembus jendela kamar membangunkan daichi dari tidurnya, sinar matahari itu terus menyinari wajahnya yang terlihat begitu tampan meski saat dia sedang tertidur begitu pulas.


Dengan kedua matanya yang masih tertutup, dia menggerakan tangannya menyusuri setiap bagian di atas kasurnya, namun dia tidak menemukan apa yang dicarinya. Perlahan dia membuka kedua matanya mengarahkan pandangannya ke sampingnya dan tidak ada sosok yang dicarinya.


"Sakura....Sakura....Sakura....


Dia terus memanggil nama sakura sambil bangkit dari tempat tidurnya dengan mata yang masih setengah sadar, tidak ada sahutan terdengar dari sakura hingga membuatnya begitu penasaran dimana sakura.


"Sakura.....Sakura.....Sakura...",


"Kemana dia?" ucap daichi sambil berjalan kearah kamar mandi.


TOK...TOK..TOK...


"Sakura...., Sakura ..., Apa kamu didalam?" ucapnya sambil terus mengetuk pintu kamar mandi.


Dia menempelkan telinganya di pintu kamar mandi agar dapat dengan jelas mendengar suara di dalam kamar mandi itu, namun dia sama sekali tidak bisa mendengar apapun. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencoba membuka pintu kamar mandi itu dan saat dia mencoba membukanya pintu itu ternyata tak terkunci. Dia pun berjalan masuk kedalam kamar mandi yang terlihat begitu kosong dan sama sekali tidak ada sakura disana.


"Apa dia sudah turun kebawah?" batin daichi.


"Sudahlah, mungkin sebentar lagi dia kan datang untuk menyiapkan pakaian yang akan ku kenakan. Lebih baik aku mandi duluh", ucapnya.


••••••


Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi itu terbuka. Dia berjalan keluar dengan sehelai handuk berwarnah putih yang menutupi setengah badannya, kedua matanya langsung tertujuh kearah kasur yang masih terlihat berantakan dan tidak ada pakaian yang telah disiapkan untuk dikenakannya hari ini kekantor.


"Kenapa sakura belum datang juga?" batin daichi.


Wajahnya terlihat bingung, tidak biasanya sakura seperti ini. Biasanya saat dia selesai mandi pakaian sudah ada di atas tempat tidur yang telah disiapkan sakura untuknya,namun hari ini begitu berbeda.Dia pun melangkah berjalan kearah lemari pakaiannya untuk memilih pakaian yang akan dikenakannya tanpa menunggu sakura menyiapkannya.


Dari dia mulai bersiap - siap hingga dia selesai, sakura sama sekali tidak ada muncul hingga membuatnya mulai terlihat kesal kepada sakura. Dia merasa dirinya saat ini sedang diabaikan oleh istrinya sendri bahkan sakura pun tidak ada memanggilnya untuk sarapan, dengan raut wajah yang terlihat begitu kesal dia keluar dari kamarnya untuk turun kebawah.


Ketika tiba diruang makan hanya ada Arashi yang duduk di kursinya, namun dia tidak menemukan ibu atau pun sakura disana. Bangku yang biasanya ditempati keduanya terlihat kosong.


"Selamat pagi ayah", ucap daichi.


"Ahhh, kamu sudah turun. Ayah baru ingin menyuruh pelayan untuk memanggilmu sarapan pagi", ucap Arashi.


"Diaman ibu dan sakura? Kenapa mereka tidak ada?" tanya daichi sambil duduk di bangkunya.


"Ibu dan sakura pergi dari tadi", ucap Arashi.


"Pergi? Sepagi ini?" tanya daichi yang begitu keheranan.


"Benar mereka pergi sekitar jam setengah tujuh tadi daichi", ucap Arashi.


"Pergi kemana ayah? Sakura tidak ada meminta izin kepadaku", ucap daichi.


"Tadi pagi pelayan yang bekerja dirumah bibi nakoto menghubungi ibu mu dan mengatakan bahwa bibi mu sedang sakit dan memintanya untuk datang", ucap Arashi.


"Dan ibu mengajak sakura untuk ikut bersamanya?" tanya daichi.


" Ia ibu meminta sakura untuk menemaninya kerumah bibi mu", ucap Arashi.

__ADS_1


Disela - sela pembicaraan keduanya, kepala pelayang ling datang membawa hidangan sarapan pagi untuk mereka.


"Masakan ini nona sakura yang memasaknya tadi pagi, dia menyiapkannya sebelum pergi", ucapnya.


Dia menyajikan makanan yang telah dimasak sakura dihadapan keduanya. Daichi hanya terdiam melihat makanan yang ada dihadapannya, entah mengapa dia seperti kehilangan nafsu makannya.


"Selamat menikmati tuan daichi", ucap kepala pelayan ling.


Tidak ada sahutan yang diberikan daichi kepada pelayan Ling yang sudah menyajikan makanan untuknya, kedua matanya hanya fokus menatap sebuah piring yang berisikan makanan di depannya. Satu tarikan napas yang panjang, kemudian dia berdiri dari bangkunya.


"Kamu ingin pergi kemana daichi?" tanya Arashi yang menatap daichi yang telah berdiri dari bangkunya.


"Ahhh, ayah aku berangkat kekantor duluan", ucap daichi.


"Sekarang?" tanya Arashi.


"Ia ayah", jawab daichi.


"Sarapan lah duluh, kamu bahkan sama sekali tidak ada menyentuh makananmu. Sakura sudah susah payah memasaknya untuk kita", ucap Arashi.


Daichi melirik makanannya yang ada di atas meja, perasaanya yang masih kesal terhadap sakura membuat nafsu makannya hilang dan tidak berminat untuk memakannya.


"Hari ini aku sama sekali tidak selera makan ayah", ucap daichi.


"Makanlah sedikit saja daichi", ucap Arashi.


"Aku akan makan dikantor jika aku nanti lapar. Yasudah ayah aku berangkat ke kantor duluh kalau begitu", ucap daichi.


Dengan raut wajah yang datar dia pergi meninggalkan Arashi sendirian menikmati sarapan paginya.


"Terlalu kekanak - Kanakan ", ucap Arashi sambil melihat daichi yang pergi berlalu meninggalkan ruang makan.


Arashi tau apa yang membuat daichi terlihat begitu kesal saat ini, sifatnya sungguh terlihat begitu kekanakan yang tak mampu berpikir dewasa hanya karena tidak melihat istrinya sakura saat ini.


°


°


°


Sepanjang perjalanan wajahnya masih terlihat sama dengan otot-otot rahangnya yang terlihat begitu tegang, situasi dalam mobil begitu terasa menegangkan. Pak Hans sesekali melirik daichi yang berada di bangku penumpang, dia terus saja melihat ponsel yang ada ditangannya dan wajahnya kembali frustasi dan membuat pak Hans begitu kebingungan.


"Kali ini apa lagi yang terjadi", batin pak Hans.


Namun seperti biasa, dia sama sekali tidak berani untuk menanyakannya langsung kepada daichi. Dia hanya memendam rasa penasarannya setiap kali dia melihat daichi seperti memiliki masalah karena dia memahami bahwa dia hanyalah seorang pekerja dan tidak pantas terlalu ikut campur mengenai urusan majikannya.


Hampir setengah jam melewati kemacetan yang terjadi di jalanan, akhirnya mobil itu berhenti tepat di parkiran depan pintu masuk kantor Daichi Tama.


"Kita sudah sampai tuan daichi", ucap pak Hans.


Ketika pak Hans hendak ingin membuka pintu mobilnya untuk turun, daichi langsung menghalanginya.


"Tidak perlu pak Hans", ucap daichi sambil membuka pintu mobilnya itu sendiri dan turun dari dalam mobilnya.

__ADS_1


Langkah kakinya begitu panjang dan begitu cepat berjalan masuk kedalam lobi, pandangannya hanya fokus kedepan dan mengabaikan setiap pandangan dan sapaan para karyawan untuknya. Namun ada yang berbeda pagi ini, tidak seperti biasanya yang selalu langsung berjalan keruangannya kali ini langkah kakinya berjalan menujuh keruang sekertaris Yun.


Tanpa mengetuk pintu dia langsung membuka pintu ruangan itu dan masuk kedalam. Sekertaris Yun begitu kaget saat daichi tiba - tiba saja muncul dihadapannya sepagi ini dan dengan wajahnya yang terlihat seperti ingin menerkamnya.


"Se-lamat pagi tuan daichi", ucap sekertaris Yun dengan satu tangannya memegang sebungkus sandwich yang baru saja ingin dimakannya sebelum daichi merusak segalanya.


"Sekertaris Yun, keruang ku sekarang", ucapnya yang pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menjawab sapaan sekertaris Yun.


"Astaga, Apa lagi ini?" ucap sekertaris yun yang pergi menujuh keruangan daichi dengan membawa sandwich yang masih dipegangnya.


TOK....TOK...TOK...


"Masuklah!!!!" Teriak daichi.


Sekertaris Yun berjalan masuk keruang itu, pandangannya langsung mengarah kepada daichi yang sedang duduk di singgah sananya dengan wajahnya yang terlihat begitu tegang.


"Welcome to Hell Yun", batinnya sambil berjalan menghampiri daichi.


"Duduklah sekertaris yun", ucap daichi.


"Baik tuan", jawab nya sambil menati - nanti apa yang ingin dikatakan daichi kepadanya.


Sekitar beberapa detik hanya ada kesunyian diruangan itu, daichi hanya diam membisu seperti seorang patung dan sekertaris Yun yang duduk di depan daichi hanya menatap daichi untuk memulai pembicaraan karena dia pun begitu penasaran apa yang telah terjadi kali ini.


"Aku sangat kesal", ucap daichi dengan nada suaranya yang dingin dan wajahnya yang datar.


"Kesal? Apa yang terjadi tuan?" tanya sekertaris yun.


"Apa harga saham menurun?" batin sekertaris Yun.


Melihat ekspresi wajah daichi seperti sekarang, dia begitu yakin bahwa harga saham saat ini pasti mengalami penurunan yang sangat drastis hingga membuat daichi datang sepagi ini kekantor tidak seperti biasanya. Tidak ada lagi hal yang akan membuatnya sekesal itu di pagi hari jika tidak mengenai keuntungan perusahaan yang mengalami penurunan,meskipun sekertaris Yun sendiri belum melihat harga saham Tama berada di posisi berapa pagi ini.


" Aku begitu kesal saat membuka mataku, aku tidak menemukan sakura di pagi hari", ucap daichi.


"APA!!!!!!" ucap sekertaris Yun dengan suaranya yang begitu kuat melihat kearah daichi.


" Sakura pergi tanpa memberitahukan ku", ucap daichi.


"Jadi hanya karena anda tidak melihat nona sakura di pagi hari hingga membuat ada sekesal ini dan tung-gu duluh anda bahkan menyuruh saya keruangan anda hanya ini saja?" tanya sekertaris Yun dengan keningnya yang mengerut.


"Hmm...., Benar", jawab daichi dengan begitu santai.


Sekertaris Yun hanya menggelengkan kepalanya sambil terus melihat daichi yang sama sekali tidak terlihat merasa bersalah kepadanya, bahkan dia harus menunda sarapan paginya hanya karena masalah yang begitu sepele dan itu menyangkut urusan rumah tangga keduanya.


Terima kasih sudah selalu setiap menunggu lanjutan cerita percintaan antara sakura dan daichi.


Jangan lupa untuk kalian meninggalkan jejak disini, terus dukung sayang sebagai seorang penulis dengan cara like, coment dan vote karena itu sangat berarti untuk saya....


Ayok bergabung di grup chatt agar kita bisa semakin dekat satu sama lain...


Aku sayang kalian semuanya ❤️🌺🤗


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2