
Di dalam alam yang tidak mengenal malam maupun siang, secara tidak sadar Cakra di gembleng untuk meningkatkan kemampuannya, bukan karena saat ini dia lemah, namun dia di siapkan untuk menghadapi lawan yang kuat dan situasi yang berat.
Kehancuran dunia persilatan jika di pimpin oleh golongan hitam sudah di depan mata, jika Cakra tidak cepat menjadi kuat maka kehancuran itu tidak akan bisa dielakkan lagi.
Ditambah dengan tertindas nya rakyat Selo Cemeng saat ini harus segera di selamatkan.
Byuuuuuur.
Sudah ke sekian kali tubuh Cakra di jatuhkan dari atas oleh burung garuda, tubuh itu langsung menyelam cukup dalam dan tiba tiba muncul di permukaan jauh dari titik tempat dia di jatuhkan, melihat tubuh Cakra muncul di permukaan, burung itu melesat berusaha meraih tubuh Cakra, tapi kali ini Cakra bergerak cepat, tubuhnya sudah jauh menyelam kedalam danau kemudian muncul lagi jauh dari tempat dia muncul tadi, kejadian itu terus terjadi berulang ulang sampai Cakra mampu sampai di tepi danau langsung meloncat ke daratan berpasir di tepi danau.
Dengan keluarnya Cakra dari dalam danau, gerakan Cakra semakin cepat karena tidak terganggu oleh tekanan air, dengan mudah Cakra mampu menghindari setiap sambaran burung garuda itu.
Karena sambaran sambaran burung garuda itu bisa di hindari, kini tubuh burung garuda itu mengeluarkan api yang panas, berbarengan dengan munculnya api dari tubuhnya, kecepatan terbang itu bertambah berlipat lipat, tidak hanya kecepatannya yang bertambah, namun kekuatannya pun juga bertambah.
Sambaran angin yang kencang mendahului datangnya burung yang terbang melesat ke arah Cakra, hal ini cukup membuat Cakra kesulitan, walau dia juga mengeluarkan pusaran angin dari dalam tubuh Cakra, namun sambaran angin dari burung garuda itu cukup besar untuk bisa membuyarkan pusaran angin Cakra.
Terpaksa Cakra berjumpalitan menghindari serangan burung itu, jika saja zirah dan sayapnya tidak hancur mungkin saat ini dia bisa mengimbangi serangan burung garuda yang seperti tiada hentinya itu.
Cakra ingat akan tombaknya, segera dia mengeluarkan tombak bayu angkasa, ternyata berhasil, dengan tombak itu dia menghalau setiap serangan Cakar maupun patukan paruh burung itu.
Dengan kecepatan yang meningkat, kini Cakra mampu membaca pergerakan burung raksasa itu, walau kadang Cakra masih kalah cepat namun dengan tombak di tangannya mampu menutupi kekurangannya.
Burung garuda itu mendarat ke tanah merubah pola serangannya, dengan mengandalkan ke dua sayap dan paruhnya, burung itu menyerang Cakra, sayap yang kuat namun lentur itu mampu memberi serangan yang susul menyusul, belum lagi di tambah hawa panas dari api yang di keluarkan oleh tubuh burung garuda itu membuat sedikit berpengaruh kepada gerakan Cakra.
Tubuh Cakra menjadi bulan bulanan dari burung itu, walau Cakra lebih hebat perlawanannya, burung itu selalu mengungguli serangannya, variasi serangan antara pukulan sayap, patukan paruh dan cakaran membuat Cakra kewalahan.
Pengalaman Cakra saat bertarung membuat dia sadar harus mampu membaca pola gerakan lawan, akhirnya Cakra mampu memahami inti gerakan lawan.
Cakra membalas serangan lawan dengan gerakan yang hampir sama, tendangan kaki, tamparan dan pukulan tangan di padukan dengan tusukan tombak, menghasilkan pola serangan yang sangat kuat di pertahanan dan mematikan di serangan.
__ADS_1
Dengan jurus baru yang dia pahami, Cakra mulai mampu mengimbangi serangan burung garuda, bahkan dia mampu menggabungkan jurus jurus barunya dengan jurus lama ajaran dari eyang Bagaskara, sehingga serangannya semakin luar biasa, sebenarnya apa yang di tunjukkan oleh burung garuda raksasa itu adalah penyempurnaan dari ilmu yang sudah di miliki oleh Cakra sebelumnya.
" Cukup,,,,! " tiba tiba terdengar suara dari burung garuda setelah dia mundur menjauhi Cakra.
Cakra cukup heran mendengar burung garuda itu bisa bicara.
" Apakah benar anda yang tadi bicara,,,? " tanya Cakra keheranan.
" Benar anak ku, aku adalah roh garuda agni yang selama ini berada di dalam patung garuda emas, aku di utus oleh sang garuda, paman dari jatayu untuk menunggu seseorang yang nantinya bisa menerima ilmu ilmuku dan aku di minta membantu perjuangan nya, dan ternyata itu adalah kamu anak ku,, "
Cakra masih bingung dengan penjelasan roh garuda agni, namun dia tidak menyela, dia mendengarkan saja ucapan garuda di depannya itu.
" Sebenarnya sudah lama aku menunggu mu, baru kali ini takdir telah mempertemukan kita, jadi aku mulai awal telah mengajarkan kepadamu ilmu ilmu yang aku miliki, tinggal nanti aku akan menyatu ke dalam tubuhmu untuk melengkapi ilmu mu, nantinya aku akan menyempurnakan zirah dan sayap yang kamu punya sehingga lebih kuat dan lebih mampu membantu kamu saat bertarung dengan lawan mu,, "
Cakra mulai paham dengan penjelasan Garuda agni sehingga dia hanya mengangguk saja.
" Bersiaplah, karena tidak ada waktu lagi bagimu berada di sini, kau harus segera kembali ke duniamu untuk menyelesaikan permasalahan di dunia persilatan. "
***
Di dalam gua, tubuh Cakra masih tergeletak di sana, sudah tujuh belas hari dia dalam keadaan seperti itu, kakek dewa tongkat rotan memutuskan untuk menunggui Cakra di sana karena masih banyak pendekar golongan hitam yang berkeliaran, jika sampai mereka berpapasan di jalan maka akan merepotkan, dia menunggu sadarnya Cakra sambil setiap hari menyalurkan tenaga dalamnya, luka luka luar Cakra juga sudah membaik namun mereka heran kenapa Cakra tidak juga kunjung sadar.
Kakek dewa tongkat rotan, Kelana dan Sardi sedang berbincang di luar sambil memakan singkong bakar, mereka juga membuat rencana jika Cakra tidak kunjung sadar juga, setelah para pendekar tidak berkeliaran mereka akan membawa Cakra ke kerajaan Gading Padas agar bisa di rawat di istana, raja Jati Kusuma pasti bersedia merawatnya.
Aaaaaaaaakhh.
Suara teriakan terdengar dari dalam gua, mereka semua segera menghambur ke dalam.
Mereka bertiga kaget dengan apa yang di lihat, meski matanya masih terpejam namun, tubuh Cakra terlihat kesakitan, otot ototnya menegang dan tubuhnya basah akibat keringat yang keluar.
__ADS_1
Kelana yang datang duluan bertindak cepat, dia ingin menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengurangi rasa sakit yang di derita Cakra.
Buuuuuuuughh.
Braaaaaak.
Baru sebentar Kelana menyalurkan tenaga dalamnya, tubuh Kelana seakan terdorong oleh kekuatan dahsyat yang menyelubungi Cakra sehingga dia terpental ke belakang menabrak dinding gua kemudian pingsan.
Kakek dewa tongkat rotan yang baru masuk terkejut melihat tubuh Kelana terpental, dia mencoba melakukan persis apa yang di lakukan Kelana tadi, sekejap muka kakek dewa tongkat rotan menjadi pucat menahan tekanan kekuatan yang menyelubungi tubuh Cakra.
Buuuuuuukh.
Kakek dewa tongkat rotan tidak kuat, tubuhnya terdorong ke belakang, beruntung dia bisa mengendalikan diri sehingga tidak membentur dinding gua, namun akibat dari dorongan kekuatan yang menyelubungi tubuh Cakra, membuat kakek dewa tongkat rotan memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Kakek dewa tongkat rotan tidak bisa berbuat apa apa selain menunggu keadaan Cakra, dia memerintahkan Sardi untik merawat Kelana yang pingsan.
***
Di alam bawah sadar Cakra, Cakra sedang duduk bersila, bersiap menerima roh garuda agni yang akan masuk kedalam tubuhnya.
Garuda agni terbang perlahan kemudian melesat menuju dada Cakra, dari paruh garuda agni perlahan masuk melalui dada Cakra, tidak di sangka oleh Cakra jika proses masuknya roh garuda agni sangat menyakitkan sehingga dia berteriak mengurangi beban sakit yang di alaminya.
Cakra menahan setiap rasa sakit yang di deritanya saat ini, kini burung garuda sudah masuk sampai ke pangkal lehernya menyisakan tubuh di luar, namun tubuh itu masih terus mendorong masuk ke dalam, Cakra semakin kesakitan, otot ototnya menegang dan peluh membasahi tubuhnya.
Hampir saja Cakra tidak mampu menahan rasa sakit yang di deritanya, namun dia harus bisa, tidak ada jalan lain selain meneruskan proses ini, perlahan tubuh roh garuda agni masuk semua ke dalam tubuh Cakra, saat semua tubuh roh garuda agni hilang disaat itulah Cakra hilang kesadaran.
***
Cukup lama tubuh Cakra merasa kesakitan di tungguin oleh kakek dewa tongkat rotan, hingga dia melihat perubahan pada tubuh Cakra yang sudah tidak merasa kesakitan, dia segera memeriksa keadaan Cakra, dia sangat terkejut karena yang mulanya napas Cakra sangat lemah kini mulai teratur dan yang paling membuat dia takjub adalah semua luka dalam yang di derita oleh Cakra telah sembuh seperti tidak pernah sakit apa apa.
__ADS_1
" Syukur kepada Sang Hyang Widi yang telah menyembuhkan Cakra, karena di pundak dia lah harapan kami agar dunia persilatan kembali seimbang,, " gumam kakek dewa tongkat rotan.