
Cakra masih berdiri memandangi arah kaburnya lawan, tidak di sadari laki laki yang di tolong sudah berdiri di samping kirinya.
" Terima kasih pendekar atas bantuannya, sangat beruntung bagi ku hari ini masih hidup karena engkau mau membantu ku, namaku Sardi dari perguruan pedang emas,, " ucap Sardi memperkenalkan.
Cakra menoleh ke arah Sardi dan tersenyum.
" Tidak usah sungkan seperti itu kakang, namaku Cakra, hanya seorang pengembara yang berjalan menuruti kata hati,, " jawab Cakra.
Sardi membalas senyum Cakra dengan anggukan kepala.
Karena hari masih malam dan gelap Cakra mengajak Sardi duduk dulu di bawah pohon beringin, mereka berbincang menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan.
" Kenapa orang orang tadi begitu bernafsu mengejar mu kang ,,? " tanya Cakra.
" Oh itu,,,, orang orang tadi berasal dari gerombolan perampok Singa Lodro, mereka perampok di wilayah hutan ini, namun saat ini mereka mengincar benda di dalam buntalan yang aku bawa ini. "
" Apakah isi dari buntalan ini kakang,,?. "
" Sebuah pusaka yang menjadi perebutan dunia persilatan akhir akhir ini,, " jawab Sardi.
Jawaban Sardi ini membuat Cakra terkejut, jika urusan ini sudah menyangkut dunia persilatan sudah di pastikan ini adalah masalah serius.
" Milik siapa pusaka itu,,,,?, kenapa ada bersamamu ,,,,,,,,? " tanya Cakra penasaran.
" Ceritanya,,, Pusaka ini milik Empu Songgo Langit dari gunung Semeru, di padepokan milik Empu Songgo Langit pusaka ini sudah ada sejak dulu, menjadi pusaka turun temurun, namun akhir akhir ini pusaka ini hilang dari padepokan Empu Songgo Langit,, " cerita Sardi.
" Tidak sengaja guruku eyang Rangkah Sedayu saat berkunjung ke desa mendapati seorang pendekar membawa pusaka ini, guruku eyang Rangkah Sedayu adalah kawan lama Empu Songgo Langit, guruku curiga karena tidak mungkin pusaka milik kawannya di bawa keluar dari gunung semeru agar terjaga keamanannya, jika sekarang berada di desa itu kemungkinan pusaka itu di curi, akhirnya Guru ku merebut pusaka itu dari tangan orang yang membawanya, setelah itu guru mengutus aku dan kakang ku yang bernama Darmo untuk menuju gunung Semeru mengembalikan pusaka ini, namun tadi waktu kami melintasi hutan ini, kami di cegat oleh gerombolan perampok Singa Lodro dan kakang Darmo tewas oleh mereka, beruntung tadi kau menolongku,, " Sardi mengakhiri ceritanya.
Cakra menyimak setiap cerita itu, dia masih bertanya tanya benda apa sebenarnya di buntalan itu sehingga banyak para pendekar yang memperebutkannya dan mendengar tentang gunung Semeru, Cakra juga teringat seseorang.
Tidak terasa asiknya mereka bercerita hari sudah mulai pagi, Cakra awalnya sudah bersiap untuk melanjutkan perjalanan, namun dari jauh terdengar alunan nada seruling dari kejauhan, Sardi juga tertarik dengan nada seruling yang entah siapa yang meniupnya itu, semakin lama suara seruling itu semakin mendekat ke arah mereka, sehingga mau tidak mau karena terdorong rasa penasaran mereka menghentikan dulu aktifitasnya masing masing untuk menunggu peniup seruling itu.
Tidak lama, seorang laki laki yang sudah di kenal Cakra muncul sambil memainkan seruling, ternyata Permana atau pendekar seruling bambu lah yang saat ini datang.
__ADS_1
Cakra tersenyum menyambut Permana.
" Selamat datang kawan, mau kemana pagi pagi begini sudah berada di hutan Angkrong ini sambil memainkan seruling,,,?. "
" Eh Cakra,, aku sedang menuju ke padepokan pedang emas, untuk mengusir kebosanan di perjalanan aku memainkan seruling ini,, kamu sendiri kenapa berada di sini,,?. "
Kedua orang yang di situ terkejut mendengar tujuan perjalanan Permana.
" Kemaren aku kemalaman di sini jadi kami istirahat di sini menunggu pagi untuk melanjutkan perjalanan, , " jawab Cakra.
" Benarkah kau mau ke padepokan pedang emas, ada keperluan apa,,? " tanya Sardi tidak sabar ingin mengetahui keperluan Permana ke padepokan.
Permana mengerutkan dahinya tanda heran dengan pertanyaan tadi, namun Permana tetap menjawabnya.
" Saya hanya ingin mengunjungi sahabat guru saya Empu Songgo Langit dan memastikan bahwa pusaka milik Empu Songgo Langit memang berada di sana. "
Sardi terdiam, dia bimbang mendapati situasi ini, dalam benaknya dia masih belum percaya kepada orang di depannya.
Cakra merasa tidak punya hak apa apa untuk ikut campur urusan ini dia memutuskan untuk diam saja.
" Maaf, sebenarnya aku salah satu murid dari padepokan pedang emas,, " jawab Sardi.
Mendengar itu Permana tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya, namun hal itu tidak lama karena rasa terkejut itu langsung berubah dengan kegembiraan, ini terpancar dari wajahnya yang berseri.
" Benarkah,,, Ah beruntungnya aku, apakah kabar keberadaan pusaka empu Songgo Langit memang benar adanya,,,?" tanya Permana.
" Memang benar, saat ini aku di tugaskan oleh guruku untuk menuju gunung Semeru mengantarkan pusaka ini,, " jawab Sardi menunjuk buntalan kain di punggungnya.
" Syukurlah aku bisa kembali ke gunung Semeru membawa pusaka milik kami,, " ucap Permana.
Sardi segera mengembalikan pusaka itu ke tangan Permana, dia merasa lega tugasnya mengantar pusaka bisa terlaksana walaupun harus mengorbankan nyawa kakang Darmo.
Mereka tidak ingin berlama lama di sana, semua memutuskan untuk kembali ke masing masing tempatnya, sedangkan Cakra ingin melanjutkan perjalanannya.
__ADS_1
***
Di pendopo kerajaan Selo Cemeng, raja Mangun Gada mengumpulkan punggawanya termasuk penasehatnya Kakek tongkat naga merah serta patih sabuk baja untuk membicarakan tentang pusaka yang saat ini menjadi perebutan dunia persilatan.
" Ampun Nak mas prabu, sebaiknya hamba sendiri dan adi sabuk baja yang berangkat mencari pusaka itu untuk kami bawa kesini,, " ucap kakek tongkat naga merah.
" Ah guru, masalah sekecil ini kenapa harus guru dan paman guru yang turun tangan, biarkan senopati senopati di sini yang melakukan,,, " jawab raja Mangun Gada.
" Tidak nak mas, pusaka ini adalah pusaka penting, hampir semua pendekar menginginkannya, baik dari golongan putih maupun golongan hitam, jadi akan lebih baik jika kami yang mencari, lagi pula selama ini kami di sini cuma bersenang senang dengan dayang dayangmu saja, akan lebih baik jika kami melemaskan otot di luar sana,, " jawab kakek tongkat naga merah lagi.
" Baiklah jika itu alasan guru dan tidak merepotkan guru, maka silahkan guru mencari pusaka itu,,! "
Hari itu juga kakek tongkat naga merah dan kakek sabuk baja meninggalkan kerajaan Selo Cemeng untuk mencari pusaka yang awalnya di miliki oleh empu Songgo Langit, saat pusaka itu hilang maka ini kesempatan bagi para pendekar untuk merebutnya.
Pusaka apa sebenarnya yang menjadi rebutan, kenapa banyak pendekar yang ingin memilikinya, sebuah pertanyaan yang belum seorang pun bisa menjawab kecuali pemiliknya sendiri Empu Songgo Langit dan kawannya eyang Rangkah Sedayu.
****
Cakra yang penasaran dengan cerita Sardi tentang gerombolan perampok Singa Lodro, langsung mencari markas tempat kelompok itu bersembunyi, hampir seharian dia berkeliling mencari markas itu, hingga pada sore hari dia mendapat tanda tanda tempat persembunyian kelompok itu.
Cakra menyelidiki tempat itu yang ternyata di jaga dengan ketat oleh orang orang yang bersembunyi di atas pohon, hampir lima orang yang mengawasi tempat itu, Cakra mencari cara untuk melewati para penjaga itu tanpa di ketahui, akhirnya dia menunggu hari menjadi gelap dahulu untuk masuk ke sana.
Perlahan malam telah turun, Cakra menyelinap dibalik pohon menghindari para penjaga, gerakannya yang cepat sulit di ikuti mata sehingga dia mudah mengelabui lawan,
Namun sebelum dia bisa masuk, ada dua orang penjaga sedang mengawasi, akhirnya Cakra mengambil kerikil di dekatnya, dengan sekali sentil, kerikil itu meluncur deras ke arah salah seorang penjaga.
Taaaph.
Kerikil itu tepat mengenai titik totokan sehingga penjaga itu langsung ambruk ke tanah kaku, melihat kawannya kaku seperti itu, kawannya berniat memeriksa keadaannya, namun belum sempat dia menyentuh tubuh kawannya sebuah kerikil sudah mengarah kepadanya sehingga tubuh itu sekejap pandangannya gelap dan jatuh pula tubuhnya.
Cakra segera melesat ke dalam takut jika kedatangannya di ketahui.
Sampai di dalam, dia mencari rumah yang paling besar di antara rumah rumah lainnya, dengan ilmu meringankan tubuh yang sempurna dia loncat dari satu rumah ke rumah lainnya, dia mencoba membuka satu genteng dan melihat isi dari rumah itu.
__ADS_1
Tapi apa yang di lihat Cakra saat itu sangat mengejutkan, hampir saja dia tidak mempercayainya jika tidak melihat sendiri dengan kedua mata kepalanya.