
Terjadi kegemparan di wilayah Gading Padas, pasalnya telah terjadi penyerangan terhadap pasukan Selo Cemeng di berbagai tempat, entah yang berkeliling maupun yang berada di pos penjagaan, walaupun kejadian kejadian itu membuat resah namu kebanyakan masyarakat mendukung penyerangan itu.
Banyak rakyat yang menyediakan rumahnya untuk tempat bersembunyi para penyerang itu, sehingga pasukan bantuan yang baru datang akan kehilangan jejak.
Bruaaaakhh....
" Kurang ajar ,,, " teriak Sangga Bhumi.
Semua yang ada di situ diam tidak berani menyahut, mereka sangat paham jika apabila Sangga Bhumi marah, tidak segan segan dia melenyapkan orang di hadapannya.
" Siapa orang di balik serangan ini,? "
" Renggono, apakah undangan untuk datuk sesat dari jurang maut telah sampai,,,? tanya Sangga Bhumi.
" Ampun Gusti Sangga Bhumi, sudah sepekan lalu orang yang mengirim surat itu telah kembali, mereka melaporkan kalau datuk sesat akan membantu kita setelah menyelesaikan pertapaannya,,, " ucap Renggono.
" Terus sampai kapan kita harus menunggunya,,,? "
" Ampun Gusti, mudah mudahan Datuk Sesat segera sampai di sini,,,, " jawab Renggono.
Wuuuuushhh.
Saat mereka masih berbicara tentang Datuk Sesat, tiba tiba dari arah depan muncul serangkuman angin yang besar mengarah kepada mereka, sejenak mereka kaget dan bersiap terhadap serangan lawan, namun dari arah serangkuman angin itu, hanya muncul seorang kakek bertubuh kurus seakan hanya terdiri dari tulang dan kulit, walaupun tubuh kakek itu kurus, namun prabawa yang di tunjukan sangat kuat, semua yang ada di situ seakan di himpit batu besar di dadanya, jangankan untuk bergerak, bernafas pun mereka bersusah payah.
" Selamat datang Datuk Sesat, kehadiranmu telah kami tunggu,, " sapa Sangga Bhumi sambil bersusah payah berdiri menyambut Datuk Sesat.
Setelah dirinya di sambut oleh Sangga Bhumi, Datuk Sesat segera menarik prabawanya yang tadi menekan orang orang yang ada di situ, terlepas lah pengaruh prabawa itu sehingga mereka bisa bernafas lega.
Sangga Bhumi mempersilahkan Datuk sesat duduk di kursi yang telah di sediakan, dia menjamu datuk sesat itu seakan menjamu Raja Selo Cemeng sendiri yang hadir.
***
Ki Sarjo sore itu berencana menyerang pos penjagaan yang ada di desa Beji, mereka telah menyelidiki keadaan di sana malam sebelumnya, mereka ingin memberi hukuman kepada mereka yang telah berlaku semena mena kepada warga.
Matahari mulai turun, mereka telah bergerak dengan menyelinap di antara rumah rumah warga, gerakan gerakan gesit yang di lambari jurus peringan tubuh yang sempurna menjadikan mereka bisa bergerak dengan cepat, tidak lama mereka telah sampai di dekat pos penjagaan itu.
Terdapat dua orang penjaga yang berdiri di sana, dua pendekar maju dengan cepat dan menyergap dua penjaga itu.
__ADS_1
Kraaak.
Tidak butuh waktu lama, ke dua penjaga itu jatuh dengan leher yang patah.
Mereka berdua memeriksa ke dalam, namun semua terlihat sepi, mereka kembali ke pasukan lagi dan melaporkan kalau keadaan sangat sepi.
Ki Sarjo sangat bingung dengan keadaan yang seperti itu, mereka memutuskan untuk memeriksa lebih teliti, mereka bergerak perlahan mendekati pos penjagaan itu, namun sebelum mereka sampai di pos itu.
Wuushhh.
sriiingh..
Aaakkkkkk...
Seorang pendekar telah tumbang dengan dada yang tertancap anak panah.
Wuuusshh
Sriiiiinggg..
Puluhan anak panah meluncur ke arah mereka,
Aakkhh.
Sebagian anak panah itu bisa di tangkis dan di hindari, namun sebagian ada pula yang mengenai sasaran.
Tidak mau para pendekar yang di pimpinnya habis terkena panah, ki Sarjo yang menangkis anak panah itu dengan golok pusaka miliknya mengeluarkan pukulan jarak jauh yang mengarah bermunculannya anak panah itu.
Jdaaarrtt..
Blaaaaaamm..
Sebuah ledakan menghantam semak semak, terpental lah tubuh tubuh orang yang membawa busur panah, sejenak serangan itu mampu menghentikan hujan anak panah ke arah mereka, namun dari sisi lain bermunculan anak panah menyerang mereka, hingga untuk ke dua kalinya ki Sarjo mengarahkan serangan jarak jauhnya.
Blaaaaarr....
Sebelum pukulan Ki Sarjo mengenai sasaran, pukulan itu telah meledak karena ada selarik cahaya kuning yang menghalaunya.
__ADS_1
Dari pertemuan dua serangan itu mengakibatkan tubuh ki Sarjo terdorong empat langkah kebelakang.
Di dekat ledakan itu kini telah berdiri seorang kakek berbaju kuning bertongkat kepala ular. kakek Respati inilah yang tadi memapaki serangan jarak jauh ki Sarjo.
Tanpa banyak bicara, ki Respati menyerang ki Sarjo dengan tongkatnya, dia menusukan ujung tongkat yang lancip kearah dada ki Sarjo, ki Sarjo menangkis serangan itu menggunakan goloknya.
Triiing.
Benturan dua senjata itu memercikan api yang cukup menerangi gelapnya malam itu.
Wuush wusssh, traaak.
Tongkat itu menyambar nyambar dengan cepat, mengarah ke bagian tubuh yang mematikan.
Terjadi serangan seru di malam itu, sedangkan para pendekar yang kini tinggal sembilan orang itu kini di serang oleh pendekar golongan hitam yang menjadi suruhan Sangga Bhumi.
Buuughh.
Sebuah sapuan tongkat Ki Respati tidak bisa di tangkis ki Sarjo hingga telak pukulan itu mengenai perut Ki Sarjo, terkena pukulan itu dia terjajar ke belakang sambil memuntahkan darah segar dari mulutnya, tidak berhenti di situ, kakek Respati telah meloncat mengirim tendangan kaki kanan kearah dada Ki Sarjo hingga menjadikan ki Sarjo terpental kebelakang sejauh enam tombak.
Mengetahui keadaan tidak menguntungkan, para pendekar itu mulai mundur dan membawa kabur ki Sarjo.
Para pendekar golongan hitam berniat mengejar mereka, namun hal itu di cegah oleh ki Respati, mereka kembali ke pendopo Gading Padas untuk melaporkan kejadian itu.
***
Ki Sarjo yang dalam keadaan pingsan kini di bawa menuju hutan Kuncoro, kini mereka tinggal delapan orang, di sekujur tubuh mereka pun telah terhias banyak luka, sehingga mereka memutuskan segera sampai ke tempat persembunyian agar segera dapat mengobati luka mereka.
Sampai di pondok persembunyian mereka, mereka sudah sangat kelelahan dan kehilangan banyak darah sehingga mereka banyak yang pingsan.
Mengetahui itu, paman Jolo Wojo dan para prajurit membantu mengobati mereka dan berharap mereka bisa selamat dari luka lukanya.
Dari kejadian ini, mereka kini harus lebih berwaspada apabila mau menyerang, karena tokoh tokoh sakti golongan hitam telah turun tangan.
***
Cakra baru saja menerima berita kekalahan kelompok Ki Sarjo, dia sangat terpukul dengan kejadian itu, sehingga dia memutuskan kembali ke hutan Kuncoro.
__ADS_1
Meski dia tidak di tempat pertempuran ki Sarjo namun dia merasa orang paling bersalah karena rencana ini adalah rencananya.
Apalagi sesaat setelah dia sampai di hutan Kuncoro, dia mendapati kelompok yang di pimpin oleh ki Adirojo telah mengalami nasib yang hampir sama, bahkan mereka sempat di kejar sampai hutan Kuncoro, namun dengan sigap prajurit pimpinan pangeran Jati mampu menghabisi mereka sebelum sempat memasuki persembunyian mereka, namun bagaimana pun juga hal itu menjadikan mereka harus pindah dari hutan kuncoro agar tidak di ketahui lokasi mereka.