
Craaas.
Aaaakh.
Jerit kematian mengiringi terpisahnya kepala Subala dari badannya, hal ini membuat gempar seluruh wilayah hutan Murwo, burung burung beterbangan dan hewan hewan lari ketakutan.
Di lain tempat, Wanara yang di serang bertubi tubi oleh Cakra harus berjumpalitan menghindari pukulan Cakra yang menimbulkan pusaran angin yang kuat, pusaran angin itu di pusatkan pada satu tempat sehingga akibat yang di timbulkan dari pukulan itu sangat berat, memang dari luar tidak tampak namun jika di lihat sampai organ dalam terjadi kerusakan begitu berat.
Wuuuus.
Cakra kembali mengincar dada kiri lawan dengan pukulannya.
Buuuuugh.
Huweeeeeek.
Wanara yang mencoba berdiri harus terdorong lagi hingga tubuhnya melayang menabrak sebuah pohon dan dari mulutnya memuntahkan darah segar, tongkat andalan yang ada di tangannya tidak mampu membendung serangan angin lawan sehingga tongkat itu tidak banyak membantu.
" Bagaimana, apakah kau masih ingin memiliki pedang yang kami bawa ? " tanya Cakra.
" Khhhuuuiiiiii,, aku tidak akan menyerah,, lebih baik aku mati dari pada aku kembali dengan kegagalan,, " ucap Wanara.
" Aku akui kau kesatria yang hebat, namun kamu harus tau mana yang perlu di bela sampai mati atau yang harus di tinggalkan untuk mendapatkan jalan kehidupan yang lebih baik, keserakahan bukanlah hal yang perlu di bela sampai mati, yang harus kita bela adalah keadilan dan kedamaian,, " ujar Cakra.
" Jalan kita sudah berbeda, aku membela apa yang aku anggap benar walau menurutmu itu salah, jadi aku akan mempertahankan pendirian ku,, " jawab Wanara.
" Kalau begitu tidak ada jalan lain selain kita bertarung sampai ada salah satu yang mati,, " jawab Cakra sambil mempersiapkan jurus cakar garuda membelah badainya.
__ADS_1
Wanara juga bersiap, dia berdiri tegak dengan mengambil napas panjang berusaha memulihkan keadaannya.
Hiyaaaaat,
Cakra melesat dengan tangan kanan menjulur ke depan, Wanara mencoba membenturkan tenaganya.
Plaaak.
Duaar,
Wanara terdorong ke belakang, sedangkan Cakra masih tidak terbendung lajunya sehingga dia terus mengincar anggota tubuh lawan yang paling lemah.
Seakan tidak ada jalan keluar, Wanara menggerakkan kedua tangannya secara asal agar bisa menepis serangan lawan, tapi gerakan tangan itu bisa dengan mudah di hindari oleh Cakra, dia terus memburu hingga saat jangkauan tangannya sudah tepat dia menyabetkan cakarnya di dada kiri Wanara.
Sraaaak.
Karena luka yang di dapat, Wanara menjadi marah, dia segera berdiri untuk kembali menyerang Cakra, tanpa pikir panjang Cakra menyongsong serangan itu, tubuhnya berkelit indah kemudian menyarangkan pukulannya lagi kebagian tubuh yang terluka, hingga Wanara terdorong mundur tiga langkah kemudian cakar yang di miliki Cakra melesat cepat.
Claaaph.
Cakar itu tembus ke dalam tubuh Wanara hingga sampai ke jantungnya, Cakra membetot tangannya keluar, darah merah membasahi tangannya sampai ke pergelangan tangan menetes ke rumput hijau di bawahnya.
Buuuugh.
Tubuh kera raksasa berbulu kuning itu jatuh berdebuman di tanah, tubuhnya kaku, matanya melotot napasnya masih tersengal sengal walau sebentar kemudian hilang tidak bernapas lagi karena mati.
Kenanga menghampiri Cakra yang telah menyelesaikan pertarungannya.
__ADS_1
" Ayo kita pergi kakang,,! " ajak Kenanga menggandeng tangan Cakra.
Belum keduanya beranjak dari tempat itu, sesosok kera berbulu merah yang ukurannya lebih besar dari pada Wanara ataupun Subala telah meluncur dari atas pohon dan mendarat di depan mereka di ikuti oleh beberapa kera juga mengurung mereka.
Sebuah tekanan tenaga dalam cukup besar di keluarkan oleh kera merah itu membuat Cakra dan Kenanga kesulitan untuk bernapas dan bergerak.
" Jangan jauh jauh dari ku dinda,,! " perintah Cakra.
Kenanga hanya mengangguk kemudian merapatkan tubuhnya ke badan Cakra.
Cakra kemudian meningkatkan tenaga dalamnya sehingga tekanan yang di lakukan kera merah menjadi berkurang, justru kini tenaga Cakra yang sedikit demi sedikit mendesak tenaga dalam kera merah.
Kera merah itu pun tidak mau kalah, dia juga meningkatkan tenaga dalamnya agar bisa menekan tenaga dalam lawan.
Agak lama mereka saling menekan tenaga dalam lawan, keringat sudah mulai mengucur dari badan, namun tidak satu pun dari mereka yang mau mengalah, mereka justru perlahan meningkatkan tenaga dalamnya sehingga semakin besar tekanan yang mereka berikan, hal ini membuat kera kera lainnya yang berada di sekitar tempat itu ikut mendapat imbasnya, tubuh mereka terasa seakan tertimpa batu besar yang berat, hal ini juga di rasakan oleh Kenanga, namun karena dia berada di dekat Cakra sehingga dia masih terlindungi.
" Garuda agni bantu aku,,! " gumam Cakra meminta garuda agni membantunya.
Sejenak dari tubuh Cakra keluar api berwarna biru muda menyelubungi tubuhnya, perlahan api itu semakin besar sehingga menekan tenaga dalam lawan.
Hiyaaaaaaa.
Blaaar
Cakra berteriak kemudian terjadi ledakan yang di akibatkan dua energi yang saling bertabrakan.
Ketiga sosok yang berada di tengah arena pertarungan itu terpental ke belakang, tubuh Kenanga sampai terhempas beruntung Cakra mampu menangkap tangan Kenanga sehingga tubuh itu tidak terlempar jauh, sedangkan sosok Kera merah bersalto ke belakang beberapa kali untuk mengurangi daya dorong dari benturan tenaga dalam yang baru saja terjadi.
__ADS_1