PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Mengatur Siasat


__ADS_3

Utusan Cakra telah sampai ke hutan Gondo Mayit, dia langsung menghadap kepada pangeran Jati Kusuma untuk menyampaikan keberhasilan pasukan Shindung Bawana, dia juga menyampaikan renacana yang akan di lakukan.


"Bagaimana menurut anda ki Sarjo,, " tanya pangeran Jati mengenai rencana yang di usulkan Cakra.


" Saya kira usulan Cakra tentang siasatnya sangatlah tepat, hal ini juga bisa mengurangi korban dari pihak kita.


" Benar yang di sampaikan oleh ki Sarjo, bagaimanapun juga jumlah kita tidak sebanding dengan jumlah mereka, jadi sebaiknya kita memang membuat siasat seperti yang Cakra usulkan,, " tambah ki Adirojo.


" Baiklah hari ini juga, kita akan melakukan apa yang telah Cakra usulkan,, "


" Paman Jolo Wojo, siapkan pasukan sekarang juga,,! " perintah pangeran Jati Kusuma.


" Baik pangeran akan segera saya laksanakan, " ucap paman Jolo Wojo.


Paman Jolo Wojo segera menyiapkan perlengkapan perangnya, semua senjata dan bahan makanan yang akan di bawa telah siap di kemas di pedati pedati yang di tarik oleh dua sapi.


Paman Jolo Wojo juga menyiapkan berbagai keperluan di jalur masuk hutan Gondo Mayit, mereka menyiapkan itu dengan teliti.


***


Di Gading Padas, kesibukan para prajurit menyiapkan perlengkapan perangnya masih berlangsung, Renggono memeriksa persiapan itu dengan cermat, mulai dari kereta kuda untuk Gusti Sangga Bhumi, persediaan makanan dan juga senjata.


" Gusti Sangga Bhumi tiba... " teriak seorang prajurit penjaga.


Renggono segera menyambut kedatangan junjungannya itu dengan memberi hormat.


" Bagaimana persiapan kita Renggono ? " tanya Sangga Bhumi.


" Ampun gusti, hampir semua persiapan telah selesai, kini tinggal memberangkatkan pasukan kita gusti,,, " jawab Renggono.


" apakah lemak hewan yang aku pesan sudah selesai kau siapkan,,?


" Ampun gusti, untuk lemaknya masih kita olah sampai sekarang, mungkin besok pagi semua baru selesai,, "


" Aku ingin minyak dari lemak hewan itu segera selesai lebih cepat, karena aku sudah tidak sabar untuk menyaksikan hutan Gondo mayit habis terbakar bersama para penghuninya,, "

__ADS_1


" Baik gusti,, "


" Ha ha ha ha ha,, "


Sangga Bhumi tertawa dengan keras merasa yakin rencananya akan berhasil.


* * *


Untuk sementara waktu ini, Cakra masih tinggal di desa Mojosari sambil sesekali keluar bersama pasukannya untuk menyerang pos pos penjagaan Gading Padas, kadang mereka mendapati telik sandi Gading Padas yang di sebar untuk mencari kabar tentang pasukan Shindung Bawana, kali ini Cakra tidak ingin musuh memiliki informasi yang banyak tentang pasukan Shindung Bawana sehingga Cakra memerintahkan pasukannya untuk membunuh telik sandi itu.


Cakra dengan sepuluh anggota pasukannya sedang beristirahat di hutan Babat untuk memulihkan tenaga pasukannya yang hari ini telah bertarung dua kali dengan pasukan Gading Padas dan lima telik sandi Gading Padas.


Mereka sedang membakar kambing liar yang mereka temui di dalam hutan itu, Bau daging bakar yang sudah matang menyebar, membuat orang yang menciumnya tergiur untuk ikut mencicipi.


Seorang pemuda yang dari tadi duduk berseberangan dengan para pasukan Shindung Bawana mau tidak mau juga ikut tergoda untuk bisa menikmati daging bakar itu.


Pemuda berpenampilan layaknya seorang pendekar dengan cambuk bergagang kepala naga melilit di pinggangnya itu menghampiri orang orang yang sibuk membakar daging.


" Maaf tuan tuan, dari aroma daging yang tuan bakar pasti rasanya lezat dan daging yang tuan tuan bakar sangat banyak, sekiranya tidak mengurangi jatah tuan tuan jika tuan tuan memberi sedikit daging kepada saya sebagai obat penasaran lezatnya daging yang tuan tuan bakar,, " ucap pemuda itu dengan sopan.


" Ini ambil lah namun saya minta engkau pergi dari sini,,,! " ucap salah seorang anggota Shindung Bawana, walau mereka mencurigai pemuda itu namun dia tidak berani berbuat gegabah.


" Terima kasih tuan, "


Pemuda itu segera menerima dan kembali ke tempat dia duduk tadi.


Melihat pemuda itu masih di situ tidak mau pergi, seorang anggota pasukan Shindung Bawana menghampirinya.


" Heii,,, apa kau tuli, tadi aku menyuruhmu pergi dari sini kenapa kau masih di sini,,? "


" Maaf tuan, saya kira hutan ini tidak ada pemiliknya jadi tidak ada larangan bagiku untuk duduk di sini. " jawab pemuda itu.


" Namun kami di sini sedang ada tugas, apakah kau telik sandi dari Selo Cemeng yang memata matai kami,,? "


Mendengar pertanyaan itu, pemuda itu tersenyum sinis.

__ADS_1


Merasa pertanyaannya tidak di tanggapi malah tersenyum sinis, anggota pasukan Shindung Bawana yang bernama Darso menyapukan tendangan ke arah kepala pemuda yang masih duduk.


Pemuda itu hanya merunduk sedikit sehingga tendangan itu lewat sedikit di atas kepala, masih sambil mengunyah daging bakar pemuda itu menghindari setiap serangan Darso, Darso semakin naik pitam sehingga dia berniat menghunus kerisnya, dia mengayunkan keris di tangan kanannya kearah dada pemuda itu.


Taaahp.


Keris itu di jepit dengan jari jempol dan jari telunjuk pemuda itu, Darso sangat terkejut tusukan kerisnya bisa di hentikan dengan dua jari saja, bahkan kini wajahnya menjadi pias karena keris itu tidak bisa di tarik, bahkan Darso sudah mengerahkan tenaga dalam untuk menarik keris itu dari jepitan jari lawannya, namun usahanya tidak berhasil hingga pada saat dia dengan sekuat tenaga menarik kerisnya, pemuda itu melepaskan jepitan nya, sudah bisa di tebak hasilnya, tubuh Darso terdorong kebelakang akibat kuatnya tenaga yang di keluarkan, dia berjumpalitan sampai sepuluh langkah.


" Kurang ajar, orang tidak tahu terima kasih,, "


Darso menyiapkan pukulan jarak jauhnya, tangannya mengepal ke atas dan mengumpulkan tenaga dalamnya di kepalan tangan.


"Berhenti...! "


Darso yang sudah bersiap mengarahkan pukulannya ke arah pemuda itu seketika mengurungkan pukulannya.


" Apa yang terjadi sehingga kamu ingin melepaskan pukulan mu kepada pemuda itu,,? " tanya Cakra sesaat setelah dia kembali dari sungai untuk membersihkan badannya.


" Maaf tuan, pemuda ini telah memata matai kita,, " jawab Darso.


" Apakah benar seperti itu tuan ,,? " tanya Cakra kepada pemuda itu.


" Saya kenal kalian saja tidak, kok bisa di tuduh sedang memata matai kalian, "


" Terus sedang apa kamu di sini.? "


" Aku di sini sedang istirahat seperti kalian, kebetulan aku melewati hutan ini, jadi mohon maaf jika kehadiranku mengganggu kalian,, " jawab pemuda itu tenang.


" Kalau memang begitu, aku juga minta maaf atas perlakuan anggota pasukan ku, saya kira ini salah paham jadi tolong untuk tidak di masukan hati,, " ucap Cakra sopan.


" Baiklah karena kalian sudah berbaik hati memberi aku daging bakar yang lezat, aku tidak akan mempermasalahkan kesalah pahaman ini, jadi saya mohon pamit untuk melanjutkan perjalanan,,, " jawab pemuda itu.


Laaahhhp.


Sekejap tubuh pemuda itu telah hilang karena cepatnya lari pemuda itu.

__ADS_1


Setelah cukup beristirahat, Cakra memutuskan kembali ke desa Mojosari.


__ADS_2