
Sebuah wajah penuh kekhawatiran terpancar dari sosok ayu, dia mondar mandir di depan kediaman Cakra menunggu datangnya kesatria itu, namun sudah lama dia menunggu namun Cakra belum juga kembali, Ningsih sangat khawatir terhadap keselamatan Cakra.
Ningsih mengangkat cangkir tanah berisi wedang jahe itu kemudian meneguknya sedikit merasakan sensasi hangat yang menjalar di tenggorokannya masuk ke perut.
Sesaat setelah dia menikmati wedang jahe yang masih hangat itu, Cakra tiba dengan mendaratkan kakinya di depan Ningsih.
" Kenapa kamu di depan rumah Ningsih,,? adakah sesuatu yang penting sehingga kau menungguku disini,,? " sapa Cakra.
" Benar Cakra, tadi kamu di cari oleh paman Suro, beliau memberi pesan jika engkau datang di minta datang ke kediaman putri Kencana Sari. " jawab Ningsih.
"Ada apakah sehingga paman suro memanggilku, pasti ini kabar penting, " gumam Cakra.
Cakra segera pergi ke kediaman putri Kencana Sari yang di siapkan oleh pangeran Jati Kusuma.
Tidak lama Cakra sampai di kediaman putri Kencana Sari, di sana sudah ada paman Suro, paman Rejo dan seorang yang berpakaian compang camping dan terlihat lelah karena perjalanan jauh.
__ADS_1
" Permisi paman,, " ucap Cakra sebelum masuk ke dalam kediaman itu.
" Ah nak mas Cakra, silahkan masuk,,! kami sudah menunggumu,, " ucap paman Suro.
" Ada apa paman,,? katanya paman mencari aku,,? " tanya Cakra.
" Benar nak mas, kami memang mencarimu tadi, begini biarkan Saroso saja yang bercerita,, " jawab paman Suro.
Cakra kemudian menoleh kepada seseorang yang baru di temuinya yang bernama Saroso itu.
" Kelihatannya mereka sangat bersungguh sungguh mau menghancurkan kerajaan Tirta kencana karena pasukan yang mereka kerahkan sebanyak sepuluh ribu pasukan. "
" Mereka sekarang sudah sampai mana,,?
" Perkiraan mereka sudah sampai di padang oro oro kesongo, mungkin besok sore mereka sampai di wilayah kerajaan Tirta Kencana ,, "
__ADS_1
" Kita tidak punya waktu lagi, kita harus segera bergerak, di mana putri Kencana Sari,,? "
" Putri telah kembali ke kerajaan Tirta Kencana tadi pagi setelah mendengar kabar dari Saroso,, " jawab paman Rejo.
" Kenapa paman paman tidak ikut,, ? " geram Cakra mengkhawatirkan putri Kencana Sari yang melakukan perjalanan sendiri.
" Putri berpesan kepada kita untuk menunggumu, jadi kami setelah ini akan menyusul ke kerajaan Tirta Kencana, kami juga akan pamit kepada raja Jati Kusuma karena tadi putri Kencana Sari belum sempat pamitan. " jelas paman Suro.
" Kalau begitu aku akan menyusul putri, " ucap Cakra.
Cakra segera melesat terbang ke arah kerajaan Tirta Kencana, dia tidak ingin terlambat sehingga menyesalinya.
Tidak hanya putri Kencana Sari saja yang dia khawatirkan namun dia juga mengkhawatirkan orang tuanya.
Cakra melesat dengan cepat tanpa mengenal lelah, dia mengepakkan sayapnya dengan cepat agar laju terbangnya semakin cepat,
__ADS_1
Cakra menyempatkan diri melihat jalur yang di lalui oleh pasukan Selo Cemeng, dari atas dia melihat barisan pasukan yang mengular sangat panjang, mereka di dukung juga oleh para pendekar golongan hitam yang ingin menumpang kemewahan dengan menjilat kepada kerajaan Selo Cemeng, alat alat pelontar batu dan anak panah jarak jauh juga mereka bawa, bahkan ada pasukan yang menunggang gajah di posisi paling depan, panji panji mereka kibarkan dengan tinggi seakan ingin menakuti siapapun yang berpapasan dengan mereka.