PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Mustika Sodo Jagad 2


__ADS_3

Malam mulai turun dengan membawa selimut gelap dari timur ke barat, selimut yang sebagian orang di anggap membawa ketakutan dan keresahan namun sebagian yang lain menganggap membawa mimpi dan ketenangan.


Suasana di bawah air terjun terasa sangat tenang dan menyenangkan, Cakra dan Kenanga yang di persilahkan beristirahat di salah satu rumah yang bersih dan hangat di jamu dengan banyak buah buahan yang tumbuh subur di sekitaran wilayah air terjun membuat tubuhnya segar, apalagi udara yang selalu sejuk membuat semua bagian tubuh mereka di manja oleh kenyamanan.


Bulan sepotong menggantung di langit terlihat diantara celah tebing, Cahayanya keberadaannya menjadi pertanda perjalanan dunia yang tanpa henti, mungkin sudah jutaan kejadian di muka bumi ini dia saksikan, namun tiada sedikitpun kebosanan bagi dia untuk tetap memberikan cahayanya yang lembut untuk bumi, jika saja bulan merasa bosan mengelilingi bumi karena melihat kemaksiatan, pembantaian, keserakahan dan kesombongan manusia meminta untuk di hancurkan, mungkin bumi ini pun akan ikut hancur bersamanya, semoga Sang Hyang Widi menjaga bumi ini agar tetap berputar dengan bulan sebagai pengawalnya mengitari jagad raya.


Malam itu setelah menyantap habis buah buahan yang di sediakan oleh seorang prajurit kera, Cakra dengan perlahan mendekati rumah yang di tempati oleh eyang resi Wisrawa.


" Aku merestui mu nak mas, lakukanlah,,! " ucap suara dari dalam rumah eyang resi Wisrawa.


Cakra yang memang berniat menghadap eyang resi Wisrawa untuk meminta restu justru sebelum di sampaikan telah di ketahui oleh eyang resi.


Karena sudah mendapat restu, dia kemudian memberi hormat dari luar rumah, kemudian melangkah ke dekat jatuhnya air dari atas.


Pandangannya menyusuri air yang jatuh dari bawah sampai atas, dia perhatikan dengan seksama, setelah merasa yakin dia segera melesat menembus derasnya air yang jatuh.


Wuuuuush.


Thaaaaph


Ternyata usahanya yang pertama gagal, karena di balik air yang dia tuju langsung membentur dinding membuat dia bersalto ke belakang.


" Ternyata sulit juga mencari letak gua di balik air terjun ini, airnya terlalu deras apalagi di tambah gelapnya malam,, " gumam Cakra dalam hati.


Cakra tidak menyerah, di coba memusatkan pandangannya.


" Ketemu,,,,, "


Wuusss.


Claaaaph.


Suara tubuh Cakra menerobos derasnya air, kali ini tubuh itu tidak terhalangi, tiba tiba dia sudah berada di sebuah ruangan gua yang tidak terlalu luas dan dalam namun cukup nyaman untuk bersemedi.

__ADS_1


Tanpa membuang waktu, dia mengambil posisi bersila, dia pusatkan pikirannya, awalnya suara air yang jatuh terdengar begitu keras, lama kelamaan suara itu mulai pudar di ganti dengan keheningan, dari tubuh Cakra keluar semburat cahaya biru muda yang berkilauan, sedangkan dari balik baju Cakra keluar cahaya keemasan yang semakin lama semakin berpendar terang, benda sumber cahaya ke emasan itu perlahan terbang keatas kepala Cakra, kemudian turun lagi di depan dada Cakra.


Cahaya biru dan emas saling berdesakan menekan satu sama yang lain, perlahan cahaya itu saling melebur menjadi satu.


Perlahan dua cahaya yang melebur menjadi satu itu masuk ke dalam.


Bersamaan dengan masuknya dua cahaya itu, hilang pula mustika sodo jagad yang tadi melayang di depan dada Cakra.


Perlahan dahi Cakra terbelah seukuran mata, semakin lama belahan di dahi itu semakin lebar, terdapat benda kecil yang mendesak untuk keluar, ternyata benda itu adalah mustika sodo jagad yang tadi menghilang.


" Lama tidak berjumpa Cakra,,, " sapa roh garuda agni di dalam ruang bawah sadar nya.


" Benar juga kita sudah lama tidak bertemu, tampilan mu sudah berbeda sekarang, kau tambah gagah saja,, " ucap Cakra seolah bercanda.


" Ini semua karena kamu, penyatuan dengan pedang garuda membuat aku menjadi seperti ini,, "


Memang tampilan dari roh garuda agni saat ini berbeda jauh dengan yang dulu, jika dulu hanya berupa tubuh burung terselimuti api, sekarang tubuh burung itu terdapat perisai yang indah di tubuhnya, di kepalanya juga terdapat mahkota dengan batu mustika sodo jagad di kepalanya.


" Apakah batu itu mustika sodo jagad,, ? " tanya Cakra.


" Dengan itu kau terlihat lebih gagah,,, " gurau Cakra.


" Tidak kah kau ingin mencoba kekuatan ku yang baru,,? " tanya roh garuda agni.


Cakra merenung kemudian menganggukkan kepala tanda tertarik dengan tawaran roh garuda agni.


" Naiklah ke tubuhku ,,,,! "


Tanpa ragu Cakra langsung naik ke tubuh agni, setelah dia telah naik, roh garuda agni melesat terbang dengan kecepatan tinggi, dia meliuk liuk di angkasa dari mulutnya keluar cahaya biru yang menghantam bumi hingga terjadi kerusakan yang cukup parah di sana, sedangkan dari kepak sayapnya muncul bola bola api yang bagaikan hujan meteor menghantam bumi.


" Setelah ini, kau bisa mewujudkan diriku di alam nyata dengan memanggil namaku, aku juga bisa menjadi tunggangan mu,, " ucap garuda agni.


" Terima kasih agni, semoga persahabatan kita ini bisa membawa kedamaian bagi dunia,, " ujar Cakra.

__ADS_1


" Ayo kembali agni,,,! " ajak Cakra.


Kemudian roh garuda agni menukik dengan kecepatan tinggi ke bawah.


Thaaaaaph.


Dengan anggun roh garuda agni mendarat, Cakra segera melompat turun kemudian tangannya mengelus leher burung garuda raksasa itu.


" Cukup aku akan kembali lagi ,, " kata Cakra.


Roh garuda agni menganggukkan kepala tanda mengerti.


Perlahan Cakra membuka matanya, dia meraba dahinya yang tadi menempel mustika Sodo jagad kini sudah tidak ada karena masuk ke dalam bergabung dengan roh garuda agni.


Cakra perlahan berdiri kemudian,


Wuuuush.


Thaaaaph..


Dengan kecepatan kilat dia keluar menembus derasnya air terjun, kemudian menapakkan kakinya di sebuah batu besar di pinggir sungai, ternyata di luar hari telah siang, Kenanga yang sejak pagi sudah menunggu kemunculan Cakra menjadi sangat gembira, dia menghampiri Cakra yang masih berdiri di atas batu.


" Kakang luar biasa, aura kakang berubah, bahkan baju kakang sedikit pun tidak basah padahal baru melewati air terjun,, " cerocos Kenanga.


Cakra mencoba melihat bajunya, ternyata benar bajunya memang masih kering, kemudian dia hanya tersenyum.


" Ayo kita menghadap eyang resi Wisrawa,,,! " ajak Cakra.


Keduanya kemudian berjalan menuju rumah resi Wisrawa, ada sesuatu yang aneh di alami oleh mereka, setiap mereka bertemu dengan prajurit siluman kera, semuanya menyembah seperti mereka berhadapan dengan raja mereka.


Sampai di depan rumah eyang resi Wisrawa, kedua pendekar itu segera berlutut.


Tidak lama terdengar suara mempersilahkan masuk dari dalam rumah.

__ADS_1


Keduanya segera masuk menghadap eyang resi Wisrawa.


__ADS_2