
Kondisi porak poranda terlihat di halaman istana kerajaan siluman kera, pohon bertumbangan, rumah rubuh dan api membakar di beberapa tempat.
Tumpukan mayat mulai menumpuk di salah satu sudut, sedangkan yang terluka sudah mendapat pertolongan dari beberapa teman yang masih sehat juga beberapa tawanan musuh yang menyerah setelah kalahnya pangeran Anjang Manikam.
Di dalam aula pendopo kerajaan yang megah, terdapat kursi kursi yang terbuat dari kayu jati bersepuh emas dan bealas kain beludru merah yang empuk dan nyaman, di depan pada lantai yang berundak, di undakan pertama juga terdapat dua kursi yang saling berhadapan di peruntukkan sebagai tempat duduk patih dan penasehat kerajaan, di undakan tertinggi terdapat singgasana besar tempat raja memimpin pertemuan di dampingi kerabat kerajaan.
Cakra di ikuti oleh para kesatria kera dan panglima Gendono Lanang bersama para senopati bawahannya memasuki ruangan itu, panglima Gendono Lanang mempersilahkan Cakra dan kesatria kera untuk duduk di kursi yang tersedia di ruangan itu.
Dari arah depan muncul sosok kera yang terlihat sepuh dengan bulu putih di sekujur tubuhnya, langkahnya tertatih di topang oleh tongkat kayu berbentuk tidak beraturan.
Kesatria kera beserta panglima Gendono Lanang dan para senopati yang ada di situ segera berdiri untuk menyambut datangnya sosok kera tua itu.
Cakra pun mengikuti apa yang telah di lakukan oleh kesatria kera dan panglima Gendono.
" Sudahlah, silahkan duduk, tidak perlu sungkan,,! " ucap kakek itu dengan suara serak khas suara orang tua.
Semuanya kembali duduk di tempatnya masing masing, sedangkan kakek itu segera menempati kursi di undakan kedua.
" Ampun resi Bayushuta, kami kemari ingin menghadap karena kami mengantarkan nakmas Cakra yang telah berhasil membunuh raja siluman kera yang terdahulu dan membantu kita mengusir pasukan kerajaan siluman rubah putih,, " ucap Rewanda Hijau.
Sosok kakek yang di sebut resi Bayushuta itu manggut manggut mendengarkan ucapan salah satu kesatria kera yang walau di dalam kerajaan tidak memiliki jabatan apa apa namun mereka mendapatkan tempat yang cukup tinggi di kerajaan sehingga para punggawa se kelas panglima akan patuh dan hormat kepada mereka.
Numun sejak kerajaan di kuasai oleh raja siluman kera yang di bunuh Cakra, kesatria kera seakan tersingkir, hal ini karena mereka selalu menentang kebijakan raja yang tamak itu.
Pandangan resi Bayushuta di arahkan ke sosok pemuda yang di perkenalkan bernama Cakra itu.
Dia terpaku kemudian dia berdiri menghampiri pemuda itu,
" Apakah mustika Sodo Jagad telah menyatu dengan tubuhmu,,? " tanya resi Bayu Shuta.
__ADS_1
Cakra yang di pandang dan di beri pertanyaan itu tidak bisa menutupi lagi, dengan halus dia menjawab " Benar resi, atas petunjuk resi wisrawa saya bisa menyatu dengan mustika Sodo Jagad,, "
Mendengar itu, resi Bayushuta terperanjat kemudian dengan tanpa sadar dia bergerak bersujud di hadapan Cakra.
Dengan secepat kilat, Cakra menangkap tubuh itu mencegah agar resi Bayushuta tidak menyembah kepadanya.
Tapi karena tubuh itu tercegah untuk bersujud malah membuat resi Bayushuta menangis.
" Sudah resi,, jangan bersikap seperti itu, saya tidak pantas untuk menerima perlakuan resi,,! " ucap Cakra.
" Biarkan, aku melakukan ini karena sudah lama aku berkeinginan berjumpa dengan kesatria Jatayu dan akhirnya kesampaian aku bisa berjumpa, aku berharap kejayaan yang sudah di ramalkan akan segera terwujud di kerajaan siluman kera ini,, "
Cakra tidak mampu lagi menolak, akhirnya Cakra memeluk tubuh resi Bayushuta agar beliau lebih tenang.
" Akan lebih baik jika singgasana kerajaan siluman kera segera terisi, siapkan acara penobatan, nanti malam kita akan menobatkan nak mas Cakra sebagai raja di kerajaan ini,,! "
Di tengah tengah persiapan penobatan itu, rombongan prajurit yang di antaranya ada Kenanga telah sampai di kerajaan dengan selamat, mereka kemudian mempersilahkan Kenanga beristirahat di sebuah ruangan yang mewah.
Saat Kenanga merasa suntuk di ruangan itu, dia ingin keluar mencari keberadaan Cakra, karena dari keterangan penjaga tadi, Cakra sudah berada di istana ini namun di ruang terpisah.
Tidak di sangka oleh Kenanga jika istana ini sangat luas, banyak lorong dan jalan yang menghubungkan ruangan satu dengan yang lainnya, hingga dia berjalan tidak tentu arah, dia ingin bertanya kepada para prajurit namun karena mereka begitu sibuk mondar mandir membawa barang barang membuat Kenanga tidak jadi bertanya.
Saat dia berjumpa dengan seorang prajurit penjaga yang hanya berdiri di depan pintu saja, akhirnya dia menanyakan keberadaan Cakra kepada penjaga itu.
" Maaf, bolehkah saya tahu tempat kakang Cakra berada,,? " tanya Kenanga sopan.
" Apa nyai,,? saya tidak tahu di mana keberadaan Cakra, kenal saja tidak,, " jawab penjaga itu jujur.
" Ah sudah lah,, " ujar Kenanga pasrah.
__ADS_1
Kenanga meneruskan berjalan, namun baru empat langkah dia kembali lagi ke depan penjaga itu.
" Aku lihat, semua isi istana ini sedang sibuk, ada acara apasih,,,? tanya Kenanga.
" Nanti malam ada penobatan raja baru, jadi semua isi istana antusias mempersiapkan acara nanti.. " jawab penjaga itu.
"Oh begitu ya,, " gumam Kenanga sambil berjalan pergi meninggalkan penjaga itu yang menggeleng gelengkan kepala melihat tingkah kenanga.
Setelah Kenanga gagal mendapatkan letak Kamar Cakra, akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya sendiri, cukup lama dia berada di kamar itu sendirian, walau suntuk namun tidak ada yang bisa dia lakukan hingga salah seorang dayang perempuan masuk ke kamar itu membawa pakaian yang pantas untuk acara penobatan.
" Hamba di perintahkan untuk mengantar baju ini dan menemani anda merias diri, sekarang silahkan anda mandi dulu di sana,, " ucap dayang itu menunjukkan letak kamar mandi di dalam kamar itu.
Kenanga langsung menuju ke tempat yang di tunjukkan oleh dayang, dia terperanjat karena di dalam terdapat ruangan yang sangat nyaman untuk berendam dan mandi, yang paling membuat dia takjub adalah airnya yang jernih itu terasa hangat di badan.
" Ada ruangan seperti ini kenapa tidak dari tadi saja di kasih tau, dari pada aku bosan di tempat tidur mending berendam di sini bisa santai,, " gumam Kenanga merasa jengkel dengan dirinya sendiri.
Setelah Kenanga selesai mandi, dayang itu membantu Kenanga mengenakan pakaian yang tadi di bawanya, ternyata pakaian itu pas di badannya sehingga dengan menggunakan pakaian itu semakin menonjol kecantikan Kenanga yang di dukung dengan bentuk badan yang mengundang banyak pria tergila gila.
Dengan sedikit riasan di wajahnya, kemudian Kenanga di ajak oleh dayang itu untuk menuju aula pendopo istana tempat penobatan raja baru.
Sampai di ruangan itu banyak mata langsung tertuju kepada Kenanga yang baru datang, mereka mengagumi sosok cantik yang datang itu karena memang Kenanga layak akan hal itu, kecantikannya memang mampu menyaingi kecantikan putri kerajaan yang sesungguhnya.
Awalnya Kenanga jengah terhadap pandangan mata itu, namun dia harus bisa menyesuaikan diri di ruangan itu.
Kenanga di persilahkan duduk di kursi di deretan depan, mereka semua kini membaur menjadi satu menunggu acara penobatan raja baru di laksanakan..
Tidak lama, prajurit penjaga memberi aba aba jika acara akan segera di mulai.
Iring iringan raja baru akan masuk, saat semua rombongan raja baru masuk, Kenanga terpaku tidak percaya terhadap apa yang di lihatnya.
__ADS_1