PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Balas Budi Kawan Lama


__ADS_3

Dua bayangan berlari menerobos lebatnya hutan Angkrong, di pundak masing masing bayangan itu terdapat tubuh yang lemas tidak sadarkan diri, di atas pundak pemuda yang di pinggangnya terlilit cambuk bergagang kepala naga itu terdengar rintihan lemah mengarahkan orang yang membawanya menuju suatu arah.


Tidak lama, mereka telah berhenti di sebuah tempat yang di tunjukkan oleh salah seorang yang terluka di pundaknya.


Mereka kemudian menyibak semak semak yang ada di depannya, mereka cukup terkejut karena tidak menyangka di tempat itu ada sebuah gua yang cukup besar hingga cukup nyaman untuk beristirahat.


Mereka meletakkan tubuh orang yang terluka itu di lantai gua yang cukup rata, mereka di letakkan berdampingan.


" Bagaimana Keadaan Cakra kek,, " tanya pemuda yang memiliki senjata cambuk itu.


" Entahlah Kelana, luka yang di derita oleh Cakra sangat parah, luka dalam maupun luka luarnya sulit untuk di sembuhkan, dadanya melepuh seperti terkena lahar panas, beruntung baginya memiliki baju zirah yang mampu mengurangi efek serangan lawan walau kini zirah itu telah hancur berkeping keping,, " jawab kakek itu yang ternyata kakek dewa tongkat rotan.


Bukan suatu kebetulan jika kakek dewa tongkat rotan dan Sanja Kelana saat ini berada di wilayah hutan Angkrong, hal ini di karenakan mereka di perintahkan oleh raja Jati Kusuma untuk menghabisi kawanan kelompok rampok yang menamakan dirinya dengan sebutan gelatik ireng, sebuah kelompok perampok yang menjadi momok untuk para masyarakat yang jauh dari pusat pemerintahan, akhirnya raja Jati Kusuma mengutus kakek dewa tongkat rotan dan Sanja Kelana untuk menghancurkan kelompok itu.


Saat tugas itu hampir berhasil, kelompok gelatik ireng yang tinggal sepuluh orang itu melarikan diri ke dalam hutan Angkrong, sehingga mengharuskan kakek dewa tongkat rotan dan Sanja Kelana untuk mengejar mereka.


Di dalam hutan, kakek dewa tongkat rotan dan Sanja Kelana mampu mengejar kelompok yang lari, terjadilah pertarungan lagi, namun kemampuan yang jauh di bawah kakek dewa tongkat rotan dan Sanja Kelana membuat pertarungan itu selesai dengan cepat.


Setelah mereka menghabisi lawan lawan, dari kejauhan terdengar sebuah ledakan yang cukup memekakkan telinga, dari arah ledakan itu juga mereka melihat pusaran angin beliung yang membumbung tinggi, mereka penasaran kemudian mereka memutuskan untuk melihat apa yang terjadi di sana.


Saat mereka sampai di sana, mereka sangat terkejut karena tempat itu porak poranda, pertarungan seperti apa yang bisa meratakan hutan yang awalnya lebat itu, tidak lama mereka semakin dekat dari orang yang bertarung, mereka melihat ada seekor naga berwarna merah yang mengamuk menyerang dengan liar seorang yang berzirah merah dan bersayap.


Dari ciri ciri itu walau mukanya tertutup topeng garuda, dua orang itu mengenali kalau dia Cakra, hingga mereka berniat membantu namun pertarungan itu sudah mendekati puncaknya, saat Cakra menahan moncong naga itu saat itu pula mereka melesat namun sudah terlambat, zirah Cakra sudah hancur dan tubuh Cakra sudah terpental, yang bisa mereka lakukan hanya menyelamatkan Cakra dan membawa tubuh itu menjauh dari tempat terjadinya pertempuran tadi.

__ADS_1


Akhirnya atas petunjuk Sardi yang walau terluka parah namun masih sadar, mereka membawa Cakra ke dalam gua tempat menyimpan patung garuda emas.


" Bagaimana ini kek ,, apa yang bisa kita lakukan untuk menolong Cakra ,,,? " tanya Kelana khawatir melihat kondisi Cakra.


" Sementara kita hanya bisa merawat luka luka luarnya dulu, setelah itu kita harus sering menyalurkan tenaga dalam ke tubuhnya karena kondisinya saat ini sangat lemah,"


" Carilah tumbuhan obat obatan di dalam hutan ini untuk mengobati luka luarnya Kelana,,,! " perintah kakek dewa tongkat rotan.


Tanpa menunggu di perintah lagi, Kelana langsung pergi mencari tumbuhan obat, setelah Kelana pergi, kakek dewa tongkat rotan dengan hati hati menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Cakra, sebenarnya dia tidak yakin Cakra bisa bertahan, namun bagaimana pun juga dia harus melakukan apapun yang terbaik untuk membalas semua kebaikan Cakra yang sangat besar jasanya kepada kakek dewa tongkat rotan.


Tidak lama Kelana sudah kembali membawa tumbuhan obat, beruntung di hutan itu masih banyak tumbuhan obat yang tumbuh, sehingga dengan mudah dia mendapatkannya.


Saat dia melihat kakek dewa tongkat rotan menyalurkan tenaga dalamnya, dia segera keluar kembali untuk menumbuk daun obat yang dia bawa agar keluar getahnya yang berkhasiat menyembuhkan luka.


" Sudah,, kita pasrahkan saja kepada Sang Hyang Widi, kita hanya mampu merawatnya seperti ini,, " ucap kakek dewa tongkat rotan sedih.


" Baiklah, aku akan keluar mencari hewan buruan dulu,, " pamit Sanja Kelana kepada Dewa tongkat rotan.


Kemudian Kelana meninggalkan gua itu mencari kelinci atau ayam hutan yang bisa di buat untuk mengganjal perut mereka yang kelaparan.


***


Rombongan kakek tongkat naga merah menyisir kembali wilayah hutan Angkrong, mereka berharap akan segera bisa menemukan pusaka patung garuda emas dan kembali ke kerajaan Selo Cemeng secepatnya, namun bukan hal mudah bagi mereka menemukan pusaka itu, karena pusaka itu kini telah tidak ada kabar layaknya hilang di telan bumi.

__ADS_1


***


Malam mulai merayap, Dewa tongkat rotan sudah selesai mengganti baluran obat di tubuh Cakra dan Sardi, tapi sampai saat ini tidak banyak kemajuan kondisi Cakra, sedangkan Sardi kini sudah sadar namun masih lemah untuk bangun.


Dewa tongkat rotan dan Kelana setelah menyalurkan tenaga dalam dan menyuapi Sardi, mereka segera memakan ayam panggang yang sudah matang.


Mereka menikmati makanan itu sambil berbincang dan menerka nerka lawan Cakra tadi siang.


" Dari jurus dan senjata mereka, aku mengenali mereka sebagai kakek tongkat naga merah dan sabuk baja, namun kenapa mereka di kawal oleh prajurit Selo Cemeng,,? "


" Memang mereka siapa kek ,,? " tanya Kelana.


" Mereka adalah tokoh datuk sesat yang sudah lama tidak menampakkan dirinya, mereka pewaris senjata legendaris yang mampu mempengaruhi pemiliknya untuk bertindak kejam dan tidak bermoral, hal inilah yang menyebabkan banyak pendekar dari golongan hitam maupun putih untuk memburu mereka, sehingga mereka mengasingkan sendiri, namun entah kenapa mereka saat ini telah muncul kembali,, "


" Dunia persilatan akan gempar jika memang dua kakek ini muncul lagi, aku khawatir akan terjadi kekacauan di dunia persilatan. " lanjut kakek dewa tongkat rotan.


" Apa yang harus kita lakukan kek,,? "


" Harapan hanya bisa kita serahkan kepada anak anak muda seperti kamu Kelana, jangan berhenti untuk bertambah menjadi kuat,,,! gali terus kemampuanmu agar kamu mampu menjadi pembela kebenaran,,! "


" Baiklah kek, mohon petunjuknya agar aku semakin kuat.,, "


Kedua orang tadi terkejut mendengar rintihan seseorang, keduanya melesat ke dalam gua untuk melihat siapa yang sudah sadar.

__ADS_1


__ADS_2