
Pasukan yang mengular karena sempitnya jalan yang di lalui bergerak sedikit demi sedikit, mereka sudah hampir memasuki hutan Gondo Mayit, di pimpin oleh paman Jolo Wojo di depan di dampingi Nyai Selasih yang sudah sangat hafal dengan jalan di hutan Gondo Mayit.
Sriiing.......
sriiiiing........
sriiiiiiing.......
sriiinggg.......
Empat buah senjata berupa pisau kecil melesat cepat ke arah paman Jolo Wojo dan pangeran Jati Kusuma yang berada samping paman Jolo.
Nyai selasih menghentakkan selendang kuningnya kearah empat senjata itu.
Traaang...
Traaaaaangg...
Senjata itu berguguran ke tanah terkena sabetan selendang pusaka Nyai Selasih.
Paman Jolo mengarahkan pukulan jarak jauh kearah bermunculannya serangan tadi.
Blaaaarrtt.
Tiga bayangan melesat menjauhi ledakan tadi, tidak mau kehilangan penyerangnya Nyai Selasih melesat mengejar di ikuti kedua pelayannya mantan anak buah kelompok kuda sembrani dulu.
Paman Jolo Wojo ingin mengikuti istrinya mengejar penyerangnya, namun Cakra memegang pundak paman Jolo untuk mencegah paman Jolo meninggalkan para prajurit yang di pimpinnya.
" Biarkan aku saja paman yang menemani Nyai Selasih, sebaiknya paman melanjutkan perjalanan bersama semua pasukan. " cegah Cakra.
Paman Jolo Wojo mengerti kemudian menganggukkan kepala, dia percaya kepada Cakra dan dia merasa harus secepatnya sampai ke tujuan.
Cakra melesat kearah perginya Nyai Selasih, dengan mengerahkan jurus langkah kilat menapak angin Cakra mampu mengejar Nyai Selasih, Nyai Selasih mengisyaratkan bahwa penyerangnya mengarah ke selatan, segera Cakra mengejar hingga terlihat ke tiga bayangan itu telah berada di depannya, dia bersalto melompati ketiga bayangan itu dan mendarat tepat di hadapan penyerang itu.
__ADS_1
Ke tiga orang itu terkejut sejenak karena mereka tidak mengira ada seorang pemuda yang usianya setengah lebih usia mereka mampu mengimbangi bahkan mengalahkan lari mereka.
" He he he, cepat juga lari mu anak muda, cukup untuk menangkap kelinci liar untuk santap malam,, " ejek salah satu orang setengah baya yang bernama ki Jangkrong.
Mendengar ejekan itu, Cakra bukannya marah, namun dia hanya tersenyum saja, dia paham dengan adat pendekar golongan hitam yang sering melontarkan ejekan kepada lawannya agar lawannya marah dan meluapkan emosinya.
" Memang saya sangat jauh kemampuannya di bandingkan para tikus tikus liar yang lari dari terkaman garuda,, " ucap Cakra membalas ejekan yang tadi di lontarkan kepadanya.
" Kurang ajar,,, siapa namamu jangan sampai mayat mu terkubur di sini tanpa nama yang tertulis di nisan, akan aku buatkan tulisan di nisan mu nantinya agar mulutmu yang kotor itu tidak sesumbar sesuka hatinya,, " ucap Ki Nardi salah satu teman ki Jangkrong.
" Bagaimana kalau namaku dewa kematian yang akan mencabut nyawa kalian yang tidak berharga ,, ?" ucap Cakra menjawab ucapan ki Nardi.
" Kurang ajar,, "
Sebelum ki Nardi menyerang Cakra, Nyai Selasih dan kedua pelayannya telah sampai di tempat itu.
" Ternyata yang di tunggu tunggu datang juga,, kini saatnya kami akan membalaskan dendam atas kematian ki Warso kakak seperguruan kami yang kalian bunuh,, " ucap ki Jangkrong.
Pelayan Nyai selasih mengungkapkan kalau ketiga orang ini adalah saudara seperguruan ki Warso, pemimpin perampok Kuda Sembrani, mereka saat kejadian tidak berada di markas karena mendapat tugas mencari pusaka.
Sekarang mereka telah berhadap hadapan dengan pembunuh ki Warso, tanpa banyak bicara mereka segera menyiapkan serangan mereka.
Melihat lawan telah siap menyerang, Nyai Selasih telah siap dengan kuda kudanya, begitu juga dengan Cakra.
Hiyaaaaat...
Hiyaaaattttt...
Ke tiga orang itu telah menyerang, mereka mencari lawan masing masing, Cakra menyambut serangan ki Jangkrong, Nyai Selasih menyambut serangan ki Nardi dan kedua pelayan Nyai Selasih memapaki serangan ki Barno.
Serangan Dahsyat di tujukan kepada Cakra, sengaja ki Jangkrong langsung menyerang dengan dahsyat agar segera bisa mengakhiri pertarungan, namun hati ki Jangkrong kecele karena semua serangan yang di tujukan kepada pemuda itu tidak satu pun bersarang di tubuhnya, bahkan hanya sekedar menyentuh bajunya pun tidak mampu.
Ki Jangkrong sangat marah dia mengeluarkan senjata cambuknya, cambuk sowo geni di putar putarnya di atas kepala membuat pusaran angin berhawa panas di sekitar tempat bertarung mereka.
__ADS_1
Cakra masih dengan jurus sayap seribunya menghindari setiap patukan ujung cambuk yang mengarah padanya.
Jedaaaar.
Sebuah pohon yang tadi berada di belakang Cakra tumbang terkena patukan nyasar dari Cambuk Sowo geni.
Zeeeethhh.
Sebuah putaran cambuk mengarah ke tubuh Cakra, merasa terlambat untuk menghindar, Cakra merubah jurusnya menjadi Cakar garuda membelah badai, dengan tangan kosong Cakra menangkap ujung cambuk yang mengarah padanya,
Claaaph.
Ujung cambuk itu lengket di tangan Cakra, terjadi tarik menarik cambuk pusaka itu, cambuk itu sangat liat sulit untuk di putus, Cakra mengerahkan tenaga dalamnya untuk memutus cambuk itu namun sulit di lakukan, sampai akhirnya mereka berdua menyalurkan tenaga dalam yang cukup kuat sehingga berbenturan di tengah cambuk hingga mereka terhempas ke belakang dan lepaslah pegangan tangan Cakra di ujung cambuk itu.
Cakra dengan tenang memegang gagang pedangnya meloloskan dari warangka nya.
Sriiiingh.
Kilatan kecil memercik di bilah pedang itu, Cakra menguatkan kuda kudanya dan menyilangkan pedang garuda di dadanya.
Wuuushh,
Kilatan cambuk mengarah di kepala Cakra, dengan sedikit merunduk serangan itu luput, namun dengan cepat Ki Jangkrong merubah serangannya dari atas ke bawah sehingga Cakra di buat ber jumpalitan.
Cakra menggunakan jurus Sayap seribu menghindari serangan itu, hingga pada saat cambuk itu lewat sedikit dari kepalanya, dia melesat ke depan dan menebas cambuk itu dengan cepat.
Shiing....
shingg...
Shiiiiingggh...
Aaaaakhhh..
__ADS_1
Cambuk itu terpotong kecil kecil sejengkal terkena tebasan pedang dan bilah pedang itu tetap melaju mengarah ke leher ki Jangkrong..
Leher ki Jangkrong terbabat hingga kepala yang tadi berada di tempatnya kini telah jatuh ketanah di iringi tubuhnya yang juga jatuh.