
Putri Kencana Sari dari tadi berjalan mondar mandir, dia mengkhawatirkan Cakra yang sudah agak lama meninggalkan tempat itu, dia berniat menyusul ke arah perginya Cakra, namun hal itu di larang oleh paman Suro dan paman Rejo, hingga akhirnya dia hanya bisa berdoa atas keselamatan Cakra dan Nyai Selasih.
Ki Warso pedagang yang terluka, kini lukanya telah di obati oleh prajurit, dia mengajak bicara prajurit itu sambil menunggu lukanya membaik.
"Rombongan sebanyak ini kelihatannya siap berperang, kira kira rombongan apakah ini,,? " tanya ki Warso.
" Kami adalah rombongan yang akan membebaskan Gading Padas dari penindasan,, "jawab prajurit itu menceritakan segala yang ia ketahui kepada ki Warso.
Mereka mengobrol sambil menunggu datangnya Cakra dan Nyai Selasih.
Tidak lama, dari arah Cakra pergi tadi, muncul dua buah pedati yang berjalan agak lambat karena keberatan muatan, di samping mereka Nyai Selasih menunggang kuda yang di dapat dari perampok kuda sembrani, Cakra di belakang pedati itu juga menunggang kuda, di belakangnya dia membawa lima belas kuda yang saling terikat dengan kuda yang di tungganginya, dia sengaja membawa kuda kuda itu karena pasti dia akan membutuhkan nantinya untuk berjuang.
Putri Kencana Sari yang dari tadi khawatir segera berlari ke arah Cakra, menyambut kedatangan laki laki itu dengan senyum bahagia.
" Bagaimana kakang, apakah kakang tidak apa apa ,, " tanya putri Kencana Sari.
" Aku baik baik saja Putri, bagaimana yang ada di sini?,, "
__ADS_1
" Disini baik baik saja kakang ,, " jawab putri Kencana Sari.
Ki Warso yang di bantu prajurit yang mengobatinya berjalan mendekati Cakra, dari salah satu pedati muncul dua orang perempuan yang langsung berlari memeluk ki Warso, mereka sangat lega karena mereka bisa selamat dari kejadian hari itu.
" Terima kasih tuan, anda telah menyelamatkan nyawa kami, " ucap ki Warso sambil membungkuk memberi hormat yang di tujukan kepada Cakra.
" Tidak apa apa tuan, ini sudah menjadi kewajiban untuk membantu sesama yang membutuhkan seperti anda tadi,, " jawab Cakra sambil mencegah ki Warso menghormat kepadanya.
" Tuan, aku ingin memberikan semua dagangan yang saya miliki ini untuk menambah biaya perjuangan anda nantinya, mohon diterima tuan,, " ucap ki Warso dengan sepenuh hati.
" Apalah arti harta ini dari pada nyawa yang telah anda selamatkan ini, saya sangat berharap anda menerimanya tuan pendekar,, " paksa ki Warso.
Cakra sangat bingung dengan kejadian ini, dia tidak ingin membebani harta kepada orang orang di sekitarnya.
" Anda sebenarnya mau berdagang kemana tuan,,? tanya Cakra.
"Sebenarnya kami ingin berdagang ke kerajaan Gading Padas, karena kami sudah lama berdagang di sana, namun kini kami akan kembali saja karena harta ini sudah saya serahkan kepada anda. " jawab ki Warso.
__ADS_1
" Sebaiknya anda melanjutkan perdagangan anda ke Gading Padas, aku butuh orang yang bisa mengumpulkan informasi sebanyak banyaknya dari Gading Padas, dengan cara perdagangan inilah kita bisa mendapatkannya,, "
" Ajaklah lima orang prajurit dari sini untuk menyamar menjadi pengawal dan anak buahmu, biarkan mereka nanti yang akan bergerak menyusup mencari informasi, apakah anda bersedia,,? " tanya Cakra.
" Wah saya akan sangat senang dan bangga bisa menjadi bagian dari perjuangan anda dan teman teman anda walau hanya bisa membantu menyusupkan orang ke dalam kota raja, saya bersedia tuan,, " jawab ki Warso dengan mantab dan bersemangat.
" Namun saya ingin menitipkan Andini anakku ini kepada anda, karena akan berbahaya jika keadaan di kota raja nanti terjadi pertempuran,, " lanjut ki Warso.
" Tidak masalah Andini ikut dengan kami" tegas Cakra.
" Andini, ikutlah dengan tuan Cakra, layani dia sebagaimana kau adalah abdinya,,,! " ucap Ki Warso berharap dengan dekatnya Andini dan Cakra mereka bisa bersatu nantinya.
Andini hanya menunduk malu karena di dalam hatinya dia tertarik dengan Cakra.
Akhirnya mereka berpisah, ki Warso dengan membawa sebuah pedati di iringi lima prajurit yang menyamar menjadi pengawal berjalan ke arah Gading Padas, kepada ke lima prajurit yang di utus itu, Cakra berpesan agar sering sering memberi kabar dan sebisa mungkin mengajak teman teman mereka yang masih menjadi prajurit secara terpaksa untuk membantu perjuangan saat terjadinya serangan nantinya, dia berharap mereka bisa menyerang dari dalam sehingga mengejutkan pihak Sangga Bhumi dan Selo Cemeng, memang inilah yang tidak di sadari oleh Sangga Bhumi bahwa keputusannya melatih orang orang Gading Padas justru menjadikan bumerang bagi mereka.
Cakra dan rombongannya melanjutkan perjalanannya, mereka semakin kuat dengan banyaknya orang yang mengikuti mereka dan tambahan harta untuk biaya perjuangan mereka.
__ADS_1