
Cakra dan Kenanga hanya diam menunggu pergerakan para sosok yang membuntuti mereka, agak lama mereka menunggu hingga makanan yang berada di tangan mereka telah habis berpindah ke dalam perut mereka.
Lama kelamaan mereka bosan juga menunggu, akhirnya mereka memutuskan melanjutkan perjalanan namun sebelumnya mereka merapikan barang barang bawaan mereka.
Claaap.
Claaapp.
Claaaaaph.
Puluhan sosok berbulu hitam tiba tiba berlompatan di sekitar mereka, sosok sosok itu mengurung keberadaan mereka.
Kenanga hendak mengeluarkan suara tapi dua sosok yang ukurannya lebih besar dan lebih tinggi dari para sosok yang mengurung mereka dengan warna bulu abu abu dan kuning telah berdiri di depan mereka.
" Serahkan kedua pedang yang ada di punggung kalian,, !" bentak sosok kera berbulu kuning tanpa berbasa basi dahulu.
" Memangnya ini pedang milik kakek mu, kok kamu suruh memberikan kepada mu,,? " balas bentak Kenanga.
" Kami tidak peduli milik siapa pedang itu, yang kami tahu, raja kami suka dengan kedua pedang yang kalian bawa maka kalian harus memberikannya,, " ujar Subala yang berbulu abu abu.
" Untuk apa kami harus memberikannya, toh dia raja kalian bukan raja kami,, ? "
Kedua sosok di depan mereka malah menyeringai memperlihatkan siung mereka tanda marah.
Gheeerr,
khiiiiiuuu.
" Pedang itu untuk menukar nyawa kalian, jadi jika ingin keluar dari hutan ini dalam keadaan hidup maka serahkan pedang kalian,,! "
Kenanga juga terpancing amarahnya, dia membalas ucapan kera berbulu kuning itu dengan nada ketus.
" Dasar monyet tidak punya otak, kalian kira kami takut dengan bangsamu itu,, "
Mendengar ejekan itu, dua pimpinan kera itu meradang, mereka langsung memerintah pasukannya untuk menyerang.
__ADS_1
Dua puluh ekor kera langsung menerjang, mereka meloncat loncat dengan lengan tangan yang panjang mencakar ke arah lawan.
Cakra dan Kenanga langsung beradu punggung untuk saling melindungi dari serangan yang datang dari berbagai arah.
Serangan demi serangan mulai berdatangan, dengan cara bertarung yang tanpa bentuk gerakan hanya mengandalkan insting hewannya membuat Cakra dan Kenanga sulit menebak arah serangan lawan, apalagi di tambah dengan lengan mereka yang panjang sehingga jangkauan serangan mereka lebih luas, beruntung Cakra dan Kenanga memiliki kecepatan sehingga setiap lengan lengan besar yang datang mencakar maupun memukul bahkan menyambar hampir semua bisa di hindari.
Dua orang yang di keroyok oleh dua puluh lima kera besar itu terlihat tidak mampu keluar dari keroyokan, tapi yang sebenarnya terjadi adalah kedua pendekar itu hanya mempermainkan para kera yang mengeroyok.
Cakra memberi isyarat kepada Kenanga untuk tidak membalas menyerang, mereka hanya menghindar dan mengarahkan serangan kera itu mengenai kawannya sendiri, akibatnya tanpa perlu menyerang beberapa kera yang mengeroyok telah terpental oleh serangan kawannya yang meleset dari sasaran.
Kenanga tersenyum saat menyadari strategi yang di lakukan oleh Cakra berjalan dengan lancar, hingga kini telah tiga kera yang terlempar dari arena pertarungan karena serangan kawannya sendiri.
Dengan jurus langkah kilat menapak angin mereka berdua bergerak ke sana kemari kadang berada di belakang lawan sehingga lawan yang sudah marah karena serangannya tidak pernah sampai sasaran menjadi brutal memukul ke belakang, namun hal itu justru mengenai punggungnya sendiri karena Cakra sudah berpindah ke lain tempat.
Kadang Cakra meloncat naik ke pundak lawan sambil memegang dua lengan lawan, saat dia berada di atas pundak salah satu penyerangnya, seekor kera besar dengan kedua tangan bersatu di udara dengan cepat menghantam punggung Cakra, tahu pancingannya berjalan dia langsung bersalto ke belakang hinggap di pundak penyerang lainnya, sedangkan dua kepalan tangan yang bersatu terlanjur di lakukan akibatnya kepala kera yang tadi pundaknya di naikin Cakra menjadi hancur terkena pukulan kawannya.
Kenanga pun tidak tinggal diam, dia berlari ke sana kemari mendekat lawan sehingga lawan menjadi kehilangan kendali, serangan serangan membabi buta malah membuat kawan mereka yang terkapar semakin banyak.
Hingga saat pengeroyok itu tinggal enam ekor monyet, Cakra dan Kenanga mengeluarkan jurus Cakar garuda membelah badai, dengan serangan serangan yang cepat dan tajamnya cakar yang mereka punya sehingga enam ekor monyet yang sudah kelelahan itu dengan mudah mereka bantai hingga tidak satu ekor pun bisa bangkit lagi.
Gheeeeerr.
Khiiuuuuu.
Geraman dua ekor kera pemimpin mereka mengetahui semua anak buahnya mati tanpa mampu bisa melukai dua orang pendekar lawan mereka.
Ke dua pemimpin kera itu langsung melesat menyerang, dengan angin berkesiutan mengiringi tibanya pukulan menandakan kuatnya pukulan yang di lancarkan oleh dua pemimpin kera itu.
Masih dengan jurus cakar garuda membelah badai kedua pendekar itu meladeni serangan lawan.
Cakra dan Kenanga bergantian menghadapi lawan, jurus jurus mereka yang cepat mampu mengimbangi serangan lawan yang kuat, beberapa kali mereka membenturkan kekuatan mereka sehingga keduanya terdorong kebelakang hingga beberapa langkah, kecuali Kenanga yang apabila membenturkan tenaganya dia bisa terdorong sampai berjumpalitan kebelakang sampai dua tombak.
" Hindari berbenturan dengan mereka dinda,,! " peringat Cakra.
" Aku mengerti kakang,, " jawab Kenanga.
__ADS_1
Melihat keadaan Kenanga yang paling lemah di antara mereka, Subala mengambil keputusan untuk melenyapkan Kenanga dahulu, dia berusaha menyerang Kenanga, sebisa mungkin dia bisa membenturkan kekuatannya agar gadis itu segera kehabisan tenaga.
Taktik itu cukup berhasil, beberapa kali Kenanga terpental menjauh dari Cakra, hal itu tidak di sia siakan oleh Subala, dia melompat untuk mengirimkan tendangan ke tubuh Kenanga yang masih belum bangkit.
Sriiiiiiing.
Beeeeet.
Tepat sebelum tendangan itu sampai, Kenanga melempar tubuhnya ke samping sambil menghunus pedangnya, saat serangan kaki itu bisa di hindari tangan kenanga yang memegang pedang langsung di sabetkan ke tubuh Subala.
Mendapat serangan itu wajah Subala terkejut, awalnya dia yakin bulu tebalnya yang selama ini mampu menahan serangan benda tajam apapun namun saat ini mampu tertembus, walau tidak membuat luka yang dalam namun ini kali pertama tubuhnya mengalir darah akibat luka sabetan pedang.
Gheeeer.
Khhhiuuuuu.
Dia semakin menggeram, dengan gerakan yang semakin cepat dia menyerang Kenanga, sedangkan Kenanga yang mampu melukai kera itu semakin bersemangat bertarung, dia tau jika musuh akan menghindari bersentuhan dengan pedangnya sehingga di pertarungan itu Subala akan bertarung dengan lebih hati hati.
Cakra yang menghadapi Wanara beberapa kali menyarangkan pukulannya ke tubuh Wanara, namun seakan memukul air, tenaganya seakan punah tidak berakibat apa apa, akhirnya dia mengerahkan tenaga dalamnya, hingga muncul pusaran angin yang kencang, serangan Cakra yang di lambari angin ini membuat tubuh lawan mudah tertembus, walau dari luar tidak berakibat apa apa namun di dalam tubuh Wanara mengalami luka yang cukup serius.
Tiba tiba kedua pemimpin kera tadi mengeluarkan senjata andalan mereka berupa tongkat besi berwarna kuning yang mampu mengecil maupun membesar.
Dengan tongkat itu mereka mulai mengimbangi kekuatan lawan.
Kenanga yang walau tau kekuatan pedangnya tapi dia enggan membenturkan pedangnya ke senjata tongkat lawan, dia memilih menggunakan kecepatannya untuk menipu lawan, saat dia hendak menyerang perut namun lawan sudah menutup dengan tongkatnya maka Kenanga dengan cepat akan membelokkan arah pedangnya ke dada maupun ke kaki lawan, hal ini membuat Subala lawannya menjadi kebingungan menerka arah serangan Kenanga.
Weeeeees
weeeet
Sabetan pedang Kenanga berputar putar di depan Subala, dia mengira jika arah sabetannya berasal dari atas ke bawah ternyata, dengan cepat Kenanga membelokkannya menuju samping mengincar lengan kiri Subala.
Craaaas.
Lengan kiri Subala terbabat putus hingga siku, rasa sakit mendera hingga akhirnya di menggepukkan tongkatnya ke kepala Kenanga, tapi sangat mudah bagi Kenanga menghindarinya, dia meloncat ke samping kanan, dengan daya dorong loncatannya dia menebaskan pedangnya ke leher Subala, tanpa di sangka pedang itu dengan mudah memenggal kepala kera raksasa berbulu abu abu itu,
__ADS_1
Aaaaaakhh..
Teriakan kematian terdengar seantero hutan itu, membuat hewan dan burung yang ada di situ lari menjauh karena takut.