
Senopati Bajra memimpin pasukan menghalau semua prajurit lawan yang hendak masuk ke dalam benteng, dengan semangat juang, senopati Bajra menghabisi siapa pun yang masuk ke benteng.
Di tengah pertempuran itu, terdengar oleh senopati Bajra jika putranya telah menggempur musuh di pusat pertahanan lawan, berita itu membuat khawatir senopati Bajra, dia tidak akan membiarkan Cakra berjuang sendiri di garis depan.
Senopati Bajra segera merubah formasinya menjadi formasi sawer, formasi yang menempatkan para prajurit maju menerobos di tengah kepungan pasukan musuh, pasukan yang berkelok kelok layaknya ular yang berjalan sangat tepat untuk menerobos pasukan lawan.
Senopati Bajra yang berada di ujung kepala formasi itu maju tanpa gentar, dia lebih mengkhawatirkan keselamatan putranya dari pada keselamatan dirinya sendiri.
Namun di saat pasukan senopati Bajra berada di tengah kepungan prajurit lawan, senopati Bajra telah di hadang oleh senopati Cengger Jago.
" Senopati Bajra, tidak perlu kau meneruskan perjalananmu, aku mencari mu karena kau telah membunuh senopati Jalu Kuning,, "
" Majulah kau, aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang denganmu,, " teriak senopati Bajra.
Senopati Bajra langsung menyergap dengan pedangnya ke arah senopati Cengger Jago, pedangnya dia putar putarkan menerjang bagian tubuh senopati Cengger Jago.
Senopati Cengger Jago sudah siap dengan serangan itu, dia segera menyongsong serangan itu dengan perisai di tangan kirinya, dia juga membalas serangan senopati Bajra dengan ayunan pedang panjangnya.
__ADS_1
Senopati Bajra segera merunduk menghindari sabetan pedang lawan, saat senopati Bajra munduk, kaki senopati Cengger Jago di angkat untuk menyongsong tubuh lawan.
Buuuuuuk.
Lutut senopati Cengger Jago tepat mengenai dada senopati Bajra mengakibatkan tubuh senopati Bajra terdorong sejauh tiga langkah.
Senopati Bajra mengusap dadanya yang terasa sakit.
" Ha ha ha ha, bagaiman rasanya lututku, apakah enak ,,,? " tanya senopati Cengger Jago mengejek.
Senopati Bajra tidak menanggapi ucapan itu, dia hanya menyiapkan kuda kudanya dan berusaha tidak terburu buru seperti tadi.
Serangannya mengarah ke tubuh senopati Cengger Jago, saat ada kesempatan senopati Bajra mengarahkan pedangnya ke arah leher lawan, spontan senopati Cengger Jago mengangkat perisainya agak atas, ternyata serangan itu hanya serangan tipuan karena setelah itu Senopati Bajra membelokan sabetan pedangnya ke arah paha senopati Cengger Jago, karena pandangannya terhalang perisai maka senopati Cengger Jago terlambat melindungi pahanya dari sambaran pedang senopati Bajra.
Sraaaaat.
Sebuah luka yang cukup dalam menghiasi paha senopati Cengger Jago.
__ADS_1
Senopati Cengger Jago mengumpat tidak jelas sambil menahan sakit di pahanya, darah merembes dari luka itu cukup banyak.
Senopati Bajra melihat itu dia langsung menyerang senopati Cengger Jago secara bertubi tubi, karena luka di kakinya semakin sakit membuat senopati Cengger Jago kerepotan menghadapi serangan senopati Bajra.
Senopati Cengger Jago kehilangan keseimbangan sehingga senopati Bajra dengan mudah mengarahkan pedangnya ke arah leher lawan.
Craaaaaas.
Tergorok lah leher itu seperti ayam yang disembelih, tubuh itu bergelepar sesaat sebelum benar benar diam untuk selama lamanya.
Di saat selesainya pertarungan senopati Bajra, dari arah lawan muncul kehebohan karena dua bayangan menerobos cepat menuju pintu gerbang benteng, setiap prajurit yang di lewati oleh dua bayangan itu bergelimpangan tidak bernyawa lagi.
Hingga dua bayangan itu sampai di depan senopati Bajra, melihat siapa yang datang bergembiralah hati senopati Bajra karena yang hadir saat itu adalah Cakra dan putri Kencana Sari.
Mereka kini bergabung untuk menghabisi semua prajurit yang ada di situ.
Tidak lama dari sisi luar yang lain juga terjadi keributan, di sana terdapat sekelompok orang yang merangsek membuka jalan menuju ke benteng pertahanan Gading Padas.
__ADS_1
Saat mereka melintas tidak sedikit prajurit yang mereka tumbangkan hingga prajurit Selo Cemeng berhamburan mundur ke perkemahan mereka.