PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Shindung Bawana


__ADS_3

Malam di terangi obor obor di hutan Gondo Mayit, para prajurit tengah beristirahat setelah dari tadi siang berlatih dan menyiapkan senjata senjata jarak jauh berupa ketapel raksasa yang mampu melemparkan batu batu sekepalan tangan sebanyak seratus buah bersamaan, senjata yang ampuh untuk menghalau prajurit yang bergerombol, walau mereka memakai perisai yang tebal, namun dengan lontaran batu yang keras mampu menghancurkan perisai itu.


Pangeran Jati dan para pimpinan padepokan di temani Cakra dan paman Jolo Wojo sedang berbincang mengenai taktik perang yang akan di pakai.


" Kita harus menyusun rencana penyerangan agar kita mampu secepatnya merebut kekuasaan dari Selo Cemeng,,, " buka pangeran Jati.


" Jika kita ingin melakukan penyerangan pada purnama ini, kita harus segera memberangkatkan pasukan kita, karena kita punya ketapel yang berat sehingga menyulitkan kita bisa bergerak dengan cepat,, " usul paman Jolo Wojo.


"Benar, apalagi kita harus melumpuhkan banyak pos penjagaan yang berlapis sebelum bisa masuk ke kota raja, " tambah ki Sarjo.


" Namun bekal kita juga menipis jika kita harus melakukan perjalanan panjang,, " tambah paman Rejo.

__ADS_1


" Kenapa kita harus melakukan perjalanan,,? kenapa kita harus menyerang pos penjagaan dan kenapa kita harus membawa ketapel raksasa ke sana,,? " tanya Cakra.


Mendengar pertanyaan Cakra, semua mengerutkan kening, tidak faham dengan apa yang di maksud oleh Cakra.


"Terus apa kita akan berdiam diri di sini tanpa berperang Cakra ,,? " tanya paman Jolo tidak sabar.


" Maafkan hamba yang bodoh ini tuan tuan, namun saya berfikir jika kita menyerang ke kota raja, posisi kita akan kalah, seandainya kita bisa menang dan merebut kekuasaan di sana, maka korban bergelimpangan dari rakyat yang banyak, belum lagi rumah penduduk dan istana akan porak poranda rata dengan tanah, kita berjuang untuk membebaskan rakyat dari penindasan, namun justru kita yang membinasakan mereka atas nama perjuangan,, " jelas Cakra.


" Kita pancing saja mereka keluar dari sarangnya untuk menuju kemari, kita bisa menghabisi mereka di sini tanpa melakukan perjalanan tanpa membawa beban berat,, "


" Bagaimana kita memancing mereka kemari,,? " tanya ki Harjo.

__ADS_1


" Kita sengaja menyerang mereka dengan kelompok kecil secara terbuka, kemudian kita mundur ke sini, mereka pasti akan mengejar kita karena mereka sendiri ingin cepat menghabisi kita, hanya dengan menyerang ke sinilah mereka bisa menghancurkan kita, namun sebelum mereka menghancurkan kita mereka sudah ***** dengan tanah di hutan ini,, " ucap Cakra meyakinkan.


Mereka yang hadir di situ pun di liputi bayangan rencana itu, mereka menganggap cara itulah yang paling tepat untuk melemahkan kedudukan Sangga Bhumi di gading Padas.


Semua menyetujui usulan Cakra.


" Sekarang siapa yang tepat kita pilih untuk menjadi anggota kelompok kecil yang memancing mereka,, ? " tanya ki Adirojo.


" Karena kita butuh orang orang yang cepat dalam berpindah dan kuat dalam serangan, saya kira kita hanya akan memilih para pendekar yang memiliki ilmu meringankan tubuh yang sempurna dan pukulan tenaga dalam yang kuat saja,, " ucap Cakra.


" Kalau begitu, aku mengangkat Cakra sebagai pemimpin pasukan itu dan memberi kewenangan kepada Cakra untuk memilih anggotanya dan aku menamakan pasukan itu Shindung Bawana, " titah pangeran Jati Kusuma di angguki seluruh yang hadir di situ.

__ADS_1


Mendengar titah itu, Cakra segera membentuk anggota pasukan Shindunv Bawana yang di isi oleh para pendekar muda yang memiliki bakat di padepokannya, awalnya Cakra tidak mengikut sertakan putri Kencana Sari, namun putri Kencana Sari memaksa untuk ikut di dalam pasukan itu, apalagi pangeran Jati Kusuma mengangkat putri Kencana Sari menjadi wakil dari Cakra di pasukan Shindung Bawana.


__ADS_2