
Setelah empat setan gundul melarikan diri, Cakra segera menghampiri pemuda yang di tolong tadi.
Pemuda yang kini duduk di tanah itu terlihat sangat lemas, dari beberapa anggota tubuhnya merembes darah akibat bukanya kulit terkena sabetan golok lawan.
Cakra segera menotok beberapa anggota tubuh agar darah pemuda itu berhenti keluar, selain itu Cakra juga mengalirkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan luka dalam yang di derita pemuda itu.
Cukup lama Cakra memberikan pertolongan kepada pemuda itu.
" Apakah keadaanmu sudah membaik,,? " tanya Cakra setelah menyelesaikan penyembuhannya.
" Terima kasih pendekar, karena pertolonganmu saat ini aku terhindar dari kematian, sekarang keadaan ku jauh lebih baik dari pada tadi. "
" Ah tidak perlu seperti itu, kita umat manusia punya kewajiban untuk saling membantu, panggil saja aku Cakra,,! " jawab Cakra sambil memperkenalkan diri.
" Ah baik lah, namaku Permana, berasal dari gunung semeru. "
"Baiklah Permana, saat ini sudah waktunya kita berpisah, selamat tinggal. "
" Baik Cakra, semoga kita bisa berjumpa lagi. "
Cakra kemudian melesat meninggalkan Permana yang masih melongo melihat kecepatan lari Cakra yang layaknya angin, dirinya merasa beruntung bertemu dengan pemuda luar biasa itu, mungkin jika tidak dia hari ini akan kehilangan nyawa.
***
Setelah Cakra menolong Permana atau yang berjuluk pendekar seruling bambu, Cakra segera melanjutkan perjalanannya, cukup jauh Cakra melangkah, walau dengan langkah yang santai namun kecepatannya mengalahkan orang biasa yang berlari, hal ini menunjukkan jika pemahamannya tentang jurus langkah kilat menapak angin sudah sangat sempurna.
Hari sudah mendekati malam, kebetulan Cakra sudah mulai memasuki sebuah hutan lebat yang cukup angker sehingga jarang ada orang yang mau memasuki hutan itu jika tidak bersama sama, apalagi di tambah dengan adanya gerombolan perampok yang mengatas namakan dirinya sebagai Singo Lodro, sebuah gerombolan perampok yang berjumlah kecil sekitar lima belas orang namun terdiri dari para pendekar golongan hitam yang memiliki kemampuan tinggi, di pimpin oleh ki Singo Lodro yang kejam menjadikan kelompok ini sangat di takuti, kebiasaan Singo Lodro yang gemar memakan daging manusia sudah menjadi momok bagi mereka yang hendak melintasi hutan Angkrong ini, jangankan orang awam atau pendekar yang baru turun gunung, pihak kerajaan Selo Cemeng pun tidak berani bertindak sembarangan dengan kelompok ini, pernah pihak kerajaan membujuk gerombolan ini untuk bergabung dengan kerajaan Selo Cemeng, namun karena merasa tinggi hati ki Singo Lodro menolak dengan mentah mentah, namun walau di tolak pihak kerajaan tidak berani bertindak apa apa.
Malam yang gelap dan dingin karena tadi sore hujan mengguyur dengan dengan deras membuat Cakra terlena dalam semedinya di bawah pohon beringin yang besar dan ada sumber mata air yang jernih.
Cakra memusatkan daya rasa dan ciptanya untuk memuji kepada Sang Hyang Widi terhadap apa yang selama ini dianugerahkan kepadanya, perjalanan hidupnya yang berawal dengan nestapa, penuh dengan cucuran air mata dan kesengsaraan sekarang berbuah dengan anugrah luar biasa.
***
__ADS_1
Suara derap dua kuda yang di pacu dengan cepat mrmbelah keheningan malam di hutan Angkrong, dari cara menggebah kudanya sudah bisa terlihat bahwa penunggangnya sedang terburu buru.
" Ayo cepat, semakin cepat kita keluar dari hutan ini maka semakin baik, jangan sampai kita ketahuan oleh gerombolan Singo Lodro,, " ucap penunggang yang berbaju biru dan di punggungnya bertengger dua buah pedang yang menyilang yang bernama Darmo.
" Benar kakang, ayo cepat,,,! " jawab penunggang kuda satunya yang berbaju merah bernama Sardi, di punggungnya terdapat buntalan yang kelihatannya cukup berat.
Kuda di pacu semakin kencang, mereka tidak perduli dengan pendeknya jarak pandang karena gelapnya malam, bahkan tanah yang licin akibat hujan tadi sore pun bukan sebuah halangan bagi mereka untuk memacu kudanya, memang dari cara mereka berkuda sudah bisa di pastikan jika mereka sangat mahir dalam mengendalikan kudanya.
Wuuuus.
Siiiing.
Dua buah benda keperakan meluncur ke arah dua orang pengendara kuda itu, dengan tiba tiba dua orang itu menarik tali kekang sehingga kuda kuda tunggangannya mengangkat kedua kaki depan mereka.
Claaaap
Claaaaph.
Dua benda perak itu tidak menemui sasaran, karena kedua sasarannya terhalangi oleh tubuh kuda yang di tunggangi, hingga dua benda yang ternyata pisau kecil itu menancap tepat di leher kuda, terjatuhlah kuda itu berkelojotan dan mati, sedangkan penunggangnya terhempas jatuh.
" Kurang ajar, siapa kalian berani beraninya menghalangi perjalanan kami,,,? " bentak penunggang kuda berpakaian biru.
" Ha ha ha ha, dasar tidak tau diri, kalian yang melintasi wilayah kami tanpa ijin justru kalian yang membentak kami dasar kurang ajar,," ucap salah satu penyergap.
" Ha ha ha benar kakang, mereka tidak tahu kalau kita dari kelompok singa lodro kayaknya,, " teriak penyergap lainnya.
Mendengar itu, terkejut lah kedua orang yang menunggang kuda tadi, gerombolan inilah yang sangat dia ingin hindari tadi, namun sial bagi mereka karena saat ini mereka di kepung oleh gerombolan singa lodro.
" Heeeh ngapain kalian bengong saja, serahkan barang barang berharga kalian jika ingin nyawa kalian masih betah di tempatnya. "
" Cuiiih.. sampai mati pun tidak akan kami berikan secuil barang kami kepada kalian.. "
" Kurang ajar, bunuh mereka,,,! " teriak seorang yang paling disegani diantara penghadang itu.
__ADS_1
Keempat orang penghadang langsung maju membabatkan golok mereka ke arah dua orang buruan mereka.
Laki laki berbaju biru langsung mengeluarkan dua pedang yang di sarungkan di punggung tadi.
Triiiiiing.
Sambaran dua golok dari lawan bisa di tangkis menggunakan dua pedang di tangan kanan dan kiri Darmo.
Pertarungan dua lawan satu ini berlangsung sangat seru, sambaran sambaran golok di balas dengan sambaran pedang kembar di tangan Darmo.
Serangan serangan dahsyat ini mengakibatkan beberapa pohon yang besarnya selengan orang dewasa terpotong rapi dan roboh.
Sedangkan Sardi yang di incar dua orang lainnya meski mampu menangkis dengan pedangnya namun tubuhnya telah mendapat luka gores yang cukup banyak, hal ini menjadikan Darmo kehilangan konsentrasi, sekali kali Darmo mengalihkan pandangannya ke arah Sardi, namun hal ini justru membuat lawan bisa menyarangkan goloknya di paha kanan Darmo.
Aaaakhh.
" Salah sendiri, bertarung dengan kami malah pandangannya ke lain tempat. "
Darmo memang tidak fokus dengan lawannya, dia lebih mengkhawatirkan benda yang di bawa oleh Sardi sehingga dia berusaha mendekati tempat di mana Sardi bertarung.
Lawan Darmo tidak ingin melepas mangsanya sehingga mereka menyerang lagi.
Wuuuushh
Wuuushh.
Darmo yang sudah terluka itu menjadi kewalahan, tenaganya sudah banyak terbuang sehingga sulit baginya untuk bertahan, apalagi satu pedang di tangan kirinya telah terlepas dari genggaman tangannya karena berbenturan dengan golok lawan cukup keras.
" Adi Sardi cepatlah pergi dari sini, biar mereka aku yang menghalangi,,,,! " teriak Darmo.
Sardi bingung dengan perintah ini, dia ingin menolong kakangnya yang bertarung namun benda di punggungnya yang harus di lindungi sangat berbahaya jika jatuh di tangan gerombolan Singa Lodro.
Dalam kebimbangan antara bertempur sampai mati atau menyelamatkan benda di punggungnya itu, Sardi melihat kakang nya Darmo tersabet golok punggungnya, hal itu membuat tubuh Darmo terjatuh tengkurap di tanah, tidak menunggu Darmo Bangkit, dua pengeroyok langsung membacokkan goloknya ke arah tubuh Darmo, sehingga Darmo berteriak kesakitan dan akhirnya sebuah sabetan menebas lehernya, berakhirlah teriakan Darmo karena pisahnya kepala dia dengan tubuhnya.
__ADS_1
Sardi tidak bisa berpikir panjang lagi, dia langsung lari menerobos lebatnya tanaman di hutan Angkrong itu.
Lima orang pengeroyok itu langsung menghambur mengejar Sardi meninggalkan jasad Darmo yang sudah tidak bisa di kenali itu.