
Di Kerajaan Selo Cemeng raja Danujaya sedang beristirahat di kamarnya, di temani oleh dayang dayang cantik yang mengitarinya dia menikmati hidangan dan minuman dari nampan yang di bawa oleh para dayang.
Sambil menikmati pijatan di kaki dan tangannya kadang tangan raja Danujaya mengarah pada bagian bagian tubuh para dayang yang cantik itu, bukannya marah di perlakukan seperti itu, justru para dayang sangat gembira dengan tertawa riang dan manja.
Tiba tiba dari arah luar patih Mangun Gada masuk ke kamar itu sambil menyembah kepada raja Danujaya.
" Kurang ajar, apa kau tidak melihat jika aku sedang istirahat kenapa kamu malah masuk ke kamar ini,,? " bentak raja Danujaya.
"Ampun gusti ,, hamba membawa kabar jika pasukan yang kita kirim untuk menaklukan kerajaan Tirta Kencana telah hancur lebur, semua pasukan yang kita kirim tidak satupun yang kembali ke kerajaan ini sehingga kabar kekalahan mereka baru aku dapatkan, " ucap patih Mangun Gada.
" Apa,,,? , bodoh kalian, melawan kerajaan Tirta Kencana saja kalian tidak becus, kerjamu apa saja selama ini patih,,? "
Mendengar ucapan raja Danujaya seperti itu, patih Mangun Gada tidak tahan lagi untuk bersandiwara, dia tersenyum kemudian berdiri dengan tangan di taruh pinggang menantang raja Danujaya.
" Dasar raja dungu kau, yang selama ini kerjanya hanya bersenang senang itu dirimu sendiri, kini saatnya kau mati di tanganku. "
Raja Danujaya terkejut atas ucapan patihnya itu, dia segera berdiri di atas ranjangnya, namun belum sempurna dirinya berdiri tubuhnya limbung dan jatuh lagi di pembaringannya.
" Ha ha ha, buat apa kamu mau berdiri,, mau menjemput ajalmu agar lebih cepat ,,,? "
Raja Danujaya heran dengan keadaan tubuhnya, dia merasa tulang tulangnya lemas tidak mampu menopang berat badannya.
Patih Mangun Gada menghunus keris di pinggangnya, dia segera melesat ke arah raja Danujaya yang sudah tidak berdaya.
Para dayang yang ada di situ segera berlarian menghindar.
Claaaaaph.
Keris itu menancap di dada raja Danujaya, tidak hanya sekali namun patih Mangun Gada menusukkan kerisnya bekali kali sehingga darah muncrat ke mana mana bahkan ada yang mengenai wajah patih Mangun Gada sendiri.
Para dayang yang ada di kamar itu berteriak melihat kejadian mengerikan itu.
Setelah memastikan raja Danujaya sudah mati, patih Mangun Gada keluar dari kamar itu, di luar sudah berbaris prajurit yang banyak jumlahnya.
" Telusuri semua bagian dari istana ini dan bunuh semua anggota keluarga kerajaan ini,,! " perintah patih Mangun Gada dengan dingin.
Para prajurit kerajaan itu segera menghambur memencar mencari setiap anggota keluarga kerajaan yang ada di istana itu, tidak butuh lama banjir darah mengalir di seantero sudut sudut istana, jerit jerit kematian terdengar menyayat di setiap ruang di istana itu.
Diantara jerit kematian itu terdengar suara tawa kepuasan yang keras.
Ini terjadi karena memang kejadian ini sudah di rencanakan cukup lama, bahkan dengan memanfaatkan kekalahan selo Cemeng dari Tirta Kencana, patih Mangun Gada sengaja menunda memberi laporan tentang kekalahan kerajaan Selo Cemeng agar racun yang di berikan secara bertahap selama tiga hari sudah meresap sehingga saat menyampaikan berita itu patih Mangun Gada sudah memperkirakan reaksi racun itu sudah bekerja.
Dengan rencana matang ini akhirnya patih Mangun Gada mampu merebut kekuasaan dari raja Danujaya dan menjadikan dirinya sebagai raja Selo Cemeng yang baru.
***
Sampai di rumah, Cakra pamit kepada biyungnya untuk bersemedi di kamarnya, dia segera memasuki kamar dan memposisikan duduk bersila, tangannya dia letakkan di atas pahanya dengan posisi telapak tangan menghadap ke atas, jari tengah dan jari jempolnya menyatu membentuk lingkaran.
__ADS_1
Sekejap saja Cakra sudah masuk ke alam bawah sadarnya, semua kemelut hatinya dia tinggalkan, yang ada sekarang hanya rasa hampa dan tenang.
Awalnya semuanya gelap, namun sebuah titik cahaya putih terlihat dari jauh, titik cahaya putih itu perlahan menjadi besar dan mendekat, sampai terasa bahwa cahaya putih itu menyelubungi tubuh Cakra, perlahan Cakra membuka matanya dan di depannya kini telah duduk bersila seorang kakek yang wajahnya sangat di kenal oleh Cakra.
Cakra tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya melihat sosok kakek yang ada di depannya.
" Apa kamu masih mengenali ku ngger ,,,? " tanya sosok kakek itu sambil mengulas senyum di wajahnya.
" Iya mbah, saya masih sangat mengenali wajah mbah, bagai mana kabar anda mbah ,,? " tanya Cakra kepada Mbah Gerit yang ada di depannya.
" Aku baik baik saja ngger, kenapa gejolak di dalam hatimu membuat dirimu lemah seperti itu,,? "
Mendapat pertanyaan seperti itu Cakra tidak mampu menjawab, dia hanya menundukkan kepalanya memikirkan jawaban yang tepat.
Namun sekian lama dia mencari jawaban itu, justru dia tidak mampu mendapatkan jawaban.
" Ngger, ingatlah ajaran gurumu, kamu tidak boleh terjatuh lebih dalam oleh nafsumu, masyarakat luas masih membutuhkan kekuatan mu, ke depan tantangan mu semakin besar, kau harus menjelajah luasnya dunia untuk mengamalkan ilmumu,, "
Cakra semakin dalam menundukkan kepalanya merenungi setiap ucapan Mbah Gerit.
" Ilengo Ngger, Yen urip mung isine iseh nuruti nepsu, seng jeneng mulya mesti angel ketemu, ( Ingatlah anak ku, jika hidup masih di penuhi dengan nafsu, maka yang namanya kemuliaan hidup pasti akan sulit di dapat.) " lanjut Mbah Gerit.
" Maka dari itu, jangan kau turuti semua nafsumu, biarkan Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menata hidupmu, tugasmu saat ini hanya melakukan yang terbaik sesuai peran mu, jika kau di anugrahi kekuatan, maka kamu punya tugas untuk memanfaatkan kekuatanmu sebagai penolong orang yang lemah, jika kamu di anugrahi harta yang banyak, maka tugasmu adalah membantu mereka yang kekurangan dan kelaparan, jika kamu di anugrahi kecerdasan pikiran maka kamu harus mampu memenuhi tugas menuntun manusia menuju Tuhan dengan pengetahuan yang kamu punya,, "
" Jadi sekarang jadilah engkau bermanfaat tanpa perlu memikirkan nasibmu kedepan mau bagaimana, jika memang putri Kencana Sari baik untukmu maka Tuhan akan menyatukan kalian tanpa perlu kamu meninggalkan tugasmu sebagai manusia yang di anugrahi kelebihan oleh Tuhan.
" Di pikir wening sak durunge tumindak ( Di pikir secara matang sebelum melakukan sesuatu), agar kamu tidak menyesal nantinya, " pesan Mbah Gerit yang terakhir sebelum tubuhnya yang bersila di depan Cakra sedikit demi sedikit menghilang seperti asap yang tersapu angin.
Sebelum kepala Mbah Gerit benar benar hilang, seulas senyum di arahkan ke Cakra menghias di bibir tua itu.
Melihat senyum Mbah Gerit, hati Cakra seakan di penuhi oleh ketenangan dan kenyamanan.
Sejenak Cakra tercekat.
" Terima kasih mbah, petuah mu akan aku ingat dan akan aku laksanakan,, " lirih Cakra saat teringat dirinya belum menyampaikan ungkapan terima kasih atas petuah yang di berikan oleh Mbah Gerit.
Tidak begitu lama, Eyang Bagaskara juga menghampiri Cakra.
Cakra segera mendekat dan bersimpuh di kaki eyang Bagaskara.
Sambil tersenyum dan mengelus kepala Cakra, eyang Bagaskara berucap.
" Jelajahi lah dunia anak ku, tebar kemanfaatan di setiap kau berada, aku merestui mu anak ku,, " ucap eyang Bagaskara.
Tubuh Eyang Bagaskara mundur menjauh sedikit demi sedikit, Cakra berusaha mengejar tubuh itu karena dia ingin menanyakan beberapa hal kepada eyang Bagaskara, namun tubuh masih tetap menjauh dan kini terlihat kecil dan menghilang.
Berbarengan dengan hilangnya tubuh eyang Bagaskara, tersadar pula lah Cakra, dia menyelesaikan semedinya, saat dia membuka jendela kamarnya ternyata hari sudah pagi.
__ADS_1
Cakra keluar dari kamar dan membersihkan tubuhnya di belakang.
Setelah selesai dia di panggil biyung nya karena sudah di tunggu romo nya untuk sarapan bersama.
Saat Cakra keluar kamar, romo dan biyung nya sudah menunggu di tempat makan, akhirnya mereka makan bersama sama walau dengan menu yang sederhana.
Setelah semua selesai makan, Cakra kemudian pamit kepada kedua o.rang tuanya jika hari ini dia akan ke hutan Pancer.
Mendengar Cakra berpamitan senopati Bajra dan Nyai Galuh terkejut, baru beberapa hari mereka bisa berkumpul namun kini justru Cakra sudah berpamitan sehingga senopati Bajra dan Nyai Galuh berusaha membujuk Cakra untuk tinggal dulu di sana.
Namun setelah Cakra menjelaskan jika dia ingin menjumpai eyang Bagaskara gurunya itu maka senopati Bajra dan Nyai Galuh dengan berat hati merestui kepergian Cakra, mereka hanya berpesan untuk sering sering pulang ke rumah.
Setelah sarapan itu, Cakra segera mempersiapkan keperluannya nanti saat perjalanan, menjelang siang dia menghadap kepada kedua orang tuanya, dia bersimpuh di kaki biyung nya untuk meminta restu, dengan berlinangan air mata Nyai Galuh memberi restu kepada anak satu satunya itu.
Kemudian Cakra juga bersimpuh di kaki senopati Bajra romo nya.
" Berhati hatilah Cakra, di luar sana banyak hal yang belum kau ketahui, sehingga bertindak bijak lah kau dalam menyikapi masalah, jangan kau agung agungkan kekuatanmu sehingga kau hanya menyelesaikan semuanya dengan kekerasan bukan dengan jalan keluar terbaik dan kelembutan hati,, " nasehat senopati Bajra kepada anaknya.
" Baik romo, doakan saya supaya perjalanan saya lancar tanpa hambatan. "
" Ini bawalah untuk bekalmu di perjalanan nanti,,! " ucap senopati Bajra sambil menyodorkan sekantung uang emas yang cukup banyak.
" Ampun romo, sebaiknya tidak perlu, simpan saja romo,,! "
" Tidak Cakra, gunakanlah uang ini untuk membantu perjuangan mu.! "
Cakra menerima sekantung uang itu, kemudian dengan langkah pasti tanpa keraguan dia meninggalkan rumah itu, dia tidak tahu kapan dia akan pulang ke rumah itu lagi.
Ingin segera bertemu dengan gurunya, Cakra segera terbang menuju hutan Pancer.
Tidak butuh waktu lama dia sudah hampir sampai ke hutan pancer, karena ingin memberi kejutan kepada eyang Bagaskara, Cakra turun di tepi jurang tempat dulu dia terjatuh dan lari menyelinap di antara pepohonan, nampak wajah yang gembira membayangkan bisa berjumpa dengan gurunya.
Namun saat dia sudah sampai di dasar jurang, dia tidak merasakan tanda tanda keberadaan eyang Bagaskara gurunya.
Dia mencari cari keberadaan gurunya, dia hampiri tempat semedi eyang Bagaskara namun yang di cari tidak ada, dia hampiri pondok tempat eyang Bagaskara berteduh, namun tidak ada, hingga dia cari di belakang pondok di situ Cakra melihat tempat itu sedikit berantakan dan tanahnya terdapat jejak seakan bekas di gunakan bertarung.
Cakra merasa curiga dan khawatir sehingga dia menelusuri jejak jejak tersebut, dari jejak yang dia lihat Cakra memastikan jika yang bertarung tidak hanya dua orang, bisa saja lebih dari dua orang, semakin dia menelusuri semakin kentara jejak itu bahkan ada sebagian pohon yang tumbang akibat luka cakar di batangnya atau terbakar hangus karena pukulan jarak jauh.
Bisa di pastikan jika luka cakar di pohon itu akibat dari jurus eyang Bagaskara, namun untuk luka bakar di pohon itu milik siapa itu yang Cakra belum tahu.
Hingga sekitar lima ratus tombak Cakra mengikuti jejak pertarungan itu, Cakra tercekat karena di tengah tanah yang lapang tergeletak tubuh tua yang kurus dengan menggunakan pakaian putih.
Cakra segera menghampiri tubuh itu, namun yang di lihat sangat mengerikan, tubuh eyang Bagaskara penuh dengan luka tusuk dari tongkat dan sabetan dari golok yang tebal, di dadanya juga terlihat bekas pukulan telapak tangan yang membiru pertanda pukulan itu beracun.
Cakra memeriksa detak jantung eyang Bagaskara untuk memastikan namun hal itu sia sia karena memang eyang Bagaskara sudah tewas tiga hari lalu.
Sekejap muncul lah amarah Cakra akan kematian gurunya itu, dia melepaskan amarahnya dengan berteriak keras sehingga pohon pohon di sekitarnya goncang seperti terkena gempa, hewan hewan lari menjauhi lokasi itu takut terkena imbas dari kemarahan anak manusia yang di rundung kesedihan.
__ADS_1