PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Serangan Pamungkas 2


__ADS_3

Suasana peperangan yang riuh tergambar di sana, di sana sini bergelimpangan tubuh tanpa nyawa, anggota tubuh yang tidak utuh lagi berserakan, api membakar tenda tenda menjadikan siang yang terik karena sengatan matahari menjadi terasa lebih panas lagi.


Di salah satu sudut terlihat pertarungan yang dahsyat, para prajurit yang awalnya berada di dekat pertarungan itu kini mulai menyingkir karena takut terkena serangan yang nyasar.


" Walau kau perempuan, tapi kemampuan bertarungmu boleh juga, siapa sebenarnya dirimu,,? " tanya panglima Mahendra.


" Heeeh, biar nanti di neraka kau tidak penasaran aku akan menyebutkan namaku, aku putri Kencana Sari. "


" Ha ha ha, sungguh kehormatan bagiku jika bisa terbunuh oleh putri kerajaan ini, namun lebih terhormat lagi jika aku membunuhmu dan membawa kepalamu untuk aku hadiahkan kepada raja kami,, " ucap panglima mengintimidasi.


" Boleh saja, asal syaratnya sampai perang ini selesai kepala mu masih melekat di badan,, " ucap putri Kencana Sari sambil tersenyum sinis.


" Kurang ajar,, " panglima Mahendra segera menyerbu ke arah putri Kencana Sari.


Panglima Mahendra menerjang, saat ini panglima mahendra tidak menggunakan gadanya karena tenaganya belum pulih, dia saat ini menggunakan sepasang pedang melengkung yang lancip di ujungnya.


Sriiiing


Sriiiing.


Suara bilah pedang di gesekkan membuat gelombang suara yang mengganggu pendengaran putri Kencana Sari.


Sejenak Putri Kencana Sari memusatkan tenaga dalam di sekitar telinga sehingga gelombang suara itu reda, dia segera memapaki serangan lawan dengan pedang di tangan kirinya dan busur di tangan kanannya.


Duaaarr.


Kedua tubuh yang membenturkan senjatanya terpental ke belakang, keduanya bersalto di udara dan menginjakkan kakinya di tanah dengan anggun tanpa suara sebagai tanda tingginya tingkat jurus meringankan tubuh mereka.


Putri Kencana Sari tersenyum karena dari benturan tadi dia yakin bisa mengimbangi musuh.


Sedangkan panglima Mahendra terkejut karena dia tidak menyangka seorang gadis yang masih muda belia mampu mengimbangi tenaga dalamnya, bahkan tangannya yang berbenturan tadi terasa kebas sehingga bisa di pastikan tenaga dalam lawannya masih di atasnya.


Putri Kencana Sari tidak ingin membuang waktu, dia segera menyerang lawan, busur di tangan kanannya dia putar putar dan pedang di tangan kiri dia tusukkan kearah lawan.


Traaaang


Traaang.

__ADS_1


Busur putri Kencana Sari mampu menangkis sabetan pedang lawan, sedangkan pedang di tangan kirinya mencoba menerobos mendekati dada lawan.


Traaang.


Untung panglima Mahendra cepat menangkis datangnya pedang itu sehingga aman lah dadanya.


Dia membalas serangan putri Kencana sari dengan menyabetkan pedang dari arah kiri, putri Kencana Sari memilih menangkis pedang itu.


Triiiiiiing.


Sabetan cukup kuat membuat pegangan pedang di tangan putri Kencana Sari terlepas dan terlempar cukup jauh.


Putri Kencana Sari sedikit kaget saat menerima serangan itu, namun dia tidak boleh hilang konsentrasinya karena serangan panglima Mahendra sudah datang lagi.


Melihat datangnya serangan tadi membuat putri Kencana Sari bersalto ke belakang sebanyak lima kali untung menghindari sabetan pedang lawan.


Tertawa lah panglima Mahendra mengetahui lawannya kerepotan, dia melontarkan senyum ejekan kepada putri Kencana Sari.


Tidak terima atas perlakuan itu, putri Kencana Sari berlari menghambur ke arah panglima Mahendra, dia pusatkan tenaga dalamnya ke arah kaki sehingga lesatan kaki putri Kencana Sari datang dengan cepat dan bertenaga.


Duuuuuuuuk.


Tendangan putri kencana Sari di hadang dengan pedang yang menyilang di dada panglima Mahendra, namun daya lontar dari tendangan itu sangat kuat sehingga tubuh panglima Mahendra terlempar jauh membentur pohon yang ada di sekitar situ.


Saat panglima Mahendra berusaha untuk bangkit tiba tiba sebuah anak panah meluncur deras mengenai tubuhnya sampai tembus ke batang pohon di belakangnya.


Berakhirlah sepak terjang panglima Mahendra yang sudah lama menyebarkan teror kerusakan di sekitarnya.


***


Cakra yang awalnya mendampingi panglima Restu Aji, kini dia terbang rendah dengan merentangkan sayapnya, setiap prajurit yang mencoba menghadangnya justru terpental karena berbenturan dengan sayap Cakra.


Ratusan prajurit berpentalan dan langsung tewas saat berbenturan dengan sayap Cakra.


Saat dia terbang dia melihat seorang pimpinan pasukan lawan tengah menghabisi prajurit Tirta Kencana, prajurit prajurit Tirta Kencana yang mengeroyok pimpinan itu sudah banyak yang terluka maupun yang meregang nyawa.


Melihat itu Cakra segera mengarah ke tempat itu.

__ADS_1


Tepat di depan pimpinan itu Cakra mengarahkan pukulan telapak tangannya ke arah dada pimpinan itu.


Pimpinan yang masih berusaha menghabisi para prajurit yang menyerangnya itu sadar ada serangan ke arahnya sehingga dia memapak serangan itu dengan jurus karang bolong miliknya.


Duaaaaar.


Dua benturan tenaga itu mengakibatkan ledakan energi yang mendorong prajurit prajurit di sekitar situ terlempar ke belakang sejauh dua tombak.


Sedangkan dua sosok yang saling membenturkan pukulannya tadi tidak beranjak dari tempatnya, mereka masih imbang, namun yang sebenarnya Cakra hanya mengerahkan setengah dari tenaga dalamnya sehingga masih mampu di tahan lawannya.


" Siapa Kau beraninya menantang panglima Damar Saketi,,? "


" Oh ternyata aku berhadapan dengan panglima Selo Cemeng yang terkenal, suatu kehormatan jika bisa bertarung dengan anda,, " ucap Cakra dengan senyum yang mengembang di bibirnya.


" Tidak perlu banyak bicara kau, aku remukkan kepalamu nanti, " geram panglima Damar Saketi dengan geram.


Tanpa aba aba, panglima Damar Saketi telah menyerang dengan senjata cambuk andalannya.


Setiap cambuk dari panglima Damar Saketi yang mengenai tanah maupun pohon, bekas cambukan itu akan mengeluarkan api yang membakar.


Melihat efek yang di hasilkan dari bekas cambukan lawan membuat Cakra berhati hati dalam menghadapi datangnya senjata pusaka lawan.


Cakra mengeluarkan tombak Bayu Angkasanya untuk menghalau serangan lawan, sambaran sambaran cambuk yang bersifat panas dia reda dengan hawa dingin dari angin yang di keluarkan oleh tombak Bayu Angkasa.


Sambaran sambaran ujung cambuk mampu di tepis oleh Cakra menggunakan tombaknya, sejauh ini Cakra belum mampu mendekati lawan karena lawan sangat kuat pertahanannya, Cakra mencoba mendekat, namun setiap dia mendekat, serangan lawan semakin bertubi tubi hingga memaksa Cakra untuk terbang menghindari cambuk yang hampir mengenai perutnya.


Saat Cakra berada di udara, dia kerahkan jurus bulu garuda, ribuan bulu meluncur ke arah panglima Damar Saketi, walau dengan susah payah dan berjumpalitan namun Panglima Damar Saketi mampu menghindar dan menghalau bulu bulu yang meluncur dengan cambuk yang di putar putar di atas kepalanya.


Cakra melihat sedikit kesempatan, dia kemudian meluncur ke bawah sambil masih terus menyerang dengan jurus bulu garuda, Sejenak dia telah merubah jurusnya menjadi pukulan paruh garuda, dia tusukkan tombaknya sehingga membuat cambuk lawan melilit ke tombak itu, tepat saat itu panglima Damar Saketi menengok ke atas, namun serangan Cakra datang dengan cepat mengarah kepala lawan.


Praaaaaak.


Duaaaar.


Ledakan kepala panglima Damar Saketi membuat pertempuran di sekitarnya berhenti demi mengetahui apa yang terjadi di sana.


Prajurit Tirta Kencana yang tahu kemenangan Cakra menjadi gembira, mereka semakin semangat menggempur lawan, berbeda dengan prajurit Selo Cemeng, mereka menjadi ciut nyalinya.

__ADS_1


__ADS_2