PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Mengakhiri Pertarungan.


__ADS_3

Daaar


Daaaar


Daaaaaaar.


Dua orang penyerang Cakra terpental ke belakang dengan memegangi dadanya masing masing karena dadanya terasa sesak.


" Pemuda ini tidak bisa di anggap remeh, kita dari awal sudah salah perhitungan, ternyata dia tidak sebodoh dan selemah yang aku kira,, " ujar kakek berpakaian serba putih itu.


" Benar bopo, kita harus mencari celah untuk kabur dari sini,, " sahut laki laki berpakaian hitam itu.


" Benar, ayo kita gempur dia bersama sama,,! "


Mereka berdua memasang kuda kuda lagi setelah rasa sesak di dada mereka mulai mereda.


Di kedua tangan kakek berbaju putih telah tergenggam besi berbentuk cakar yang di pangkalnya di hiasi bulu berwarna putih.


Melihat dua senjata di tangan orang lain, raja Siluman Rubah Putih yang masih bersandar di batang pohon menjadi terkejut, pasalnya dua senjata itu adalah dua senjata pamungkas milik kerajaan Siluman Rubah Putih yang di wariskan dari raja sebelumnya, namun dua tahun lalu telah hilang dari tempatnya, sudah di kerahkan semua telik sandi dan prajurit untuk mencarinya, namun semua tidak ada hasilnya.


Raja Siluman Rubah Putih bertanya tanya tentang siapa sebenarnya sosok di depannya karena dia belum pernah mengenalnya, apalagi sosok itu membawa senjata pusaka kerajaannya yang hilang.


Sebenarnya dia ingin menanyakan langsung, namun keadaannya tidak memungkinkan untuk melakukan itu.


Sriiiiiing


Sriiiiiiiiiing.

__ADS_1


Suara gesekan logam berbentuk cakar menimbulkan percikan api, semakin lama gesekan itu semakin nyaring bunyinya, saat suara itu semakin nyaring kakek itu bergerak cepat mengirim serangan kepada Cakra.


Di dahului dengan bunyi yang mengganggu konsentrasi, serangan itu datang, Cakra sedikit terganggu oleh bunyi nyaring itu, namun indra penglihatannya masih mampu membaca gerakan lawan, hingga serangan lawan tidak mampu membuat Cakra terluka.


Saat Cakra sibuk dengan kakek itu, dari belakang laki laki berpakaian putih dengan senjata tongkat pendek bermata pisau tajam datang mengancam punggungnya, walau Cakra terkesan tidak memperdulikan serangan itu, tapi sebenarnya Cakra sudah menyiapkan diri dengan sayapnya yang masih berkembang.


Sesaat sebelum pisau di ujung tongkat itu menembus tubuh Cakra, pisau itu telah membentur sayap yang menutup punggung, sayap Cakra yang keras itu mampu menahan senjata setajam apa pun, saat laki laki itu tetap berusaha menekan tongkatnya agar bisa menembus pertahanan Cakra, tiba tiba sayap itu mengembang dengan kuat, hal ini membuat tubuh laki laki itu terdorong ke belakang tiga langkah, belum sempat tubuhnya berhenti karena dorongan itu, dengan cepat Cakra berputar sambil tangannya menangkis tangan kakek berbaju putih kemudian sayapnya menyampok tubuh laki laki itu.


Buuuuuuukh.


Deeeees.


Tubuh itu terlempar jauh akibat kuatnya sampokan sayap Cakra.


Kakek berpakaian putih terkejut, dia mengkhawatirkan keselamatan anaknya, tapi hal ini berakibat fatal untuk dirinya sendiri, karena saat dia lengah pukulan tangan kosong Cakra dengan tepat mendarat di dadanya.


Kakek berbaju putih itu terjajar ke belakang sambil memegangi dadanya, meski hanya pukulan tangan kosong namun mengandung tenaga dalam tinggi sehingga mampu menghancurkan jurus kebalnya, akibatnya cairan merah keluar dari sudut bibirnya tanda dirinya terluka dalam.


Kakek berbaju putih sambil memegangi dada mencoba melirik anaknya, dia masih bisa bernapas lega karena ternyata anaknya masih bisa bangun walau baru saja menerima serangan.


Kini laki laki berbaju hitam yang melihat bapaknya terluka menjadi marah, dia mencoba untuk menyerang Cakra dahulu, Cakra yang selalu waspada terhadap setiap serangan dengan mudah mengelak dari tusukan tongkat lawan, saat serangan itu bisa di elakan, laki laki itu merubah arah serangannya, tapi dengan berputar putar Cakra bisa menghindari serangan, tidak hanya menghindar, Cakra pun membalas serangan itu dengan cermat.


Bukannya mampu mendesak Cakra, justru Cakra lah yang lebih menekan, hal ini tidak bisa di biarkan oleh kakek berbaju putih, dia tidak ingin melihat anaknya kalah dari Cakra.


Kakek itu langsung masuk lagi ke dalam arena pertarungan, dua orang kini menyerang Cakra lagi, kini pertarungan itu berlangsung cukup lama, karena kedua penyerangnya yang sudah menggunakan senjata pamungkasnya.


Untuk meredam serangan dahsyat lawan, Cakra mempercepat gerakannya, bahkan sayapnya kini sudah terbuka lebar menyambar nyambar kadang menjadi senjata dengan ujung bulu yang runcing dan keras kadang menjadi perisai melindungi tubuh Cakra dari senjata pusaka lawan.

__ADS_1


Lawan Cakra sangat penasaran, ribuan kali pusaka mereka yang sudah mengalirkan banyak darah namun di hadapan Cakra seakan tidak berarti apa apa, pusaka mereka mengenai sayap Cakra tapi tidak sedikitpun sayap itu rusak atau tergores.


Cakra mulai bosen dengan pertarungan ini, di alirkan sedikit tenaga dalam dari Roh Garuda Agni, kini serangan Cakra berhawa panas, hawa panas itu membuat lawannya merasa kesulitan bernapas, membuat gerakan mereka menjadi agak lambat.


Saat penyerang Cakra berkurang tenaganya, Cakra melesat terbang mengarahkan kepalan tangan berlapis api ke arah kakek berbaju putih.


Serangan Cakra yang di dahului hembusan angin kencang yang terasa panas membuat kakek baju putih terpana tidak bisa bergerak lagi.


" Bopo......... "


Braaaaak


Duaaaaar.


Aaaaaakh.


Sebelum pukulan mengenai kakek berbaju putih yang pasrah, laki laki berbaju hitam sudah menghadang, akibatnya pukulan telak mengenai dadanya, hingga dia terlempar kebelakang bersama tubuh kakek berbaju putih yang ikut terpental karena di tabrak oleh anaknya.


Dua tubuh itu bergulingan di tanah, kakek berbaju putih segera bangkit menghampiri anaknya yang tergeletak di tanah, dia memeriksa keadaan anaknya ternyata sudah tidak bernyawa.


" Anak ku,, " teriak kakek itu.


" Kau telah membunuh anakku, tunggu lah, aku akan datang dengan membalas dendam kepadamu,,! " ucap Kakek itu,


Setelah mengucapkan itu, kakek berbaju putih segera pergi membawa tubuh anaknya yang sudah tidak bernyawa.


Cakra tidak berniat mengejar, dia segera menghampiri tubuh raja Siluman Rubah Putih, dia periksa keadaannya, dia memberi totokan di beberapa bagian tubuh raja itu, kemudian dengan kecepatan kilat dia membawa raja itu pergi dari arena pertarungan.

__ADS_1


__ADS_2