PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Pencerahan


__ADS_3

Hampir lima ratus prajurit berjalan beriringan dari hutan Kuncoro menuju hutan Gondo Mayit, mereka melakukan perjalanan pada malam hari sehingga perjalanan itu menjadi agak terhambat, Pangeran Jati memilih hutan Gondo Mayit karena di sana lebih dekat dengan desa desa yang agak ramai, di sana hutannya juga masih lebat dan banyak gua gua persembunyian yang aman.


Paman Jolo memimpin mereka dengan seksama, para pendekar berjalan dengan waspada khawatir jika ada serangan yang mendadak.


Menjelang fajar berpendar, mereka telah keluar dari hutan Kuncoro, sebenarnya sangat berbahaya jika mereka di luar hutan tanpa perlindungan, namun mereka di tuntut harus segera sampai di hutan Gondo Mayit, sehingga mereka tetap terus berjalan, mereka hanya mengandalkan teman teman mereka untuk saling melindungi, suasana yang mencekam membuat ketegangan di pasukan itu.


Tepat tengah hari, mereka beristirahat di sebuah lembah pinggir sungai yang jernih, mereka mengambil tempat tempat terpisah di bawah pohon yang rindang.


Cakra berkumpul bersama pangeran Jati untuk membicarakan langkah langkah selanjutnya, dia juga menyampaikan jika kemungkinan besar besok siang mereka akan sampai di hutan Gondo Mayit.


Blegaaaarttt.


Bhuuuuuuuuuum..


Sebuah ledakan terjadi di salah satu tempat berkumpulnya pasukan, seketika para prajurit yang berjumlah dua puluh lima orang itu bergelimpangan sebagian langsung tewas tanpa tau apa yang terjadi.


Mendengar itu melesat lah semua yang bersama pangeran Jati, mereka ingin tahu apa yang terjadi, asap tebal masih melingkupi tempat itu sehingga menghalangi pandangan yang ada di situ.


Saat asap itu mulai menipis, terlihat dua orang kakek yang berdiri dengan muka yang garang dan tangan di pinggang seakan menantang semua orang yang ada di situ.


"Ha ha ha ha,, ternyata hanya segini kekuatan cecunguk cecunguk yang berani menantang Sangga Bhumi,, kalian tidak ubahnya seperti kutu yang sekali tepuk sudah ***** di tanganku.,, " ucap kakek yang ternyata Datuk Sesat.


" Apakah benar mereka ini perusuh yang kau maksud Respati ,,,,?.


" Benar kakang, mereka lah yang selama ini menjadi perusuh di Gading Padas,, " jawab ki Respati yang saat itu mendampingi datuk sesat.


"Kalau begitu akan aku habisi mereka sehingga kemudian hari tidak mengganggu istirahatku dengan merusuh di Gading Padas,,, " ucap datuk sesat dengan jumawa.


" Maaf kakek, ada urusan apa sehingga anda dengan kejam menurunkan tangan kepada prajurit yang sedang beristirahat,,,? " tanya pangeran Jati dengan sopan.


" Apakah kau pemimpin dari pasukan ini,,,?, kalau iya maka kaulah orang yang pertama harus aku bunuh. " gertak datuk sesat lagi.


Hiyaaaatt.


Datuk sesat telah melesat ke arah pangeran Jati, namun Cakra yang dari tadi berada di samping pangeran Jati segera menghadang serangan dari datuk sesat.

__ADS_1


Dengan Cakar garuda membelah badai dia mengimbangi setiap serangan tangan kosong datuk sesat, serangkuman angin yang menyertai serangan datuk sesat untuk sementara bisa di atasi oleh Cakra.


Sambaran pukulan mengarah ke dada Cakra,


Dessh.


Pukulan itu di tangkap dengan tangan kiri Cakra, kemudian Cakra menyabetkan cakarnya ke arah bahu lawannya.


Breeeet.


Bahu yang tidak tertutup kain itu telah sobek memanjang mengeluarkan darah, tubuh yang biasanya kebal terhadap senjata itu ternyata dapat terluka karena goresan cakar.


" Kurang ajar, beraninya kau melukaiku. "


Datuk sesat segera mengeluarkan jurus andalannya tapak geni, dari telapak tangannya muncul bara berwarna merah, menandakan serangan yang di siapkan sangat dahsyat.


Whuuusshh..


Dari telapak tangan itu keluar bola api yang berpijar meluncur cepat ke arah Cakra, namun Cakra sudah menyiapkan pukulan paruh garuda yang baru kali ini dia gunakan.


dhuuuuuuummm.


Ledakan besar mengiringi benturan serangan tadi, hingga kedua tubuh yang tadi berhadapan telah terpental agak jauh, Datuk sesat yg terpental sejauh enam tombak mampu mendarat dengan ke dua kaki menapak ke tanah walau sedikit terhuyung dan dadanya sesak akibat luka dalam.


Berbeda dengan yang di alami oleh Cakra, tubuhnya meluncur dan membentur sebuah pohon sehingga dia memuntahkan darah segar dari mulutnya kemudian tidak sadarkan diri.


Melihat kondisi Cakra, putri Kencana Sari dan para pendekar lainnya memasang badan melindungi Cakra dari serangan kakek datuk sesat.


Kakek Datuk sesat yang merasa harus menyembuhkan luka dalamnya tidak ingin meladeni mereka, dia segera mengajak kakek Respati untuk meninggalkan tempat itu.


Pangeran Jati dan yang lainnya segera menghampiri tubuh Cakra, mereka memeriksa luka yang ada di tubuh Cakra, kemudian putri Kencana Sari menyalurkan tenaga dalamnya agar luka dalam Cakra segera sembuh.


Siang itu Mereka langsung melanjutkan perjalanan dengan menandu Cakra yang sedang terluka.


Hingga malam tiba mereka memasuki sebuah hutan kecil yang ada di sebelah timur desa Ringin Anom.

__ADS_1


Mendengar pasukan itu berada di luar desa Ringin Anom, para warga Ringin Anom berbondong bondong membawa makanan yang mereka punya untuk di berikan kepada pasukan yang baru melakukan perjalanan jauh itu.


Para pasukan menyambut itu dengan gembira, walau suasana saat itu dalam keadaan berduka dan keadaan keyakinan para pasukan yang menurun, namun mereka merasa terhibur dengan adanya para penduduk yang mendatangi mereka.


Keadaan Cakra pun juga mulai membaik, dia kini sudah mampu berjalan, dia mohon pamit kepada pangeran Jati untuk melakukan semedi penyembuhan tubuh.


Di sebuah air terjun di luar hutan itu, Cakra mengambil sikap duduk bersila tangannya berada di pangkuan lututnya menghadap ke atas, sejenak hening terasa di tempat itu, suara air terjun berjatuhan sedikit demi sedikit semakin terdengar pelan dan akhirnya hilang.


Di saat itulah Cakra sudah memasuki alam bawah sadar di dalam semedinya.


" Bangunlah Cakra anakku,,,! "


Cakra segera membuka matanya, di depan dia melihat sosok kakek yang dulu mengujinya saat berada di gunung Gembolo Arum, segera Cakra mendekat dan menyembah kepada kakek itu.


" Duduk lah anak ku,,,! apa yang merisaukan mu saat ini,,? "


" Maafkan aku eyang, saat ini memang saya sedang memikirkan keadaan para prajurit dan rakyat Gading Padas, saya merasa menjadi orang yang tidak berguna karena tidak mampu melindungi mereka, semua apa yang saya upayakan telah gagal dan saya merasa bersalah akan apa yang telah saya perbuat,, " ucap Cakra.


Dengan tersenyum dan wajah yang teduh kakek itu mendengarkan keluh kesah hati Cakra.


" Ngger anak ku, apa yang menurut kamu benar untuk di lakukan maka lakukanlah sepenuh hati, jangan engkau terpenjara oleh keinginan memperoleh hasil yang sempurna, karena pada dasarnya manusia hanya mampu berusaha, namun hasilnya di tangan Yang Maha Kuasa. "


" Belajarlah untuk memasrahkan hasil kepada Yang Maha Kuasa, sesungguhnya usaha paling tinggi adalah memasrahkan hasil kepada Yang Maha kuasa,, "


Cakra mendengar petuah itu dengan seksama, dia merenungkan setiap kata kata eyang itu untuk menemukan mutiara makna yang terkandung padanya.


" Pergunakan segala anugrah Yang Maha Kuasa limpahkan kepadamu untuk membantu perjuanganmu,, "


Kata kata terakhir ini menyadarkan Cakra, dia segera ingin menghaturkan terima kasih atas pencerahan itu, namun sebelum dia mengucapkannya, eyang itu telah tidak ada di hadapan Cakra.


Cakra membuka mata mengembalikan kesadarannya dari semedi yang di lakukan semalaman, kini tubuhnya merasa segar bugar, kekuatannya kembali lagi dan luka dalamnya pun sudah tidak terasa lagi.


Cakra berdiri dengan gagah di situ, dia menyebutkan nama pedang Garuda, sesaat kemudian pedang itu telah meluncur dengan cepat ke arahnya.


Cakra meloncat bersalto menangkap pedang itu, dia menghunus pedang itu dan mengacungkan keatas, dari atas keluar kilat kilat kecil menyelimuti pedang garuda dan merambat ke tubuh Cakra.

__ADS_1


" Inilah Anugrah Yang Maha Kuasa yang akan menemani perjuanganku, Biarkan Yang Maha Kuasa menuntun langkah perjuanganku,, " desis Cakra.


__ADS_2