
Putri Kencana Sari telah menyelesaikan pertarungannya dengan panglima Mahendra, begitu juga Cakra mampu mengakhiri perlawanan panglima Damar Saketi walau panglima Damar Saketi begitu sulit di binasakan.
Cakra kini naik ke atas untuk melihat situasi peperangan, dari atas terlihat jika prajurit Tirta Kencana berada di atas angin, walau berada di atas angin namun perlawanan para senopati Selo Cemeng yang masih hidup masih sangat dahsyat, hal ini menyebabkan perang itu masih belum bisa berhenti dan di tentukan pemenangnya.
Cakra masih mengawasi perang tersebut, dari atas dia melihat romo nya telah di keroyok oleh dua orang senopati lawan, mereka yang mengeroyok adalah senopati Supit Urang dan senopati Sampar Gelap.
Ketiga orang yang bertempur itu masih sama sama tangguh, sambaran sambaran senjata masih bisa saling di hindari, pedang senopati Bajra masih bisa di andalkan untuk melukai lawan nya, begitu juga dengan gada kecil yang ujung bulatnya terdapat duri duri lancip milik senopati Sampar Gelap kadang mampu mengancam keselamatan kepala senopati Bajra, juga sepasang tongkat pendek yang di ujungnya terdapat pisau bercabang seperti bentuk capit kepiting itu menderu deru ke arah tangan dan kaki senopati Bajra.
Senopati Bajra menghindar dengan lincah setiap serangan lawan, namun napas tuanya menjadi pembeda di pertarungan itu sehingga tidak sedikit tubuhnya tergores oleh senjata lawan, untung bagi Bajra belum ada satupun serangan yang terkena dengan telak sehingga lukanya masih bisa di tahan.
Melihat romonya mulai tertekan Cakra segera meluncur ke bawah untuk menolong romonya, tepat saat senopati Sampar Gelap hendak memukulkan gada berduri miliknya ke kepala senopati Bajra yang kurang sejengkal itu, Cakra sudah datang dan menangkis gada itu dengan pedangnya.
Duaaar.
Benturan pedang dan gada itu menimbulkan gelombang ledakan yang membuat tubuh senopati Sampar Gelap terjengkang ke belakang sedangkan Cakra masih berdiri di tempatnya.
Senopati Supit Urang menghampiri tubuh kawannya yang masih rebah di tanah, dia membantu senopati Sampar Gelap untuk berdiri.
" Kau tidak apa apa anak ku ,,? " tanya senopati Bajra saat sudah berdiri sejajar dengan Cakra.
" Tidak romo, sekarang biarkan aku saja yang menghadapi mereka romo. "
" Sebaiknya kita serang bersama sama Cakra, kita harus segera mungkin mengalahkan mereka. "
" Baik romo,, " jawab Cakra sambil melesat menyerang senopati Sampar Gelap.
__ADS_1
Serangan Cakra yang datang dengan cepat itu membuat senopati Sampar Gelap kerepotan, walau dia mampu menangkis serangan Cakra, namun daya dorongnya membuat dia berjumpalitan di tanah, melihat lawan kewalahan menghadapi serangannya menjadikan Cakra lebih bersemangat lagi untuk menyerang sehingga membuat senopati Sampar Gelap harus menguras kemampuannya jika ingin nyawanya tetap berada di badannya.
Sedangkan senopati Bajra yang berhadapan satu lawan satu dengan senopati Sumpit Urang saat ini bisa menekan lawannya, dengan gerak pedangnya yang cepat seakan akan pedang itu berjumlah ribuan mengurung lawan, meski kadang senopati Sumpit Urang memutuskan untuk membenturkan senjatanya untuk memutus serangan senopati Bajra, namun nyatanya pedang senopati Bajra masih mampu mengurung senopati Sumpit Urang.
Kurungan serangan pedang senopati Bajra menjadikan ruang gerak senopati Sumpit Urang terbatas, sehingga pada bagian bagian tubuhnya saat ini banyak yang terluka, rembesan darah dan rasa perih yang di derita tubuhnya menjadikan tubuh itu berkurang kelincahannya.
Craaaaas.
Sebuah sabetan pedang dari bawah ke atas mampu menerobos dan memotong lengan kanan senopati Sumpit Urang.
Akibat rasa sakit yang sangat di lengan kanannya, di terjatuh ke tanah, naasnya tanah tempat senopati Sumpit Urang terjatuh posisinya miring sehingga dia tidak bisa mengendalikan tubuhnya untuk berguling guling meluncur ke bawah, di saat seperti itu senopati Bajra melemparkan pedangnya.
Claaaaaph.
Pedang itu tepat mengenai dadanya, karena besarnya tenaga dalam senopati Bajra yang di gunakan untuk melempar pedang sehingga pedang itu tembus ke punggung dan menancap ke tanah menghentikan laju tubuh yang berguling guling.
Cakra yang masih menggempur senopati Sampar Gelap mulai tidak tenang karena memikirkan keselamatan romonya, hingga suatu serangan datang dengan cepat menghantam dadanya.
Blaaaaaam.
Bukannya tubuh Cakra yang terjungkal ke tanah, justru tubuh senopati Sampar Gelap yang terlempar ke belakang dan dadanya terasa sesak.
Sedangkan Cakra yang di lindungi baju zirah hanya mundur dua langkah.
" Edan anak ini, aku tidak akan bisa mengalahkannya jika seperti ini. "
__ADS_1
Saat Cakra menengok ke arah pertarungan romonya yang di keroyok oleh prajurit Selo Cemeng, kesempatan itu di gunakan oleh senopati Sampar Gelap untuk melarikan diri dari tempat itu.
Namun baru dua puluh tombak dia berlari, Cakra sudah menghadang di depannya, tidak ada pilihan lain selain menyerang Cakra, maka dia kerahkan pukulan jarak jauhnya, dia sorongkan tangan kanan nya sehingga dari telapak tangan itu melesat selarik cahaya berwarna jingga melesat cepat ke arah penghadangnya.
Cakra tidak berusaha menghindar, dia sangat percaya dengan baju zirahnya mampu melindungi tubuhnya dari serangan itu.
Duaaaaar.
Kepulan asap menutupi tempat di mana Cakra berdiri, senopati Sampar Gelap yakin jika lawan yang di serangnya sudah mati, paling tidak dia terluka parah, sehingga dia menghentikan larinya untuk melihat keadaan musuhnya.
Senopati Sampar Gelap cukup kaget dengan pemandangan di depannya, bukannya tubuh yang terluka maupun binasa, namun yang dilihat justru tubuh yang masih berdiri kokoh tanpa ada luka sedikitpun.
Senopati Sampar Gelap berniat untuk lari lagi, sebelum tiga puluh langkah larinya, Cakra sudah terbang menyusul dan menyabetkan pedangnya ke leher lawan.
Craaaaas.
Tubuh yang tanpa kepala masih berlari hingga di langkah ke empat jatuh bergedebukan karena hilang keseimbangan dan mati.
Pertarungan Cakra sudah selesai, namun dia melihat romonya kesulitan menghadapi pengeroyoknya. luka luka di badannya kini bertambah banyak, bahkan baju yang di pakainya sudah bersimbah darah, hal itu membuat Cakra kalap, dia segera terbang ke arah kerumunan itu dan membabatkan pedangnya ke arah prajurit penyerang romonya.
Sriiiiing.
Sriiiiiinggg.
Setiap tebasan Cakra membuat kepala maupun bagian tubuh lawannya berjatuhan membuat siapapun yang ada di sana bergidik ngeri, sepak terjang Cakra membunuh musuhnya tanpa ampun, jerit jerit kematian terdengar menyayat hati, sampai tidak ada lagi prajurit yang berani mendekati dua sosok ayah dan anak itu, Cakra sudah memapah tubuh romonya yang lemas.
__ADS_1
Cakra membopong tubuh ayahnya untuk di bawa ke dalam benteng dengan terbang, dia memerintahkan prajurit yang bertugas menjadi tabib untuk menyembuhkan luka luka senopati Bajra.