PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Rahasia Pendekar Seruling Bambu 4


__ADS_3

Cakra dengan hati hati membuka atap genteng untuk melihat dalam ruangan rumah itu, cahaya dari api yang ada di ruangan itu memudahkan Cakra untuk memelajari apa yang terjadi di dalam.


Cakra terkejut dengan apa yang dia lihat, di salah satu sudut ruangan itu dua orang duduk berhadap hadapan di kursi kayu jati, mereka di pisahkan dengan meja tebal yang juga berbahan kayu jati, di meja terletak sebuah patung emas berbentuk garuda yang mengembangkan sayapnya, sedangkan kakinya yang kokoh baru mendarat mencengkeram dahan.


Namun yang membuat Cakra terkejut bukan patung itu, namun sosok yang duduk di seberang orang berperawakan tinggi besar berkulit gelap dengan bertelanjang dada berkalung taring singa, rambutnya kaku berdiri mengembang sehingga orang itu semakin terlihat garang, sedang orang yang membuat terkejut Cakra adalah Permana si pendekar seruling bambu.


" Ha ha ha, bagus sekali Permana, tanpa mengeluarkan tenaga kamu bisa memperoleh pusaka patung garuda emas ini,, " ucap orang yang bertelanjang dada itu.


" Ini semua karena petunjuk ketua, mungkin jika ketua tidak memberi saran seperti ini pasti aku tidak bisa mendapatkan pusaka ini dari orang bodoh itu,, " ucap Permana.


Mendengar itu, Cakra bisa memahami jika orang di hadapan Permana adalah ki Singa Lodro ketua kelompok perampok Singa Lodro, Cakra paham jika Permana saat ini bekerja sama dengan perampok itu.


" Ha ha ha kau pandai Permana,, Terus sekarang bagaimana dengan gurumu,,,?. "


" Biarkan saja tua bangka itu, dari awal dia lebih menyayangi kakang Rendra, aku sudah muak berada di sana. "


" Bagus,,,,, baguuus bergabung saja kamu dengan kelompok ini, hidupmu pasti lebih enak, harta melimpah, ingin perempuan tinggal ambil saja di desa,, " ujar ki Singa Lodro.


Ucapan itu membuat Permana dan ki Singa Lodro gembira dan tertawa terbahak bahak, namun berbeda dengan Cakra yang mendengar dari atas atap, dia berusaha menahan amarah atas tindakan mereka berdua, tangannya di kepalkan dan berbunyi gemeretakan.


Walau pelan, namun Singa Lodro mendengar bunyi gemeretakan jari jari Cakra, sehingga dia langsung melirik ke atas dan dengan gerakan cepat tangannya sudah melemparkan koin emas yang berada di atas meja ke arah tempat Cakra mengintip.


Meski gerakan lemparan Singa Lodro begitu cepat namun mata Cakra yang jeli mampu menangkap, sehingga koin yang meluncur ke arahnya bisa di tangkap menggunakan giginya, bahkan Cakra mengembalikan koin itu menggunakan daya dorong tiupan mulutnya.


Koin itu meluncur dari arah samping ki Singa Lodro, dengan sedikit memundurkan tubuhnya koin itu bisa di hindari ki Singa Lodro dan terus melaju menembus meja kayu jati yang tebal.


Ki Singa Lodro langsung meloncat menerobos atap rumahnya mencari orang yang telah lancang memasuki wilayahnya.


Braaaak.


Tubuh besar itu menerobos atap dan mendarat di atas atap dengan ringan tanpa menimbulkan suara.


Ki Singa Lodro dan Cakra kini berhadap hadapan di atas atap mereka saling tatap mengukur ketinggian kemampuan lawannya masing masing.


" Sampai saat ini belum seorang pun berani kurang ajar menginjakkan kakinya di tempat ini, kau sekarang malah berani menginjak injak kepalaku,, " ucap Singa lodro dengan suara yang berat menekan lawan yang ada di depannya.


" Sebutkan namamu,,! jangan sampai nanti kuburan mu tidak aku namai nisannya."


" Tidak perlu repot repot membuatkan ku kuburan, buatkanlah kuburan untuk kau pakai sendiri hari ini, karena aku belum punya rencana untuk mati di tempat ini,, " ucap Cakra dengan tenang.


" Kurang ajar,,, biar ku makan tubuhmu itu jika itu maumu."

__ADS_1


Ki Singa Lodro menyiapkan kuda kudanya, rambutnya yang kaku dan mengembang itu semakin kaku, Singa Lodra menggerakkan kepalanya ke depan, dari kepalanya melesat beberapa helai rambut.


Craaas


Craaaaas


Craaaaaaaas.


Cakra yang sudah siap dengan serangan lawan telah menghindari serangan itu dengan meloncat lincah menggunakan jurus langkah kilat menapak angin sehingga hujan rambut itu bisa di hindari.


Rambut yang kaku itu menembus atap genteng tanah dengan mudah, menandakan serangan rambut itu tidak bisa di pandang remeh.


Merasa serangannya tidak berarti apa apa terhadap lawan, Singa Lodro merubah serangannya, dia mengirimkan tendangan kaki kanannya, tendangan yang cepat itu mampu di hindari Cakra, namun Singa Lodra tidak mau melepas lawannya, dia terus mengejar kemanapun Cakra menghindar.


Singa Lodro semakin memperhebat serangannya, pukulan pukulan serta tendangan Singa Lodro mulai mendekati tubuh Cakra walau belum bisa mengenai secara telak.


Wuuuus.


Singa Lodro mengirim tendangan yang mampu di hindari Cakra dengan bergerak ke kiri, namun hal itu memang yang di tunggu Singa Lodro karena serangan kakinya tadi memang bertujuan menggiring Cakra untuk bergerak ke kiri, sehingga saat posisi Cakra sedikit di kanan lawan, Singa Lodro mengirimkan pukulan tangan kanannya ke arah wajah Cakra.


Merasa tidak sempat menghindar, Cakra mencoba menghadang pukulan itu dengan lengan kirinya.


Duuuuuuk.


" Ha ha ha, bagaimana bocah, apa kau mau menyerah saja,,? "


Cakra segera bangkit dan berdiri menghadap Singa Lodro yang masih berada di atas atap.


" Jangan harap aku menyerah karena aku belum mengeluarkan seluruh kemampuanku,, " desis Cakra.


" Kalau begitu ku bunuh kau,, " seru Singa Lodro mengambil kapak yang tersampir di pinggangnya, kapak itu di pegang dengan kedua tangan di angkat keatas kepala, dia meloncat bersiap menebas kepala Cakra.


Wuuuuuuuus..


Traaaaaang.


Cakra menangkis tebasan kapak itu dengan tombak bayu angkasa di kedua tangannya.


Singa Lodro sedikit terkejut karena tadi lawannya tidak membawa tombak, namun kini tiba tiba di tangan Cakra sudah tergenggam Tombak, yang membuat Singa Lodro panik adalah serangan kapak yang kuat itu tidak mampu mendesak Cakra, bahkan daya dorong tangkisan itu yang membuat Singa Lodro terpental mundur satu langkah.


" Bagaimana Singa Lodro, sudah cukup kah kau berkenalan dengan tombak bayu angkasa milik ku ini ,,? " tanya Cakra sambil mengulas senyum menekan mental lawan.

__ADS_1


Memang harus di akui Singa Lodro jika tombak di tangan lawannya sangat kuat dan berbahaya, namun dirinya sebagai ketua kelompok Singa Lodro tidak mau terlihat lemah di hadapan lawannya yang di anggap masih bocah ini.


Dengan Kapak di tangannya, serangan Singa Lodro semakin berbahaya, hawa dingin dari tebasan kapaknya menandakan kuatnya tenaga dalam lawan.


Tapi dengan tombak bayu angkasa, Cakra mampu meredam setiap serangan kapak Singa Lodro, bahkan sambaran angin yang di keluarkan oleh tombak bayu Angkasa lebih besar, sehingga dampak serangan Cakra makin terasa.


Dua bayangan yang sedang bertarung malam itu bergerak dengan cepat dan dahsyat, arena pertarungan yang awalnya masih rapi kini sudah terlihat porak poranda, benda benda banyak yang hancur, pohon pohon bertumbangan dan tanah yang menjadi lembek seperti baru di injak injak kawanan kerbau.


Denting beradunya dua senjata yang menciptakan percikan bunga api kadang terlihat, pertarungan masih imbang keduanya belum bisa menekan lawan, namun karena tubuh muda Cakra masih kuat sehingga Cakra masih dengan leluasa meladeni serangan lawan, begitu juga Singa Lodro, walau tenaganya mulai menurun namun pengalaman bertarungnya berada di atas Cakra.


Semalaman dua orang itu bertarung, tidak ada satu pun yang berani ikut campur, mereka semua hanya melihat pertarungan itu dari jarak jauh takut jika terkena serangan nyasar.


Singa Lodro merasa harus segera mengakhiri pertarungan itu jika tidak ingin kehabisan tenaga, akhirnya dia menggunakan jurus jurus pamungkas yang di milikinya.


Cakra mengimbangi jurus jurus pamungkas lawan, serangan tombaknya sekarang cukup berbahaya, sambaran angin yang di keluarkan pun cukup besar pengaruhnya, sehingga kadang saat Singa Lodro meloncat mundur akibat benturan tenaga dengan Cakra, tubuhnya limbung karena pengaruh sambaran angin tombak bayu angkasa, hal ini di manfaatkan sebaik baiknya oleh Cakra.


Saat tubuh Singa Lodro masih di udara karena terpental oleh benturan dua tenaga dalam, Cakra yang sudah menjejakkan kakinya di tanah langsung meloncat ke arah tubuh Singa Lodro.


Kuatnya angin sambaran tombak bayu angkasa membuat tapak kaki Singa Lodro yang menapak tanah tidak sempurna sehingga dia sempoyongan dan saat itu Cakra menusukkan ujung tombaknya yang lancip ke dada Singa Lodro.


Karena posisi Singa Lodro yang tidak sempurna membuat dia terlambat menghindari tusukan tombak itu.


Awalnya tombak itu hanya sedikit masuk ke tubuh lawan seperti membentur tembok baja, namun dengan sekuat tenaga Cakra menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tombak bayu angkasa.


Semakin besar tenaga dalam yang tersalur semaki mudah pula tubuh yang awalnya kebal itu bisa tertembus.


Claaaaaap.


Aaaaaaaakkh.


Tombak itu tertancap sampai ke jantung lawan, kemudian Cakra memutar tombak itu dan menariknya.


Luka yang di akibatkan oleh tusukan tombak itu sangat mengerikan, bahkan jantungnya ikut tertarik keluar sehingga ambruk lah tubuh yang di bangga banggakan oleh Singa Lodro.


Melihat terbunuhnya Singa Lodro, dari dalam rumah Singa Lodro melesat sebuah bayangan dari arah belakang sehingga larinya bayangan itu tidak di ketahui oleh Cakra.


Sedangkan para anak buah Singa Lodro yang tinggal sebelas itu segera mengeroyok Cakra.


Cakra yang berniat menghancurkan kelompok perampok Singa Lodro itu tidak menahan kekuatannya lagi, dia sudah meladeni pengeroyoknya dengan membabi buta, satu persatu anak buah Singa Lodro bertumbangan di tanah meregang nyawa.


Sampai fajar muncul di ufuk timur, para anak buah Singa Lodro telah tewas dengan tubuh yang tidak berbentuk lagi.

__ADS_1


Cakra segera melihat ke dalam rumah, namun pusaka patung garuda emas telah tidak berada di tempatnya, kemudian Cakra memeriksa di setiap ruangan namun hasilnya sia sia.


__ADS_2