
Pasukan yang di pimpin Paman Jolo Wojo semakin dalam masuk ke tengah hutan Gondo Mayit, putri Kencana Sari yang sudah paham tempat yang akan di tuju kini menjadi penunjuk arah bagi pangeran Jati dan pasukannya.
" Apakah masih jauh dinda,,, ? " tanya pangeran Jati kepada putri Kencana Sari.
" Tidak pangeran, tidak sampai malam kita sudah sampai ke tempat yang kita tuju, " jawab putri Kencana Sari.
Selama perjalanan ini pangeran Jati Kusuma selalu berdampingan dengan putri Kencana Sari, mereka berbincang dengan berbagai hal sehingga perjalanan panjang itu tidak terasa melelahkan.
" Kenapa kakang Cakra belum kembali ya,, " lirih putri Kencana Sari terdengar oleh pangeran Jati.
Pangeran Jati mengerutkan dahinya karena dari wajah putri Kencana Sari yang ayu itu terlihat benar kekhawatirannya kepada Cakra.
" Apakah dinda sudah lama mengenal Cakra,,? " tanya Pangeran Jati.
Mendengar pertanyaan itu putri Kencana Sari terkejut, namun sebentar dia menyembunyikan keterkejutan hatinya dengan tersenyum.
" Tidak lama, dia saat itu menolong aku yang di serang prajurit Selo Cemeng,, " jawab putri Kencana Sari singkat karena tidak ingin salah menjawab.
Pangeran Jati sebenarnya ingin mengetahui lebih banyak tentang hubungan putri Kencana Sari dan Cakra, namun di urungkan setelah melihat ke angkasa Cakra terbang rendah di sana.
" Syukurlah kakang Cakra tidak apa apa" ucap putri Kencana Sari di dalam hati.
" Cakra kenapa pesona mu begitu luar biasa, aku merasa jauh dari padamu, kau sosok sempurna yang tidak tergantikan di hatiku,, " suara hati putri Kencana Sari melamunkan laki laki pujaan hatinya.
Saat putri Kencana Sari melamun, pangeran Jati juga sibuk dengan pikirannya sendiri tentang pengaruh Cakra yang sangat kuat, tidak hanya sakti mandraguna namun dia sangat pandai mengatur siasat dan kenegaraan.
Tidak terasa mereka telah sampai di depan sebuah gua yang dulu di gunakan Cakra menyimpan harta, mereka segera menyiapkan tempat istirahat seadanya karena mereka masih lelah dari perjalanan.
****
Sangga Bhumi yang duduk di singgasana pada siang itu begitu murka, ini di sebabkan adanya laporan dari prajurit bahwa Datuk sesat kini sedang terluka dalam cukup parah, kini Datuk sesat kembali ke jurang maut untuk menyembuhkan diri, dia tidak habis pikir ternyata di pihak lawan ada orang sakti yang mampu melukai datuk sesat.
" Ampun gusti Sangga Bhumi, ada utusan dari kerajaan Selo Cemeng ingin menghadap,, " lapor seorang prajurit.
Mendengar laporan itu Sangga Bhumi terkejut pasalnya dia sudah lama tidak melaporkan kondisi Gading Padas, mungkin mereka ingin menanyakan hal itu.
__ADS_1
Dari jauh terlihat Senopati Abinaya telah datang di iringi pasukan khusus nya.
Sangga Bhumi segera berdiri menyambut kedatangan senopati Abinaya.
" Selamat datang senopati,, bagaimana perjalananmu tadi,,? " tanya Sangga Bhumi.
" Lancar lancar saja, siapa yang berani berbuat ulah dengan kami, apa ingin aku ***** ,,? " jawab senopati Abinaya sombong.
" Bagaimana keadaanmu Sangga, aku dengar kau tengah kesulitan menghadapi perusuh yang ada di sini, apa kerjaan mu hanya tidur dan bersenang senang dengan perempuan saja sehingga perusuh yang hanya segelintir saja tidak bisa kamu atasi,,,? " tanya senopati Abinaya yang membuat hati Sangga Bhumi panas di ejek seperti itu.
" Apakah karena perusuh itu sekarang Gading Padas tidak mengirim upeti kepada Selo Cemeng,,? atau justru upeti itu kau gunakan untuk foya foyamu bersama para gadis yang ada di sini,,? " belum sempat Sangga Bhumi menjawab, senopati Abinaya memberondong pertanyaan yang menyakitkan hati.
" Maaf senopati, kita memang dalam keadaan sulit, banyak pasukan pemungut upeti kepada rakyat telah di habisi oleh para perusuh dan hasil upetinya di rampas oleh mereka, jadi kami belum bisa mengirim upeti kepada kerajaan Selo Cemeng,, " jawab Sangga Bhumi berusaha tenang walau di dalam hatinya bergemuruh amarah yang siap meledak, jika yang ada di hadapannya bukan utusan dari Selo Cemeng mungkin sudah dari tadi dia habisi.
" Sesungguhnya raja Danujaya sudah cukup bersabar dengan keadaan ini, namun ini jika di terus teruskan akan menjadi contoh bagi wilayah lain untuk tidak menyetorkan upeti dengan dalih yang sama, jadi raja Danujaya memerintahkan untuk mengambil alih pimpinan di Gading Padas ini,,, " jelas senopati Abinaya.
Mendengar itu Sangga Bhumi menjadi kalut, pikirannya mencari alasan untuk mempertahankan posisinya.
" Saya minta kesempatan sekali lagi senopati, saya akan segera menyelesaikan para perusuh sehingga tidak ada lagi yang akan mengganggu pengambilan upeti,, " ucap Sangga Bhumi.
" Sampai kapan kita harus memberi waktu kepada kamu,, "
" Dua purnama lagi senopati akan menerima berita kehancuran para perusuh,, " janji Sangga Bhumi.
" Baiklah kalau begitu, namun atas perintah raja Danujaya, mengingat biaya yang di keluarkan kerajaan Selo Cemeng untuk Gading Padas sangat besar, sementara kami akan menarik sebagian prajurit yang ada di sini, sebagian lagi harus menggunakan biaya dari Gading Padas sendiri, di waktu dua purnama itu jika kamu tidak mampu menumpas perusuh itu maka kalian harus bersiap meninggalkan kedudukan mu." ancam senopati Abinaya.
Senopati Abinaya segera meninggalkan pendopo Gading Padas, dia segera kembali ke kerajaan Selo Cemeng di kawal pasukan khususnya.
Setelah senopati Abinaya pergi, Sangga Bhumi sangat murka, dia melampiaskan amarahnya dengan memukul meja di dekatnya hingga hancur berkeping keping, kalau sudah seperti ini tidak ada seorang pun yang berani berkata kata.
***
Pagi di hutan Gondo Mayit, setelah semalam beristirahat, mereka kini tampak segar dan bugar, aktifitas pagi menyiapkan makanan bersama sama telah hampir selesai, pangeran Jati sengaja selalu melakukan makan bersama sama untuk menumbuhkan ikatan batin dan rasa kekeluargaan diantara para prajurit sehingga mereka semua bisa saling melindungi dan menghormati.
Saat semua telah berkumpul untuk makan bersama, mereka dikagetkan dengan datangnya seorang prajurit anak buah dirga yang bertugas menyusup ke kerajaan Gading Padas, dia semalam langsung pergi dari Gading Padas untuk menuju hutan Gondo Mayit setelah mendapatkan informasi yang sangat penting.
__ADS_1
Dia segera di hadapkan kepada pangeran Jati Kusuma, kebetulan di situ ada Cakra, paman Jolo Wojo, ki Harjo, ki Adirojo, ki Sarjo, putri Kencana Sari dan kedua paman Rejo dan Suro.
" Ampun pangeran, ada seorang prajurit penyusup yang menghadap ingin menyampaikan kabar dari Gading Padas,, " lapor prajurit itu.
" Kapan kamu sampai kesini ,,? " tanya pangeran Jati.
" Baru saja pangeran,, "
" Kalau begitu, istirahatlah sejenak, makan lah bersama kawan kawanmu, nanti setelah makan silahkan laporkan apa yang telah kamu ketahui,,! " perintah pangeran Jati.
Prajurit itu segera undur diri bergabung dengan kawan kawan prajurit lainnya.
Setelah mereka selesai makan, prajurit itu menghadap pangeran Jati lagi.
" Apa yang akan kamu laporkan,,? " tanya paman Jolo Wojo.
" Ampun, hamba datang kemari karena hamba mendapat kabar bahwa kemaren seorang utusan dari kerajaan Selo Cemeng telah menarik separuh pasukannya dari Gading Padas, mereka juga menghentikan biaya perang ke Gading padas sehingga Sangga Bhumi harus membiayai sendiri prajuritnya, karena berhentinya biaya dari Selo Cemeng itu membuat sebagian tokoh pendekar golongan hitam yang awalnya bergabung karena harta, kini telah memisahkan diri dari Sangga Bhumi,, " lapor prajurit itu.
" Karena biaya yang besar pula para warga yang awalnya di latih kini sebagian di pulangkan untuk menggarap sawah yang selama ini terbengkalai agar bisa menutupi biaya perang yang besar,, " lanjut prajurit itu.
" Utusan kerajaan Selo Cemeng juga memberi waktu dua purnama kepada Sangga Bhumi, jika dia tidak mampu memulihkan keadaan, maka mereka akan mengambil alih Gading Padas dari Sangga Bhumi. " tutup prajurit itu.
" Ini kesempatan sangat bagus, bagai mana pendapat paman paman yang ada di sini,,? "ucap pangeran Jati.
" Bagaimana pun keadaan mereka saat ini sangat lemah, kita harus memanfaatkan ini,, " jawab ki Harjo.
" Benar, tapi kapan kita bisa bergerak,,? " tanya ki Adirojo.
Mendapati pertanyaan itu, mereka semua sibuk menimbang kesiapan mereka, karena bagai manapun meski kekuatannya telah berkurang namun Sangga Bhumi masih terlalu kuat.
" Akan lebih baik kita bergerak secepatnya, sebelum kerajaan Selo Cemeng mengambil kekuasaan di sana kita harus sudah mendudukinya, mulai hari ini kita harus sudah bersiap siap, kita harus segera membuat rencana yang matang ,, " usul Cakra setelah semua yang ada di situ terdiam cukup lama.
" Baiklah , kita siapkan pasukan kita, satu purnama lagi kita serbu mereka,,! " ucap pangeran Jati dengan semangat.
Paman Jolo Wojo segera berdiri mengumumkan keputusan itu, gegap gempita para prajurit menyambut seruan itu dengan semangat membara. mereka tidak sabar untuk segera merebut Gading Padas dari tangan orang orang bengis.
__ADS_1