PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Desa Ringin Anom 1


__ADS_3

Di Pendopo Gading Putih Sangga Bhumi memimpin pertemuan pada pagi hari itu, dia membahas berbagai hal yang terjadi akhir akhir ini, termasuk terbunuhnya Dewi Suji orang yang dekat dengannya.


" Apa pendapat kalian tentang terbunuhnya Dewi Suji dengan kawan kawannya, siapa dalang di balik terbunuhnya Dewi Suji, apakah ada kaitannya dengan terbunuhnya Ki Seto,,? tanya Sangga Bhumi kepada yang hadir di situ.


" Ampun gusti, menurut informasi yang saya dengar, dari luka pada ki Seto dan Dewi Suji bisa di pastikan orang yang melakukan adalah orang yang berlainan, namun kita belum tau apakah mereka punya hubungan atau bekerja sendiri sendiri, ini semua tidak bisa di biarkan karena akan merusak mental para prajurit maupun para pendekar yang bergabung dengan kita, kita semua harus memperketat penjagaan yang ada di kota raja ini gusti,, " jelas penasehat yang berusia sepuh bernama Ranu Setya.


"Benar apa yang di sampaikan paman Ranu, selama ini belum ada kelompok yang berani berurusan dengan kita, namun baru kali ini ada yang berani dengan kita, bisa jadi mereka adalah kelompok pemberontak yang ingin merebut kekuasaan kita,, " lanjut panglima Senggono.


" Kalau memang begitu yang terjadi, aku akan memadamkan pemberontakan itu sebelum mereka sampai di sini, aku pastikan akan membumi hancurkan mereka sampai ke akar akarnya,, " geram Sangga Bhumi.


" Bagaimana perkembangan pasukan yang kau bentuk senopati Janiar,,? " tanya Sangga Bhumi.


" Sejauh ini, pasukan yang hamba latih sudah menampakan hasil yang bagus, mereka sudah memahami taktik dan strategi dalam bertarung, mereka juga mampu menerapkan formasi formasi dalam berperang cukup baik,, " lapor senopati Janiar memberi laporan.


" Bagus kalau begitu, terus latih mereka sehingga mereka bisa bertempur dengan baik, aku ingin menjadikan para pemberontak itu menyesal karena telah memerangi saudara mereka sendiri,, " ucap Sangga Bhumi sambil tersenyum sinis.


Di tengah tengah perbincangan mereka, seorang prajurit penjaga menghadap membawa kabar salah seorang lurah prajurit telah kembali dalam keadaan terluka parah.


" Hadapkan dia kesini,,,! " perintah Sangga Bhumi.


Lurah Prajurit ki Sentono di bopong masuk ke dalam pendopo karena keadaannya tidak memungkinkan untuk berjalan, dia di baringkan di tengah pendopo itu.


"Apa yang terjadi denganmu, kenapa kau kembali dalam keadaan seperti ini,,? tanya gusti Sangga Bhumi.


" Ampun gusti, kami telah di serang oleh sekelompok orang, mereka menyergap kami di tepi hutan Gondo Mayit, semua pasukan kita telah binasa dan harta hasil pajak yang kita bawa telah di rampas mereka,, " jawab Sentono terbata bata menahan sakit di tubuhnya.


Wuuuushhh.. aaakkhh..


"Dasar tidak berguna,, " seru Sangga Bhumi sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Sentono yang mengakibatkan Sentono langsung lebur menjadi abu karena terkena jurus Segoro Wisa.

__ADS_1


"Senopati Janiar, siapkan dua ratus pasukanmu,,! Kolo Srenggo, pimpin lima puluh pendekar dari kelompok elang ireng menyertai senopati Janiar menuju hutan Gondo Mayit,,! tumpas mereka jangan ada yang tersisa,,! perintah Sangga Bhumi.


" Siap gusti,, " ucap serempak oleh senopati Janiar dan Kolo Srenggo.


***


Di depan sebuah gua di tengah hutan Gondo Mayit, Cakra dan ke empat temannya tengah duduk melingkari perapian sambil menikmati ayam bakar, mereka membicarakan langkah selanjutnya yang akan di lakukan, sejauh ini mereka sudah dua kali menggagalkan pasukan Selo Cemeng memeras warga desa, beberapa harta yang di bawa pasukan itu mereka kumpulkan untuk nantinya menjadi biaya perjuangan mereka.


"Bukankah sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kakang agar segera bisa bergabung dengan pangeran Jati Kusuma,," usul putri Kencana Sari.


" Belum waktunya putri, aku masih menunggu pasukan yang mereka kirim, aku yakin mereka akan menuju kesini, kita akan lebih mudah melumpuhkan mereka di hutan ini dari pada saat kita bertemu di jalan nantinya,,, " jelas Cakra.


" Benar yang di ucapkan Cakra, apa lagi sekarang kita membawa harta benda yang agak berat jika di bawa,, "tambah paman Suro.


Mereka kemudian melanjutkan perbincangan itu hingga larut malam, putri Kencana Sari dan Nyai Selasih telah berjalan masuk gua untuk beristirahat, sedangkan paman Suro dan paman Rejo telah mendengkur di bawah pohon di hutan itu, Cakra memutuskan bersemedi untuk memulihkan tenaganya.


***


Sambil berjalan mereka juga menjarah desa desa yang mereka lewati sehingga banyak orang yang mengungsikan harta bendanya sebelum pasukan itu lewat.


"Ayoo berjalan lebih cepat, jangan biarkan para perusuh itu hidup lebih lama,,! " teriak senopati Janiar.


Mereka berjalan menyusuri jalan dengan tergesa.


***


Cakra terbang mengelilingi wilayah hutan Gondo Mayit, dia memperhatikan semua keadaan dengan teliti, kadang dia harus turun jika mau melewati kawasan desa untuk melihat kondisi yang terjadi di desa itu.


Di desa Ringin Anom itu Cakra memutuskan mampir ke kedai yang sederhana sambil mencari berita, di dalam kedai itu ada beberapa pedagang yang singgah dari perjalanan di luar desa Ringin Anom itu, mereka bercerita tentang keadaan desa desa lainnya.

__ADS_1


" Saya dengar dari temanku di pasar kemaren, ada sepasukan dari Gading Padas yang mengarah ke hutan Gondo Mayit, kemungkinan mereka akan melewati desa ini, " ucap seorang pedangan kain yang berbicara dengan pemilik kedai.


"Benarkah itu,,? " tanya pemilik kedai.


" Iya, yang aku dengar mereka menjarah desa desa yang mereka lewati, jadi bersiap siaplah kau memindahkan dulu hartamu agar tidak ikut di jarah oleh mereka,, " ucap pedagang kain itu lagi.


" Berapa lama lagi mereka sampai di sini,, "


" Yang aku tahu mereka baru saja melewati desa Branjangan, mungkin dua hari lagi mereka akan sampai di sini, " jawab pedagang kain itu.


Mendengar kabar itu Cakra merasa geram karena pasukan itu selalu menebar kerusakan di mana mana, namun juga senang karena pancingannya telah berhasil.


Cakra segera menyelesaikan makannya dan pergi ke hutan Gondo mayit untuk mengabarkan informasi ini kepada kawan kawannya.


" Terus apa rencanamu sekarang Cakra,,? apakah kita tunggu saja di sini,,? tanya paman Suro.


" Tidak paman, sebaiknya kita mencegat mereka sebelum masuk ke desa Ringin Anom, aku tidak ingin ada desa yang menjadi korban penjarahan mereka lagi, sebelum itu aku akan mengawasi mereka ,, " jawab Cakra.


" Keputusan yang bijak Cakra,,, " ucap paman Rejo.


" Sebaiknya kita bergerak sekarang Cakra, agar kita tidak ke dahuluan mereka, " usul putri Kencana Sari tidak sabar.


" Baiklah sore ini kita berangkat, aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk mencegat mereka nantinya," jawab Cakra.


" Kau luar biasa Cakra, mampu membuat rencana sebaik ini, kau pun menguasai medan yang akan kau gunakan untuk bertempur. " puji Nyai Selasih jujur.


" Ini semua atas jerih payah kita semua Nyai,, " ucap Cakra merendah.


Mendengar ucapan Cakra yang merendah, makin kagumlah putri Kencana Sari kepada Cakra, dia merasa Cakra adalah pemuda yang sempurna untuk menjadi pendampingnya.

__ADS_1


__ADS_2