PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Melacak Jejak Pembunuh


__ADS_3

Dua sosok kakek berjalan beriringan di jalan menuju istana Selo Cemeng, dua kakek itu memakai baju berwarna hitam yang hampir mirip, namun salah satu dari mereka membawa tongkat yang meliuk liuk layaknya tubuh ular berwarna merah, tongkat itu sebuah pusaka yang sangat ampuh, pusaka yang selama ini menebar kekacauan di belahan bumi di mana tongkat itu berada, tongkat naga merah sudah tidak asing lagi di dunia persilatan karena siapapun yang memilikinya akan mampu menguasai dunia persilatan, kakek pemilik tongkat naga merah itu bernama ki Sastro yang berjuluk kakek tongkat naga merah sedangkan kakek yang satunya di pinggangnya terlilit lempengan baja tipis berbentuk lingkaran bergerigi, uniknya lempengan lempengan baja itu saling merekat satu sama lain seperti ada magnet yang menyatukan mereka, sehingga lempengan lempengan itu bisa melingkar di pinggang seperti sabuk, namun lempengan lempengan itu bisa menjadi senjata yang mematikan jika di butuhkan, karena sifat dari lempengan itu yang bisa di lempar dan bisa kembali lagi ke pemiliknya karena adanya daya tarik di tubuh penggunanya dan karena senjata itulah kakek pengguna lempengan baja itu yang sebenarnya bernama ki margo namun lebih dikenal dengan kakek sabuk baja.


Dua kakek itu berjalan dengan santai, namun walau mereka terlihat melangkah dengan pelan namun perjalanan itu cukup cepat, orang lain yang berjalan membutuhkan waktu sampai sepeminuman teh namun dua kakek ini hanya membutuhkan waktu lima tarikan napas orang normal, hal ini menunjukkan begitu sempurnanya jurus meringankan tubuh yang mereka miliki, bahkan walau terlihat kaki mereka melangkah menginjak tanah namun yang sebenarnya terjadi kaki mereka hanya menyentuh sedikit di tanah layaknya terbang, ini terbukti dengan tidak adanya bekas injakan kaki di rumput yang mereka injak.


Mereka memasuki kota tanpa bercakap dan bersuara, pancaran mata mereka menyorotkan kebengisan sehingga membuat siapapun yang berpapasan dengan mereka segera menghindar menepi dari jalan itu.


Tidak lama mereka telah berdiri di depan gerbang istana yang tertutup dan di jaga oleh para prajurit.


" Berhenti,,,! ada perlu apa kalian kesini,,,? " tanya prajurit penjaga sambil menyilangkan tombak panjangnya.


" Kami ingin masuk ke sana. "


" Tidak bisa, ini istana, tidak sembarang orang boleh masuk ke sana.


" Jadi kau menganggap aku ini orang biasa,,,?, dasar prajurit bodoh, raja kalian saja jika aku suruh datang kemari, pasti dia akan datang, kenapa sekarang kalian yang bodoh ini berani menghadang aku,,,?" bentak kakek tongkat naga merah.


Mendengar raja mereka di hina, naik pitam lah mereka, mereka tegas untuk tidak mengijinkan dua kakek itu untuk masuk.


" Kami tidak peduli, yang pasti kalian harus menyingkir dari sini,, !" bentak prajurit itu mengusir dua kakek yang datang.


" Kalau aku memaksa bagaimana,,,? " jawab kakek sabuk baja.


Mendengar itu prajurit penjaga dengan temannya berniat mendorong mundur dua kakek itu, mereka menyangka dua kakek yang terlihat lemah itu akan mudah di jatuhkan.


Braaaaaaak.


Bukan tubuh dua kakek itu yang terjatuh, justru tubuh seorang prajurit yang terlempar ke belakang menabrak pintu gerbang yang tebal sehingga pintu itu jebol, padahal kakek sabuk baja hanya menyentilkan jari telunjuknya di dahi orang itu, namun hasilnya luar biasa, prajurit itu tewas seketika dan pintu gerbang jebol.


Mendengar keributan itu, satu regu prajurit datang menghadang, mereka tidak akan membiarkan dua kakek ini untuk masuk.


Kakek sabuk baja tersenyum dingin melihat satu regu yang menghadang mereka.

__ADS_1


" Biarkan aku melemaskan otot otot ku kakang,, " ucap kakek sabuk baja.


Kakek tongkat naga merah tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya sambil teesenyum.


Tanpa buang waktu, kakek sabuk baja sudah meraih dua lempeng baja.


Siiiiiiiiing


Siiiiiiiiiiiiing.


Tanpa mampu di lihat mata, tangan kakek sabuk baja sudah melemparkan dua lempengan baja itu, dua lempengan baja berbentuk lingkaran bergerigi itu berdesingan diantara para prajurit yang menghadang.


Craaaaas


Craaaaaas


Craaaaaaas.


Aaaaaaaaaaakk.


Belum selesai mereka ingin menghindar dan menghalau lempengan bergerigi itu, lempengan lain sudah menerjang, kini lempengan itu mengarah ke perut perut para prajurit.


Craaaaaas.


Bertumbangan lah para prajurit yang menghadang itu tanpa sisa.


...


Pagi di pendopo istana Selo Cemeng, pertemuan yang di pimpin oleh raja Mangun Gada baru di mulai, dia mendengarkan setiap laporan laporan yang masuk mengenai kas kerajaan maupun tentang keamanan terusik dengan adanya keributan di pintu gerbang.


Raja Mangun Gada memerintahkan senopati Ekata untuk melihat, namun sebelum senopati Ekata undur diri, tiba tiba di ruangan itu telah berdiri dua kakek berbaju hitam.

__ADS_1


Semua yang ada di ruangan itu terkejut karena mereka semua tidak merasakan kehadiran dua kakek berbaju hitam itu, mereka semua menaksir jika kesaktian dua kakek itu sangat tinggi sehingga mereka semua waspada.


Namun berbeda dengan raja Mangun Gada, dia segera berdiri memberi hormat kepada kedua kakek yang baru datang.


" Selamat datang guru dan paman guru, maaf jika aku tidak mengetahui kedatangan guru berdua sehingga aku tidak sempat menyambut. "


" Ah tidak apa apa murid ku, tidak perlu kau risaukan karena prajurit mu sudah menyambut kami di depan dengan meriah,, " ucap kakek tongkat naga merah sambil terkekeh sangking senangnya.


Mengetahui yang hadir adalah guru dari raja Mangun Gada, semua punggawa yang ada di situ segera berdiri memberi hormat.


Raja Mangun Gada mempersilahkan kedua guru dan paman gurunya untuk duduk di kursi yang di sediakan.


" Maafkan kami nak mas, kami datang terlambat sehingga kami tidak bisa membantumu dulu waktu merebut kekuasaan di sini,, " ucap kakek tongkat naga merah setelah duduk di kursinya.


" Ah tidak apa apa guru, dengan petunjuk petunjuk guru sudah cukup membantu merebut kekuasaan dari raja bodoh itu. "


" Ha ha ha, benar,,,,,,,, benar sekali katamu nak mas. "


" Tapi saya khawatir kenapa guru berdua belum sampai ke sini,,,? bahkan keberadaan guru pun tidak ada kabarnya,, " ucap raja Mangun Gada.


" Ha ha ha,,,,,tiga purnama lalu saat kami menuju kesini, kami mampir dulu ke kawan lama kami untuk menagih hutang,, " jawab kakek tongkat naga merah.


" Menagih hutang ,,,? kenapa tidak menyuruh saya saja guru,,,,? kenapa harus guru sendiri yang menagih,,,? " tanya raja Mangun Gada.


"Ah tidak apa apa, apalagi dia sudah membayar lunas hutangnya, namun kami terluka dalam cukup parah sehingga kami harus semedi di sebuah gua untuk memulihkan luka kami, karena itulah kami baru sampai di sini. "


Raja Mangun Gada hanya terdiam mendengar penjelasan dari gurunya, dia paham jika yang di maksud gurunya adalah hutang nyawa dan gurunya mampu membunuh orang yang di maksud memiliki hutang itu.


Karena guru raja Mangun Gada sudah sampai, maka raja Mangun Gada segera mengangkat gurunya sebagai penasehat dan kakek sabuk baja paman gurunya menjadi patih di kerajaan Selo Cemeng yang masih kosong itu, juga ada alasan lain mengangkat guru dan paman gurunya sebagai penasehat dan patih di sana adalah agar posisinya menjadi kuat, dia yakin dengan kesaktian guru dan paman gurunya, tidak akan ada orang yang berani mengusik kedudukannya.


****

__ADS_1


Cakra duduk di sebuah kedai yang cukup ramai, dia berusaha mencari informasi tentang jurus jurus yang dia ketahui pemiliknya adalah pembunuh eyang gurunya, namun tidak banyak informasi yang dia dapat, hanya sebuah kesimpulan yang dia dapatkan bahwa dari bekas luka dan kerusakan di tempat eyang gurunya di bunuh,pembunuh eyang gurunya adalah dua orang yang memiliki kesaktian seimbang dan terbiasa bertarung berpasangan sehingga pengalaman bertarung mereka sangat dahsyat saat bertahan maupun menyerang lawan.


Cakra tidak akan menyerah mencari pembunuh eyang gurunya, bukan untuk balas dendam namun mencegah terjadinya kerusakan yang diakibatkan oleh pembunuh gurunya dan menghilangkan angkara murka.


__ADS_2