
Di dalam aula kerajaan siluman kera yang luas dan di penuhi hiasan dari janur dan bunga telah banyak yang hadir, mereka terdiri dari pimpinan prajurit dan sebagian warga kerajaan yang ingin menyaksikan acara penobatan raja yang baru.
Diantara mereka duduk pula Kenanga yang sudah menempati tempat duduknya.
" Acara penobatan akan segera di laksanakan, " teriak prajurit penjaga membuat semua yang hadir segera bersiap.
Tidak lama, muncul resi Bayushuta yang berjalan di bantu tongkatnya di tangan kirinya tergantung bokor emas yang mengeluarkan asap kemenyan yang menyebarkan aroma harum ke seluruh ruangan itu, di belakangnya berjalan Rewanda Hijau di tengah sedangkan Rewanda Jingga dan Rewanda Putih di samping kiri kanannya, di ikuti Rewanda kuning dan Rewanda Rewanda coklat berjalan mengapit seorang lelaki di tengah yang belum terlihat wajahnya karena tertutup badan kelima kesatria kera, di tambah di belakangnya berjalan panglima Gendono Lanang beserta para senopati di kerajaan itu.
Suasana saat itu terasa sunyi padahal ada ratusan sosok kera yang hadir di aula itu di tambah satu manusia yang terlihat cantik jelita, mereka semua sangat penasaran dengan raja baru yang akan di nobatkan sehingga mereka antusias mengikuti acara itu dengan khidmah.
Resi Bayushutaenghentikan langkahnya, dia kemudian berbalik menghadap rombongan yang ada di belakangnya.
Seketika rombongan itu juga berhenti.
" Dengan ijin Sang Hyang Akaryo Jagad, upacara penobatan raja baru bagi kerajaan siluman kera akan di mulai," ucap resi Bayushuta.
Serentak kesatria kera dan panglima dengan seluruh senopati langsung berlutut, hal ini membuat Cakra yang masih berdiri terlihat oleh seluruh yang hadir di situ, membuat para yang hadir yang awalnya penasaran menjadi terkagum dengan sosok yang berdiri itu, serempak mereka semua ikut berlutut di lantai.
Yang paling bingung di situ adalah Kenanga karena dia tidak menyangka akan secepat itu Cakra diangkat menjadi raja di kerajaan ini, padahal baru kemaren mereka mengajak Cakra ke kerajaan, tapi sekarang sudah mengangkat Cakra menjadi raja, Kenanga bingung apakah dia akan tetap duduk di kursi atau ikut berlutut.
__ADS_1
Di tengah kebimbangan itu, Kenanga di hampiri salah satu senopati.
" Mohon tuan putri ikut maju ke depan mendampingi baginda raja,,! " ujar senopati itu setelah sampai di depan Kenanga.
Kenanga tidak percaya dengan apa yang di dengar, dia menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sosok yang mungkin di tuju oleh senopati itu, namun tidak ada siapa siapa lagi selain dia yang masih duduk di kursi sehingga dia yakin dia lah yang di maksud.
Melihat Kenanga bingung, Cakra memandang gadis itu, kemudian menganggukkan kepala untuk meyakinkan gadis itu agar segera maju mendampinginya.
Kenanga kemudian melangkahkan kaki untuk berdiri di samping Cakra, terlihat jika mereka adalah pasangan yang sempurna sehingga membuat decak kagum siapapun yang memandangnya.
Resi Bayushuta kemudian memulai upacaranya, di awali dengan mengasapi seluruh bagian tubuh Cakra dengan asap kemenyan di bokor emas, kemudian menuangkan air dari kendi di kedua tangan dan kaki Cakra sebagai bentuk penyucian diri sebelum mengemban amanah di pundaknya.
Kemudian resi Bayushuta menuntun Cakra bersimpuh untuk di guyur kepalanya dengan air bunga tujuh rupa sebagai bentuk doa kepada sang maha kuasa agar raja baru itu di beri kebijaksanaan dalam memimpin, setiap keputusan yang di ambil selalu mengedepankan kebaikan bagi seluruh alam semesta.
Terakhir Kepala Cakra di pakaikan sebuah mahkota terbuat dari emas yang di hiasi berbagai macam batu mulia, mahkota yang lancip keatas, sebagai bentuk seorang raja selain memiliki tanggung jawab kepada kerajaannya juga memiliki tanggung jawab mengajak seluruh rakyatnya untuk menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, raja di tuntut untuk memberi hak kepada rakyatnya agar bisa beribadah dengan tenang tanpa ada gangguan dan raja harus menyediakan kelengkapan sembahyang bagi rakyatnya.
Kemudian Cakra di persilahkan duduk di singgasananya dengan kenanga duduk di samping kirinya.
" Hidup raja Cakra, hidup raja Cakra, hidup raja Cakra. " gemuruh suara para yang hadir memenuhi ruangan itu, ada semacam harapan jika raja mereka yang baru mampu membawa mereka di puncak kejayaan, suatu harapan yang pantas saja mereka impikan karena mereka adalah kerajaan yang kuat dan kaya raya.
__ADS_1
Cakra berdiri dan mengangkat tangannya, seketika suara gemuruh itu berhenti tinggal keheningan yang menyelimuti ruangan aula itu.
" Semua para rakyatku,, aku tidak menjanjikan kepada kalian untuk bisa memakmurkan negeri ini, aku tidak menjanjikan bisa mengangkat kerajaan ini di puncak kejayaan, namun aku berusaha bersama sama dengan kalian semua untuk bisa berjalan menuju kemakmuran dan kejayaan bersama sama kalian, kita harus menjadi kerajaan yang mampu membuat perubahan di alam ini, mari kita berjuang bersama untuk menyebarkan kedamaian di bumi ini, jika kalian berkenan maka aku sebagai raja kalian akan menjadi pemimpin paling depan dalam perjuangan ini, apakah semua sanggup,,,? "
Dengan semangat membara mereka semua berdiri dan berteriak" Sanggup,,,,,,,,, sanggup,,,,,,,sanggup,,,"
Teriakan ini membuat Cakra gembira kemudian Cakra kembali duduk di singgasananya.
Hidangan hidangan mulai di keluarkan, semua menikmati hidangan itu dengan suka cita.
Di tengah tengah acara itu, Cakra memimpin pertemuan membahas kerajaan ini untuk pertama kali, dia mengembalikan posisi kesatria kera masuk menjadi punggawa kerajaan, dia menunjuk Rewanda Hijau sebagai patih di kerajaan itu dan resi Bayushuta masih menjadi penasehatnya.
Sedangkan ke empat Kesatria yang lain di tunjuk menjadi panglima perang bekerja sama denga panglima Gendono Lanang, dia mengingikan peningkatan kemampuan para prajurit, dia tidak ingin para prajuritnya hanya bertarung mengandalkan kekuatan saja namun juka harus ada strategi sehingga mereka akan di latih bertarung secara bersama sama.
Cakra juga melihat potensi pertanian di wilayah kerajaan itu sehingga Cakra juga mengingikan di bukanya lahan pertanian, di buatnya aliran air yang bisa mencukupi kebutuhan sawah juga menyediakan alat alat persawahan, selain juga menyediakan senjata untuk pertahanan dari serangan kerajaan lain.
Cakra juga berusaha menata wilayahnya menjadi kota dan desa yang rapi tersambung dengan jalan yang nyaman di lewati orang lain, nantinya kerajaan ini akan menjadi kerajaan yang terbuka tidak hanya untuk para siluman namun juga untuk manusia, sehingga mereka harus bersiap agar semua cita cita itu bisa segera di laksanakan.
Malam itu acara di bubarkan karena sudah larut malam, mereka mempersilahkan Cakra dan Kenanga untuk beristirahat di kamar yang di sediakan.
__ADS_1
Kenanga mengira dia di antar ke kamar yang sebelumnya, ternyata dia di antar ke kamar Cakra, hal ini membuat Kenanga terkejut dan lari keluar kamar karena melihat Cakra yang sedang berganti pakaian.
Cakra yang juga tidak tahu menjadi bingung, kemudian dia selesaikan berpakaian dan menyusul Kenanga di luar.