PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Serangan Fajar.


__ADS_3

Fajar menyingsing mengawali hari, semburat cahaya merahnya menghiasi ufuk, Cahaya merah seakan menjadi pertanda hari itu bakal terjadi banjir darah.


Dari tengah perkemahan prajurit Selo Cemeng alat alat raksasa mulai di gerakkan, puluhan orang dengan susah payah mendorong alat itu, sebagian membawa bongkahan bongkahan batu yang cukup besar, saking besar dan beratnya alat yang di dorong sehingga membuat tanah di sekitar nya menjadi bergetar.


" Satu... Dua... Tiga... Dorong...! " teriak komandan pasukan memberi aba aba kepada prajurit agar kompak dalam mendorong.


Riuh lah suasana pada fajar itu sehingga menjadikan para prajurit pengintai di atas benteng menjadi sadar, mereka segera membangunkan teman temannya yang masih terlelap.


Braaaak


Sebuah batu sebesar dua rangkulan orang menabrak benteng, beberapa prajurit yang belum sadar dari tidurnya tertimpa batu itu, sebagian ada yang jatuh dari atas benteng karena kerasnya guncangan akibat benturan batu dan benteng.


Braaaaaak.


Benturan terjadi lagi, kini lontaran batu itu meruntuhkan pucuk benteng sebagai tempat pengintai.


Terjadi lah keributan di dalam benteng itu, sebagian prajurit berlari tidak tentu arah mencari perlindungan dari tetjangan batu, sebagian ada yang melesatkan anak panah walau dengan sasaran yang asal karena musuh belum begitu terlihat karena masih gelap.


Para senopati kini sibuk mengarahkan prajurit agar tidak meninggalkan benteng pertahanan, namun lemparan lemparan batu yang datang membuat mereka menjadi jerih.


Hal ini di manfaatkan oleh prajurit Selo Cemeng,, mereka dengan leluasa mendekati benteng pertahanan itu, mereka dengan cepat memanjat benteng menggunakan tangga, saat itu seorang senopati yang bernama Klampis Ijo mengarahkan pukulan jarak jauh ke arah pintu gerbang benteng.


Duaaaaar.


Pintu itu hancur berkeping keping sehingga terbukalah jalan masuk untuk prajurit Selo Cemeng menyerang.


Ribuan prajurit segera menghambur masuk, namun hal itu tidak di biarkan oleh pangeran Ranu Mulya, pangeran Ranu Mulya memberi perintah pasukan pemanah untuk menyongsong mereka.


Siiiiing


Siiiiiiing


Wuuuushh


Claaaaaphh


Teriakan teriakan prajurit paling depan yang langsung terhenti karena badannya tersungkur dan di injak injak kawannya sehingga harus meregang nyawa akibat tertancap anak panah.


Sriiiingg


Sriiingg.

__ADS_1


Lesatan anak panah sekali lagi mengarah ke kerumunan prajurit yang masuk, namun karena jumlah yang banyak layaknya air bah, pasukan itu mampu menerobos dan menyerang setiap prajurit lawan yang ada di depannya.


Perang tidak bisa dielakkan lagi, dua kubu prajurit telah berhadap hadapan, senjata senjata mereka sudah berkelebatan mencari mangsa agar cepat selesai merampungkan lawannya, mereka sadar jika mereka tidak membunuh pasti mereka sendiri yang akan terbunuh.


" Senopati Mega Reksi bantu panglima Restu Aji menghadang prajurit di atas benteng,,,! "


"Senopati Bajra dan senopati Rangka Wuni pimpin pasukan untuk menghadang prajurit yang masuk ke dalam benteng melalui pintu gerbang,,,! " perintah pangeran Ranu Mulya.


Mendapat perintah itu mereka semua kemudian bergerak melaksanakan perintah pangeran Ranu Mulya.


Dengan pedang yang berkilat Senopati Bajra mengamuk di tengah pasukan Selo Cemeng, dia berusaha menghentikan prajurit lawan masuk lebih dalam, melihat keberanian senopati Bajra, para prajurit yang awalnya surut keberaniannya karena terlalu banyaknya prajurit yang masuk, kini tersulut kembali keberaniannya, mereka dengan kompak menggelar formasi perang bulan sabit, formasi perang yang di gunakan untuk menghalau lawan.


Formasi yang di pimpin Senopati Rangka Wuni ini sangat ampuh, buktinya saat ini lawan bisa tertahan tidak bisa maju lagi, sedangkan pintu gerbang yang terlalu kecil sehingga mereka yang ada di luar belum bisa masuk, bahkan mereka yang memaksa masuk membuat semakin berdesak desakan sehingga sulit bagi mereka untuk bergerak, akhirnya prajurit Gading Padas dengan mudah membantai pasukan lawan.


Senopati Bajra dan senopati Rangka Wuni yang ada di pucuk bulan sabit bersebrangan itu mampu mengendalikan keadaan, walau sebanyak apapun prajurit yang masuk mereka seakan menyerahkan nyawa mereka di ujung pedang prajurit Gading Padas.


Senopati Bajra sering memberi perintah untuk merubah posisi, para prajurit yang sudah kelelahan di barisan depan di pindah ke barisan belakang untuk di ganti oleh pasukan yang masih kuat tenaganya.


...


Di atas benteng pun terjadi pertempuran yang sengit.


Panglima Restu Aji mengerahkan pasukan bersenjata tombak panjang untuk menghadang prajurit lawan yang masih memanjat dan melindungi pasukan pemanah yang membidikkan anak panahnya ke arah ribuan prajurit di bawah.


Panglima Restu Aji sendiri telah berhadapan dengan senopati Abinaya, mereka sudah saling serang dan pertarungan itu cukup berimbang, untung senopati Mega Reksi datang membantu sehingga panglima Restu Aji bisa lebih berkonsentrasi dalam melawan senopati Abinaya.


Pedang panglima Restu Aji dan pedang senopati Abinaya saling berbenturan sehingga menciptakan percikan api, mereka saring terjang dan menyerang di atas benteng yang walaupun sempit namun tidak menjadikan mereka kesulitan bertarung.


Cakra yang pagi itu awalnya bersama romo nya kemudian dia pamit berkeliling, namun saat dia berkeliling agak jauh dia melihat serangan lawan bertubi tubi mengenai benteng pertahanan Gading Padas.


Akhirnya dia melesat terbang keatas untuk menuju ke sumber serangan lawan.


Di tengah perjalanan, sebuah batu besar meluncur kearahnya, sehingga dia memukulkan tangannya.


Duaaaar.


Batu itu meledak dan menjadi butiran kecil yang menghambur ke bawah.


Dia melihat tiga batu meluncur lagi ke arah benteng sehingga dia harus cepat menghadang batu batu itu.


Dengan pedang di tangan kanannya dia meluncur cepat dan mengarahkan pedang ke batu yang meluncur cepat.

__ADS_1


Craaas


Craaas.


Satu batu terpotong potong dan meluncur ke bawah, dua batu lagi.


Wuuuuuushh.


Duaaar.


Telapak tangannya keluar cahaya putih menghantam batu sehingga batu itu meledak menjadi abu.


Satu batu dia kejar dan dia tendang sehingga batu itu membalik ke arah prajurit di bawah.


Dhaaaam


Puluhan prajurit terkena hantaman batu itu.


Cakra segera meluncur ke arah alat alat besar sebelum prajurit selesai menaruh batu untuk di luncurkan.


Craaaasss.


Craaaas


Gubraaaaak.


Sebuah alat pelontar terpotong sehingga jatuh menimpa prajurit di bawahnya.


Cakra Melesat mengarah alat pelontar lainnya, lesatan lesatan anak panah tidak dia hiraukan, dia tetap melaju menebaskan pedangnya untuk meruntuhkan alat pelontar itu.


Ratusan anak panah yang menerjang badannya jatuh berguguran seakan menabrak baja kokoh, kini sudah tiga alat pelontar yang di rusaknya, tinggal dua belas alat lagi yang masih meluncurkan batu batu besar ke arah benteng.


Cakra menggunakan jurus bulu garuda, dia kepak kepak kan sayapnya dengan cepat sehingga dari sayap itu melesat ribuan bulu yang menerjang ke arah prajurit yang menyiapkan batu pelontar.


Duaarr


Duaaaar


Ledakan terjadi di alat pelontar yang paling dekat dengan Cakra.


Wuuuuus..

__ADS_1


Daaaar.


Sebuah pukulan jarak jauh menerpa dada Cakra hingga Cakra terpental tiga tombak dan jatuh ke tanah.


__ADS_2