
Cakra meletakkan tubuh romo nya di ruangan dalam benteng, dia meletakkan telapak tangannya ke dada romo nya, dia alirkan tenaga dalamnya untuk mengurangi luka dalam yang di derita oleh romo nya.
Sedikit demi sedikit tenaga dalam Cakra menerobos tubuh Romo nya, tenaga dalam itu mengalir menyebar ke seluruh badan memperbaiki syaraf syaraf yang rusak akibat pertempuran tadi, Cakra juga khawatir jika di senjata lawan ada yang di bubuhi racun sehingga tubuh romo nya bisa saja terkena racun.
Namun sampai beberapa saat tidak ada tanda tanda romo nya terkena racun, hal ini melegakan hati Cakra.
Tidak begitu lama, senopati Bajra membuka matanya, dia merasa tubuhnya jauh lebih baik, tinggal luka luka di badan yang masih terasa perih.
" Apakah sudah selesai perangnya Cakra,,? " kata kata pertama yang di keluarkan senopati Bajra kepada Cakra, ini menunjukkan bahwa hidupnya tidak ada apa apanya di banding dengan kerajaan yang di belanya, sehingga dalam keadaan seperti itu pun yang di pikirkan hanya keselamatan kerajaan.
" Keadaan sudah baik baik saja romo, pemimpin musuh sudah banyak yang tewas, sekarang putri Kencana Sari dan pangeran Ranu Mulya telah mendesak mereka, namun masih sulit bagi mereka untuk menyerah. "
" Bawa aku ke sana Cakra,,! aku mengkhawatirkan pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari. "
" Tidak perlu Romo, biarkan luka luka yang ada di tubuh romo di rawat dulu oleh para tabib, biar Cakra yang membantu pangeran Ranu Mulya dan putri Kencana Sari di sana. "
Awalnya senopati Bajra memaksa, namun hal itu tidak di turuti oleh Cakra, justru Cakra memanggil prajurit yang bertugas menjadi tabib untuk merawat luka luka romo nya, kemudian dia berpamitan kepada senopati Bajra untuk kembali ke medan perang.
***
Walaupun sudah banyak pemimpin pasukan yang tewas, namun prajurit kerajaan Selo Cemeng di pimpin oleh senopati Dadung Srono dan senopati Arya Satru masih menunjukkan semangat juang yang tinggi, ini terbukti dengan masih adanya perlawanan yang sengit dari mereka.
beberapa kelompok prajurit masih bertarung meski di sekitar mereka sudah bergeletakan jasad jasad tanpa nyawa entah dari kawan mereka atau dari lawan mereka.
Putri Kencana Sari yang maju di garda paling depan kini menghadapi senopati Dadung Srono.
Napas dari putri Kencana Sari mulai tersengal sengal karena dia mengeluarkan terlalu banyak tenaga dalam pada pertempuran sebelumnya.
" Kenapa kau tidak menyerah saja, lihat pasukan mu tidak lagi memiliki pemimpin, karena pemimpin yang masih hidup tinggal kau dan teman mu saja,,? " ucap putri Kencana Sari mengulur waktu mengambil napas.
__ADS_1
" Huuuuh. bilang saja kau sudah tidak mampu melawan aku, jangan kau harap aku bakal menyerah kepada kerajaan kecilmu ini, walau kami hancur sekalipun aku tidak akan mundur,, " balas senopati Dadung Srono.
" Kurang ajar, kalau begitu, jemput ajalmu,,! "
Putri Kencana Sari meloncat mengarahkan busurnya ke arah kepala senopati Dadung Srono, namun busur itu hanya di hindari sedikit sehingga tidak mampu menyentuh senopati Dadung Srono.
Dengan masih lincah senopati Dadung Srono menghindari serangan serangan dari putri Kencana Sari, bahkan Senopati Dadung Srono mampu membalas serangan putri Kencana Sari dengan menyarangkan tongkat bajanya ke pundak putri Kencana Sari sampai tubuh putri Kencana Sari terdorong ke belakang.
Dengan hasil itu putri Kencana Sari semakin marah, dia meras terhina dengan serangan itu, sehingga tanpa perhitungan putri Kencana Sari menyerang membabi buta, dari serangan yang di lakukan putri Kencana Sari justru membuat pertahanannya menjadi terbuka, hal ini dimanfaatkan oleh senopati Dadung Srono untuk mengirimkan pukulan telapak tangannya ke arah perut yang terbuka.
Buuuuukh.
Tubuh putri Kencana Sari terlempar ke belakang, untung saat masih di udara, tubuh itu di tangkap oleh Cakra yang sedang terbang menuju padanya untuk membantu.
" Bagaimana keadaanmu tuan putri,,? " tanya Cakra.
Namun yang di tanya tidak menjawab justru hanya tersenyum yang di tujukan pada Cakra, tubuhnya yang lemas dan matanya yang terbuka sayu justru terpejam karena pingsan tidak tahan akan rasa sakit yang di derita di perutnya.
" Paman, tolong bawa putri Kencana Sari ke tempat aman, dia terluka dalam,,! "
Paman Suro dan paman Rejo segera membopong tubuh putri Kencana Sari untuk di bawa ke dalam benteng.
Cakra kemudian melesat ke arah senopati Dadung Srono yang tengah membantai prajurit Tirta Kencana yang menyerangnya.
Senopati Dadung Srono berusaha untuk menghabisi sebanyak banyaknya prajurit Tirta Kencana sambil ingin membuka jalan agar dia dan pasukannya yang masih bisa melarikan diri.
Senopati Dadung Srono menyiapkan pukulan jarak jauhnya mengarah ke kumpulan prajurit Tirta Kencana yang hendak menyerangnya.
Duuuuuarr.
__ADS_1
Sebuah lesatan cahaya berwarna hitam keluar dari telapak tangan senopati Dadung Srono.
Tapi belum setengah perjalanan cahaya itu sudah meledak karena berbenturan dengan jurus pukulan paruh garuda yang di lesatkan Cakra.
Senopati Dadung Srono mengumpat kasar karena serangannya di mentahkan oleh Cakra, dua kali hatinya di buat geram oleh Cakra sehingga dia ingin menghabisi Cakra saat itu juga.
Senopati Dadung Srono menyerbu ke arah Cakra, tongkat bajanya menusuk lurus, dengan tombak bayu Angkasa cakra meladeni serangan itu.
Taaaaak.
Daaaaaaaarr.
Senopati Dadung Srono mundur terjajar akibat benturan itu, namun saat tubuhnya mampu menjejak tanah, dia langsung melesat menyerang lagi.
Cakra memainkan tombak Bayu angkasanya dengan indah untuk menghalau serangan serangan senopati Dadung Srono.
Serangan serangan tongkat baja yang menderu deru itu selalu mampu di redam oleh permainan tombak Cakra.
Tidak sampai di situ Cakra kadang malah bisa mengenai tubuh senopati Dadung Srono sehingga tidak sedikit luka yang di derita oleh senopati Dadung Srono.
Tubuh yang sakit dan napas yang terengah engah membuat permainan jurus senopati Dadung Srono sudah tidak berbahaya lagi, hal ini membuat Cakra lebih berani untuk mendekat dan menyarangkan pukulannya ke tubuh senopati Dadung Srono.
Claaaaaphh.
Saat tubuh Dadung Srono mundur terkena pukulan Cakra, Cakra kemudian terbang dan menusukkan tombaknya ke arah senopati Dadung Srono, dia angkat tubuh senopati Dadung Srono hingga dia terbang berkeliling memperlihatkan tubuh Dadung Srono yang telah tewas.
Melihat itu, mental prajurit Selo Cemeng runtuh seketika, di lain sisi, prajurit Tirta Kencana bersorak gembira atas kemenangan Cakra.
Kegembiraan itu membuat lengah pasukan Tirta Kencana sehingga memberi celah kepada pasukan Selo Cemeng yang telah runtuh semangatnya untuk melarikan diri.
__ADS_1
Lebih dari seribu lima ratus prajurit mampu melarikan diri ke dalam hutan, sebagian prajurit Tirta Kencana berniat mengejar sampai ke dalam hutan namun hal itu segera di cegah oleh panglima Restu Aji.
Berakhirlah pertempuran hari itu. semua kembali ke benteng untuk beristirahat dan kembali keesokan harinya.