
Di pendopo kerajaan Gading Padas yang sekarang di kuasai kelompok Macan Perak, kelompok golongan sesat peliharaan kerajaan Selo Cemeng, sedang berkumpul banyak tokoh persilatan dari golongan hitam, beberapa yang hadir pada saat itu ada ki Dibyo yang berjuluk rubah beracun, seorang ahli racun yang di takuti lawan maupun kawan, ada ki Senong yang berjuluk tongkat dewa pencabut sukma, seorang pendekar sesat yang bersenjata tongkat pendek berwarna kuning keemasan, tangan api seorang kakek brangasan yang sering membuat kerusuhan hanya untuk kesenangannya saja dan perwakilan dari kerajaan Selo Cemeng.
"Selamat datang kawan kawan ku, terima kasih atas bersedianya kalian memenuhi undangan ku, " ucapa Sangga Bhumi sedikit angkuh.
" Kami sengaja mengundang kalian kesini untuk bergabung menikmati kebahagiaan hidup di sini, kekayaan, perempuan dan kekuasaan semua ada di sini, jadi nikmatilah semua,,! " lanjut Sangga Bhumi.
" Ha ha ha, tidak usah kau tutupi Sangga, jika kau mengundang kami karena ingin berbagi kenikmatan, kenapa tidak dulu dulu, ? bilang saja kamu butuh bantuan kami karena saat ini kamu kewalahan menghadapi para penyusup yang membunuh ki Seto dan melukai tiga durjana dari bukit setan kan ? " ucap ki warso atau pendekar celurit kembar dengan sinis.
" Benarkah begitu menurutmu warso ? " tanya Sangga Bhumi geram.
" Memang begitu kan ..... Akhhh" teriak ki Warso tidak bisa melanjutkan ucapannya karena selarik cahaya hitam mengenai tubuhnya, matanya langsung melotot dan tubuhnya mengering sedikit demi sedikit tubuh itu hancur menjadi abu.
" Jurus Segoro wiso " desis Tangan Api mengagetkan semua pendekar golongan hitam yang ada di situ.
Memang jurus Segoro Wiso itulah yang tadi keluar dari telunjuk Sangga Bhumi, dia sengaja memberi pelajaran kepada ki Warso agar semua yang hadir di situ tidak meremehkannya.
__ADS_1
Melihat Sangga Bhumi menguasai jurus Segoro wiso, jurus legenda yang telah lama hilang itu, kini mereka tidak berani berlaku macam macam, wajah mereka pucat pasi.
***
Tadi malam, Cakra pamit kepada Jati untuk bersemedi di dalam kamar yang di sediakan untuknya.
Dalam semedi itu, dia bertemu dengan Eyang Bagaskara, banyak sekali nasehat yang di berikan eyang Bagaskara kepada Cakra.
"Ngger anakku, bertindaklah dengan bijaksana, pilihlah jalan yang tidak banyak menimbulkan korban, pada dasarnya, tujuan yang luhur harus di lakukan dengan cara cara yang luhur pula, jangan kau kotori tujuan luhurmu dengan cara kotor dan licik, " nasehat eyang Bagaskara di dalam semedi Cakra.
Di sana sudah ada lima orang termasuk pangeran Jati kusuma dan Paman Jolo Wojo.
"Maaf pangeran saya terlambat" ucap Cakra setelah masuk ke ruangan itu.
" Tidak apa apa Cakra, Bagaimana dengan semedimu semalam,,? " tanya Pangeran Jati.
__ADS_1
"Syukur kepada Sang Hyang Widi yang telah memberi saya petunjuk lewat nasehat eyang guru di dalam semedi saya pangeran,, " jawab Cakra.
Mendengar itu, Pangeran Jati dan paman Jolo merasa lega, wajah mereka semringah karena sampai pagi itu mereka belum mendapatkan rencana yang tepat.
" Terus bagaimana rencanamu Cakra, ? " tanya paman Jolo tidak sabar.
Cakra membeberkan semua rencananya kepada semua orang yang ada di situ, semua menyimak dengan teliti, kadang paman Jolo dan Jati memberi masukan juga untuk menyempurnakan rencana itu.
" Namun kalau kita menggunakan rencana itu, kita butuh banyak bantuan Cakra,, " ucap Jati.
" Benar pangeran, oleh sebab itu aku akan mencari bantuan di kerajaan Tirta Kencana, sedangkan paman Jolo sebaiknya mencari bantuan kepada padepokan yang beraliran putih, saya yakin selama ini mereka tidak suka terhadap tindakan kejam yang terjadi, namun untuk bertindak sendiri sendiri mereka tidak mampu, maka kita harus bergerak menghimpun mereka menjadi satu kesatuan yang nantinya bisa bekerja secara terarah. " jelas Cakra.
"Sungguh rencana yang bagus Cakra, " seru Jati.
Semua yang ada di situ pun mengakui rencana itu memang bagus.
__ADS_1
Ada setitik harapan yang terbit untuk menyingkirkan ketidak adilan dan menyelamatkan rakyat Gading Padas dari penindasan.