
Pagi itu, suasana di hutan Kuncoro seakan mengalami hidup lagi, hutan yang biasanya sepi karena aktifitas yang dilakukan oleh penghuni yang semakin banyak menyebabkan suasana hutan itu menjadi ramai, di salah satu sudut, ada prajurit yang berbaris memegang tombak, mereka berlatih menusukan tombak ke boneka yang terbuat dari jerami, ada yang berlatih pedang berhadapan satu lawan satu dengan kawannya, ada prajurit yang di arahkan membentuk sebuah bentuk formasi perang, formasi saat di serang anak panah, formasi saat di serang pasukan berkuda atau saat di serang pasukan tombak, masing masing punya bentuknya sendiri sendiri.
Cakra berkeliling mengawasi latihan itu dengan seksama, sesekali dia memberi masukan kepada prajurit yang berlatih, dia juga menemui paman Jolo Wojo yang menemani para pendekar utusan padepokan golongan putih yang menyusun strategi perang yang akan di gunakan.
Dari semua persiapan ini, Cakra merasa cukup puas, dia melihat para prajurit punya semangat tinggi dan daya juang yang luar biasa, ini semua tidak lepas dari paman Jolo yang setiap malam menyalakan semangat juang para prajurit dengan kata katanya yang berapi api.
Dari sudut ekor mata, Cakra melirik di tempat yang agak terpisah dari tempat latihan di bawah pohon, pangeran Jati sedang mendekati putri Kencana Sari yang sedang berlatih, merasa di dekati pangeran Jati, putri Kencana Sari segera mengakhiri latihannya dan duduk di bawah pohon di ikuti pangeran Jati, entah apa yang di bicarakan mereka, namun terlihat kalau pangeran Jati berusaha mendekati putri Kencana Sari, agar tidak mengganggu Cakra Segera menyingkir dari situ, dia tidak ingin merusak suasana mereka berdua, bagi Cakra, urusan asmara bukan yang utama, saat ini dia lebih mendahulukan kepentingan rakyat Gading Padas yang tertindas.
Cakra kembali ke pondoknya, di temani Ningsih anak dari juragan Warso, saat Cakra kembali ke pondok, Ningsih segera menyambut, dia menyediakan wedang jahe kesukaan Cakra.
" Silahkan Cakra,, " Ningsih mempersilahkan Cakra meminum wedang jahenya.
" Mau kemana kau, duduklah sini, temani aku berbincang bincang,, " cegah Cakra kepada Ningsih yang akan masuk ke dalam pondok.
Mendengar itu, Ningsih sangat senang, bagaimana pun juga dia sudah lama ingin berlama lama dengan Cakra.
" Cakra, selama ini aku menjadi beban banya orang, maukah kamu mengajariku kanuragan agar aku bisa menjaga diriku sendiri,,, ? " ucap Ningsih lirih takut kalau permintaannya di tolak.
Cakra langsung kaget dengan permintaan itu, dia tidak menyangka bahwa Ningsih yang selama ini manja, sekarang malah ingin belajar kanuragan, tidak ada keraguan dalam hati Cakra untuk mengajari Ningsih, dengan mantap dia mengangguk pertanda dia setuju, gembira lah hati Ningsih saat itu juga, mereka berbincang sampai lama.
****
Tiga sosok berlari dengan cepat menerobos lebatnya hutan Kuncoro, mereka tiga saudara seperguruan dari bukit batu yang berjuluk iblis berwajah rupawan, mereka bertiga saat ini bergabung dengan kerajaan Selo Cemeng dan di tempatkan di Gading Padas.
" Apakah kau yakin Anggodo kalau para pemberontak itu bersembunyi di hutan Kuncoro ini ,, ? " tanya Caroko orang yang paling tua di antara mereka.
" Benar kakang Caroko, kemaren aku curiga ada banyak bekas kaki yang mengarah ke tengah hutan Kuncoro, akhirnya aku mengikuti jejak itu sehingga aku mengetahui lokasi mereka, " jawab Anggodo.
" Kalau begitu ayo cepat kita kesana,,,,! perintah Caroko.
" Tapi apakah tidak sebaiknya kita melaporkan dulu kepada gusti Sangga Bhumi kakang ,,,? " usul Murdo kepada Caroko.
"Aaakkhh, tidak perlu melapor dia, lagi pula aku hanya ingin menjajal kekuatan mereka, sekuat apa sih mereka, kalau bisa sebelum mereka bertambah besar, akan aku hancurkan mereka, untuk berjaga jaga kalian tidak usah ikut ke sana, cukup awasi saja dari kejauhan,, " jelas Caroko merasa percaya diri dengan kemampuannya.
Mereka pun berlari dengan cepat menuju ke tengah hutan Kuncoro.
***
Di lingkungan pondok itu masih seperti tadi pagi, suara Prajurit yang berlatih masih terdengar riuh riang.
Swiiiiiiithhh, Blaaaaaarrhh.
Sebuah cahaya merah meluncur dengan cepat dan menghantam salah satu pondok sehingga pondok itu hancur berkeping keping rata dengan tanah.
__ADS_1
Cakra yang masih berbincang bincang dengan Ningsih, mendengar ledakan itu segera melesat menuju arah ledakan, sampainya dia di sana, dia melihat seorang yang walau sudah berusia setengah baya namun masih terlihat gagah dan tampan sedang bertarung dengan Putri Kencana Sari.
Putri Kencana Sari yang berada di dekat pondok yang hancur itu segera memburu ke arah munculnya cahaya merah yang terlontar dari tangan seseorang itu.
Dengan gesit dia mengarahkan tangannya menyambar kepala penyerang gelap yang berada di atas pohon, namun penyerang gelap yang ternyata Caroko itu membuang tubuhnya meluncur ke bawah sehingga sambaran yang di lakukan putri Kencana Sari dapat di hindarkan.
Ke dua orang itu mendarat ke tanah dengan anggun menandakan jurus peringan tubuh mereka dalam tataran yang sempurna.
"Ha ha ha ha, tidak ku sangka yang menyambut ku di hutan yang sepi ini adalah seorang perempuan yang cantik dan jelita, sebaiknya kau ikut saja bersamaku, setiap hari akan aku ajak kamu bersenang senang,, " ucap Caroko dengan tatapan mesumnya.
" Chuuuuiiihhh. Siapa sudi ikut tua bangka yang sebentar lagi menjadi mayat, apa aku akan kelon dengan bangkai ,,,,? ucap putri Kencana Sari memancing kemarahan lawannya.
Mendengar hinaan itu, Caroko naik pitam, dia sudah tidak peduli lagi secantik apa lawannya, yang pasti dia ingin membunuh lawannya.
Caroko segera mempersiapkan kuda kudanya, ke dua tangannya mengepal ke depan badan, kakinya merendah kokoh, jurus watu karang yang di miliki oleh Caroko kini telah di keluarkan.
Tidak takut dengan jurus yang di miliki lawannya, putri Kencana Sari juga menyiapkan jurusnya.
Dengan serempak mereka maju menyerang, menghantamkan tangan mereka ke lawannya untuk menjajagi tenaga dalam lawannya.
Duuughhh.
Kedua tangan itu berbenturan mengakibatkan kedua tangan itu kesemutan karena tenaga dalam mereka seimbang, ke dua tangan yang berbenturan itu saling menempel, mereka saling mendorongkan tenaga dalamnya, cukup lama tangan itu menempel hingga.
Deeesh..
Setelah menyempurnakan posisi, putri Kencana Sari melesat maju memukulkan tangannya ke arah dada Caroko, dengan sigap Caroko menepis dengan tangan kirinya, setelah mampu menepis, Caroko menyapukan kaki kanannya ke arah perut Sari, telak perut Sari terkena tendangan itu, dia bergulingan memegangi perut yang terasa mual itu.
Paman Suro dan paman Rejo hendak maju membantu putri Kencana Sari, namun putri Kencana Sari mengisyaratkan untuk tidak usah membantu.
Putri Kencan Sari memperbaiki posisi berdirinya, dia bersiap untuk menyerang lagi,
Hiyyaaaaat,,
Suara teriakan Sari mengiringi serangan kakinya ke arah perut Caroko, dengan tangan kanan Caroko menahan luncuran kaki itu, masih di udara putri Kencana Sari yang kaki kirinya di tangkap kedua tangan Caroko, dia menyapukan kaki kanannya ke arah kepala Caroko, karena serangan itu cepat, Caroko tidak sempat menangkis, dia hanya menghindar dengan menundukan kepalanya kebawah sehingga tendangan kaki Sari hanya lewat di atas kepala Caroko, kaki yang ditangkap Caroko kini lepas karena gerakan memutar Sari. keduanya kini masih berdiri menunggu serangan lawannya.
Terjadi saling serang yang seru antara Caroko dan putri Kencana Sari, pangeran Jati yang menyaksikan pertarungan itu sangat khawatir atas keselamatan putri Kencana Sari, berbeda dengan Cakra yang sudah tau kekuatan Sari, dia masih tenang karena tahu Sari mampu mengimbangi Caroko, walau untuk mengalahkannya Sari sangat kesulitan.
Sriiiiiinggg.
Sari telah meloloskan pedangnya dari sarung, di tangan kanannya kini tergenggam pedang yang siap memotong motong tubuh lawan,
Sari maju dengan jurus pedang seribu, kini dengan tenaga dalam yang lebih besar, jurus ini semakin dahsyat dan mematikan.
__ADS_1
Caroko tidak tinggal diam, dia segera mencabut celurit panjang yang selama ini menjadi senjata andalannya.
Traaang.
Percikan bunga api menghiasi benturan dua senjata, kedua pemilik senjata itu terdorong kebelakang sejauh empat langkah, mereka memeriksa senjata masing masing memastikan senjata mereka tidak rusak.
Kembali pertarungan itu berlanjut, hingga pada jurus ke seribu, pegangan pedang Sari terlepas dari tangannya, hingga membuat pedang itu terlempar dan bersamaan dengan itu celurit Caroko mengarah pada dada Sari dari atas kebawah.
Traaaang.
Dengan cepat Sari mengeluarkan gendewa emas untuk menangkis sabetan celurit Caroko, sejenak Caroko sangat terkejut lawannya masih hidup karena dengan serangan tadi dia yakin lawannya tidak punya kesempatan untuk menangkis.
Setelah menangkis, Sari menggebukan gendewa emas ke tangan dan punggung Caroko.
Mendapati serangan cepat itu, Caroko tidak sempat menghindar sehingga tangan yang memegang celurit itu terkena gebukan, di tambah gebukan di punggung membuat tulangnya terasa patah dan tanpa ampun Sari segera melesatkan anak panah ke arah Caroko hingga lima anak panah itu bersarang di tubuh Caroko, hingga tubuh itu roboh tidak bernyawa.
Karena kejadian itu sangat cepat, tidak ada kesempatan bagi Anggodo dan Murdo untuk menolong kakak seperguruannya itu, mereka baru sadar apa yang terjadi setelah melihat tubuh Caroko tumbang ke tanah, bertepatan dengan kembalinya kesadaran mereka, ternyata di belakang mereka telah berdiri seorang pemuda tampan, kagetlah mereka hingga mereka meloncat dari persembunyiannya.
" Kurang ajar, siapa dia , kenapa kedatangannya tidak kami ketahui,, " desis Murdo.
"Sebaiknya kalian menyerah saja, teman kalian sudah mati terkapar di sana,,, " ucap pemuda yang ternyata Cakra.
" Huuuh, jangan bermimpi kami akan menyerah, justru kamulah yang akan kami bantai, " ucap Anggodo.
"Silahkan buktikan ucapan kalian,, "
karena sadar mereka berada di kandang musuh, mereka ingin segera menghabisi pemuda itu dan pergi melaporkan kejadian itu kepada gusti Sangga Bhumi, mereka memutuskan menyerang bersamaan.
Terjadilah pertarungan yang agak jauh dari tempat Sari tadi bertarung, walau di keroyok oleh dua orang, Cakra tidak merasa kewalahan, dengan jurus sayap seribu dan di lambari jurus meringankan tubuh langkah kilat menapak angin, serangan serangan Amggodo dan Murdo seakan tidak pernah mengenai sasaran, mereka seakan melawan bayangan yang apabila di serang bisa tembus.
Masih dengan kedua jurus itu Cakra meladeni serangan lawannya, sesekali dia membalas serangan lawan dengan tamparan tangan layaknya sayap yang mengepak, deru angin yang keluar dari kedua tangan Cakra menjadikan lawannya kewalahan dalam bergerak, hal ini tidak di sia siakan oleh Cakra, tangannya bergerak cepat mengarah kepada lawannya.
Plaaak, praaak
Suara kepala pecah terdengar dari Anggodo, kepalanya telak terkena tamparan Cakra hingga pecah mengeluarkan isi kepalanya yang berwarna putih itu.
Tidak selesai di situ, Cakra juga mengarahkan tangannya ke dada Murdo, hingga murdo terpental ke belakang dengan dada yang sesak, dia terbaring tidak bangkit karena pingsan.
Bertepatan dengan selesainya pertarungan, para prajurit yang awalnya melihat dari tempat aman kini mulai mendekat.
" Periksa mereka, penjarakan untuk kita gali keterangan dari mereka,,! " perintah Cakra.
" Maaf tuan Cakra, yang satu telah tewas, tinggal yang di sana masih pingsan,, " lapor salah seorang prajurit.
__ADS_1
" Baiklah kuburkan yang mati dan bawa yang masih hidup ke dalam pondok, " perintahnya lagi.
Akhirnya mereka semua menguburkan dua mayat di hutan Kuncoro itu, mereka bekerja sama sehingga proses itu dengan cepat selesai.