PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Kecamuk Perang Di Hati


__ADS_3

Sebuah jamuan besar besaran di adakan di kerajaan Tirta Kencana, berbagai hidangan makanan di sajikan mulai dari rendang sapi, gulai kambing dan tumis kacang panjang mereka sajikan, hal ini membuat para prajurit bergembira, karena terlalu banyaknya makanan yang di sajikan sehingga tidak hanya para punggawa dan prajurit saja yang menikmati, namun masyarakat umum pun juga ikut merasakan kelezatan masakan istana itu.


Namun dari suasana itu Cakra merasa ada yang aneh, dia mencari keberadaan putri Kencana Sari di barisan keluarga istana, namun putri Kencana Sari tidak ada, padahal menurut dia selama dua hari ini lukanya sudah hampir sembuh namun entah kenapa putri Kencana Sari tidak ikut di jamuan itu.


Setelah senopati Bajra dan Cakra ikut jamuan makan bersama raja Rangga dan pangeran Ranu Mulya, senopati Bajra mengajak Cakra untuk segera kembali ke kediamannya untuk menemui biyungnya.


Di depan rumah Nyai Galuh sudah menanti dengan harap harap cemas, walau sudah ada kabar dari seorang prajurit jika suami dan anaknya sudah kembali dengan selamat, namun hatinya belum juga tenang jika belum berjumpa.


Hingga saat Nyai Galuh berjalan mondar mandir di depan pendopo rumahnya dengan wajah yang menggambarkan kekhawatiran, dua ekor kuda memasuki gerbang rumah di depannya, dia langsung menghambur memeluk suaminya yang saat tahu istrinya berlari ke arahnya langsung meloncat turun dari kuda.


Sejenak senopati Bajra membalas pelukan dan mengusap kepala istrinya itu, kemudian dia mencium kening istri yang di cintanya itu.


" Sudahlah dinda, aku sudah kembali, jadi jangan menangis lagi,,! " ucap senopati Bajra sambil mengusap air mata di pipi istrinya.


Mendapat perlakuan seperti itu, justru Nyai Galuh malah membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya sambil sesenggukan, Cakra yang berada di belakang romo nya hanya diam menunggu ibunya meluapkan perasaannya kepada romo nya.


" Sudah dinda sekarang sambut juga putramu,,! " ucap senopati Bajra mengingatkan Nyai Galuh.


Segera Nyai Galuh melepas pelukannya dan berniat memeluk putranya, namun sebelum sempat bisa memeluk putranya, Cakra sudah melakukan sujud dan mencium kaki biyungnya itu.


" Sudah nak jangan bersujud seperti ini,,! perintah Nyai Galuh sambil berusaha mengangkat pundak putranya.


" Tidak biyung, karena doa restu yang biyung berikan kepada sayalah yang membuat saya bisa seperti ini, jadi pantas bagi saya untuk mensucikan kaki biyung dengan peluh dan air mata saya, saya tidak mampu membalas setiap kebaikan dan doa restu biyung, hanya inilah yang mampu Cakra lakukan. "


Mendengar itu pecahlah tangis ke tiga orang itu, senopati Bajra mengusap usap kepala Cakra dan mengangkat pundak Cakra untuk di peluknya, sehingga ke tiga orang itu berpelukan.


Sebuah ajaran dari Eyang Bagaskara yang melekat di hati Cakra, bahwa seberhasil apapun itu tidak boleh menjadikan dirinya tinggi hati dan sombong, setiap apa yang di dapat saat ini tidak lepas dari doa restu orang lain khususnya orang tuanya, hal ini yang menyebabkan Cakra bersimpuh di kaki biyungnya.


Senopati Bajra segera mengajak istri dan putranya untuk masuk ke dalam rumah, dia segera beristirahat karena akibat perjalanan membuat lukanya sedikit kambuh sehingga dia memutuskan untuk beristirahat.


***


Keesokan pagi Cakra keluar berjalan jalan mencari udara segar, untuk menjauhi hiruk pikuk di kotaraja dia masuk agak jauh di hutan sisi utara kerajaan Tirta Kencana, hutan yang baru dia masuki itu ternyata di tengahnya menyimpan keindahan yang luar biasa, air terjun yang mengalir deras di bawahnya membentuk sebuah danau yang agak besar di kelilingi pasir putih yang cukup lebar sehingga tempat nyaman untuk menenangkan pikiran.


Cakra berdiri di tepi danau itu, perlahan dia menghirup udara memenuhi paru parunya dengan udara segar.


Perlahan udara di sekitarnya berputar menerbangkan pasir putih, sedikit demi sedikit pusaran angin itu semakin besar, kemudian Cakra memperagakan jurus jurus silatnya mulai dasar sampai akhir untuk menghilangkan kekalutan hatinya, bagaimana pun juga dia sangat memperhatikan perubahan wajah dan sikap putri Kencana Sari saat tiba di kota raja kemaren.


Cakra melampiaskan kekalutan hatinya itu dengan gerakan gerakan silatnya, namun dia merasa gerakan itu menjadi tidak teratur dan terkesan sembarangan hingga Cakra memutuskan mengakhiri gerakannya, dia kemudian menceburkan dirinya ke dalam danau dan berenang mendekati air terjun.

__ADS_1


Sesampainya dia sampai di air terjun dia segera duduk bersila di bawah guyuran air terjun yang deras itu, sejenak dia memejamkan matanya larut dalam semedi, tubuhnya hilang tertutup oleh guyuran air yang cukup besar.


Tidak lama setelah Cakra masuk di alam bawah sadarnya, sebuah batu meluncur membelah permukaan air danau.


Tidak cukup satu kali, batu kedua pun menyusul.


Claaaak claaaak claaak.


Sesosok gadis cantik berdiri di sana sambil memegang batu pipih berniat melempar untuk ke tiga kalinya.


Claaak


Claaaaph.


Di lemparan ke tiga ini batu itu menerjang sampai seberang danau sehingga batu pipih itu menancap ke batang pohon yang keras.


Duaaar.


Ajaibnya batu itu meledak dan merubuhkan pohon yang sebesar paha orang dewasa.


Mendengar suara ledakan, Cakra mengakhiri semedinya, wajahnya kaget setelah tau sosok di tepi danau yang melempar batu adalah putri Kencana Sari.


Melihat sebuah bayangan melesat dari balik air terjun, putri Kencana Sari menjadi waspada, namun tahu yang datang adalah Cakra, bibirnya tersenyum melihat Cakra berada di situ.


" Sedang apa kau di sini,? " tanya putri Kencana Sari.


" Hanya jalan jalan menghirup udara segar, gusti Putri sendiri sedang apa,,? "


" Sejak kecil ini tempat kesukaanku saat aku sedang marah atau sedih,, " jawab putri Kencana Sari.


Kemudian mereka duduk bersama di atas pasir sambil melihat pantulan matahari yang berada di permukaan danau.


" Maaf gusti putri, adakah ganjalan di hati anda yang membuat gusti putri mendatangi tempat ini,,? "


" Heeemh,,,, aku mau menjawab tapi kau harus berjanji dulu,,! "


" Berjanji,,? berjanji apa,,,? " tanya Cakra sambil mengerutkan dahinya merasa penasaran dengan apa yang di sampaikan putri Kencana Sari.


" Kau harus berjanji untuk memanggilku dinda mulai saat ini, kau tidak boleh memanggilku gusti putri lagi,,! "

__ADS_1


" Maaf gusti putri, hamba tidak berani untuk berjanji seperti itu. " tegas Cakra.


Mendengar jawaban itu, raut wajah putri Kencana Sari berubah, dia juga memalingkan wajahnya ke arah lain sehingga menjadikan Cakra salah tingkah.


" Maaf gusti putri,, " ucap Cakra lirih kemudian mengarahkan pandangannya ke arah air danau yang tenang.


Sesaat tidak ada suara lagi dari keduanya, mereka sibuk dengan gemuruh perasaannya sendiri sendiri.


Di dalam hati mereka berkecamuk perasaan masing masing, ingin sekali mereka mengungkapkan perasaannya untuk melegakan himpitan beban di hatinya.


Akhirnya hanya tetesan air mata yang keluar dari kedua mata putri Kencana Sari yang indah itu.


Cakra menyadarinya dan menoleh ke arah putri Kencana Sari, di dalam hatinya merasa iba dengan apa yang terjadi kepada putri Kencana Sari.


" Apakah yang terjadi dengan anda gusti putri,,? "


Putri Kencana Sari menoleh dan memandang Cakra dengan tatapan berarti.


" Sebenarnya aku mencintaimu Cakra, " jawab putri Kencana Sari lirih.


Cakra kaget dengan jawaban itu, dia tidak menyangka putri Kencana Sari berani mengungkapkan perasaannya itu.


Cakra tidak bisa menjawab, tenggorokannya tercekat dia hanya diam.


Namun bagaimana pun juga dia seorang laki laki yang harus bisa menguasai perasaannya.


" Maaf tuan putri, hamba tidak bisa menerima perasaan tuan putri. " jawab Cakra tegas.


" Kenapa,,? apa yang salah dengan cinta ku ,,? "


" Cinta tuan putri tidak salah, namun keadaanku lah yang salah, saya merasa tidak pantas bersanding dengan anda jadi tidak mungkin hamba menerima itu,, "


Cakra merasa cukup memberi penjelasan sehingga dia meninggalkan putri Kencana Sari menangis sendiri di sana, Cakra tidak mungkin mengungkapkan alasan sebenarnya bahwa dia mengalah atas perasaannya kepada pangeran Jati Kusuma yang memang juga mencintai putri Kencana Sari.


Sampai di rumah Cakra segera masuk ke kamar dan bersemedi.


~ Maaf bagi para pecinta novel silat yang tidak suka dengan cerita cintanya, cerita cinta ini hanya intermezzo setelah perang yang terus menerus, ke depan cerita cinta ini juga mempengaruhi alur cerita silat ini, semoga semuanya memaklumi~


Terima kasih kepada semua yang telah memberi kritik dan saran, semua kritik saran anda bisa menjadi acuan agar author bisa berkembang lebih baik lagi ke depannya.

__ADS_1


__ADS_2