
" Kita mau kemana kakang,, apa tidak sebaiknya kita kembali ke desa Randu Alas dulu,,? " tanya Kenanga yang berjalan santai berdampingan dengan Cakra.
Memang setelah mengakhiri pertarungan di hutan Murwo malam itu, Cakra langsung mengajak Kenanga berjalan menjauh dari hutan Murwo.
" Tidak perlu dinda, aku kira urusan kita di sana sudah selesai, aku ingin kita segera melanjutkan perjalanan, karena sebelum kita ke bukit harimau aku ingin berkunjung ke rumah teman juga ke rumah orang tua ku untuk meminta do'a restu. " jelas Cakra.
" Berarti kakang masih punya orang tua ,,? " tanya Kenanga.
Cakra hanya mengangguk tanda mengiyakan.
" Ah, aku ingin berkenalan dengan orang tua kakang,, "
" Pasti dinda, aku akan mengenalkan mu dengan orang tuaku, mereka pasti senang bisa berjumpa dengan gadis cantik sepertimu,, "
Kedua pipi Kenanga tanpa di sadari menjadi merah merona karena merasa senang di puji oleh Cakra.
" Ah tapi aku menjadi tidak percaya diri,, " ucap Kenanga dengan pelan.
Cakra heran dengan ucapan Kenanga, dia menghentikan langkahnya memperhatikan Kenanga.
Kenanga yang di perhatikan seperti itu justru semakin menundukkan kepalanya.
" Memang kenapa kau tidak percaya diri,,? "
Kenanga mengangkat wajahnya.
" Aku yakin ibumu sangat cantik, apakah ibumu mau menerima aku yang degil seperti ini,,? "
" Ha ha ha ha, ada ada saja kamu,, " ucap Cakra terpingkal pingkal karena merasa lucu dengan ucapan Kenanga.
" Iiiih, kenapa malah ketawa seperti itu,,? "
" Kamu lucu dinda, ibuku sangat baik, tidak mungkin lah jika nanti kau di usir sama ibuku, lagian kamu tidak kalah cantik kok di banding ibuku,, "jawab Cakra.
Mendengar ucapan Cakra justru membuat Kenanga semakin malu, karena Cakra gemas dengan apa yang di lakukan oleh Kenanga, Cakra mencubit dua pipi Kenanga dengan gemas.
Kenanga ikut gemas pula, kemudian dia berlari menjauhi Cakra, Cakra kemudian mengejar gadis itu seakan tidak mau gadis itu jauh darinya.
" Oh ya kakang, apakah kakang sudah mengetahui letak bukit harimau,,? " tanya Kenanga saat Cakra sudah mensejajari langkah Kenanga untuk mengalihkan pembicaraan agar dia tidak semakin salah tingkah.
__ADS_1
" Yang aku tahu bukit itu masih ikut wilayah kerajaan Selo Cemeng. " jawab Cakra.
***
Sesosok bayangan merah memasuki sebuah rumah yang besar dan bagus karena di hiasi oleh ukiran ukiran yang cantik, bangunan rumah itu menonjol dari bangunan bangunan yang lain karena di sana di dominasi dengan warna merah terang di antara rumah rumah yang sengaja tidak di beri warna untuk menonjolkan kesan alami dari pohon yang sudah berusia seratus tahunan.
Sesosok bayangan itu langsung masuk kemudian membaringkan tubuh terluka yang dia gendong di pundak tadi.
" Apa yang terjadi dengan dia dimas ?" tanya seorang yang menggunakan jubah yang berwarna sama yang tiba tiba muncul di belakang orang yang baru datang.
" Rendra terluka kakang, dia baru saja bertarung dengan murid Bagaskara,, "
" Apa,,,? bukankah pemuda itu sudah aku bunuh di hutan Angkrong,,? " tanya orang itu yang ternyata kakek tongkat naga merah.
" Entahlah kakang, kemaren dia muncul dengan seorang gadis di hutan Murwo, kesaktiannya sekarang berbeda dengan yang dulu saat berada di hutan Angkrong, bahkan aku merasakan tenaga dalamnya meningkat dengan pesat, saat bertarung dengan Rendra aku yakin dia belum mengeluarkan semua kemampuannya,, " lapor kakek sabuk baja.
" Aku khawatir dia bisa mengganggu rencana kita untuk menguasai dunia persilatan, kita harus secepatnya membinasakan dia,! "kata kakek tongkat naga merah bersemangat.
" Tenang kakang, aku sudah memberi tantangan kepada dia untuk bertarung di bukit harimau satu bulan lagi,, " ungkap kakek sabuk baja.
" Ah baguslah kalau begitu kita tidak usah lagi lelah lelah mencari dia, biarkan dia datang kemudian kita habisi dia di sini,, "
***
Setelah semalam bertempur, tubuh Kenanga merasa lengket semua, beruntung pagi itu dia menjumpai sungai yang jernih airnya sehingga dia memutuskan untuk menceburkan diri ke dalam air.
Cakra yang menungguinya agak jauh sambil membakar ikan yang di dapat dari sungai tadi.
Saat ikan yang di bakar oleh Cakra sudah hampir matang, kenanga muncul dengan tubuh yang segar karena selesai mandi.
" Airnya segar kakang, sebaiknya kau juga mandi,,,! biar ikan itu aku yang menunggui,, "
" Ah takut aku, aku tidak mandi saja,, "
" Takut,,,takut apa, di sana tidak ada apa apa, buktinya aku tidak kenapa napa,, "
" Bukan hewan liar yang aku takuti, kalau itu sih kecil, tapi aku takut kalau kau intip nantinya,, " ujar Cakra sambil tertawa terpingkal pingkal.
"Apa mengintip mu,, " Kenanga memasang muka marah kemudian berusaha memukul pundak Cakra.
__ADS_1
Cakra berkelit dari pukulan itu kemudian dia lari ke sungai untuk mandi.
Saat tubuh Cakra masuk ke dalam air, dia merasakan tubuhnya menjadi segar sehingga dia cukup betah berenang di sungai itu.
Kenanga yang merasa bosan menunggu Cakra mandinya sangat lama mencoba menghampiri sungai itu.
" Aaauuu,, "
Cakra yang sedang berdiri hendak keluar dari air memperlihatkan perutnya yang kekar namun di bawah perutnya masih berada di dalam air mendengar teriakan itu menjadi terkejut, dia arahkan pandangan ke arah sumber teriakan ternyata di sana terlihat kenanga yang membelakangi dirinya sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan.
" Hei ngapain dinda di situ, mau ngintip aku mandi ya,,? " teriak Cakra.
" Hiiiih, jangan salah, kakang mandi terlalu lama sampai ikan yang aku bakar menjadi dingin, aku takut ada apa apa dengan kakang jadi aku ke sini memeriksanya,, " jawab Kenanga gugup.
" Aahh, tidak percaya, pasti dinda mau mengintip aku," bisik Cakra yang sudah berada di samping Kenanga.
Merasa Cakra sudah di dekatnya, Kenanga mencoba menurunkan telapak tangannya dan dengan perlahan membuka matanya.
" Iiihh, tidak mungkin,, " jawab Kenanga sambil mencubit lengan Cakra.
" Aduh aduh aduh, sakit,," teriak Cakra yang pura pura kesakitan.
" Sudah ayo kita sarapan pagi, ikan kita sudah menunggu,,! " ajak Kenanga.
Mereka berdua melangkah menuju api unggun yang di gunakan untuk membakar ikan, namun mata mereka terbelalak karena ikan yang tadi susah susah mereka masak kini hanya tersisa kepala dan durinya.
Kenanga celingukan mencari ke sana kemari jejak pencuri tidak menemukan yang di cari.
Karena gagal mencari jejak, dia menjadi jengkel kemudian menghentak hentakkan kakinya tanda hatinya sedang jengkel.
" Hei,, setan alas, siapa yang berani mencuri ikan kami,,? teriak Kenanga.
" Hei,,,, keluarlah,,,! "
" Sudahlah dinda, tidak ada gunanya kau berteriak teriak seperti itu, lebih baik kita segera meninggalkan tempat ini, siapa tahu di dekat sini ada perkampungan,,, " ajak Cakra.
" Huuuh, ini gara gara kakang mandinya lama, akhirnya ikan kita di curi,, " ketus Kenanga sambil berjalan meninggalkan tempat itu.
Cakra yang merasa bersalah juga hanya menggeleng gelengkan kepalanya, dia segera mengejar kenanga yang sudah berjalan cukup jauh.
__ADS_1
Kedua orang itu pergi dari tempatnya di iringi suara riuh kera kera yang tidak tampak wujudnya.