PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Tibanya pertolongan


__ADS_3

Duaawar


Cahaya kehitaman yang meluncur cepat mengenai dada Cakra membuat dia terpental tiga tombak dan jatuh di tanah.


Walau pukulan itu tidak mengakibatkan luka dalam, namun dada Cakra terasa nyeri akibat kuatnya pukulan tadi.


Cakra segera bangkit, di depannya kini sudah berdiri dua orang pimpinan Selo Cemeng, yang satu bertubuh tinggi besar dengan raut wajah keras seakan gambaran sulitnya kehidupan masa lalu laki laki itu, memang laki laki yang menjabat sebagai panglima ini tumbuh dewasa di medan peperangan, sudah puluhan peperangan dia ikuti, pembantaian demi pembantaian telah ia lakukan bersama dengan prajurit Selo Cemeng lainnya.


Panglima Mahendra di temani senopati Angga berkacak pinggang di hadapan Cakra, dia mengira Cakra akan terluka dalam sehingga akan mudah membunuhnya.


Cakra bersikap biasa, dia hanya memandang lawannya dengan tajam seakan menekan lawannya dengan pandangan matanya.


Panglima Mahendra merasa terkejut dengan sorot mata Cakra, dia merasa begitu besarnya kekuatan yang terpancar dari sorot mata anak muda di depannya.


" Dasar pengecut,, beraninya menyerang secara sembunyi sembunyi,, " ucap Cakra geram menahan amarah.


" Di sini perang anak muda, yang penting hasil kemenangan bukan aturan adat peperangan,, " jawab panglima Mahendra sinis.


" Memang manusia manusia seperti mu harus segera dilenyapkan agar tercipta manusia beradab mengikuti aturan bermasyarakat,, " desis Cakra.


" Kurang ajar, anak kemaren sore mengajari ku tentang adab, perlu kau ketahui jika waktu kau masih masih ******* ibumu, aku sudah memenggal kepala orang orang yang melawan aku seperti kamu sekarang ini, jadi tidak perlu kau banyak bicara tentang Darma karena sebentar lagi kau sudah ku kirim ke neraka,, " teriak panglima Mahendra.


Panglima Mahendra tidak bisa membendung lagi amarahnya, dia segera menenteng gada yang di ambil dari atas gajah tunggangannya.


Buuuumm.


Debu mengepul dari tanah yang tertimpa ujung gada, sebuah gada berwarna kuning emas, terlihat sangat berat, namun di tangan panglima Mahendra tidak ubahnya seperti lidi yang mudah di gerak gerakkan secara ringan.


Cakra pun segera mengeluarkan tombak bayu angkasa, dia merasa untuk mengimbangi senjata yang berat, tombak bayu angkasa lah pilihan tepat baginya.


Cakra berdiri kokoh, tombak bayu angkasanya mendampingi di sisi kanannya, pertanda dia memang sudah bersiap untuk bertarung.


Panglima Mahendra juga sudah siap, gadanya di putar putar di atas kepala memunculkan deru angin menandakan penggunanya menggunakan tenaga dalam yang cukup besar.


Cakra mencoba memulai serangan dengan menyabetkan tombaknya, dari sabetan tombak itu muncul selapis angin padat dan tajam menerjang panglima Mahendra, angin yang membentuk bulan sabit itu meluncur cepat ke arah panglima Mahendra, namun dengan hanya menepis dengan gada di tangan kanannya, selapis angin itu pecah menjadi angin biasa, Tapi wajah panglima Mahendra cukup terkejut karena gadanya terdapat luka gores akibat benturan dengan angin tadi, selama ini belum pernah sekalipun senjata lawannya mampu menimbulkan bekas goresan di gadanya, namun kini hanya dari angin yang keluar dari sabetan tombak saja mampu membuat gada itu tergores.


" Kurang ajar,," teriak panglima Mahendra.


Wuuushh.


Buuuuuum.


Panglima Mahendra menerjang Cakra sambil memukulkan gadanya ke kepala Cakra.

__ADS_1


Dengan tenang Cakra menggeser tubuhnya sehingga gada itu hanya mengenai tanah tempat Cakra berdiri.


Saat Cakra bisa menghindar, dia menendangkan kakinya ke arah perut lawan yang masih merunduk akibat serangannya meleset.


Merasa perutnya menjadi sasaran, panglima Mahendra memutar tubuhnya ke samping kanan sehingga tendangan Cakra hanya sedikit mengenai baju perang panglima Mahendra.


Setelah panglima Mahendra lolos dari tendangan Cakra, dia membalas dengan menggerakkan gadanya ke arah kiri mengincar kaki yang di gunakan Cakra untuk menendang.


Untung dengan cepat Cakra mampu menarik kakinya sehingga aman lah kakinya, karena jika terkena gada lawannya, bisa di pastikan akan remuk tulangnya.


Cakra memperbaiki posisi kuda kudanya setelah lolos dari serangan lawan, dia merasa lawan tidak bisa di pandang sebelah mata.


Panglima Mahendra menyerang dengan pola serangan yang berganti ganti, hal ini membuat Cakra kebingungan menerka arah serangan lawan, hanya kecepatannya di atas kecepatan panglima Mahendra yang membuat dia mampu menepis dan menghindari serangan lawan.


Di sisi Panglima Mahendra merasa penasaran, karena selama ini belum satupun serangan mampu mengenai lawan sehingga serangan yang dahsyat itu menguras tenaganya.


Cakra memanfaatkan itu, dia bergerak cepat menghindari serangan lawan tanpa membalas, dia berusaha menguras tenaga lawan, namun musuhnya bukan orang sembarangan, harus di akui jika tenaga panglima Mahendra cukup kuat, walau pertarungan itu berjalan lama namun masih bisa bertahan.


Panglima Mahendra merasa Cakra terdesak karena tidak bisa melawan sehingga dia meningkatkan serangan.


Blaaaar.


Buuuuk.


Seekor gajah yang berada di belakang Cakra ambruk karena kepalanya pecah setelah terhantam gada milik panglima Mahendra yang nyasar setelah di hindari Cakra.


Cakra yang masih sibuk menghindari dan menepis serangan gada panglima Mahendra agak terkejut saat dirasakannya dari belakang datang serangan yang cukup mengarah ke tengkuknya.


Cakra kemudian mengarahkan tombaknya ke belakang untung menangkis datangnya serangan dari belakang itu.


Taaaaak.


Untung Cakra bereaksi cepat sehingga serangan senjata lawan itu tertahan tombaknya tidak mampu menyentuh tubuh Cakra.


Dari depan Panglima Mahendra memukulkan gadanya ke arah kaki Cakra, Cakra segera mengangkat badannya dan bertumpu pada tombak yang dia pegang, namun belum bisa bernafas lega sebuah tusukan tombak dari senopati Angga mengarah ke perutnya sehingga dia mengangkat kakinya keatas sehingga posisinya kepala di bawah dan tangannya masih memegang ujung tombak.


Posisi yang tidak menguntungkan di manfaatkan oleh Panglima Mahendra dengan memukulkan gadanya ke arah tombak, kuatnya pukulan gada ke tombak membuat tubuh Cakra tergetar dan jatuh.


Sebelum tubuh itu menyentuh tanah, sebuah hantaman tombak di sertai tenaga dalam tinggi mengarah ke dada Cakra.


Blaaaaarrr.


Telak dada Cakra terhantam tombak senopati Angga membuat tubuh itu terpental cukup jauh.

__ADS_1


Beruntung Bagi Cakra tubuhnya terlindungi zirah yang kuat sehingga serangan tadi hanya membuat dadanya terguncang tanpa luka sedikitpun.


Saat Cakra berdiri, terkejutlah dua orang lawannya, mereka tidak menyangka jika lawannya masih bisa berdiri walau terkena serangan dahsyat seperti itu.


Cakra mengarahkan tangannya ke arah tombak yang tergeletak jauh, ajaib,, karena tiba tiba tombak itu menghilang dan sudah berada di tangan Cakra.


Cakra merasa sangat marah karena lawan bertarungnya sangat licik, dia tidak mengira jika ada kesatria yang menggunakan cara cara kotor untuk memenangkan pertarungan.


Cakra memutar tombak bayu angkasa untuk menghasilkan angin yang menderu deru menerjang lawannya, kini topeng garuda sudah terbentuk di wajahnya, debu yang berterbangan di arena itu menyulitkan panglima Mahendra mengetahui posisi lawan, namun tidak berlaku bagi Cakra, karena topengnya mampu mencegah debu juga mata tajamnya mampu melihat di dalam kepulan debu yang tebal.


Cakra melesat ke arah dua lawannya, dia mengarahkan tombak itu ke arah senopati Angga.


Tiba tiba Cakra sudah muncul di belakang senopati Angga dan memukulkan tombaknya.


Senopati Angga sadar serangan Cakra telah datang dari belakang, dia segera berbalik dan menyilangkan tombaknya ke depan.


Taaaaak.


Blaaarrr.


Tubuh senopati Angga terjajar sampai bergulingan, dia memang mampu menahan serangan tombak Cakra namun daya dorong yang kuat membuat dia terpental.


Saat terjadinya serangan itu, Panglima Mahendra menyadari posisi Cakra sehingga dia segera menerjang ke arah itu.


Duuuk.


Gada Panglima Angga mampu di tahan Cakra dengan tombak, Cakra kemudian membalas dengan tendangan ke arah perut lawannya, namun tangan besar panglima Mahendra mampu menangkap kaki itu kemudian dia putar putar tubuh Cakra dan dia lempar tubuh itu.


Berguling gulinglah Cakra akibat lemparan lawan.


Belum sempat Cakra berdiri, Panglima Mahendra meloncat tinggi mengangkat gadanya untuk dipukulkan ke dada Cakra.


Siiiiingg


Siiingggg.


Sebelum serangan itu datang, beberapa anak panah telah melesat menuju panglima Mahendra, mau tidak mau panglima Mahendra mengurungkan serangannya untuk menghalau datangnya anak panah.


Wajah Cakra menjadi gembira karena dia kenal dengan anak panah yang datang.


" Apakah kau tidak apa apa Cakra ,,? " tanya suara lembut dari belakang Cakra.


" Hamba tidak apa apa tuan putri,, " jawab Cakra.

__ADS_1


" Sebaiknya anda melawan senopati Angga, putri, biar aku yang melawan panglima Mahendra..! " ucap lirih Cakra kepada putri Kencana Sari.


" Baiklah, ayo kita lawan mereka bersama sama,,! ".


__ADS_2