
Sesosok bayangan lari dengan kencang, di punggungnya tersampir buntalan yang cukup besar, sesekali sosok laki laki yang ternyata Permana itu menoleh ke belakang khawatir jika ada yang mengejar.
Saat dirinya mengawasi jalannya pertarungan antara Singa Lodra dan Cakra, dia melihat Singa Lodra tidak akan mampu menang melawan Cakra, makanya dia segera mengambil keputusan untuk membawa patung garuda emas untuk di kuasainya sendiri dengan menyelinap dari pintu belakang.
Permana mempercepat larinya supaya dia segera menjauh dari lokasi markas gerombolan Singa Lodra.
Namun karena terlalu mengkhawatirkan musuh yang bisa saja mengejarnya, Permana hilang kewaspadaannya terhadap apa yang ada di depannya.
Wuuuuuuus.
Sabetan pedang mengarah ke bagian tubuh Permana dari sisi Kanannya, karena kurang waspada sehingga terlambat bagi Permana untuk mengelak, akhirnya sabetan itu menggores tipis dada kanannya dan memotong kain buntalan sehingga buntalan itu jatuh ke tanah terbuka memperlihatkan isinya yang berupa patung garuda emas.
Permana meringis menahan perih di dadanya karena tergores pedang.
" Dasar murid durhaka, licik sekali kau merebut pusaka milik gurumu sendiri,, " ucap Sardi, orang yang tadi menyerang Permana.
" Ternyata dirimu, tidak perlu sok menjadi pahlawan kau, mungkin dirimu juga ingin menguasai patung garuda emas ini juga kan ,,,,? " ucap Permana sinis.
" Cuiiiih, tidak semua manusia punya watak kotor sepertimu, masih banyak orang yang tidak menghendaki apa yang bukan hak nya, tidak seperti kau uang serakah ingin menguasai barang walaupun itu milik gurumu sendiri,, " ujar Sarji dengan sinis.
__ADS_1
Mendapat ejekan itu, naik pitam lah Permana, dia sangat tidak suka jika direndahkan seperti itu, walau sebenarnya perilaku nya memang layaknya hewan yang ingin menguasai sendiri semua yang ada di muka bumi ini.
Permana menarik seruling dari pinggangnya, dia langsung menyerang Sardi dengan gerakan gerakan yang mematikan, tapi Sardi bukan pendekar kemarin sore yang baru turun gunung, asam garam dunia persilatan sudah dia lalui sehingga serangan serangan Permana yang mengarah di titik vital Sardi bisa di tangkis dan di hindari, bahkan Sardi mampu membalas serangan Permana dan menekannya.
Dengan pedang di tangan kanan Sardi yang memiliki daya jangkau lebih lebar, membuat Permana semakin terdesak, Seruling bambu yang menjadi harapan baginya untuk menghalau tebasan pedang Sardi, seakan tidak mampu lagi bertahan, hal ini di perparah dengan tekanan tenaga dalam yang cukup besar sehingga setiap dia membenturkan seruling untuk menghalau pedang Sardi, tangannya juga ikut bergetar kesemutan.
Namun untuk mempertahankan selembar nyawanya, Permana harus memeras kemampuannya, semua jurus yang dia pelajari dia gunakan untuk menghalau serangan Sardi, hingga di jurus ke seratus tiga puluh Sardi bisa menggores pergelangan tangan Permana sehingga membuat jatuh seruling bambu yang di genggamnya.
Tepat saat jatuhnya seruling itu, Cakra sampai di tempat pertarungan itu, Melihat Cakra datang, Permana langsung mengambil langkah seribu meninggalkan tempat pertempuran itu tidak memperdulikan patung garuda emas yang terjatuh.
Sardi berniat mengejar kepergian Permana, namun Cakra mencegahnya karena patung garuda emas harus di selamatkan dahulu.
" Kenapa kau berada di sini Sardi,,,? bukankah kau sebelumnya telah kembali ke perguruanmu,,,? " tanya Cakra.
" Namun saat aku melihat Permana tidak kembali ke gunung Semeru tapi malah menuju ke markas perampok Singa Lodro, aku menjadi curiga, kemudian aku membuntuti dia, namun karena penjagaan di markas itu sangat ketat, aku tidak bisa mendekati markas itu, aku semakin curiga kepada Permana karena penjaga membiarkan dirinya masuk dengan mudah, akhirnya aku mengintai dari kejauhan hingga aku melihat kau menyelinap di sana, saat terjadi pertarungan antara dirimu dengan Singo Lodro aku hanya mengawasi karena tidak bisa berbuat apa apa untuk membantu, aku berjaga jaga jika ada sesuatu yang terjadi, akhirnya aku melihat Permana melarikan diri dari pintu belakang aku mengejarnya dan berakhir di pertarungan di sini tadi. "
" Syukurlah kalau begitu, terus apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan pusaka patung garuda emas ini,,? " tanya Cakra.
" Saat ini aku belum bisa mempercayai orang lain Cakra, karena akibat pengkhianatan Permana, sedangkan saat ini banyak para pendekar yang ingin menguasai pusaka ini, " ucap Sardi.
__ADS_1
" Kalau begitu sebaiknya kita mencari tempat yang aman untuk menyembunyikan pusaka ini,, " ajak Cakra.
" Baiklah,, " sahut Sardi.
Cakra dan Sardi menyisir tempat tempat yang tersembunyi untuk menaruh patung garuda emas itu, mereka harus berhati hati memilih jalan karena takut jika bertemu dengan pendekar lain yang ingin merebut pusaka ini, Cakra tidak ingin menarik perhatian para pendekar sehingga dia menghindari bertemu dengan lawan.
Sardi menemukan sebuah gua yang pintunya terlindungi oleh semak belukar yang cukup tinggi sehingga jika di lihat sekilas tidak kentara kalau di situ ada gua.
Cakra dan Sardi memeriksa dalam gua itu, di dinding gua itu Cakra menemukan cekungan agak ke bawah, Sardi menaruh patung itu di dalam lobang, untung lubang itu cukup besar sehingga patung itu bisa di taruh di dalamnya.
Untuk saat ini, Cakra merasa aman meninggalkan patung itu di situ, Cakra dan Sardi memutuskan untuk mengawasi tempat itu dari jauh sehingga tidak mudah bagi orang lain mengetahui letak patung garuda itu.
Sesekali Cakra meninggalkan tempat itu untuk mencari tahu keadaan di hutan Angkrong itu.
Cakra menyaksikan beberapa pendekar bertarung, mengorbankan nyawa mereka untuk bisa mendapatkan patung garuda emas.
Pertarungan yang seharusnya tidak perlu karena mereka bertarung untuk benda yang belum jelas adanya dan tidak tau khasiat dari benda tersebut.
Memang pusaka patung garuda emas sebuah pusaka istimewa, jika bukan yang berjodoh dengan pusaka itu, maka pusaka itu tidak berfungsi sama sekali.
__ADS_1
***
Dua kakek di temani lima puluh pengawal masuk ke kawasan hutan Angkrong, mereka dengan percaya diri memasuki hutan, sesekali kelompok itu menemui para pendekar yang memiliki tujuan sama datang ke situ, namun dengan mudah mereka menghabisi para saingannya, mereka sengaja berjalan secara terang terangan untuk menarik perhatian lawan, jika yang lemah akan menghindar sedangkan yang merasa kuat akan mudah di singkirkan oleh mereka, dengan begitu akan berkurang pesaing mereka mencari pusaka patung garuda emas.