PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Tiba di Hutan Kuncoro


__ADS_3

Iring iringan manusia berjalan dengan perlahan karena beban yang mereka bawa cukup banyak, beruntung bagi mereka mendapatkan kuda yang bisa mengangkut harta benda dan bahan pokok yang tidak muat di taruh di pedati, selangkah demi selangkah mereka mulai mendekati hutan Kuncoro,, walau peluh membasahi badan namun mereka tetap berjalan agar tidak tertinggal dari rombongan.


Di atas Cakra terbang dengan anggun dan berwibawa, mengarahkan kemana mereka harus mengambil jalan, pada dasarnya dari mereka yang berjalan hanya Cakra lah yang pernah ke hutan Kuncoro sehingga mereka menunggu arah yang di tunjukan Cakra saat berjalan.


Mereka sengaja berjalan agak memutar karena tidak ingin melewati jalan pedesaan dan perkotaan yang nantinya menjadikan mereka di ketahui keberadaannya, mengingat orang orang Selo Cemeng banyak yang tersebar di berbagai daerah.


"Ayoo lebih cepat,,,,! , menurut perkiraan Cakra, sore nanti kita sudah sampai ke tempat yang di kita tuju,, " teriak Nyai Selasih setelah berdiskusi dengan Cakra.


Mendengar itu, semangat mereka yang mulai pudar karena kelelahan kini timbul lagi karena membayangkan sebentar lagi mereka bisa sampai dan bisa beristirahat di sana.


Tepat sebelum matahari tergelincir di barat, Cakra beserta rombongannya telah hampir sampai di tempat persembunyian pangeran Jati Kusuma, sampai di tempat itu, paman Jolo Wojo telah berdiri di bawah gapura untuk menyambut, awalnya terjadi kepanikan di tempat itu, namun setelah tahu yang memimpin rombongan itu adalah Cakra maka kepanikan itu berubah menjadi kebahagian bagi mereka semua.


" Selamat datang nak mas Cakra, selamat datang,, " ucapa paman Jolo Wojo kepada Cakra.


"Terima kasih paman,,, " jawab Cakra.


" Kakang Jolo Wojo,,, " seru seorang perempuan yang baru datang dari barisan belakang mengagetkan pamam Jolo Wojo.


" Dinda Selasih,, kauu,,, "


Belum selesai paman Jolo Wojo menyelesaikan ucapannya, Nyai Selasih sudah menghambur memeluk suaminya yang telah berpisah selama dua belas tahun itu, di pelukan suaminya dia menangis tersedu sedu meluapkan kebahagiaannya.


Mereka semua berbahagia, sadar mereka menjadi pusat perhatian, mereka melepaskan pelukannya.

__ADS_1


" Mari masuk nak mas Cakra, biarkan orang orang itu beristirahat di pondok pondok yang sudah kita siapkan, silahkan semua, " ujar Paman Jolo.


" Baiklah paman,, "


" Silahkan masuk dan tempati pondok pondok yang sudah di siapkan,, " perintah Cakra.


Mereka semua segera masuk di bantu oleh prajurit Gading Padas yang lama mereka memasukan barang barang yang mereka bawa ke dalam gudang, mereka di sambut dengan baik oleh para prajurit lama seakan ayah menyambut anaknya yang sudah lama tidak bertemu.


" Di mana pangeran Jati kusuma paman,,? tanya Cakra.


" Pangeran ada di pendopo sedang menjamu para utusan padepokan yang bergabung dengan kita , "


" Aku akan menghadap pangeran paman, bisa di bantu,, "


" Bukankah kau harus istirahat dulu Cakra, kau baru saja sampai dari perjalanan jauh, menghadap lah nanti malam saat kau sudah tidak lelah,,! " usul paman Jolo.


Mendengar itu paman Jolo kaget memandang putri cantik yang dari tadi hanya diam di belakang Cakra di kawal oleh dua orang.


" Maafkan hamba putri, saya tidak tahu kalau anda juga berkenan membantu perjuangan kami, " jawab paman Jolo.


" Monggo monggo silahkan masuk,, akan saya antar menemui pangeran Jati Kusuma. "


Mereka berlima mengikuti paman Jolo dari belakang kecuali Nyai Selasih yang sejak bertemu tadi selalu berada di samping Paman Jolo seakan tidak ingin berpisah terlalu jauh lagi.

__ADS_1


Mengetahui rombongan Cakra mau menghadap, pangeran Jati Kusuma menyambut dengan gembira, pangeran Jati memeluk Cakra dengan erat, dia sangat bangga kepada Cakra.


" Mari duduk semua di sini, " ucap pangeran Jati mempersilahkan mereka duduk di bangku panjang sederhana.


Sesaat mata pangeran Jati Kusuma terpaku pada gadis cantik yang bersama dengan Cakra.


" Dengan siapakah kamu datang Cakra,,? " tanya pangeran Jati.


" Inilah tujuan saya menghadap pangeran, ingin memperkenalkan putri Kencana Sari dari kerajaan Tirta Kencana, yang di sampingnya paman Rejo dan paman Suro, sedang yang ada di samping paman Jolo adalah Nyai Selasih yang tidak sengaja berjumpa dengan hamba di hutan Gondo Mayit,, " Cakra memperkenalkan satu persatu orang yang bersamanya.


" Ampun pangeran, Nyai Selasih ini sebenarnya istri hamba yang hilang saat terjadi pertempuran dulu,, " lanjut paman Jolo menjelaskan.


" Benarkah begitu,,? bagaimana ceritanya kalian bisa terpisah,, ? tanya pangeran Jati tertarik dengan cerita Nyai selasih.


" Dulu waktu terjadi peperangan, hamba sudah di minta kakang Jolo untuk ikut mengungsi ke kerajaan Tirto Kencana, namun aku ingin menunggu kakang Jolo, akhirnya serbuan itu masuk ke kediaman hamba, sekuat tenaga hamba melawan, tapi karena jumlah mereka banyak akhirnya hamba terdesak dan berusaha melarikan diri, tanpa sengaja saya berlari kearah hutan Gondo Mayit, saat hamba di kejar sampai ke dalam hutan Gondo Mayit hamba di selamatkan oleh Nyai Selendang Kuning, hingga hamba di angkat menjadi murid dan mewarisi senjata beliau berupa selendang ini,, " cerita Nyai Selasih.


" Kenapa paman saat perang meninggalkan Nyai Selasih,,? "


" Ampun Pangeran, karena hamba mendapat tugas menyelamatkan pangeran sehingga hamba tidak sempat menyelamatkan keluarga hamba, " jawab paman Jolo.


" Kenapa setelah perang paman tidak mencari istri paman,,? "


" Hamba tidak berani meninggalkan pangeran, hamba harus terus bersama pangeran untuk mengajari kanuragan dan memastikan keselamatan pangeran sampai pangeran menduduki lagi singgasana Gading Padas nantinya,, " jawab paman Jolo mantap.

__ADS_1


Jawaban paman Jolo membuat pangeran terharu atas kesetiaannya, dia merasa jasa paman Jolo padanya sangatlah besar, dia berjanji akan mengingat semua jasa paman Jolo.


Kemudian pangeran Jati kusuma memperkenalkan Cakra kepada utusan pendekar yang berada di sana, ada dari padepokan golok terbang yang di hadiri oleh ki Sarjo sendiri di iringi oleh dua puluh murid pilihan, ada dari padepokan naga hijau dan dari padepokan lutung emas, lebih dari seratus murid padepokan yang telah berkumpul di situ, menilik kekuatan yang terkumpul sebanyak lima ratus orang masih sangat jauh dari pada kekuatan pasukan pendekar yang ada di Gading Padas, belum dengan adanya pasukan dari kerajaan Selo Cemeng yang di tempatkan di sana.


__ADS_2