
Sepasukan kera berjaga di depan pintu gerbang sebuah istana yang megah, batu bata tersusun rapi membentuk bangunan yang luas nan megah, dengan hiasan hiasan ornamennya membuat siapa pun yang memandang akan mengira jika bangunan itu adalah salah satu dari istana surga yang di bangun oleh para dewata untuk mereka yang hidup menepati darma.
Blaaaaar.
Sebuah ledakan terjadi tepat di pintu gerbang yang terbuat dari kayu jati pilihan yang tebal.
Seketika pintu gerbang itu hancur menjadi kepingan kepingan kecil, sedangkan para prajurit penjaga yang tadi berdiri di depan pintu gerbang sekarang tubuh mereka terkapar di tanah dengan luka bakar yang mengakibatkan mereka harus kehilangan nyawa.
Dari dalam gerbang itu muncul lima puluh orang prajurit berwujud kera menghadang para penyerang, mereka yang terdiri dari para prajurit terlatih itu merasa heran dengan keadaan di sekitarnya pintu gerbang yang hancur dan mayat mayat bergeletakan hanya dengan satu serangan membuat rasa takut mulai merambati hati mereka.
Tidak ada sesosok pun di depan mereka yang bisa di curigai melakukan serangan dadakan itu, namun tiba tiba dari balik sebuah pohon besar melesat bayangan berwarna putih mengarah kepada mereka, tapi tanpa bisa melakukan apa apa, bayangan tadi sudah menyelinap di antara mereka dan tanpa di sadari mereka tubuh mereka telah ambruk dengan kepala menggelinding terpisah jauh dari badannya.
Di tengah kumpulan mayat berwujud kera itu, kini berdiri seorang laki laki berwajah tampan dengan baju berwarna putih berbulu bulu dan rambut berwarna sama dengan bajunya.
Sesaat laki laki muda itu memberi mengangkat tangan, kemudian dari balik semak semak muncul seribuan orang yang menggunakan pakaian berwarna putih namun sederhana menghampiri laki laki tadi.
" Bantai mereka, jangan ada yang tersisa dari mereka,,! " perintah laki laki berambut putih.
" Baik gusti pangeran Anjang Manikam,, " ucap salah seorang pemimpin pasukan itu.
Seribuan pasukan itu kemudian membuat kelompok kelompok kecil dan berpencar ke segala arah, tapi mereka langsung di hadang oleh pasukan kera sehingga terjadilah pertarungan di beberapa tempat secara bersamaan.
Dari pihak kerajaan siluman kera mencoba menahan serangan dari musuh bebuyutan mereka dari kerajaan siluman rubah putih, mereka sekuat tenaga mempertahankan wilayahnya agar tidak di ambil oleh kerajaan rubah putih, di pimpin oleh seorang panglima perang yang gagah berani bernama Gendono Lanang, seorang siluman kera besar yang gagah berani memiliki warna bulu hitam legam membawahi empat senopati dan tiga ribu pasukan.
__ADS_1
Hari ini panglima Gendono Lanang mengerahkan anak buahnya untuk mengusir pasukan rubah putih yang berani menyerang.
Panglima Gendono Lanang saat ini belum turun ke medan pertempuran, hal ini karena dia masih melihat anak buahnya yang unggul jumlah masih mampu menghalau lawan, dia juga mempersiapkan diri jika sewaktu waktu ada pasukan bantuan yang akan muncul sehingga dia hanya memperhatikan pertarungan itu dari atas menara pemantau.
Apa yang di khawatirkan oleh panglima Gendono Lanang terbukti, setelah para prajurit dari kerajaan siluman rubah putih bisa di tahan, sepasukan yang jumlahnya lebih besar telah masuk dari arah lain, hal ini membuat pasukan siluman kera terjepit karena di serang dari berbagai arah.
Keadaan ini membuat panglima Gendono Lanang mau tidak mau harus melibatkan diri turun ke gelanggang.
Dengan kekuatan dan kelincahan yang luar biasa, dia mengamuk di tengah tengah pasukan siluman rubah putih yang mengepungnya, siapapun prajurit dari kerajaan rubah putih yang mendekatinya pasti akan langsung menjadi incaran serangannya, tidak lama tumpukan mayat mulai tercipta di sekitar panglima Gendono Lanang yang mengamuk.
Hal ini membuat pangeran Anjang Manikam yang memimpin pasukan itu menjadi geram, dia melesat memapaki serangan panglima Gendono agar berhenti membantai pasukannya.
" Tidak aku sangka jika panglima yang gagah perkasa dari kerajaan siluman kera hanya berani melawan prajurit rendahan, akulah lawan mu,, " bentak pangeran Anjang Manikam.
" Cuiih, aku menyerang prajurit rendahan karena hanya ingin memancing pemimpin mereka yang pengecut karena bersembunyi pada saat prajuritnya sedang bertarung,, " balas panglima Gendono.
" Sekarang kau sudah berhadapan dengan lawan yang pantas, kenapa sekarang kau hanya mengoceh,,? "
Mendapat tantangan itu, pangeran Anjang Manikam langsung bergerak cepat menyerang lawannya, tubuhnya yang ramping membuat gerakannya semakin cepat walau urusan tenaga dia masih kalah dengan panglima Gendono Lanang.
Keduanya langsung terlibat pertarungan yang sengit, sebuah gerak cepat di lawan oleh tenaga besar yang walau di serang dari berbagai arah masih mampu bertahan.
Panglima Gendono sendiri walau kalah cepat namun gerakannya sangat tepat sehingga mampu menangkis bahkan memberi serangan balasan kepada lawan.
__ADS_1
Pangeran Anjang Manikam yang belum bisa memberi tekanan kepada lawan kemudian berpikir keras agar bisa menundukkan lawan, dia sadar jika walau pun kekuatan lawan sangat besar dan memiliki pertahanan yang bagus tapi dia bertarung berdasarkan insting sehingga tidak memiliki rencana serangan yang mapan.
Pangeran Anjang Manikam bergerak lebih cepat menyelinap di bagian tubuh lawan mencari bagian tubuh yang paling lemah, akhirnya dia menyadari jika bagian mata lawan adalah bagian terlemah, dia berusaha menyerang bagian itu.
Panglima Gendono Lanang yang instingnya tau arah serangan menuju matanya segera melindungi mata itu dengan kedua tangannya.
Deeeeees.
Pukulan pangeran Anjang Manikam gagal akibat tangkisan itu, namun dia tidak patah semangat, dia kemudian memberikan serangan bertubi tubi kepada lawan namun hal itu masih bisa di mentahkan oleh lawan.
Pangeran Anjang Manikam yang licik melihat sebuah tali tambang yang cukup kuat tergeletak di tanah, dia segera berlari mengambil tali itu, dengan kecepatan lari yang luar biasa dia mengitari panglima Gendono, awalnya tangan panglima Gendono terjerat tali itu, kemudian pangeran Anjang Manikam melilit bagian atas tubuh lawannya kemudian mengitari lagi hingga kaki dari panglima Gendono juga ikut tidak bisa di gerakan karena lilitan tali yang kuat.
Saat tali itu sudah bisa melumpuhkan gerakan lawan, pangeran Anjang Manikam meloncat tinggi kemudian memberikan tendangan tepat di muka lawan, membuat tubuh besar lawan jatuh ke tanah menciptakan getaran cukup keras.
" Buat apa kau begitu keras berjuang mempertahankan kerajaan ini, toh raja kalian sudah mati, tidak ada lagi pemimpin di kerajaan siluman kera ini yang mampu melindungi kalian, jadi sudah selayaknya kami kaum siluman rubah putih yang memimpin di kerajaan ini, sedangkan kalian akan kami biarkan hidup jika mau menjadi budak kami,, " ucap pangeran Anjang Manikam dengan angkuh sambil menaruh satu kakinya di dada panglima Gendono Lanang.
" Chuuiih. tidak pantas bagi kami untuk menyerah, apalagi kami tahu jika ada ramalan yang mengatakan akan datang raja baru yang akan memimpin kerajaan ini, jadi sebaiknya kalian lah yang harus angkat kaki dari sini sebelum kalian ***** menjadi abu oleh raja kami yang baru,, "
" Ramalan,,,? ramalan dari tua bangka itu masih kalian percayai, jangan mengigau kau, tapi baiklah jika memang kau tidak mau menyerah, akan aku bunuh kau sekarang juga. "
Pangeran Anjang Manikam bersiap dengan pukulannya, di kepalkan tangannya ke atas, perlahan kepalan tangan itu keluar petir kecil yang mengitarinya.
"Pukulan Kilat" teriak pangeran Anjang Manikam.
__ADS_1
Duaaaaar.
Aaaaaaakh.