
Cakra dan kawan kawannya telah menempati sebuah hutan kecil di sebelah timur desa Ringin Anom, mereka sudah menyiapkan berbagai persiapan yang matang di sana, di sebuah jurang yang diapit jurang tidak terlalu dalam itu mereka akan mencegat mereka.
Cakra pergi menyelidiki kekuatan pasukan yang di bawa, dia memeriksa apakah ada pasukan lain yang di bawa selain pasukan yang berjumlah dua ratus lima puluh itu, dari atas dia perhatikan hanya pasukan itu yang di tugaskan untuk meringkus perusuh di hutan Gondo Mayit.
" Sombong,, " desis Cakra.
Dia segera mendaratkan diri, dia mendekat dengan meloncat dari satu pohon ke pohon lain agar tidak di ketahui oleh musuh.
Cakra melihat ada dua pemimpin dan ada lima puluh pasukan inti yang terdiri dari para pendekar golongan hitam, merasa cukup mengetahui kekuatan lawan Cakra segera kembali ke kawan kawannya untuk menyampaikan hasil penyelidikannya.
" Kabar apa yang kau bawa Cakra," tanya putri Kencana Sari sesaat setelah melihat Cakra mendarat di dekat mereka.
" Aku melihat mereka terdiri dari dua pemimpin dan lima puluh pasukan yang terdiri dari kelompok golongan hitam yang berkuda, sedangkan yang dua ratus adalah para pemuda dan laki laki yang di paksa mereka menjadi prajurit, ingat musuh kita hanya pemimpin dan pendekar golongan hitam, jadi sebisa mungkin untuk tidak melukai mereka, " ucap Cakra.
" Untuk itu, serahkan saja pada kami Cakra,, " ucap paman Suro.
" Benar Cakra, kami sudah menyiapkan sesuatu agar mereka bisa kita lumpuhkan dengan tanpa terluka, " tambah paman Rejo.
"Baiklah, aku percaya paman, aku serahkan para prajurit yang berjalan, sedang untuk pimpinan dan pendekar golongan hitam biar aku, putri Kencana Sari dan Nyai Selasih yang menghadapi,, " ucap Cakra membagi tugas.
Persiapan mereka telah siap dengan matang, kini tinggal menunggu pasukan itu datang yang di perkirakan akan sampai nanti siang.
Tepat pada saat matahari terik di atas kepala, pasukan itu bergerak dengan cepat, mereka percaya diri tidak ada yang berani merusuh pasukan itu sehingga tidak ada kewaspadaan dari pasukan itu, hingga akhirnya mereka sampai di tengah jurang, paling depan kedua pemimpi mereka berjalan menaiki kuda dengan jumawa, di belakangnya para pendekar golongan hitam yang menaiki kuda di ikuti para prajurit yang berjalan kaki yang berjalan agak lambat karena sebagian membawa gerobak gerobak berisi harta jarahan dan bekal makanan mereka.
Sesaat setelah para penunggang kuda terakhir melalui tengah jalan yang di apit jurang, sebuah anak panah melesat keatas mengenai tali yang di beri pemberat batu besar, saat tali di pohon putus, tali berpemberat batu besar itu meluncur kebawah mengangkat jaring yang tebal hingga menutupi jalan itu memisahkan pasukan pejalan kaki dan pasukan berkuda, di susul dengan meluncurnya batu batu di belakang pasukan berkuda, ada dua penunggang kuda yang ikut tertimbun akibat telat menghindar, batu itupun menutupi jalan di jurang itu.
Terjadi kepanikan di pasukan itu, terdengar umpatan dan sumpah serapah dari mulut pimpinan dan para penunggang kuda yang hampir celaka, kuda kuda mereka pun bergerak liar karena panik, mereka berusaha mengendalikan kuda itu agar tenang, namun belum tenang kuda kuda mereka, di depan mereka telah muncul tiga orang yang terdiri dari satu laki laki memakai zirah merah bertopeng garuda dan dua perempuan yang menghadang.
__ADS_1
Tanpa menunggu perintah, di dasari rasa marah mereka menyerang ke tiga penghadang itu, Cakra yang sudah siap dengan mengeluarkan tombak Bayu Angkasa di tangan kanannya segera menyambut orang berkuda di depannya dengan menusukan tombak itu tepat di lehernya.
Craaas.. akhh.
Orang itu terdorong ke belakang dengan leher yang tertembus tombak.
Tidak perlu banyak bicara, Nyai selasih dan putri Kencana Sari juga menyambut orang yang mengarah pada mereka, Nyai Selasih langsung menyabet nyabetkan selendangnya sedangkan putri Kencana Sari sudah mengeluarkan Gendewa Emasnya.
Jdaart jdaaart jdaaart.
Suara ledakan ledakan terdengar dari kedua senjata yang di pukulkan, selendang kuning yang lemas itu namun jika terkena kepala bisa di pastikan pemilik kepala itu akan binasa karena batok kepalanya akan pecah, begitu juga Gendewa Emas Putri Kencana Sari kadang melesatkan anak panah yang langsung mengenai sasarannya.
Namun dari ketiga penyerang itu, tombak Bayu Angkasa lah yang banyak memakan korban, walau Cakra di kepung sedemikian rupa, namun penyerangnya banyak yang terlempar terkena sambaran angin yang keluar dari tombak di tangannya, banyak pendekar yang terlempar menghantam dinding jurang hingga langsung terkapar tak bernyawa.
Melihat pasukannya di bantai oleh tiga orang, senopati Janiar dan Kolo Srenggo tidak sempat memikirkan pasukan pejalan kaki di balik reruntuhan batu, mereka terlalu murka hingga mereka maju merangsek menyerang Cakra yang dari tadi paling banyak membunuh para pendekar.
Dua serangan datang mengarah ke arah Cakra, sambaran golok dan tombak pendek itu ia tangkis dengan menyilangkan tombak Bayu Angkasa di atas kepalanya, setelah mampu menangkis serangan itu, Cakra segera menyepakan kaki kanannya ke arah senopati Janiar.
Buuukhh.
Pinggang senopati Janiar tersapu tendangan Cakra menyebabkan tubuhnya terlempar ke kiri hampir menabrak Kolo Srenggo, untung Kolo Srenggo dapat menangkap tubuh itu sehingga mereka tidak sampai terjatuh.
Mereka berdua membetulkan posisi berdirinya dan bersiap menyerang Cakra lagi.
Hyaaaaat.
Wuuushh. wuuushh.
__ADS_1
Cakra memutar tombaknya mengakibatkan angin kencang menerbangkan kerikil ke arah mereka berdua sehingga menjadikan mereka menunda serangannya.
Mereka berjumpalitan menghindari kerikil kerikil yang menerjang ke arah mereka, hingga tenaga mereka sedikit terkuras, mereka merasa marah karena telah di permainkan oleh orang yang tidak di kenalnya itu.
Cakra berusaha sesegera mungkin mengakhiri pertarungan itu, makanya dia sekarang sudah mengeluarkan jurus garuda agni, dia menyiapkan tombaknya menyerang.
Wuuushhh.
Sambaran angin yang panas mendahului serangan Cakra kepada Kolo Srenggo dan senopati Janiar, merasakan serangan ini lebih dahsyat, mereka berdua menaikan tenaga dalam untuk menyambut serangan yang datang.
Jdaartt. tombak itu mengarah pada Kolo Srenggo dan di tangkis menggunakan tombak pendek di tangannya, namun mau tidak mau Kolo Srenggo harus terpental ke belakang sejauh dua tombak, dadanya terasa sesak karena serangan itu.
Senopati Janiar membalas menyabetkan goloknya, namun hanya dengan mengegoskan badannya tebasan itu mampu di hindarkan oleh Cakra dan tangan kiri Cakra yang sudah di lambari jurus paruh garuda menghantam ke arah dada senopati Janiar hingga.
Dhuuarrr.
Dada itu jebol terkena pukulan Cakra.
Melihat rekannya tewas, Kolo Srenggo berniat melarikan diri, namun baru beberapa tombak dia berlari, dia telah di sambar dari atas oleh Cakra dan Cakra mengarahkan Cakarnya tepat di leher hingga menyembur lah darah dari leher itu seperti leher hewan yang di sembelih, tubuh itu berkelojotan sekejap dan berhenti untuk selamanya.
Pada saat yang lain bertempur, paman Suro dan Paman Rejo menghadang dari sisi lain para prajurit pejalan kaki, awalnya ke dua paman itu ingin berbicara untuk membujuk mereka namun sebagian dari mereka menyerang ke dua paman itu, hingga akhirnya mereka hanya menghindari serangan para prajurit itu sambil mengulur waktu, beruntung bagi kedua paman itu karena tidak semua prajurit ikut menyerang, hal ini karena dari awal mereka ikut berperang karena terpaksa, sehingga pada saat mereka melihat kedua paman itu tidak membahayakan nyawanya, mereka tidak ikut menyerang kedua orang itu.
Di serang beberapa orang bersamaan tidak membalas membuat kedua orang itu kewalahan, mereka hanya bisa menangkis serangan dan mundur secara perlahan, hingga pada suatu saat terdengar teriakan dari arah depan.
"Heeii semua prajurit, pimpinan kalian telah aku binasakan, sekarang tinggal kalian pilih menyerah dan bergabung dengan kami untuk berjuang dengan pangeran Jati Kusuma atau kalian ikut kami binasakan,, " teriak Cakra menakut nakuti sambil memegang tubuh Kolo Srenggo yang sudah tidak bernyawa.
Mendengar itu, akhirnya banyak seluruh prajurit menjatuhkan senjatanya ke tanah tanda menyerah dan mengikrarkan kesediannya berjuang bersama pangeran Jati Kusuma termasuk prajurit yang tadi menyerang ke dua paman Rejo dan Suro.
__ADS_1
Berakhirlah pertempuran di hutan dekat desa Ringin Anom itu.