
Empat orang berjalan dengan cepat, sambil memperhatikan sekeliling mereka agar tidak berpapasan dengan pendekar lain di hutan Angkrong itu.
Sebuah buntalan kain tersampir di punggung Sardi yang di tempatkan di tengah rombongan oleh kakek dewa tongkat rotan.
Saat perjalanan mereka hampir sampai di tepi hutan Angkrong, indera pendengaran mereka menangkap suara benturan senjata tidak jauh dari tempat itu, Cakra yang kini semua panca inderanya lebih peka, langsung tau lokasi terjadinya pertarungan yang menimbulkan suara dentingan senjata.
Tanpa menunggu yang lain, Cakra mempercepat larinya menuju sumber suara itu, kawan kawan yang lain segera mengikuti arah perginya Cakra.
" Nak mas, berhati hatilah, keselamatan pusaka yang kita bawa itu lebih penting dari pada harus ikut campur urusan orang lain,,! " ucap kakek dewa tongkat rotan memperingatkan Cakra setelah dia mensejajarkan larinya dengan Cakra.
" Baiklah kek, kita selidiki dulu apa yang telah terjadi, " balas Cakra, sebenarnya dia mampu berlari lebih cepat, namun hal itu tidak di lakukan karena khawatir jika kawan kawannya kehilangan jejaknya.
Tempat terjadinya pertarungan sudah semakin dekat, dengan peringan tubuh yang sempurna mereka mampu hinggap di dahan pohon yang rindang tanpa menimbulkan suara.
Cakra berada di pohon yang paling dekat dari pertarungan itu, sedangkan kakek dewa tongkat rotan dengan Kelana berada di satu pohon yang tidak begitu jauh dari Cakra, sedangkan Sardi berada di satu pohon tersendiri.
Di bawah Cakra melihat seorang gadis pendekar dengan bersenjata pedang berbaju kuning indah telah bertarung dengan seorang bertubuh gendut bersenjata gada kecil berduri.
Cakra mengenali penyerang gadis itu adalah salah satu dari empat setan gendut yang pernah dia kalahkan, ternyata anggota setan gendut yang lain hanya melihat pertarungan yang masih imbang itu.
Mereka yang ada di atas pohon juga hanya mengamati jalannya pertarungan sehingga tidak ada dari ke empat orang termasuk Cakra yang bertindak menurunkan tangan membantu gadis itu.
Gerakan yang luwes serta indah di perlihatkan oleh gadis itu, serangan serangan Kunto yang menyambarkan senjatanya ke arah gadis itu seakan akan bukan suatu hal yang berbahaya bagi gadis itu, sampai sejauh ini serangan Kunto tidak sedikit pun mampu menyentuh ujung baju gadis itu.
" Kurang ajar, kenapa kau malah menari bukannya bertarung,,,,? " bentak Kunto.
" Ha ha ha, menghadapi kunyuk kurap sepertimu tidak perlu serius, cukup ku lawan dengan mata tertutup pun aku bisa mengalahkan mu, " ucap gadis itu.
Kunto kehilangan kesabaran, dia menyerang dengan gada berduri miliknya tanpa memberi kesempatan gadis itu untuk sekedar bernapas, serangannya yang di ikuti suara angin berkesiutan menandakan Kunto sudah serius ingin membunuh gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu meski di serang bertubi tubi namun masih mampu menghindar dan memberi balasan serangan kepada Kunto, hal ini mengakibatkan Kunto semakin meningkatkan kecepatan serangannya agar gadis itu takluk kepadanya.
Tiga setan gendut lainnya merasa tidak sabar, mereka ingin segera mengalahkan gadis itu dan menikmati tubuhnya, akhirnya Beno ikut maju walau bertarung dengan satu lengan, juga Condro Mawu dan Darjo langsung ikut masuk ke dalam pertarungan itu.
Masuknya tiga anggota setan gendut lainnya membuat gadis itu terdesak, yang awalnya tadi dia menghemat tenaga untuk menghadapi anggota setan gendut lainnya, kini dia harus menguras kemampuan dan tenaganya untuk mempertahankan selembar nyawanya.
Gadis itu berusaha menjaga jarak dengan keempat setan gendut itu mencari kesempatan untuk melarikan diri, tapi kepungan empat orang itu sangat rapat sehingga sulit baginya keluar dari arena pertarungan itu.
Karena gadis itu mulai kehabisan tenaga, menjadikan dirinya kurang cepat dalam menangkis setiap serangan lawan hingga pukulan tangan kosong mampu masuk di punggungnya membuat dia terjengkang ke depan hampir menubruk tubuh Darjo yang memang sudah siap menyambut jatuhnya gadis itu.
Lhaaaaaphh.
Selangkah sebelum tubuh gadis itu jatuh di pelukan Darjo, sebuah bayangan bergerak cepat menangkap gadis itu dan membawanya ke luar tempat pertarungan dan meletakkan tubuh itu di bawah pohon.
Darjo yang sudah membayangkan nikmatnya bisa memeluk gadis itu menjadi kecewa karena tubuh gadis itu tidak kunjung jatuh di pelukannya, dia tersadar bahwa gadis itu telah lenyap membuat dia celingukan mencari keberadaan gadis itu, tidak hanya Darjo yang terkejut, anggota kelompok setan gendut yang lain pun juga terkejut karena gadis yang tadi di kepung nya, tiba tiba hilang tidak tau kemana perginya.
Empat setan gendut bertambah terkejut karena tiba tiba di tengah mereka telah berdiri pemuda yang muncul di depan hidung mereka tanpa dapat di rasakan kehadirannya.
" Apa kalian sudah lupa wajahku,,? bukankah aku sudah pernah mengampuni kesalahanmu, kenapa sekarang kalian malah menjadi jadi,,? " ucap Cakra.
Condro Mawu sebagai orang terkuat di antara mereka sangat terkejut, dia belum melihat wajah pemuda itu karena posisi Cakra membelakanginya, namun dari suara dan bentuk tubuhnya dia yakin jika dia adalah pemuda yang dulu pernah mengalahkan mereka seorang diri bahkan mampu membuntungi tangan Beno.
" Jangan sumbar kau,, dulu kau bisa mengalahkan kami, hari ini kau yang akan kami cincang,, " ucap Kunto.
" Kalau kalian bisa, kenapa tidak sekarang kalian cincang aku,,? "
" Bangsat, sudah bosan tinggal di dunia ternyata kau, seraaang,,! " ucap Condro Mowo.
Tanpa sungkan lagi, ke empat setan gendut segera menyerang Cakra, Cakra yang kemampuannya meningkat dengan pesat tidak lagi menahan kekuatannya, dia sadar dia tidak boleh berlama lama di sini, dia harus segera ke gunung Semeru, hal ini menyebabkan dia langsung mengeluarkan seperempat tenaga dalamnya menekan lawan.
__ADS_1
Ke empat setan gendut saat menyerang merasakan sebuah kumpulan energi yang ada di sekitar Cakra membuat mereka sulit melukai tubuh Cakra, walau Cakra kelihatannya tidak bergerak namun semua serangan lawan tidak satupun mengenainya, meski senjata senjata itu mampu sampai ke tubuh Cakra namun senjata itu seakan tembus hanya mengenai bayangan manusia, sejatinya bukan senjata mereka menembus bayangan, namun karena cepatnya tubuh Cakra menghindari senjata lawan, sehingga orang orang yang melihat hanya tau jika Cakra masih berada di tempatnya tanpa bergerak.
Saat semua serangan gagal, Cakra kemudian membalas dengan mengirimkan tendangan melingkar.
Duuuuuuuuuuuuk.
Duuuuuuk.
Duuuuuuk.
Duuuuuk.
Ke empat orang itu berjatuhan dengan rahang yang terasa lepas karena kuatnya tendangan.
Ke empat orang itu segera bangkit meski merasakan sakit di rahangnya.
Mereka saling memberi kode untuk menyerang bersama.
Sebelum mereka bergerak menyerang, tubuh Cakra lebih dulu bergerak dan memberikan tamparan tangan kosong yang kini bertambah kuat setelah di gembleng oleh roh garuda agni.
Plaaak.
Plaaaaak.
Plaaak.
Plaaak.
Hasilnya, ke empat orang itu jatuh ke tanah tak bernapas lagi karena semuanya telah pecah batok kepalanya.
__ADS_1
Ke tiga kawan Cakra yang melihat pertarungan itu menjadi bergidik ngeri karena melihat kekuatan Cakra saat ini yang meningkat pesat, begitu juga gadis yang tadi di tolong juga merasa ngeri, tidak di sangka pemuda tampan yang terlihat lembut itu mampu membunuh lawannya hanya dengan dua kali serangan.