PEWARIS KESATRIA JATAYU

PEWARIS KESATRIA JATAYU
Pembantaian


__ADS_3

Cakra masih terbang, dia memperlambat laju terbangnya untuk mempelajari kekuatan lawan, iring iringan yang panjang itu terlihat sangat kuat sehingga kerajaan Tirta Kencana harus serius menyiapkan pasukan agar tidak mudah di bantai oleh pasukan ini.


Cakra merasa cukup mengamati pasukan itu, dia segera melesat ke arah kerajaan Tirta Kencan, di tengah jalan dia melihat pasukan pembuka jalan milik kerajaan Selo Cemeng, di sana juga ada beberapa prajurit telik sandi yang sedang melakukan perjalanan bersama.


Pasukan yang berjumlah seratus itu berjalan tidak tergesa menggunakan kudanya.


Cakra punya rencana untuk mencoba mengurangi kekuatan juga untuk memutus informasi dari pasukan telik sandi kepada pasukan utama.


Cakra menukik ke bawah menghadang laju kuda dari para pasukan pembuka jalan.


Awalnya para pasukan pembuka jalan itu kaget, namun setelah tau jika yang datang cuma satu orang yang masih muda mereka tertawa mengejek.


" Hei orang gila, kenapa kau berdiri di tengah jalan, minggir ,,,! atau kau kami tabrak sekalian,,, " teriak pemimpin pasukan.


Cakra hanya tersenyum mendengarkan ancaman itu.


" Sinting kau ya, tidak minggir malah senyum senyum di situ..."


" Aaah, biar aku saja yang menyingkirkan dia, dasar tidak berguna,, " ucap salah satu prajurit sambil turun dari kudanya.


Seorang prajurit tinggi besar dengan otot otot menyembul, prajurit yang paling kuat tenaganya dari pasukan itu, yang belum sekalipun kalah dalam pertandingan gulat.


Prajurit itu langsung melangkah menuju tempat berdirinya Cakra, dia hendak menarik lengan Cakra dan membanting ke pinggir jalan.


Namun yang terjadi malah membuat semua orang melotot, mereka menyaksikan temannya dengan sekuat tenaga menarik pemuda itu, tapi tidak sedikit pun pemuda itu bergerak.


Cakra masih di tempatnya dengan tersenyum.


Prajurit itu merasa malu karena di ejek oleh pemuda itu juga malu kepada teman temannya sehingga dia meningkatkan tenaga dalamnya agar pemuda itu bisa terbanting.


Kekuatan yang di keluarkan semakin besar, Cakra menyentak lengan yang dipegangi oleh prajurit itu, sekali hentak tubuh itu terlempar kebelakang jatuh di semak semak.


Semua orang yang ada di situ tercengang karena kawan mereka yang paling kuat tidak mampu berbuat apa apa di depan pemuda ini.


Sriiiiing


Sriiiiing


Sriiiiiing.


Pasukan itu menghunus pedangnya karena mereka begitu marah kepada Cakra..


Cakra pun bersiap, dia keluarkan tombak bayu angkasa, dia putar putar tombak itu sehingga prabawanya membuat semua yang ada di situ ciut nyalinya, tapi untuk mundur pun mereka merasa malu makanya mereka memilih menyerang bersama sama.

__ADS_1


Satu persatu prajurit turun dari kudanya menerjang Cakra dengan pedangnya.


Shiiiingg


Shiiingh.


Traaaang.


Aaakhh


Cakra menangkis datangnya sabetan pedang dengan mudah, bahkan setelah menangkis Cakra mampu menyarangkan bilah tombaknya di punggung penyerangnya.


Kini tiga orang datang menyerang, dengan lentur Cakra menghindari setiap serangan.


Walau di kurung tiga orang Cakra tetap tenang, saat penyerangnya lebih cenderung memperhatikan serangan di atas saja, Cakra menyabetkan tombaknya ke arah kaki lawannya, akibatnya satu lawannya jatuh terguling kemudian Cakra menginjakkan kakinya ke arah dada prajurit itu.


Baaaakhh.


Ambrol lah dada prajurit itu.


Melihat kawannya mati, seorang prajurit kalap, dia menyabetkan pedangnya ke arah Cakra, Cakra yang membelakangi penyerangnya dia merasakan datangnya serangan lawan, akhirnya dia bersalto ke belakang melewati kepala lawan dan tepat di atas kepala dia menjulurkan telapak tangan di kepala penyerangnya.


Praaaak.


" Kurang ajar, kau menjual lagak di depanku,, " teriak pemimpin pasukan,


Akhirnya pemimpin pasukan yang awalnya cuma melihat kini dia ikut turun dari kudanya.


Pemimpin itu membawa golok yang cukup besar, dia ayun ayunkan golok itu di atas kepalanya,


Wuutt.


wuutt.


Suara golok terdengar keras, walau berat namun golok di tangan pemimpin pasukan itu seakan akan sangat ringan.


Dia berlari dan meloncat ke arah Cakra, dia ayunkan golok itu mengarah kepala Cakra.


Dhaaaangg.


Bunyi benturan keras mengiringi serangan itu, sungguh kuat tenaga orang ini sampai Cakra harus menambah kekuatannya agar tombaknya tidak tertekan.


Pemimpin pasukan itu mengangkat goloknya lagi, dia mengangkat golok itu tinggi di atas kepala, membuat ancang ancang dan menebaskan ke bawah.

__ADS_1


Dhaaaangg.


Benturan lebih keras lagi terdengar.


Pemimpin itu mencoba lagi, tapi Cakra saat ini tidak menangkis menggunakan tombak melainkan dia menghindar dengan melempar badannya ke samping, saat dia meloncat ke samping itu, Cakra juga menyodokkan ujung tongkatnya ke perut lawan.


Aaakh.


Perut itu terkena sodokan sehingga pemimpin pasukan itu mudur sampai dua langkah.


Pemimpin pasukan sangat marah dia memburu Cakra dengan beringas, dia ayun ayunkan goloknya dengan cepat, tapi Cakra kini lebih siap, dia menyongsong golok itu dengan tombak pusakanya,


Traaang


Traaang.


Suara benturan dua senjata itu menimbulkan percikan api.


Cakra kemudian meningkatkan kecepatannya sehingga membuat pemimpin pasukan itu kewalahan, hingga pada saat pemimpin pasukan itu lengah, Cakra menusukan ujung tombak yang lancip kearah dada lawan,


Aaaakhh.


Teriakan pemimpin pasukan membuat siapapun yang mendengar merasa ngeri.


Sebagian prajurit ingin melarikan diri berbalik arah, namun Cakra segera terbang mengejar mereka, dari arah belakang Cakra menggapai dua orang prajurit dengan jurus cakarnya, dua tubuh di atas kuda tanpa kepala melaju membuat prajurit yang di depannya ketakutan sehingga menggebah dengan lebih cepat.


Tapi tiba tiba pundaknya serasa di tarik dari belakang sehingga dia terjengkang dan terinjak oleh kaki kuda di belakangnya sehingga tewas.


Prajurit prajurit itu memacu lebih kencang seakan berlomba agar cepat sampai tujuan.


Mereka terkejut pemuda yang tadi mengejarnya kini malah sudah mencegat di depan, tapi ini kesempatan bagi mereka untuk melindas pemuda itu, mereka tidak ingin menurunkan kecepatannya justru mereka tambah kecepatannya.


Cakra yang berdiri di tengah jalan memutar mutar tombaknya sehingga deru angin menerpa kuda yang di tunggangi sehingga kuda kuda itu melambat dengan sendirinya, bahkan yang dipaksa di gebah mereka meronta hingga mengangkat kedua kaki depannya, sebagian kepanikan itu mengakibatkan penunggangnya terpental dari punggung kuda.


Hal ini tidak di sia siakan Cakra untuk membantai setiap prajurit yang ada di situ, dia kerahkan semua kemampuannya untuk membunuh prajurit itu entah dengan tombak maupun dengan cakarnya yang mampu memenggal kepala tanpa terasa.


Lebih dari seperminuman teh prajurit prajurit itu di bantai, tidak ada kesempatan bagi mereka untuk kabur maupun bersembunyi.


Setelah selesai membantai Cakra segera meninggalkan tempat itu untuk segera menuju ke kerajaan Tirta Kencana.


Tidak begitu lama, para prajurit kerajaan Selo Cemeng yang di pimpin oleh panglima Mahendra melintasi jalan itu, dia terkejut karena di tengah jalan itu telah berserakan tubuh tubuh tidak bernyawa.


" Kurang ajar, siapa yang melakukan ini, sadis sekali,, " desis panglima Mahendra..

__ADS_1


Dia memerintahkan untuk mengubur prajurit prajurit yang gugur itu, dia juga memerintahkan untuk berhati hati sewaktu waktu jika ada serangan.


__ADS_2