
Sinar merah di ufuk timur pertanda malam berada di batas akhirnya, namun suara benturan senjata dan teriakan kematian masih terdengar silih berganti, perang yang terjadi sejak semalam masih menyisakan pertarungan pertarungan di berbagai sudut tempat.
Traaang.
Traaangg.
Pasukan Gading Padas mulai terdesak tidak berdaya dari serbuan para prajurit pangeran Jati Kusuma di bantu para pendekar, tidak sedikit pula warga yang mempunyai sedikit kepandaian ikut membantu pangeran Jati untuk mengambil hak nya, hal ini menyebabkan para prajurit Gading Padas yang di pimpin Sangga Bhumi kewalahan dan terdesak.
Nyai Selasih dengan selendang pusakanya masih meladeni serangan dari Renggono, orang kepercayaan Sangga Bhumi itu cukup tangguh sehingga sulit untuk merobohkannya.
Selendang Nyai Selasih menyambar-nyambar bagai ular yang mencari mangsa, beberapa pohon atau bangunan di sekitar situ telah hancur porak poranda terkena serangan yang menyasar dari ke dua senjata orang yang bertarung itu.
Gerakan mereka cepat hingga sulit di ikuti oleh mata kepala biasa, mereka menyerang dengan cermat agar segera bisa menumbangkan lawannya.
Renggono memutar-mutar tongkat berwarna hitamnya menghalau serangan selendang Nyai Selasih.
Deess
Benturan selendang dan tongkat itu membuat tubuh keduanya terjajar ke belakang tiga langkah.
Renggono langsung menusukkan ujung tongkatnya ke arah Nyai Selasih, Nyai Selasih menghindar ke kiri dan menyabetkan selendangnya ke arah punggung Renggono, beruntung bagi Renggono, sebelum punggungnya menjadi sasaran empuk dia mampu berkelit memutar, secara otomatis tongkat yang tadinya meleset dari sasaran ikut berputar mengarah ke tubuh Nyai Selasih.
Deeeees.
Tongkat itu telak mengenai punggung Nyai Selasih, namun untungnya punggung itu sudah di lambari tenaga dalam sehingga pukulan itu tidak berakibat fatal, namun pukulan itu cukup membuat punggung itu sakit seakan patah tulangnya dan dari sudut bibir Nyai Selasih mengalir darah segar.
Paman Jolo Wojo yang melihat istrinya terluka segera menghambur ke arah Nyai Selasih.
" Apa kau tidak apa apa ,,? " tanya paman Jolo setelah sampai di dekat Nyai selasih.
" Tidak apa apa, sebaiknya engkau membantu pangeran Jati, biarkan aku yang akan menghabisi dia,, " jawab Nyai Selasih.
Hiyaaaat.
Tidak menunggu lama, Nyai Selasih sudah menerjang kearah Renggono, lesatan selendangnya menerjang ke arah Renggono, namun Renggono masih lincah untuk menghindari serangan itu, dia merasa cukup menjaga jarak agar tidak terkena serangan itu selendang itu.
Nyai Selasih meningkatkan kecepatannya sehingga Renggono semakin sulit menghindar, beberapa kali dia hampir terkena serangan Nyai Selasih namun tongkatnya sangat membantu menghalau serangan Nyai Selasih.
__ADS_1
Hiyaaaat.
Nyai Selasih mengebatkan selendangnya, Renggono meloncat ke belakang menghindari selendang yang datang, namun dari kebatan selendang itu meluncur tiga tusuk konde, melihat serangan itu Renggono terkejut, dia tidak menyangka kalau Nyai Selasih menyerang dengan senjata rahasianya, dia berusaha menangkis senjata itu, namun hanya dua yang bisa dia halau, yang satu tetap meluncur ke arah tubuhnya.
Claaaaph.
Aaaakhh.
Tusuk konde itu menancap tepat di leher Renggono, Berakhirlah sepak terjang Renggono saat itu juga, tubuhnya ambruk ke tanah dengan luka di leher yang memancarkan darah.
***
Cakra sedikit demi sedikit memancing Sangga Bhumi menjauh dari keramaian, tanpa di sadari Sangga Bhumi kini mereka cuma berdua di sebuah pategalan yang jauh dari pemukiman.
" Kini kita bisa bertarung dengan bebas, " ucap Cakra.
Cakra memunculkan sayapnya, perlahan tubuhnya naik setinggi dua tombak, melihat itu Sangga Bhumi terbelalak karena baru saat ini dia menyaksikan ada manusia yang bisa terbang.
Wuuusshh.
Wuuuuushh.
Cakra mengepakkan sayapnya, muncul lah ratusan bulu ke emasan yang meluncur ke arah Sangga Bhumi.
Sangga bhumi terkejut kemudian menghindari hujan bulu itu agar tidak mengenai tubuhnya, namun beberapa bulu masih tetap mampu menggores tubuh Sangga Bhumi sehingga tubuh itu terlihat banyak luka sayatan kecil, lelehan darah keluar dari luka luka itu, Sangga Bhumi sangat marah, bukan karena perih dari luka sayatan yang ada di tubuhnya namun justru rasa sakit yang ada di hatinya menyebabkan dia tidak bisa mengendalikan diri.
Sangga Bhumi mengeluarkan amarahnya, dia berteriak dengan keras dan terjadilah ledakan tenaga dalam dari dalam tubuhnya yang menghalau ratusan bulu bulu emas sehingga bulu bulu itu berjatuhan di tanah.
Cakra menghentikan serangannya, dia segera melesat ke arah Sangga Bhumi menggunakan pedang Garuda di tangan kanannya.
Sriiiiinggg.
Sabetan pedang Cakra di tangkis dengan trisula sehingga meleset lah serangan Cakra.
Sangga Bhumi ganti menyerang ke arah Cakra, dia menyabetkan trisulanya ke dada Cakra, namun Cakra mampu dengan lincah menghindari, Cakra juga membalas dengan menendangkan kaki kanannya ke arah kepala Sangga, Sangga Bhumi pun menundukan kepala menghindari serangan kaki itu.
Saat posisi Cakra membelakangi Sangga Bhumi, Sangga memutar badannya mengarahkan trisula ke punggung Cakra, namun sekejap Cakra telah menghilang dari hadapan Sangga Bhumi dan muncul di belakang Sangga Bhumi.
__ADS_1
Craaaaas.
Aaakkkh.
Tangan kiri Sangga Bhumi terpotong akibat dia terlambat menghindar saat tebasan itu datang, dia tidak mengira jika Cakra dengan cepat sudah berada di belakangnya dan menyabetkan pedang kearah punggungnya, walau agak terlambat namun dia merasa bersyukur punggungnya tidak terbelah saat itu.
Sangga Bhumi jatuh bergulingan di tanah, tangan kirinya buntung mengakibatkan pergerakannya menjadi limbung.
" Sebelum kau benar benar aku bunuh, sebaiknya kau bertaubat menyesali setiap kesalahan yang telah kau perbuat, masih ada jalan untuk berubah saat ini,, " ucap Cakra memberi nasehat.
" Cuiiihh,, aku tidak butuh ceramahmu,, jika memang sanggup cepatlah bunuh aku, kenapa harus mengguruiku segala,,, "
Cakra kini tidak ragu lagi untukku membinasakan Sangga Bhumi, karena dia merasa jika di biarkan hidup orang ini akan membuat kerusakan di kemudian hari, menyingkirkan sumber kerusakan sama saja dengan menjaga perdamaian, inilah salah satu petuah yang diajarkan oleh eyang Bagaskara.
Cakra menyilangkan pedangnya, dia melesat ke arah Sangga Bhumi berdiri saat ini, gerakannya cepat mengarah leher Sangga Bhumi, Sangga Bhumi bertaruh nyawa dengan menyilangkan trisulanya untuk menangkis serangan pedang itu.
Traaaang.
Craaaas.
Walau pedang itu tertangkis oleh trisula, namun trisula itu tidak mampu menahan laju pedang sehingga pedang itu tetap mengarah di leher Sangga Bhumi.
Kepala Sangga Bhumi menggelinding ke tanah, Cakra mengambil kepala itu di bawanya terbang kembali ke Gadis Padas.
***
Di depan pendopo dan alun alun Gading Padas masih terjadi pertempuran, mayat mayat telah berserakan dari kedua belah pihak, namun mereka masih enggan untuk menyelesaikan pertarungan itu.
" Hentikan pertempuran ini,,,! junjungan kalian telah tiada, tidak ada artinya lagi kalian melawan,, " teriak sosok yang melayang di udara.
Dari belakang sosok itu semburat cahaya matahari pagi yang berwarna merah emas menerobos, sehingga sosok itu terlihat lebih berwibawa.
" Lihatlah ini, junjungan kalian telah tewas,, " teriak sosok itu yang ternyata adalah Cakra yang mengangkat tangan kiri yang membawa kepala Sangga Bhumi.
Terkejutlah orang orang yang ada di situ, tanpa sadar para prajurit Sangga Bhumi menjatuhkan senjata mereka, mereka seakan kehilangan tenaga untuk memegang senjatanya.
Namun di sisi lain sorak sorai kegembiraan terdengar karena mereka telah berhasil merebut Gading Padas dari tangan Sangga Bhumi.
__ADS_1